Kilau si kuning kembali memudar
JAKARTA. Harga emas kembali turun ke bawah US$ 1.200 per ons troi. Data ekonomi China yang tak sesuai ekspektasi pasar memicu kekhawatiran turunnya permintaan emas dari Negeri Panda. Selain itu, harga si kuning tertahan oleh penguatan dollar Amerika Serikat (AS) selama tiga hari berturut-turut.
Mengutip Bloomberg, Senin (13/4) pukul 17.30 WIB, harga emas kontrak pengiriman bulan Juni 2015 di Commodity Exchange senilai US$ 1.198,70 per ons troi, turun 0,49% dibandingkan harga akhir pekan lalu. Dalam sepekan terakhir, harga tergerus 1,63%.
Agus Chandra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan, harga emas turun karena data neraca perdagangan Tiongkok bulan Maret 2015 yang diumumkan pada Senin (13/4) hanya membukukan surplus US$ 3,1 miliar. Lebih rendah dibandingkan ekspektasi, yakni US$ 43,4 miliar.
Minimnya surplus ini menimbulkan kekhawatiran, permintaan emas fisik dari Tiongkok akan berkurang. Maklum, negeri tersebut merupakan salah satu importir emas terbesar. Selanjutnya, para pelaku pasar akan mencermati data produk domestik bruto (PDB) China kuartal I-2015, yang diprediksi tumbuh 7% atau lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 7,3%. "Ini dapat memberikan sentimen negatif terhadap harga emas," ujar Agus.
Selain itu, Selasa (14/3) akan diumumkan sejumlah data ekonomi AS, seperti inflasi, indeks harga produsen (PPI) dan penjualan ritel. Data ini diprediksi memberikan hasil positif. Apabila sesuai prediksi, maka harga emas bakal lemas lagi.
Penguatan dollar
Sementara itu, analis PT SoeGee Futures Nizar Hilmy menilai, pergerakan harga emas tertahan karena penguatan dollar AS. Meski masih ada perbedaan pandangan dari internal The Fed terkait momentum kenaikan suku bunga, prospek kenaikan suku bunga pada tahun ini belum pudar.
Hal itu memicu dollar AS terus menguat. Indeks dollar AS pada Senin (13/4) pukul 16.00 WIB di level 99,66. Angka ini naik 0,33% dibandingkan akhir pekan lalu. "Outlook harga emas masih bearish (turun). Saat ini minat investasi pada emas masih minim karena inflasi rendah," terang Nizar.
Secara teknikal, Agus melihat pergerakan harga emas dalam jangka pendek relatif netral. Harga berada di moving average 50, tapi masih berada di bawah moving average 100 dan 200. Moving average convergence divergence (MACD) masih berada di area nol. Stochastic di level 31%. Sementara relative strength index (RSI) berada di level 39%. Baik stochastic maupun RSI masih wait and see.
Agus menebak, harga emas sepekan ke depan di kisaran US$ 1.175-US$ 1.225 per ons troi. Sementara Nizar memprediksi harga emas terbentang di US$ 1.170-US$ 1.215 per ons troi.








