Sesudah menyaksikan film yang berdurasi 133 menit itu aku pun segera bergegas untuk meninggalkan teater. Sebelumnya aku memang sengaja memilih bangku yang berada di deretan atas, karena setidaknya aku bisa lebih leluasa melihat seluruh ruangan dan juga tidak ada yang bisa mengawasiku dari belakang. Karena biasanya orang yang menonton bioskop sendirian seringkali menjadi bahan gunjingan bagi mereka yang berpasangan maupun berkelompok.
Seperti biasanya agar tidak terlalu merasa canggung saat keluar ruangan, aku memilih untuk membuka telepon genggamku. Meskipun tidak ada pesan masuk sekalipun, setidaknya orang akan menilai kalau aku orang yang sibuk. Baru beberapa anak tangga yang kulewati, seketika ada seorang laki-laki yang mencoba menghalangi langkahku untuk membiarkan wanitanya keluar terlebih dahulu.
Rasanya tidak asing, seketika aku mencium aroma parfum yang sangat familiar bagiku. Dengan pembelaan "mungkin memang parfum ini sangat pasaran" aku menenangkan batinku. Sayang aku tidak mampu melihat wajahnya dengan begitu jelas, matanya hanya menatap laki-laki yang berada di sampingnya.
Kuhentikan langkahku dan kusibukan mataku kembali pada layar handphone, kubiarkan pasangan ini mendahuluiku untuk keluar terlebih dahulu. Sesekali aku melirik untuk memastikan, apakah dia adalah seorang yang kukenal? Seseorang yang mungkin berasal dari masa laluku.
Rambutnya yang hitam legam dan terurai sebahu, mengingatkanku ketika dulu ia sering memintaku untuk menyisir ataupun menguncirkan rambutnya. Namun dalam beberapa waktu lalu aku pernah melihat fotonya dalam unggahan sosial media temannya, dan rambutnya kini sudah dicat pirang. Lalu apakah ini bukan orang yang dulu ku kenal?
Jaket jeans berwarna biru langit yang warnanya sudah sedikit pudar, mengingatkanku ketika dulu aku pernah mengeluhkan hal itu kepada dirinya. Hingga pada akhirnya ketika ulang tahunnya tiba, kuberikan dia jaket yang baru. Tetapi meskipun demikian dia masih memilih menggunakan jaket jeans tersebut dengan alasan modis.
Sepatu wanita berwarna hitam yang tidak kuketahui jenisnya, tapi memiliki bagian sol yang tebal sehingga membuatnya sedikit lebih tinggi ketika berjalan. Masih kukenal sepatu itu karena seringkali aku menunggunya memasangkan kaitnya yang cukup lama, ketika aku hanya menggunakan sendal ataupun loafers. Yang kulihat serupa dengan yang kuingat.
Sesekali dia sandarkan kepalanya ke lengan sang lelaki, yang memiliki postur yang lebih jangkung dari dirinya. Namun lelaki itu tidak nampak seperti kekasihnya, yang dahulu pernah kulihat di sosial medianya. Atau mungkinkah ini lelaki yang berbeda, yang mungkin saja menggantikan yang sebelumnya?
Setelah tiba di loby bioskop kita berpisah, pasangan itu menuju arah kamar mandi sedangkan aku bergegas ke pintu keluar. Dalam batin kubertanya, apakah ini benar orang yang memang dulu kukenal? Sesekali badanku gemetar dan muncul sedikit rasa takut jika yang kupertanyakan memang benar.
Memang dulu semenjak berpisah aku belum pernah melihatnya lagi secara langsung, setiap ada hal yang memungkinkan untuk bertemu aku lebih memilih untuk menghindar. Mungkinkah aku masih tidak baik-baik saja, meskipun seringkali aku menjawab aku sudah tidak punya masalah denganya. Ragu dan cemas, seketika aku merasa terkecilkan dengan perasaanku sendiri.
Jika betul itu memang dirinya, lalu mengapa rupanya hadir dalam sosok yang kukenal dalam masa laluku? Dan jika ternyata hanya orang asing yang hanya kebetulan, namun mengapa imajinasiku menghukum diriku separah itu? Bagaimanapun mungkin memang tidak terelakan, bahwa aku masih tidak baik-baik saja.