Analog Camera+My Poor Skill =Time Machine
I got my first analog (disposable) camera from my mentee in Uni, Hira. She gave me as souvenir when she went for a trip to Japan. Later on she gave me another one because I really loved using this kind of cam.
Aku dapat dua kamera ini ketika aku berada di semester 7, semester terakhirku. Karena sifat film-nya terbatas, saat itu rasanya setiap frame yang kuambil sangat berharga. Aku tidak begitu saja meminjamkan kamera ini kepada orang lain. Meskipun kemampuan fotografiku juga jauh dari kata oke, tapi aku ingin setiap 'cekrek' di shutterku adalah sesuatu yang ingin aku lihat lagi di masa depan.
Kamera pertama (aku lupa yang mana) mostly mengambil gambarku dengan teman-teman di pertengahan semester, lagi pusing-pusingnya mengurus tugas akhir dan persiapan wisuda, pusing-pusingnya mengurus presentasi jurnal ini dan itu, dan semua waktu yang dilewati bersama teman-teman dekatku, di klaster (kelas terbuka di pinggir danau, terpewe sedunia!), di warkop, di kosanku (yang basically jadi tempat nongkrong segeng), dan lain-lain. Aku lupa di mana dan kapan aku menggunakan 39 film pertamaku. Nanti kalau sudah dicetak, aku pikir mungkin aku akan terkejut, terharu, bahagia, mungkin merasa sedikit sedih lihat ke masa-masa yang berhasil ditangkap kamera kecil ini.
Kamera kedua, kebanyakan (kalau tidak salah) mengambil foto-foto persiapan wisuda dan wisuda hari pertama. Aku ingat sekali aku sengaja menyisakan beberapa sisa untuk foto saat wisuda bersama sahabat-sahabatku sejak SMA. Saat itu, mereka bilang mereka belum tentu bisa hadir ke wisudaku karena suatu hal. Aku sedih banget, tentu saja karena 3 tahun waktu kuliahku di UI banyak kuhabiskan bersama mereka, dan di akhir waktuku di sana mereka bilang ngga akan datang. In the end, mereka tetap datang (dan bawa buket coklat besar banget!!). And thats when I was thankful most because I left some films to capture my graduation with them : )
Attachment: buket termahsyur yang pernah kudapat. Ini pun tinggal setengahnya karena udah dimintain ayah (bond between dad-daughter becomes strong when it comes to chocolat!) Just how much they spent to this bouquet and make me feel like I am the luckiest friend on galaxy I really can't thank them enough I forever in debt with them.
Frankly said, I am never be good friend with camera, baik di depan maupun di belakang. It is obvious enough that I am not super photogenic and will never be, and just as bad as it, aku pun ngga terlalu baik mengoperasikan kamera jenis apapun, you name it. Ayahku yang hobi dan jago potret-potret bukan cuma sekali dua kali mengajarkan aku, hingga kemudian beliau 'menyerah' dan membiarkan aku memotret dengan gaya dan caraku sendiri. Kamera-kamera ayah, baik yang analog maupun digital, baik yang murah hingga yang mahal, akhirnya diwariskan ke adikku yang memang lebih jago dan lihai cari dan olah objek.
Kembali bicara soal kamera analog, sebenarnya aku merasa deg-degan dan sedikit anxious ketika dua kamera ini (akhirnya) akan dicuci (develop) dan discan. Pertama, tentu karena aku penasaran hasil fotonya seperti apa, foto apa saja yang aku tangkap (because clearly I already forget the past time I used these things). Kedua, kemampuanku mengambil gambar itu sucks, I don't really have confidence to bring them out to reality. But that is the point of having analog camera, to feel the anxiety, curiosity, the thrill waiting your pictures to be developed and the results will be like time machine.
Buatku secara pribadi, mengambil gambar dengan kamera analog itu buatku ketagihan. Setelah hampir setahun kuliah lagi, aku rasa aku akan kembali menekuni hobi sok tau ini. Mungkin aku akan mulai lagi hunting foto, jalan-jalan ngga jelas. Sebelumnya aku tentu saja harus siapkan gearku lagi. Harga dispo camera di Indonesia sangat mahal dibandingkan beli langsung di Jepang (Hira reported). Mungkin aku akan beli kamera analog saja. Lebih hemat karena bisa dipakai berkali-kali. Aku sudah melirik Aikon, Canonmate, dan beberapa kamera analog yang ramah pemula. Hmm.. saatnya mengumpulkan cuan-cuan kecil. Semoga freelancingku lancar di liburan ini demi hobi yang merepotkan dan tidak murah ini hahahaha
I personally wait for a year for these films to be developed. I want it to come back for real to the past, I want to rewind things when I forget. Ini sudah lewat setahun. Februari 2018 aku lulus, dan sekarang sudah Juli 2019. Sudah waktunya aku kembali, mengingat lagi kebodohan dan memori yang sudah terlewati. Gimana pun hasilnya, I am readyyyy! (Not so ready because omg I need to wait for monday and send my films to jakarta and send it back to me like omg its sure a long trip!)