"Ngak Ngik Ngok"
Saking krusialnya informasi ini, saya akan tulis malam ini sepenuhnya, untuk pertama kali, menggunakan telepon genggam saya. Ejawantah gerak cepat ini terbentuk atas terbenturnya ekspektasi dan realita yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Archipelago Fest, mewujudkan saya untuk bisa ada bersama orang-orang yang peduli dan bersedia membicarakan musik (dan seluruh printilan yang berkesinambungan) dengan luar biasa: utuh, dalam, dan historis.
Terima kasih saya ucapkan kepada segenap pihak yang membantu terselenggaranya acara tersebut, saya sudah memimpikan diskusi semacam ini sejak lama. Wawasan yang saya dapat akan saya tulis di bawah ini secara bentuk daftar.
Berikut pancingan mantap yang saya bawa pulang:
1. Sebuah ke-nirleka-an adalah tidak apa-apa, tapi akan menjadi sebuah kecelakaan jika tanpa bahasa.
2. Berkisar pada awal abad ke-15, Afonso de Albuquerque, salah seorang legenda raja kelana planet bumi zaman analog, menenggelamkan bukti penting bahwa manusia Jawa sudah paham kiat-kiat berjelajah di samudera luas pada saat itu. Kepiawaian manusia Jawa bahkan dianggap sama (atau kemungkinan lebih) dengan tingkatan astronomi dan kelautan Albuquerque. Sayang, bersama dengan karamnya Frol de la Mar, peta yang dibuat oleh manusia dari Jawa itu hilang jejak.
3. Jaladwara, pancuran air (biasa terletak di candi), menurut saya adalah salah satu nama yang bagus untuk sebuah nama label yang ingin kental akan ke-nusantara-an.
4. Sebuah perwakilan dari label indie generasi ‘kids jaman now’, menyatakan bahwa spirit of collectiveness itu adalah suatu yang wajib dalam kedinamisan sosial ‘ben-ben’an masa kini.
5. Sebaliknya, salah satu senior muda yang merupakan penggawa band yang berprinsip untuk sekalanya menyuguhkan music and live instrument quality, mengafirmasi bahwa “connecting the dots” akan se-begitu indahnya di akhir serangkaian pencapaian yang telah dilalui.
6. Terkadang jemput bola dalam debut karir di industri musik adalah hal yang mesti dilakukan. Menginisiasi tur ke beberapa kota secara mandiri untuk karya-karya yang telah dihasilkan merupakan sebuah investasi jangka panjang.
7. Pada saat membicarakan konsensus perihal definisi eksistensi ‘pop indonesia’ yang hakiki, kaki seorang Mondo dan Ade dengan tepat bersamaan menyilang dalam duduk kursi sofa yang kontras warna. Kemesraan itu masih dilanjut dengan gestur tangan, mimik muka, hingga gerakan tangan yang juga sama disepersekian detik kemudian. Apakah ini tentang alam bawah sadar atau kelam yang sukar pudar, tampaknya masih misteri.
8. Duo maestro yang meletupkan energi Genk Pegangsaan pada era 70-an, seakan mendongeng kepada seluruh kawula audiens yang hadir tentang Indonesia dulu dan saat ini.
Merupakan anak dari presiden Indonesia pertama, khazanah budaya nusantara-nya seakan turunan para dewa, begitu sakral dan tak terbendung. Beliau menceritakan bahwa instrumen endemik yang sangat murni dari Indonesia ialah Gamelan. Paduan dari tetabuhan (dasaran membran layaknya kendang dan dasaran kuningan layaknya kenong), ialah warisan musik nenek moyang yang teramat kaya. Juga menanggapi isu tentang ayahnya yang melarang musik aliran rock untuk masuk bebas ke budaya ‘bayi NKRI’ pada saat itu, opini jujurnya terhadap rezim Orde Baru yang merusak identitas budaya bangsa digebu dan dipatri dalam setiap benak audiens. Revolusi budaya nusantara yang dimulai oleh Bung Karno seakan hancur dengan rezim tiran yang dengan lugas diekspresikannya di panggung diskusi pada petang hari itu, “Menurut saya Orde Baru itu illegal.”
Salah satu maestro lainnya ialah seorang komposer yang berjasa dalam melahirkan mahakarya album terbaik Indonesia sepanjang masa, “Badai Pasti Berlalu”. Menurutnya universalitas budaya merupakan nihil, karena sejatinya memang semua adalah sebuah perkembangan, tidak ada yang benar-benar ‘baru’. Doremifasolasido musik klasik yang ekslusif yang dikombinasi dengan era kapitalis revolusi industri merupakan asal muasal sebuah musik pop di planet ini.
