Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
"Selamat, ya. You did an amazing job." ucap perempuan itu seraya menepuk pundak laki-laki di depannya dengan canggung. Lalu ia memutar badannya dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban apapun.
Laki-laki itu hanya terpaku di tempatnya, menatap pundak yang pernah ia jadikan sandaran itu menghilang di antara banyaknya manusia. Bertanya-tanya, sejak kapan mereka mulai menjadi seasing ini?
"If one day I ever betray you, what would you want me to do?"
"Are you planning to betray me?"
"No. Itâs just an if situation. What if one day I take you for granted? What would you want me to do?"
And silence fell upon them. For seconds that felt like eternity.
He searched her eyes for the meaning behind that question. Doubted her for a second too longâor maybe, he was doubting himself. Because he has no dignity when it comes to her.
She holds his gaze with softness. With hope he wouldn't find anything in it. With hope he answers with veracity.
"Disappear," he answered hesitantly. "If one day you hurt me deeply, please disappear as though you never existed. Make me believe that this whole time we were together was nothing more than my imagination. Because I love you. Because I'd burn this world for you alone. Because I don't think i could ever hate you. Because I'd keep on forgiving you again and again. Because I'd forgive you even if you were killing meâif you just look at me with those eyes." Their eyes met, heavy with feelings he had never dared to speak aloud. His lips trembled; his hands gripped her sides as though his life depended on it.
"So please," he whispered "don't torment me like that. Because I might go insane." He pleaded with all his heartâby all his mean.
So when the day finally came, she was ready. She gathered all her belongingsâeverything that carried her memories, every trace of her scent.
Her unwavering gaze faltered for a split-second. As if wincing at that plea. She carved his words into her heart, fully aware that it was a wish she could never fulfill.
And still, he went deranged searching every corner for her.
And like that, she disappears. She hasn't left the world. She doesn't dare die. She just disappears quietly from his world. Like she was never born, never alive. Like she was never real.
Years later, under a sunny haze, he'll see her again. When he's no longer looking. When even he believes she was just an imagination. That she was just a sweet, sweet dream.
Right at the tip of the world. He'd recognize her anywhere. Still as beautiful. Still as mesmerizing.
Even when her skin was darker. Even with sweats dripping on her forhead. Even when her used to be long hair now fell messily just above her shoulderblade. Even when her clothes all dirty. Even when every inch of her looks worn and rough.
She remained the most beautiful sight he had ever laid eyes upon. Still the only beauty that could captivates him.
Even now, he looks at her with those longing eyes. Those yearnings that grasp his reality. That she wasn't merely a dream, but a presence he could touch, see, feel.
Dare he takes a step towards her. Afraid she might be nothing more than a daydream, that he could lose sight of her with every blink.
He holds no ill memory of her.
He was angryâhe had every right to. How could she abandon him like that? Yet, never, not for a single moment, did he hate her.
He quickened his pace when she remained frozen, eyes wide with disbelief. Never expected to behold that divinely chiseled man again in this lifeâshe wasn't worthy.
Finally, Heâthe mysophobiaâheld her filthy-self close, ignoring every speck of dirt. "Please, please don't leave me again. I won't ever rocover."
"Genit banget sih lu jadi cewek," ucap laki-laki itu bercanda seraya menggenggam tangan perempuan di sebelahnya, menghentikan pergerakan tangan yang hendak mencubitnya tersebut.
Perempuan itu balas tertawa. "Tapi itu kan yang bikin lu pengen gue jadi pacar lu," candanya.
Di antara mereka diselimuti keheningan sejenak setelah kalimat itu terlontar asal.
A one shot fanfiction based on Afgan's Song; Ku Dengannya Kau Dengan Dia. Part of NCT Dream 00L as Indonesian broken heart song series.
"Hai, Jun,â sapamu sambil menghampiri laki-laki yang duduk di sudut kedai itu sendirian, tampak tenggelam dalam benaknya yang tak pernah berhenti berputar.
Tak bisa kamu pungkiri, kamu masih mengingat banyak hal tentang laki-laki itu. Terlalu banyak untuk seseorang yang bukan lagi siapa-siapa dalam hidupnya.
Kalian pernah saling mengisi. Mengisi hari-hari satu sama lain dengan sejuta warna. Meninggalkan sejuta kenangan yang tidak akan bisa kamu lupakan. Kamu pernah menjadi pemilik hati Renjun dan Renjun pernah menjadi pemilik hatimu. Pemilik yang pertama walau akhirnya kalian harus berpisah.
