Everything will come to you at the right time✨
Color Me Curious
untitled
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

pixel skylines
almost home
Lint Roller? I Barely Know Her
EXPECTATIONS
cherry valley forever
Noah Kahan

tannertan36
Fieri Frames
occasionally subtle
Not today Justin

Jimmy Eat World

Claire Keane
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Cosmic Funnies

#extradirty
YOU ARE THE REASON
seen from Colombia
seen from Colombia

seen from United States

seen from Thailand

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Vietnam
seen from Brazil
seen from Jamaica

seen from Canada
seen from T1
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Guinea
seen from Indonesia
@aururah
Everything will come to you at the right time✨

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Silence
I’ve been wondering how you’ve been lately. Maybe life has been heavier than you’ve let anyone see.
I wish I knew what you’re carrying, but you’re the only one who can tell me.
I’m not trying to make myself the victim of your silence. I’m simply trying to understand what I cannot see.
Strangely, uncertainty is harder to bear than any answer. I don’t want you to be sick, and I don’t want life to be weighing you down. I just don’t know where your silence comes from.
All I need to know is that you’re okay… and that, somewhere in your heart, you’re still there with me.
I just hope that in your silence, you haven’t lost anything that truly matters, you haven’t lost us.
—
And there’s a line from Pamungkas’ song A Day That Feels Better that has been on my mind:
“If tomorrow I’m losing you,
If tomorrow is now,
I just wanna be good to you.”
I guess that’s all I’m trying to do. Whatever you’re going through, I just hope you’re okay. And if you’re still there, I’d love to be someone you don’t have to go through it all alone.
—
Days of your silence,
I’m still here.
Di antara banyaknya hal yang patut disyukuri setiap harinya, salah satu kebersyukuran terbesar adalah diberi kesadaran untuk bersyukur.
Kadang sebelum tidur, tiba-tiba bergumam, “yaAllah terima kasih karena sudah menyadarkanku untuk bersyukur hari ini.”
Walau terkadang hari rasanya datar saja, semoga selalu ada ruang bagi kita untuk mengucap syukur dengan sadar pada hal-hal yang kecil sekalipun.
Doa Agar Meraih Kebahagiaan dan Ketenteraman
Ya Allah,
Dengan ilmu-Mu tentang yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau mengetahui bahwa kehidupan itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku.
Ya Allah,
Sesungguhnya aku memohon rasa takut kepada-Mu, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan. Dan aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan marah.
Aku memohon kepada-Mu kesederhanaan, baik dalam keadaan fakir maupun kaya.
Aku memohon kepada-Mu nikmat yang tak pernah habis dan aku memohon kepada-Mu penyejuk hati yang tidak pernah putus.
Aku memohon kepada-Mu kerelaan menerima segala hal yang telah Engkau tetapkan.
Aku memohon kepada-Mu ketenteraman hidup setelah kematian.
Aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang Wajah-Mu, juga kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, bukan dalam kesusahan yang membinasakan dan cobaan yang menyesatkan.
Ya Allah,
Hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memberi dan diberi petunjuk.
-HR. an-Nasa'i, III/54-55.
Kembali
Sekuat apapun genggaman, akhirnya akan terlepas juga.
Sekuat apapun pertahanan menghadapi kepergian, tetap akan runtuh juga.
Kata orang, kamu harus mengikhlaskan kepergian seseorang yang meninggalkanmu. Tapi kenapa kita harus mengikhlaskan kepergian seseorang saat tidak ada seorang pun milik kita? Bukankah kita memang tidak punya apa-apa di dunia ini?
Tapi nyatanya kita memang ditakdirkan untuk menyayangi seseorang begitu dalam sehingga saat ditinggalkan terasa begitu menyakitkan.
