Terinspirasi dari tulisan @rishajasmine tentang tujuan menikah.
Barangkali saya kualat. Dulu pernah sesumbar bahwa untuk menikah, orang harus benar - benar paham akan pernikahan. Ternyata ga juga. Karena semakin tahu kita realita tentang pernikahan, semakin kita ngeri untuk menikah.
Sekarang, kadang saya malah menyarankan orang lain untuk menikah di usia di bawah 25 tahun, di mana masih kebelet kebeletnya menikah. Gih nikah, karena usia segitu, paling gak saya dulu, belum tahu banyak tentang realita pernikahan dan masih polos, cenderung tahu luarnya saja. Jadi berani. Melewati masa kebelet nikah itu, input dan cerita tentang pernikahan membuat saya ngeri ngeri sedap juga sama pernikahan. Hell ternyata menikah tidak segampang itu, walaupun tentu saja kepingin. Terutama ketika beberapa teman dan kerabat bercerai dalam waktu yang hampir bersamaan.
Akhirnya, beberapa waktu lalu saya berkontemplasi. Mikir, bahwa kesiapan menikah tuh bukan sekedar masak, bisa ngurus rumah, jaga kehormatan, dan lalalala yang tengible. Apalagi belajar cium tangannya, gosah woy, ga perlu belajar menghormati lelaki dengan cium tangannya, belum mahram. Tapi ini kenyataan, wahai Sodara2. Teman saya cium tangan pacarnya dengan alasan belajar menghormati. Dudul.
Kita seringnya sibuk belajar hal - hal yang kelihatan. Kita lupa bahwa menikah tidak hanya butuh kesiapan ilmu, tapi juga kesiapan batin.
Begitulah, terlalu fokus pada yang kelihatan, kita lupa untuk mempersiapkan batin dan mental. Mental menghadapi segala hal yang kita permasalahkan dan kita list sebagai “persiapan pernikahan”.
Kalau mental kita siap, kita tidak akan meributkan hal - hal kecil yang tidak prinsipil.
Kalau mentalnya siap, kita tidak akan kekeuh mencari pasangan yang sudah sempurna, karena kita sudah siap untuk saling memperbaiki diri dengannya.
Kalau mentalnya siap, kita tidak perlu menuntut calon suami untuk jadi kaya, karena kita tahu dalam pernikahan selalu ada saatnya kita harus hidup sederhana bahkan sengsara.
Kalau mentalnya siap, kita tidak perlu ngeyel cari istri terseksi di dunia, karena kita tahu bahwa tubuh akan menua, sedangkan kita berharap pernikahan bersifat selamanya kan?
Kalau mentalnya siap, kita tidak akan ketakutan oleh cerita - cerita buruk tentang pernikahan orang lain, karena kita tahu bahwa setiap pernikahan pasti mengalami pasang surut masalah. Dan yang menentukan keberlangsungannya adalah dua pondasi berupa suami dan istri. Whether mereka kuat, atau gak.
Nah kekuatan ini dapat terbangun melalui niat. Kata seorang konsultan pernikahan sih, kalau niatnya sudah salah, permasalahan kecil akan nampak jadi penghancur rumah tangga. Lha wong yang niatnya benar saja kadang rumah tangga bisa berantakan kok.
Saya sendiri, dan seorang teman waktu itu, akhirnya dengan terpaksa mengakui bahwa kami belum siap, setelah sebelumnya saya melakukan denial. Adalah baik bagi kita untuk mengakui kelemahan kita, sehingga bisa dengan segera bertindak dan memperperbaikinya.
Kadang saya juga belajar dari adik ipar saya yang bisa begitu tenang menghadapi masalah rumah tangga yang mungkin jika saya yang menghadapi, saya sudah akan stres setengah mati.
Jadi, the point is, niat menikah itu sangat penting. Tidak hanya di awal, tapi juga harus terus dijaga lurusnya hingga kapanpun, selama menjalani pernikahan, berharapnya hingga mati. Lalu yang tidak kalah penting adalah persiapan mental menghadapi jalan di depan. Di depan pernikahan itu, adalah jalan yang lebih berat dari semua kesulitan yang pernah kita hadapi (mungkin, inu ngaco aja, biar kata - katamya dramatis).
Jadi di awal, tengah, dan hingga mati, niat dan mental memang harus terus diperbaiki.
*Dini yang pintar berteori, namun nol aplikasi*