Jauh sebelum saya kuliah kedokteran, bahkan sebelum saya mempelajari sistem organ manusia di pelajaran IPA kelas 6 SD, saya sudah mengenal baik ruang hemodialisa. “Waktunya cuci darah!” kata Papa. Saya mengekor papa melenggang ke ruang tersebut. Melempar senyum ke nurse station, melangkah ringan menuju tempat tidur. Ruangan itu besar tapi penuh dengan perawat, pasien-pasien lain, cleaning service, dan keluarga pasien lainnya. Semuanya ramah dan ramai. Ada bapak tua di tempat tidur sebelah, dan ibu bertubuh kecil berkulit legam di ujung sana. Mereka menggodai Papa yang kali ini ditemani anak kecil keriting dikepang dua. Mama ikut ngobrol dengan orang-orang. Papa pun. Bunyi mesin hemodialisa saling bertanding tanda ada yang memulai dan ada yg berakhir. Semua hanya agak senyap ketika lengan bawah papa ditusuk sesuatu. Detik itu bismillah terucap. Detik berikutnya, perawatnya ramai lagi. Papa merekah lagi.
Saya tidak selalu ikut, tapi lima jam sehari dua kali seminggu papa tidak alfa mengunjungi ruangan tersebut.
Bertahun-tahun setelah, ruangannya tetap sama, hanya saja pada visit-visit saya berikutnya. Ada yang saya sadari. Bahwa pasien-pasien yang saya lihat dulunya satu persatu berganti dengan wajah baru. Kemana mereka? Pindah rumah sakit? Atau mungkin sudah sembuh?
Setelah saya kuliah dan kembali pulang, baru saya paham. Bapak tua di sebelah dan ibu kecil berkulit legam itu tidak pergi. Mereka tidak pindah rumah sakit. Mereka tidak sembuh. Mereka sudah pulang. Silih berganti dipanggil Tuhan. Sungguh untuk suatu ruangan yang hangat, di hati kecil mereka masing-masing tersimpan ketakutan. Siapa yang berikutnya?
Visit-visit saya selanjutnya, perawat-perawat sudah tidak ada yang saya kenali. Sudah pensiun, kata mama. Tukang parkir dan cleaning servicenya sudah baru. Ruangannya sudah di pindahkan. Tapi papa tetap ada. Melempar senyum dan melangkah ringan.
Sudah tujuh belas tahun tahun papa cuci darah. Bukan waktu yang sebentar. Selama saya koas, tidak ada pasien gagal ginjal yang bertahan selama itu. Dan itu lah yang Papa buktikan. Dengan ureum dan kreatinin tinggi menyesak dalam darahnya, Papa tetap di sana. Tidak mengeluh, tidak mau dikasihani, (Papa cuma mau minta tolong untuk membuka botol Aqua baru) tetap berusaha datang di wisuda saya (walaupun akhirnya dilarang oleh dokter) tetap bekerja walaupun dilarang, tetap memikirkan pasiennya, tetap operasi walaupun kakinya sakit. Papa tetap disalami anak SD dan ibu-ibu muda di mall. ”Dulu wak dilahiaan apak.” (Dulu saya lahiran sama bapak)
dan Selasa itu adalah Selasa terakhir papa mengunjungi ruangan itu.
Sungguh apa yang saya lakukan selama ini hanya agar ia bangga terhadap saya. Agar semangatnya yang mengagumkan itu tidak hilang. Walaupun itu tidak pernah saya ucapkan, dari tepukan punggungnya sore itu, saya yakin Papa tahu.
Meninggalkan cerita tersohornya di lorong-lorong rumah sakit. Di ruangan itu. Di halaman belakang rumah saya.
Duduk di kursi rotan. Menepuki nyamuk dan bercerita.
Pa, merupakan suatu kehormatan untuk Putri menjadi anak Papa. Seorang pejuang sebenarnya.
Untuk orang yang begitu baik, Tuhan bolehkah jalannya dimudahkan di alam sana?