127 hari menemani seseorang dalam keadaan terbaring lemas membuat rasa sayang semakin dalam dari hari ke hari.
Saya tidak akan pernah lupa saat ia rela belum tidur karena menungguku pulang. Pagi-pagi ia membuatkanku bekal nasi goreng untuk ke sekolah. Ia datang ke sekolah dengan berjalan kaki hanya untuk membawakanku payung, sendal, dan jaket agar saya tidak kehujanan saat pulang. Sore hari ia selalu menanyakan mau ngemil apa lalu membuatkannya untukku. Saat pertandingan bulutangkis tayang di televisi, ia adalah orang yang paling setia dan semangat menonton pertandingan bulutangkis bersamaku di ruang tengah bahkan hingga larut malam. Ia adalah orang yang paling sering memujiku dengan begitu tulus. Ia selalu membagi rata makanan untuk kami. Ia selalu mengingat teman-temanku yang datang ke rumah. Dan ia, entah kenapa selalu bisa menjadi bermanfaat di manapun ia berada.
Kalau ditanya siapa yang selalu mengingatkanmu untuk shalat, tentu jawabanku adalah nenek.
Terima kasih sudah memberiku kasih sayang sejak kecil.
Semoga nenek selalu diterangi juga dilapangkan kuburnya, bahagia dan tenang di sana. Semoga saya bisa jadi orang yang selalu bermanfaat seperti nenek.
Semoga Allah kembali mempertemukan kita di surga-Nya.
26 Desember 2021 | 10.40
Nenek yang kusayang, telah kembali.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ajar anak-anak lagi.
Setelah naik motor selama 2 jam dilanjutkan berjalan kaki hampir 4 jam, akhirnya saya dan beberapa relawan tiba di puncak tertinggi di desa itu. Dinginnya malam terasa hangat dengan sambutan pak dusun yang tengah asyik bermain kecapi diterangi oleh lentera. Selama sepekan kami harus siap tanpa sinyal, listrik, juga kamar mandi dalam rumah.
Pagi hari, ketika saya menuju ke rumah warga lain untuk menumpang mandi, belasan anak berseragam merah putih telah berada di depan rumah yang kami tinggali sambil bermain kelereng. Padahal jam masuk sekolah masih sejam lagi.
Waktu menunjukkan pukul 7.30. Seluruh siswa kelas 1 sampai 4 mulai berbaris untuk persiapan upacara. Tidak ada lapangan khusus untuk upacara, tidak ada tim pengibar bendera, juga tidak ada guru maupun kepala sekolah yang berbaris seperti upacara sekolah pada umumnya. Saat hormat pada bendera merah putih, tanpa sadar mata mulai berkaca.
Meski jadwal sekolah hanya 6 hari setiap bulan, jarak dari rumah dan sekolah butuh waktu hingga 1 jam, pakaian lusuh dengan ritsleting rusak, kaki beralaskan sendal yang nyaris putus, kelas 3 dan 4 tanpa bangku dan meja, itu semua tidak menyurutkan langkah kaki kecil mereka untuk mengenyam pendidikan formal, setidaknya memutus rantai buta aksara di desa mereka.
Ada beberapa murid kelas 4 berusia 15 tahun menjadi buruh angkut di pasar juga kuli bangunan saat sedang tidak sekolah. Tidak, bukan mereka tinggal kelas, hanya saja mereka memang baru mengenal sekolah saat relawan mendeteksi desa tersebut 2 tahun belakangan ini. Tetapi yang mengesankan adalah mereka segera naik ke gunung untuk bersekolah saat tau kakak relawan datang.
Belum adanya guru yang bersedia mengajar di area pelosok seperti itu membuat proses belajar mengajar belum berjalan normal seperti jadwal sekolah pada umumnya. Walaupun begitu, anak-anak selalu antusias menunggu kakak relawan datang secara bergantian tiap bulan, juga menunggu untuk diberi pr.
Anak-anak di sana masih sangat polos. Tidak mengenal gadget, tiktok, bahkan Spongebob. Ada hal lucu ketika siswa kelas 4 bertanya soal gambar jalanan di Jakarta yang ada di buku mereka. Saya bilang itu di Jakarta, ibu kota Indonesia. Rupanya mereka belum mengenal istilah ibu kota dan Jakarta. Syukurlah mereka kenal dengan presiden, lalu saya bilang di situ presiden kita tinggal. Dan mereka mengeluarkan ooo yang panjang.
