Kaleidoskop Santosa
Kaleidoskop Santosa
Oleh: Radio Kesayangan Anda
Pada siaran kali ini, ijinkan saya untuk menawarkan sedikit cerita yang mungkin polos namun patut untuk dihisap sarinya. Saya akan memulai cerita ini dengan mengutip tulisannya pada surat yang dikirimkan bersamaan dengan piringan CD kompilasi comprehensive test, pensil juga penghapus bermotif lembu, sketch pad, dan kumpulan suhuf bersimpuhkan keringat calon-calon sarjana ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM: “Sesuai etika berkorespondensi, tulisan dibalas dengan tulisan.”
Jika merasa tidak cocok dan ragu maka tinggalkanlah artikel ini. Tapi maafkan saya bila bersikukuh untuk tetap menulisnya hingga akhir demi para pembaca yang menjadi orang-orang terpilih pada malam kurban ini. Semoga jiwa lembu dan domba selalu bersamamu wahai para pembaca radio ini.
Kurang lebihnya dua tahun yang lalu, saya merupakan anak magang dari sebuah badan pers yang pada terik hari itu diharuskan mendatangi kumpul perdana tim redaksi di sekitar lobby kaca kampus tercinta. Ingat bahwa dasarannya pelupa, saya menulis nama-nama orang yang saat itu hadir dan mencatat topik bahasan yang menarik atau tidak saya mengerti. Agak terkantuk, saya seakan ditampar dengan kata yang dicelotehkan olehmu sebagai pemimpin saya waktu itu, “…harus skeptis...” Sejak saat itu, saya lebih beradaptasi pada pola pikir kritis dan mulai setuju dengan apa yang dikatakan Juwitta Katriana pada gelaran dialog sastranya, “Kata: berlimpah hikmah; mengandung limbah.”
Sama seperti katamu dalam suratmu, saya juga akan menulis ini untukmu bukan tentangmu. Jua persis seperti kata Yusuf pada Ambar di film 3 Hari Untuk Selamanya dalam road trip-nya menuju Yogyakarta, bahwa masih banyak hal yang belum saya mengerti dan paham betul mengenai kamu. Menurut saya, itu suatu hal yang sangat wajar pada kasus ini, mengingat dua tahun bukanlah satu eon yang menurut pemahaman saya baru cukup untuk mengenal seseorang yang cenderung sibuk kerja keras dan yakin bahwasanya solitude is bliss.
Tatanan tulisan saya waktu zaman magang itu sampai detik ini masih sama, lumayan semrawut tapi sentimental. Terpatri dalam pikiran saya dengan jelas, tugas pertama saya saat magang dalam membuat laporan utama dan laporan khusus tidak memenangkan suatu apa. Tidak seperti halnya pada tim magang yang lain. Padahal saya yakin narasumber tim kami bisa dibilang paling nyentrik dan sidestream jika dibandingkan dengan lainnya. Disana mungkin tanpa kamu sadari, sedikit petuahmu sekali lagi menyadarkan bahwa be bold itu asoy, “…tulisanmu ini beda…” Sejenak saya langsung beriman #IDGAF dan mengabdi pada gnothi seauton (know yourself) oleh Sokrates.
Riset dan referensi semuanya saya lahap satu demi persatu, tanpa kenal genre maupun medium. Sampai akhirnya fokus saya sudah terbagi oleh Akuntansi Lanjutan dan beberapa acara maupun project yang harus saya ramu. Sejak saat itu pula perlahan-lahan motivasi yang awalnya jadi katalis menulis seakan berlabuh di pikiran tanpa kenal tujuan dan arah karena kurangnya waktu untuk sendiri atau sekedar berdialog denganmu. Walaupun begitu, kita sama-sama tahu bahwa seluruh kaleidoskop hal-hal beraroma lawas merupakan hal yang patut dirayakan bersama untuk dipelajari dengan seksama: historia docet (from history we learn). Bukan hanya di Triwindu Surakarta, tapi dimanapun disetiap kedipan mata dan dentuman gendang di telinga masih terpaut waktu.
Secara tidak langsung saya juga belajar banyak dari setiap besar kecil buah pikirmu. Kata-kata melankolis nan bergelimang tidak karuannya hidup ini terkadang bisa terkoneksi dan diambil kesimpulan oleh pola pikir saya. Konklusi atas percakapan melankolis kita kurang lebih akan seperti ini menurutku, “Sejatinya pertemanan dan bekerja, adalah hal yang paling krusial dalam mewujudkan kebahagiaan sementara kita pada proses hidup ini.” Bukan melulu tentang cinta yang harus saling memiliki, klise-klise pendekatan lalu pacaran hingga putus dan balik lagi atau apapun itu ritualnya. Tetapi yang terpenting ialah lebih pada sebagaimana kita bisa jatuh cinta pada diri sendiri, dan membagi kebahagiaan itu kepada orang-orang terkasih.
Ya sekali lagi tulisan ini bukan tentangmu melainkan untukmu, Nur Mutiara Sholihah Santosa. Oh iya, terima kasih pula untuk Stormtrooper-nya, semoga saya masih bisa sehat sehingga sanggup nonton sampai sequel trilogy George Lucas ini kelar.
Mari terus bersyukur, pula selamat merantau ya semoga jiwa raga enggak ikutan metropolis. Sakses.
"Berlabuh kau di samudera sore itu
Menunggu untuk terdampar lalu kembali
Untuk gegar tawa anak-anak pantai
Pula syahdunya jingga pada setiap senja."
Nb: Review ini dibuat oleh radio kesayangan anda, Azka Feba FM dan dibantu “Lagu Rantau” Silampukau (https://open.spotify.com/track/2Ov7hluGHGk3TJCtH9AUb7).














