Setelah naik motor selama 2 jam dilanjutkan berjalan kaki hampir 4 jam, akhirnya saya dan beberapa relawan tiba di puncak tertinggi di desa itu. Dinginnya malam terasa hangat dengan sambutan pak dusun yang tengah asyik bermain kecapi diterangi oleh lentera. Selama sepekan kami harus siap tanpa sinyal, listrik, juga kamar mandi dalam rumah.
Pagi hari, ketika saya menuju ke rumah warga lain untuk menumpang mandi, belasan anak berseragam merah putih telah berada di depan rumah yang kami tinggali sambil bermain kelereng. Padahal jam masuk sekolah masih sejam lagi.
Waktu menunjukkan pukul 7.30. Seluruh siswa kelas 1 sampai 4 mulai berbaris untuk persiapan upacara. Tidak ada lapangan khusus untuk upacara, tidak ada tim pengibar bendera, juga tidak ada guru maupun kepala sekolah yang berbaris seperti upacara sekolah pada umumnya. Saat hormat pada bendera merah putih, tanpa sadar mata mulai berkaca.
Meski jadwal sekolah hanya 6 hari setiap bulan, jarak dari rumah dan sekolah butuh waktu hingga 1 jam, pakaian lusuh dengan ritsleting rusak, kaki beralaskan sendal yang nyaris putus, kelas 3 dan 4 tanpa bangku dan meja, itu semua tidak menyurutkan langkah kaki kecil mereka untuk mengenyam pendidikan formal, setidaknya memutus rantai buta aksara di desa mereka.
Ada beberapa murid kelas 4 berusia 15 tahun menjadi buruh angkut di pasar juga kuli bangunan saat sedang tidak sekolah. Tidak, bukan mereka tinggal kelas, hanya saja mereka memang baru mengenal sekolah saat relawan mendeteksi desa tersebut 2 tahun belakangan ini. Tetapi yang mengesankan adalah mereka segera naik ke gunung untuk bersekolah saat tau kakak relawan datang.
Belum adanya guru yang bersedia mengajar di area pelosok seperti itu membuat proses belajar mengajar belum berjalan normal seperti jadwal sekolah pada umumnya. Walaupun begitu, anak-anak selalu antusias menunggu kakak relawan datang secara bergantian tiap bulan, juga menunggu untuk diberi pr.
Anak-anak di sana masih sangat polos. Tidak mengenal gadget, tiktok, bahkan Spongebob. Ada hal lucu ketika siswa kelas 4 bertanya soal gambar jalanan di Jakarta yang ada di buku mereka. Saya bilang itu di Jakarta, ibu kota Indonesia. Rupanya mereka belum mengenal istilah ibu kota dan Jakarta. Syukurlah mereka kenal dengan presiden, lalu saya bilang di situ presiden kita tinggal. Dan mereka mengeluarkan ooo yang panjang.
Di sisi lain, ada beberapa momen yang membuat saya terenyuh saat di kelas. Suatu kali saat jam istirahat, seorang anak terus memandangi saya. Ketika saya menyapanya, ia lalu mendekat dan mengeluarkan sebuah pisang dari tasnya. "untuk kakak", katanya. Keesokan harinya, bocah laki-laki juga tiba-tiba memberi saya sekantong beras saat jam istirahat. Hati saya meleleh.
Suatu hari saat menuju ke rumah salah satu murid, saya berbincang ringan dengannya dan dijawab dengan bahasa daerah, "Saya tinggal sama nenek di sini. Ibu tinggal sama suaminya. Bapak sudah tidak ada. Nenek juga sakit. Kalau saya ikut sama ibu, nanti tidak ada yang bantu nenek kalau terbangun malam-malam karena batuk." Saya terdiam, takut suara bergetar kalau bicara.
Sesaat kemudian, dia menawarkan untuk meringankan bawaan saya. Dia mengamati gambar Grizzly pada botol minum yang tadinya saya pegang. Sambil menunjuk dia bilang, "Ih adek. Dulu saya punya adek tapi sudah tidak ada." Ya ampun, kalau diingat lagi bawaannya mau nangis.
Saat hari sabtu tiba, saat saya sudah harus berpamitan dengan anak-anak juga warga, ada satu pesan mereka yang masih teringat sampai sekarang. "Jangan bosan ke sini lagi, ajar anak-anak lagi."
Saya masih ingin kembali ke sana. Mengajari mereka baca tulis, mengenalkan mereka pada buku bacaan. Tujuan saya setidaknya mereka punya satu buku favorit yang bisa membuat mereka ingin terus membaca.
Karena seperti yang Najwa Shihab bilang, "Hanya butuh satu buku untuk cinta pada membaca. Maka, mari cari buku itu."