Di sisi lain, ada beberapa momen yang membuat saya terenyuh saat di kelas. Suatu kali saat jam istirahat, seorang anak terus memandangi saya. Ketika saya menyapanya, ia lalu mendekat dan mengeluarkan sebuah pisang dari tasnya. "untuk kakak", katanya. Keesokan harinya, bocah laki-laki juga tiba-tiba memberi saya sekantong beras saat jam istirahat. Hati saya meleleh.
Suatu hari saat menuju ke rumah salah satu murid, saya berbincang ringan dengannya dan dijawab dengan bahasa daerah, "Saya tinggal sama nenek di sini. Ibu tinggal sama suaminya. Bapak sudah tidak ada. Nenek juga sakit. Kalau saya ikut sama ibu, nanti tidak ada yang bantu nenek kalau terbangun malam-malam karena batuk." Saya terdiam, takut suara bergetar kalau bicara.
Sesaat kemudian, dia menawarkan untuk meringankan bawaan saya. Dia mengamati gambar Grizzly pada botol minum yang tadinya saya pegang. Sambil menunjuk dia bilang, "Ih adek. Dulu saya punya adek tapi sudah tidak ada." Ya ampun, kalau diingat lagi bawaannya mau nangis.
Saat hari sabtu tiba, saat saya sudah harus berpamitan dengan anak-anak juga warga, ada satu pesan mereka yang masih teringat sampai sekarang. "Jangan bosan ke sini lagi, ajar anak-anak lagi."
Saya masih ingin kembali ke sana. Mengajari mereka baca tulis, mengenalkan mereka pada buku bacaan. Tujuan saya setidaknya mereka punya satu buku favorit yang bisa membuat mereka ingin terus membaca.
Karena seperti yang Najwa Shihab bilang, "Hanya butuh satu buku untuk cinta pada membaca. Maka, mari cari buku itu."
Iya, ibuku beda.
Aku mau cerita. Kupikir sudah saatnya kamu tau.
Kamu tau kan kalau ibuku beda?
Iya, kita memang beda.
Suatu hari, ada tetangga yang menanyakan soal ibu ketika aku shalat tarawih di masjid. Aku benci membohongi orang-orang, tapi aku juga belum siap mengetahui respon mereka terhadap ibuku.
Kamu tau, tiap lebaran aku tidak se-excited orang-orang. Lebaran menurutku seperti hari biasa. Makanya aku lebih pilih ke rumah teman ketika lebaran. Di rumahku tidak ada euforia hari raya.
Satu hal yang paling menyebalkan di dunia ini adalah ketika orang-orang mulai mempertanyakan ibuku.
Pernah suatu hari aku dan teman kuliahku melayat ke rumah teman yang sedang berduka. Ibunya berpulang. Teman-temanku taunya ibunya seorang muslim. Selama di perjalanan, mereka bercerita tentang betapa baiknya ibu si A. Si A pasti sangat kehilangan.
Setibanya di rumah duka, mereka terkejut karena prosesi dilakukan bukan secara islam. Saat jalan pulang, teman-teman menceritakan soal prosesi tadi, menyayangkan karena ibunya berpindah keyakinan.
Perasaanku campur aduk saat itu. Kupikir mungkin orang-orang juga akan beranggapan yang sama ketika ibuku berpulang. Saat itu aku hanya bisa diam, berharap mereka tidak menanyakan soal ibuku. Sesampainya di rumah, aku benar-benar hancur. Aku benci hidupku.
Tidak jarang orang-orang menanyakan soal ibu hanya untuk memastikan bahwa keyakinan kami sama. Dan aku menjawab sesuai dengan keinginan mereka.
Kalau kamu mau tau apa impian terbesarku, aku hanya mau shalat bersebelahan dengan ibu. Tapi tiap kali aku berkhayal datangnya hari itu, dadaku kembali sesak.
Orang-orang tidak pernah tau bagaimana usahaku untuk ini. Kakak pernah menyuruhku untuk sadar, "susah mengubah keyakinan orang. yang penting kita sudah usaha. persoalan berpindah itu sudah bukan kehendak kita."
Sampai suatu ketika seorang teman membuka pikiranku. Aku harus berdamai dengan persoalan ini. Aku mulai kompromi dengan urusan yang di luar kehendakku. Perlahan aku ingin terbuka dan santai menghadapinya. Aku mulai jujur pada diri sendiri dan orang lain.
Dan sekarang, doaku hanya satu.
Semoga ibuku selalu bahagia.
________________________
Entah berapa kali ekor mataku menangkap derai air mata yang mengucur deras dan tak henti diusapnya. Selama dia bercerita, selama itu pula saya hanya menunduk. Saya tau dia tidak suka dilihat menangis.