9. Jika anda merasa ada masalah dengan Indonesia, maka sudah jelas masalah tersebut ada pada anda sendiri. Wow.
10. Akan terjadi sebuah trade-off dalam kebijakan pada kualitas honor dan kuantitas manggung. Bila anda memiliki tendensi untuk memilih sibuk manggung, dengan sendirinya supply akan berlebihan dan kerinduan untuk jumpa akan semakin menipis. Sebaliknya, jika anda merupakan seorang dengan pilihan untuk mengantongi jebret duit dalam sekali manggung misalkan, anda harus cerdik dalam tarik ulur kerinduan pendengar yang kemudian akan meningkatkan demand para hipster tersebut.
11. Dalam skena musik independen yang serunya kurang ajar ini, sayangnya masih ada pihak yang memiliki beberapa stigma yang tidak diperkenankan dalam hati maupun raga. Perempuan merupakan bahasan yang jarang dibicarakan dalam bebasnya harmoni musik yang bergema. Dalam salah satu panel diskusi dengan tiga narasumber, fakta di lapangan gamblang dibeberkan dan banyak diantaranya diakui sangat pahit. Padahal kemudahan dalam menghargai sesama manusia adalah hal yang gampang. Kesal: selalu bersuaralah demi menembus budaya buruk ini.
12. Demi riset yang berjenjang dan kaya, mengagumi yang dikagumi oleh yang anda kagumi merupakan terobosan besar dalam belajar. Hal ini tentu melebarkan jendela wawasan secara singkat dengan paparan ilmu yang masif!
13. Online dan offline adalah perilaku sosial yang pada dasarnya berencana untuk mewujudkan ‘pengalaman’ dan ‘keikutsertaan’ yang tak terlupakan dan cocok. Tren yang ada harus dibahasakan dengan sedemikian rupa agar pesan tersampaikan secara sesuai dan memberi inspirasi yang abadi.
14. Endorsement dinilai masih menjadi tulang punggung monetisasi dalam bermain di media sosial. Namun secara tidak langsung, kemudahan berkolaborasi tentu akan sangat mengkatalisir proses kreatif antar pihak.
15. Pada era fisik yang berjaya pada waktu itu, model bisnis konsinyasi dan beli putus merupakan sebuah kontrak yang pasti akan dialami oleh pada ben yang mempromosikan diri mereka kepada distributor arus utama yang condong kepada kemapanan dan kuasa akan pasar. Konsyinyasi idealnya berupa sebuah ben titip barang, pasang harga neto, lalu setelahnya akan diutak-utik oleh pihak kedua, dari segi harga akhir dengan keuntungan, promosi, dan sebagainya. Jika tidak ludes terjual, pihak kedua hanya akan bertanggung jawab untuk mengembalikan barang yang dimaksud. Berbeda dengan beli putus, sistemnya berupa penjualan barang oleh pihak ben untuk dibeli dan dijual dengan harga konsensus.
16. Beda dengan zaman now, rilisan fisik merupakan gimmick yang akan dikategorikan sebagai merchandise dan bukan lagi sebagai pemasukan utama. Digitalisasi memang memendam dilema, antara inovasi dan kuldesak.
17. Penuh percaya diri sebagai salah satu label independen yang turut meruntuhkan batas gerilya skena yang seru ini, ternyata dibutuhkan perjuangan kreatif yang mbeling nan ‘kancil’. Dihisap tapi dimusuhi, korporasi rokok merupakan bebuyutan skena ini sejak dahulu kala. Sebuah skena dengan target pasar yang begitu sempurna nan menggiurkan membuat korporasi tersebut baik selama ini. Inilah satu cerita tentang blunder yang sedemikian rupa direncanakan sebelumnya kepada salah satu korporasi itu: album “Mesin Waktu: Teman-Teman Menyanyikan Lagu Naif”. Biaya yang sangat besar dalam situasi dan kondisi saat itu, memaksa label yang menjadi pionir skena ini untuk menjalin kontrak dengan korporasi rokok. Singkat cerita kontrak disetujui pihak korporasi dengan syarat logo mereka terpampang di depan cover album nantinya. Lalu beriringan tawa keras para pundi-pundi kreatif karena mereka mencetak logo tersebut pada sleeve yang merupakan sampul plastik rilisan fisik seperti biasanya. Voila, kasat mata logo akan terpampang di depan secara nyata. Project ini dianggap sukses besar karena sampah di depan seluruh toko fisik penuh dengan sampul plastik tersebut.
Sekilas studi tur saya kali ini. Lebih lanjutnya sila menunggu unggahan pihak yang mendokumentasikan acara ini secara legal. Selamat belajar apa saja!













