aku pernah melihat,
seorang lelaki, sederhana tampilannya, lucu lakunya, riang pribadinya. membuatku selalu tertawa, tidak pernah gagal.
mungkin sudah lewat masa itu, masa dimana aku selalu tertawa bukan karenanya tapi bersamanya.
hingga akhirnya dia gagal membuatku tertawa lagi. tapi tetap, aku pernah melihat
lelaki ini, secara konsisten menyayangi aku, menjadikanku prioritasnya dan tidak pun menutup jalannya melakukan banyak hal, sampai pada akhirnya dia menjadikan ku sebuah batasan, sebuah kata cukup, sebuah renungan diri.
aku adalah batas cukupnya, saat dia melewati batas dan tidak tau arah, dia kembali padaku, mengatakan, kau itu lebih dari cukup.
saat aku pikir dia pasti punya sesuatu yang lebih berharga dariku adalah salah, sifatku, fisikku, parasku, suaraku, tatapanku, diriku satu satunya hal yg paling berharga baginya.
sebesar itukan cinta? dapatkah seseorang menggambarkan rasa cinta manusia terhadap sesuatu? aku rasa tidak
saat itu aku merasa, tidak akan ada manusia lain yang mencintaiku setulus dan sebesar dia. tidak terhitung orang tua, karena menurutku orang tua ada default settingan dari Tuhan, tapi pasangan? kekasih? Tuhan memberi pentunjuk, kita yang memilih.
namun sayang, Tuhan memperlihatkan sosok yang sangat aku kagumi itu, hanya sebagai pembelajaran diri.
bahwa aku, harus lebih bisa menghargai perasaan, diriku dan orang lain.
sejauh apapun dia akan pergi, sehebat apapun dia akan menjadi, tetap, kamu makhluk Tuhan yang sederhana yang bisa membuat keajaiban disetiap detik aku mengenalmu dulu.