Saat jeda setelah kalimat terakhir, saya menghela napas panjang. Dia juga melakukan hal sama, namun diiringi dengan segaris senyum.
Sungguh, saya tidak mampu berkata apa-apa. Percakapan itu meninggalkan perasaan sedih yang mendalam bagi saya, pun baginya. Tapi mendengar cerita itu, saya sangat bangga pada dia yang berani bercerita, membuka kembali pikiran saya bahwa ada banyak hal yang harus disyukuri soal keluarga.
Walaupun perbedaan itu ada, hal itu sama sekali bukan alasan untuk tidak memperlakukan orang lain dengan sebaik mungkin.
Saat sampai di depan rumah, untuk pertama kalinya saya mengatakan, "kamu baik-baik ya". Dia tertawa sambil berlalu.
Saya sempat mau ke psikolog.
Tadi malam saya menyapanya lewat chat. Awalnya hanya ingin ngobrol ringan karena sudah lama kami tidak bertukar cerita. Tanpa basa-basi dia langsung menumpahkan semua perasaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
"Saya sampai nangis per 15 menit. Saya sempat mau ke psikolog. Secara mental, ini sulit disembuhkan. Lebih tepatnya, belum ketemu caranya.
Orang-orang melihat saya hanya kerja untuk perut sendiri. Padahal di sini diajarkan untuk melihat skala besar. Bukan semata soal satu generasi saja.
Intinya, tidak gampang hidup tanpa percaya ini orang baik, ini orang yang bisa kita percaya."
Mendengar keluh kesahnya, saya lalu teringat dengan perspektif soal bekerja 'pakai hati' yang dia ceritakan beberapa waktu lalu.
"Bagaimana bekerja pakai hati, yang tiap hari logika dan perasaannya suka saling menyalahkan. Bahwa kita perlu pakai hati dalam bekerja. Karena sejatinya tujuan kita adalah keadilan. Dan dalam hal ini, hati yang murni yang bisa melihat itu."
Sejujurnya saya tau bahwa saat ini dia hanya ingin untuk didengar. Dia orang yang selalu punya cara sendiri untuk mengatasi masalahnya. Tapi tetap saja, selain menjadi pendengar, saya berusaha memberi saran yang setidaknya bisa sedikit meringankan. Saya menyarankan untuk membaca buku karya Guy Winch - Emotional First Aid.
Jeda sebentar, dia lalu muncul dengan kalimat bernada semangat,
"Setidaknya, untuk saat ini saya tau caranya. Nonton video galaksi tentang perbandingan bumi, matahari, dan lainnya.
Kita ini manusia bahkan disebut butiran debu pun belum pantas saking kecilnya. Kita sekecil ini, apalagi segala masalah di dunia ini. Hanya Allah yang maha besar."
Membaca chat terakhir membuat napas saya lebih ringan. Seperti yang saya katakan bahwa dia selalu menemukan cara untuk menstabilkan emosinya. Pada akhirnya, saya benar-benar hanya menjadi pendengar, yang mendengar luapan emosi sekaligus solusi, yang belajar banyak dari kedewasaannya. Terlepas dari pandainya dia membuat saya tak ingin khawatir padanya, semoga kecurigaan saya salah.
Di belahan dunia mana pun tidak ada seseorang yang hidup tanpa masalah, pun tidak ada masalah yang terlalu besar yang tidak bisa diselesaikan.
Saya lalu teringat perkataan Soe Hok Gie,
"Jangan mau jadi pohon bambu. Jadilah pohon oak yang selalu menentang angin."
Saya percaya kamu bisa melewatinya.
Biarkan mereka berspekulasi karena tidak semua orang bisa diajak komunikasi dan paham akan kondisi.
"Kenapa pada lagu Indonesia Raya yang lebih dulu disebut bangunlah jiwanya baru bangunlah badannya?
Itu menandakan bahwa kesehatan mental begitu penting dan krusial sejak dulu."
Kurang lebih seperti itu kalimat yang disampaikan oleh pak dekan di suatu acara fakultas beberapa waktu lalu. Dulu hampir tiap senin menyanyikan lagu ini saat upacara, tapi baru sekarang saya sadar makna di balik penggalan lirik lagu tersebut.
Glad that he mentioned about mental health.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kamu tidak menyerah saja ayah sudah bangga.
Percakapan antara ayah dan anak di balkon saat malam hari. Lupa judul webseriesnya apa, tapi scene percakapan itu sangat lekat diingatan. Saat mendengar kalimat sang ayah, tiba-tiba membayangkan sosok ayah yang mengatakannya langsung pada saya.