Benar apa yang dikatakan orang-orang, cinta pertama memang sulit untuk dilupakan.
âHai, dateng sendirian aja?â tanyanya dengan senyum ramah tersungging di bibir indahnya. Tanpa sadar tubuhnya sudah bangkit membantumu memosisikan kursi untuk duduk.
Kamu mengangguk sebagai jawaban. âKalo kamu ke sini sama siapa?â
âDitemenin sama Yena, tapi dia lagi keliling-keliling.â
Renjun bisa melihat senyum manis memudar dari wajahmu begitu kalimat itu selesai diucapkan. Kenapa? Ia juga tidak yakin. Namun untuk sesaat hatinya menghangat ketika ia membiarkan dirinya berpikir bahwa kamu tidak menyukainya. Bahwa kamu cemburu mendengarnya menyebutkan nama wanita lain.
Tapi rasanya tidak pantas sehingga Renjun cepat-cepat mengusir pikiran buruk itu dari benaknya. Sebab sekarang kalian hanya tinggal kenangan. Kamu sudah bahagia dengan pilihanmu. Dan Renjun terus meyakinkan dirinya bahwa ia juga sudah bahagia dengan pilihannya.
Terkadang Renjun masih bertanya-tanya, apakah mengakhiri hubungan kalian adalah pilihan terbaik? Nyatanya sampai sekarang kamu masih mengisi hatinya sekeras apapun ia berusaha melupakan rasa yang pernah ada di antara kalian.
Namun, Renjun berusaha untuk menjadi pria yang tidak egois. Dari awal, di dunia ini memang tidak ada tempat untuk kalian. Kamu yang sudah diikat oleh orang tuamu untuk pria lain dan ia yang tidak memiliki keberanian untuk memperjuangkanmu.Â
Karena mau sekeras apapun kalian berusaha, pada akhirnya selalu ada yang tersakiti. Kamu bilang, kamu akan memilihnya walau harus kehilangan segalanya. Tapi Renjun tidak berani memintamu memilih. Terutama antara dirinya dan kedua orang tuamu. Itu seharusnya tidak pernah menjadi pilihan.
Jadi ia memilih untuk mengalah dan melepaskanmu.
Kamu mengeluarkan sepucuk undangan dengan tinta emas menghiasi sampulnya.
âSelamat ya, gak nyangka sebentar lagi kamu bakalan jadi istri orang.â Kalimat itu diakhiri dengan tawa kecil Renjun.
Tawa kecil yang terdengar palsu di telingamu. Harusnya yang terpampang di sana adalah nama Renjun dan namamu. Harusnya sekarang kalian sedang berdebat kecil mengenai souvenir apa yang kalian inginkan.
Kamu marah. Marah kepada Renjun yang dengan mudahnya melepaskanmu. Marah dengan Renjun yang tidak mau memperjuangkan kata kita di antara kalian. Marah pada keadaan yang tidak membiarkan kalian bersama.
Kamu sudah siap jika harus kehilangan semuanya selama ada Renjun di sisimu. Karena bagimu, Renjun adalah segalanya.
Tapi ucapan laki-laki itu masih bersarang di ingatanmu. Ucapan yang mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada tempat untuk kalian.
Kamu menyangkalnya. Mengatakan bahwa duniamu adalah laki-laki dengan nama lengkap Huang Renjun.Â
Tapi yang kamu dapatkan adalah balasan bahwa kamu terlalu kekanak-kanakan. Bahwa kamu egois, hanya mementingkan diri sendiri, dan serentetan kata-kata menyakitkan lainnya.
Jadi akhirnya kamu memaksa dirimu untuk menjadi dewasa.
Dan mungkin itu adalah pilihan terbaik. Renjun di hadapanmu terlihat baik-baik saja. Terlihat lebih bahagia dengan kekasihnya yang bukan lagi dirimu.Â
Mungkin benar kamu yang terlalu egois dengan menganggap Renjun sebagai duniamu, sementara kamu hanyalah salah satu bintang di langitnya.
Jadi kamu memutuskan, setelah hari ini, kamu akan belajar untuk mengikhlaskannya. Belajar untuk berdamai dengan kenyataan bahwa kalian memiliki takdir masing-masing. Bahwa setelah ini, kalian hanyalah dua orang asing dengan sejuta kenangan.
"Iya, kebetulan juga ini lagi buru-buru, Jun. Jadi mampir sebentar aja buat kasih ini. Jangan sampai gak datang ya." Kamu kembali bangun dari dudukmu.
