Apa arti dibalik nama anak kami, Bumi?
Beberapa teman dan saudara kami mungkin masih sedikit asing dengan nama yang saya dan istri saya beri untuk anak pertama kami. Muhammad Isvara Syafabumi, dipanggil bumi.
Saya dan istri dari awal sepakat nama anak kami kelak harus campur dari beberapa bahasa. Bukan hanya untuk pembeda, kami juga ingin mengajarkan anak kami kelak bahwa hidup ini penuh perbedaan. Banyak suku dan budaya. Semoga kelak anak saya tumbuh menjadi anak yang penuh toleransi dan sayang sesama. Muhammad Isvara Syafabumi (Campuran dari arab dan Sanskrit), dua bahasa yang banyak dipakai ditanah nusantara.
Apa arti dari nama lengkap anak kami?
Muhmmad Isvara Syafabumi.
Muhammad. Beliau merupakan rasul terakhir dan tokoh panutan dunia, yang muslim pasti mengerti. Bila dibedah secara bahasa, muhammad artinya manusia yang terpuji. Terpuji karena akhlaknya, terpuji karena keimanannya. Semoga kelak anak kami bisa meneladani sifat-sifat rasul. Meski tidak akan bisa menyamai, namun setidaknya sebagai pengingat dia kelak.
Isvara. Kata ini kami ambil dari bahasa sanskrit yang artinya pemimpin. Pemimpin dari banyak pemimpin. Kami ingin kelak anak kami mengerti bahwa setiap orang adalah pemimpin, baik untuk masyarakat atau pun diri sendiri.
Syafabumi. Kata ini gabungan dari kata dari bahasa arab yaitu Syafa yang artinya penawaran atau obat, serta bumi dari sanskrit yang artinya tanah. Awalnya kami tidak berencana menambah kata Syafa untuk anak kami, namun karena situasi pandemik yang sedang dihadapi seluruh dunia, dan anak kami lahir di tengah situasi yang berat ini. Besar harapan kami ini jadi pengingat dia, dan semoga atas kehadiran dia bisa menjadi penawar bagi segala permasalahan yang ada.
Singkatnya, nama dari anak kami berakar dari penjelasan saya diatas. Nama yang mempresentasikan betapa besar rasa sayang dan doa kami, semoga anak kami kelak bisa menjadi pemimpin yang menjadi penawar dan solusi dalam menyelesaikan beragam masalah di dunia ini .
Terakhir, hikmah dan doa yang terbesarnya dari kelahiran anak kami justru kesadaran kami yang tumbuh akan betapa besarnya rasa kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Istilah jiwa dan raga, nyawa dan materi, memang benar adanya. Harapan terbesar buat saya pribadi sejak pertama kali mendengar tangisan anak saya, bukan harapan beliau menjadi anak kebanggaan kelak, justru lebih kepada hati yang berdesir mengucap kepada Tuhan semoga kelak saya kelak bisa menjadi orang tua yang baik, jadi suri tauladan yang baik, jadi bapak yang menjadi kebanggan anaknya, menjadi bapak yang memberikan perlindungan dan kasih sayang yang tak terputus waktu dan jarak. Amin ya rabbal alamin.
Semoga sharing ini bisa menjadi hikmah bersama, dan semoga harapan-harapan baik kami untuk anak kami dan untuk kami sebagai yang diberi amanah Allah dikasih kemudahan untuk menjalankan amanah besar dan mulia ini.