Saat cobaan seakan tak henti menguras segala hal dalam kehidupan, pun tidak ingin membebani siapapun hingga mengurungkan niat untuk bercerita pada seorangpun, bayangkan ketika ada seseorang yang tanpa bercerita panjang lebar ia seakan telah mengerti apa yang kita rasakan. Dan seseorang itu adalah ayah, ibu, saudara, atau sahabat.
Kadang kita malas untuk bercerita, pun malas untuk mendengarkan. Orang lain juga begitu. Tapi akan ada yang mampu memahami, walau hanya segelintir dari orang-orang terdekat yang kita miliki.
Hari ini saya berkesempatan untuk mengajar Maulana, murid kelas 4 SD yang super aktif, punya semangat belajar tinggi, juga sangat sopan. Kelas private yang hanya berisi kami berdua terasa ramai dan seru karena ia begitu antusias bercerita segala hal.
Di tengah pelajaran, saya memberinya kesempatan untuk mencetuskan ide permainan. Dipilihnya permainan tebak gambar yang menjadi ciri khas suatu negara. Maulana sangat tertarik ketika membahas soal Patung Liberty. Ia bahkan meminta izin agar bisa menggambar patung tersebut di papan tulis. Setelah menggambar, ia lagi-lagi meminta izin agar dibolehkan menjelaskan beberapa hal tentang Patung Liberty. Saya begitu terkesan dengan pemilihan kata yang anak ini lontarkan, polos namun sangat sopan.
Berkali-kali saya dibuat haru karena ucapan anak ini. Di tengah permainan, terjadi percakapan seperti ini.
"Miss ngga bosan sama permainan kayak gini?"
"Memangnya kenapa?"
"Kalo Miss udah bosan, kita ganti aja. Takutnya nanti Miss bosan"
Maulana selain cerdas, ia juga begitu perhatian. Sempat ia tiba-tiba berdoa, saya tanya dia lagi doa apa? Dia bilang, "saya berdoa semoga Miss tidak capek." Raut wajahnya begitu tulus.
Di akhir pelajaran, saya katakan bahwa saya hanya pengganti Miss A yang berhalangan hadir. Pertemuan selanjutnya akan dilanjutkan oleh Miss A. Tiba-tiba ia curhat, lalu mengeluarkan kalimat pujian. Tanpa menyembunyikan perasaannya ia jujur mengatakan, "saya senang diajar sama Miss. Miss cara mengajarnya bagus. ini saya puji biar Miss saja yang jadi pengajar tetap saya."
Ia berjanji untuk membawakan miniatur Patung Liberty yang ia buat dari kertas. Katanya, Miss harus liat di pertemuan selanjutnya.
Saya tidak menyangka bahwa pertemuan yang terjadi secara dadakan dan tidak disengaja ini meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi saya pribadi, dan mungkin juga bagi Maulana.
Jiwa petualangku kian membuncah kala teringat anime Yuru Camp tontonan beberapa tahun lalu. Rin, salah satu tokoh utama gemar camping sendirian di pinggir danau yang berhadapan langsung dengan Gunung Fuji. Ke lokasi hanya naik sepeda. Sampai di sana pasang tenda, siapkan alat masak, lalu duduk sambil menikmati cokelat panas dan sebuah buku bacaan.
Kuingin menjelma menjadi Rin di dunia nyata.
I like simple things, books, being alone, or with somebody who understands.
- Daphne du Maurier
Sepahit-pahitnya kopi, akan selalu ada yang menikmati.
Sepahit-pahitnya hidup, jangan pernah buat impianmu redup.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kita menjadi jauh dari ketenangan karena terlalu gelisah akan impian.
Adjie Silarus.
Beberapa bulan terakhir ini lebih sering mengunjungi pulau kecil.
Kemarin bisa merasakan damainya hidup di pulau tak berpenghuni.
Pasir putih, air jernih, bebas polusi, sepi.
Keindahan langit malam disesaki bintang,
Deburan ombak yang menenangkan,
Serta senja dengan daya pikat terkuat,
Menghilangkan segala penat hidup di kota.
Saat di dermaga, tidak ada celah untuk memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan.
Pikiran, perasaan, dan panorama, semua hanya tampak indah.
Bahkan saat tiba kembali di rumah.
Benar kata Robert Henri,
"Why do we love the sea? It is because it has some potent power to make us think things we like to think."