Aima: "Ternyata semenyakitkan ini az, aku sudah mencoba menerima segala hal dari berbagai sisi yang bisa kulakukan menurut sudut pandangku, tapi nyatanya lagi² aku dihantam realita yang lebih menyesakkan"
Azril: "Apa kamu bahagia aii?
Aima: "Aku mulai menerima dengan lapang, hanya saja aku tidak mengira ada lagi ujian yang perlu kuhadapi. Sebenarnya aku ingin mengakhiri ini, tapi aku tau itu tidak memungkinkan sama sekali"
Azril: "Kamu bahagia aii?"
Aima: tersenyum simpul "Az, jika yang kamu tanyakan bahagia, aku bisa mengusahakan sesakit apapun perasaanku"
Azril: "Kamu benar-benar keras kepala aii".
Aima: "Ya, aku. Aku tidak tau lagi harus bercerita kepada siapa selain kamu. Meskipun aku tau, bahwa kamu sudah tak lagi peduli dengan urusanku. Kita se-asing ini, dan ini semua karnaku. Aku bisa apa"
Azril: "Kamu menyesal aii?"
Aima: "Tidak, aku tidak pernah menyesali semuanya. Aku tau kebahagiaan akan muncul beriringan dengan badai mereda. Apapun itu, semua akan kuterima"
Azril: "Hanya seperti ini?"
Aima: "Az, maaf ya. Sekali lagi aku minta maaf. Lagi-lagi ketika masalah di pikiranku menumpuk, kamu adalah orang yang kupikirkan pertama kali. Aku tau ini salah, tapi kali ini aku benar² tidak sanggup jika tidak bercerita kepadamu. Aku benar² tidak tau harus melakukan apa, harus bagaimana, harus berekspresi seperti apa. Yang aku tau, jika aku memilih pergi, tidak ada alasan lagi bagi seseorang untuk terus hidup. Mungkin aku hadir untuk menyembuhkan semua lukanya, untuk menjadi alasan seseorang bertahan dalam kehidupan yang hanya sekali ini"
Aima: tersenyum dan melihat mata azril "Az, karena aku yakin, kamu akan hidup lebih baik tanpaku. Kamu tidak akan dikhawatirkan dengan berbagai beban diberbagai sisi. Kamu tidak perlu lagi ingin membahagiakan aku dengan versiku. Kamu menjadi dirimu lagi seperti dulu, fokus pada tujuanmu, dan berpegang pada keyakinanmu. Kamu akan hidup lebih baik lagi tanpaku. Aku bukan alasan kamu hidup bahagia az, ibumu. Ya ibumu. Itulah alasanmu hidup seberjuang ini. Jadi selagi ibumu bahagia, aku tau kamu akan bahagia juga"
Azril: terkekeh "Lagi-lagi kamu menyimpulkan semuanya dari sudut pandangmu. Kamu tidak pernah bertanya bagaimana caraku memandang dunia. Jika kamu saja bisa menerima dia dengan semua kekurangannya. Bisa berpikir bahwa kamu menjadi alasan untuk hidupnya, lalu kenapa kamu tidak bisa membuatku diposisinya aima. Kamu bahkan tidak tau seperti apa dia, belum menjadi milikmu saja kamu sudah dikecewakan seberat ini. Lalu kecewa bagaimana lagi yang memebuatmu bisa kembali padaku aima"
Aima: terkekeh "Kamu tau az, sejujurnya dengan kekecewaan ini aku menyadari satu hal. Bahwa motto hidup yang kugemborkan selama ini benar² relate dengan hidupku. Apapun konsekuensinya aku menerima. Bukan aku tak mau kembali padamu, aku hanya malu. Dengan drama yang sempat tertoreh, apakah aku masih pantas jika bersamamu kembali. Pun ini tidak bisa diakhiri seenaknya. Tinggal menghitung hari, semua yang bisa dipersiapkan sudah siap. Semuanya sudah mencapai titik ini, apalagi yang harus disesali. Apa lagi yang harus dipikirkan ulang. Setidaknya dengan semua hal yang terjadi kemarin, bisa menjadikan aku paham bahwa 'tak selamanya yang terlihat baik memang baik' seperti halnya diriku. Bukan begitu? Aku juga banyak cacatnya, banyak kurangnya. Jika dia menerima semua kurangku, mengapa aku harus terusik dengan masa lalunya? Meskipun yaah sudahlah. Rasanya memang berat, tapi aku masih bisa memaksa menerima. Aku yakin, setelah ini memang bahagia yang dilimpahkan Allah kepadaku."
Azril: "Kamu selalu memilih menyakiti dirimu sendiri kan aima demi kebahagiaan orang lain"
Aima: "Tidak, nyatanya ketika aku menyakiti diriku sendiri, aku juga menyakitimu. Kamu tidak bahagia akan kesakitanku"
Azril: "Ya benar, mungkin satu²nya orang yang tidak bahagia akan kesakitanmu adalah aku"
Aima: "Azril, aku benar-benar minta maaf. Jika ini memang balasan Tuhan karena aku menyakitimu begitu dalam, aku terima semuanya. Tak apa. Aku tau aku tidak sesempurna itu untuk mendapatkan kesempurnaan"
Azril: "Kamu ini bicara apa, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu aima, meskipun tidak denganku"
Aima: "Ya aku tau, justru karena itu".
Azril: "Ada lagi yang masih ingin diungkapkan?"
Aima: "Ntahlah, aku bahkan tidak bisa lagi berpikir jernih. Lagi² setiap kali aku menghadapi hal yang menyakitkan, aku hanya bisa pasrah. Aku tidak ingin terlalu menggambar-gemborkan masalah. Ini aib yang perlu ditutup rapat. Akan tetapi jika tidak aku ungkapkan, rasanya kepalaku akan meledak kapan saja"
Azril: "Kamu benar-benar yakin kali ini?"
Aima: "Semoga saja az. Doakan aku. Dengan berbagai pertimbangan, aku akan tetap melanjutkan. Meskipun dia berkali² bertanya apakah aku ingin mencukupkan semua ini, tapi aku tau, jika ini benar berakhir, dia mungkin tidak memiliki alasan untuk terus hidup. Dari perkataannya saja sudah membuatku merinding. Aku benar² menanggung hal yang besar. Jika aku cukupkan pun aku tidak bisa menjelaskan alasan sebenarnya pada semua orang khususnya ibuku. Takutnya malah kamu terseret dalam masalah ini. Sudahlah, lebih baik kusimpan sendiri. Kunikmati sendiri. Apapun itu, yang pasti dia baik, dan semoga semuanya baik-baik saja kedepannya"
Azril: terkekeh "Baiklah. Jika kamu membutuhkan apapun, jangan sungkan. Selagi aku belum memiliki tambatan hati yang lain, aku akan menjadi pendengarmu. Aku akan memposisikan diri sebagai kakakmu. Aku bisa kamu percayai aima. Pecayalah!"
Aima: "Aku tau, jika aku tidak percaya, aku tidak akan sudi menjelaskan panjang lebar. Kamu selalu mendoakan yang terbaik untukku bukan az?"
Aima: "Aku juga. Bahagialah az, temukan seseorang yang nantinya akan bisa memeluk semua luka yang tergores dalam hatimu"
Aima termenung. Tersenyum simpul saat melihat kepergian azril.
"Lagi² setelah mencurahkan semuanya aku bisa sedikit menenangkan kalut dipikiranku. Maafkan aku azril, jika aku masih membutuhkanmu untuk menjadi alasan goresanku. Aku sudah berkali² menahan diri menghubungimu. Aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku sudah mulai membuka hati untuknya. Tapi tertampar kenyataan yang semenyakitkan ini. Bahkan aku harus memendam dan menutup rapat dari semua orang. Aku bisa apa. Aku memilih menerima, mendekap erat semua lukaku sendiri serta perlahan menyembuhkan luka yang tertoreh padanya. Semoga dengan semua luka ini, aku dan dia bisa saling menyembuhkan. Azrill,, sungguh berat kali ini. Tapi aku yakin masih kuat menjalani hari-hari mendatang. Paling tidak aku bisa mencari kebahagiaan dari berbagai hal."
Aima mengedipkan mata, mencoba menahan air matanya yang ingin luruh.
"Tidak apa², wanita sekuat, semandiri, dan sekeras kepala ini, tidak akan mungkin menyerah hanya karena hal seperti ini. Karena dia sudah berkomitmen, paling tidak aku bisa tenang. Untungnya, untungnya aku terbiasa dikecewakan keadaan, terbiasa membahagiakan diri dari berbagai luka yang ada. Jadi sekarangpun, aku masih kuat."
"wkwk berapa kali ya az, aku mencoba meyakinkan diri jika aku ini kuat, aku menerima semua hal. Ah tak apa, karena ucapan baik adalah mantra, aku tidak segan mengulang beribu kali bahwa aku kuat, aku menerima semua hal, dan aku pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Cukup sampai disini, terimakasih atas attentionnya azril."