Bohong. Sebenarnya kamu tidak sedang dikejar waktu. Namun, rasanya kamu tidak sanggup jika harus berlama-lama dengan lawan bicaramu itu.
"Cepet banget, bukan karena takut ketemu aku kan?"
Tepat sasaran. Ia memang mengenalmu dengan sangat baik. Kamu memang takut akan meluapkan isi hatimu tiba-tiba dan kembali memohon agar pria itu membawamu pergi jika terlalu lama di sana.
"Apa sih, enggak kok, habis ini memang ada janji lagi. Aku duluan ya." Kamu melambaikan tangan sambil berjalan pergi dengan cepat tanpa menunggu balasan.
"Maaf. Terus hidup dengan bahagia, ya," lirih Renjun menatap kepergianmu.
Ia pun bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan tempat itu dengan sepucuk surat yang digenggamnya erat. Sebelum akhirnya ia memasukkan benda itu ke dalam kotak berwana kuning di samping pintu.
Ini adalah selamat tinggal darinya. Selamat tinggal untuk kalian.
Ia tidak akan datang. Bukan karena ia tidak menghargaimu. Tapi, ia takut kalau-kalau ia akan bertindak gegabah dan malah merusak kebahagiaanmu.
Lalu mengapa menerima ajakanmu bertemu? Mungkin ia hanya ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Dan ia juga akan berpura-pura untuk baik-baik saja selama sisa hidupnya
Atau mungkin, di dalam hati kecilnya, ia masih mengharapkanmu. Berharap bahwa kamu akan mengatakan bahwa kamu masih ingin bersamanya. Berharap bahwa tiba-tiba ia memiliki keberanian untuk memperjuangkanmu. Bahwa ia masih ingin terus berada di dekatmu.
Takdir memang kejam. Tapi memangnya siapa dia yang berani menyalahkan takdir? Dia hanya pria menyedihkan yang tidak berani memperjuangkan wanitanya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Pria itu hanya mengalihkan pandangannya tanpa menjawab pertanyaanmu.
Menyebalkan. Selalu saja begitu.
Jadi kamu berdiri dari tempat dudukmu, hendak pergi meninggalkan lawan bicaramu.
Namun tangan kokoh itu menangkap lenganmu.
"Udah capek, ya?" tanyanya sambil menatapmu penuh harap. "Tunggu. Jangan nyerah dulu sama gue. Tolong tunggu gue sebentar lagi. Gue lagi memantaskan diri buat berdampingan sama lo."
Wonwoo menatapmu yang sedang berbaring di sebelahnya. Memerhatikan setiap inci dirimu lekat-lekat seperti kamu akan menghilang begitu ia mengedipkan mata.
Kemudian ia tersadar bahwa mulai detik itu, mimpi bukan lagi kata paling romantis baginya. Mulai detik itu, ia putuskan bahwa mimpi adalah kata yang paling dibencinya.
Sebab, saat ini, kamu terbaring di sebelahnya dengan begitu tenang, sampai di benaknya terlintas angan bahwa kamu memang tercipta untuk berada di sanaâdi sisinya.
Namun, selamanya ia hanya bisa bermimpi untuk menyebutmu miliknya.
Jeno menatap ke arah jam dinding apartemennya. Pukul lima lewat empat puluh lima menit. Jantungnya mulai berdebar ketika ia teringat kalau malam sebelumnya kamu bilang akan mampir ke apartemennya setelah pulang kerja.
Jarak dari tempat kerjamu dengan apartemennya tidak terlalu jauh. Kamu seharusnya sudah sampai di sana dari setengah jam yang lalu. Tapi Jeno bersyukur karena entah mengapa, beberapa bulan belakangan kamu jadi sering terlambat.
Bukan hal yang perlu disyukuri memang. Tapi melihat keadaannya saat ini, Jeno tidak bisa mengelak bahwa ia beruntung karena hal itu.
Pasalnya Xiyeon sering kali menolak ketika Jeno memintanya untuk pulang. Jeno tidak menyalahkan perempuan itu, ia tahu kalau Xiyeon tidak tahu-menahu tentang hubungan Jeno denganmu.
Jadi Jeno hanya mengandalkan keberuntungan, berharap kalau kamu dan Xiyeon tidak akan pernah berpapasan.
Ia bukannya dengan sukarela melakukan hal ini. Mempertaruhkan hubungannya denganmu bukanlah sesuatu yang akan Jeno lakukan dengan senang hati.
Tapi ia juga tidak bisa memberi alasan yang kuat untuk menolak permintaan manajernya perihal mencoba memulai hubungan dengan Xiyeon melihat banyaknya orang yang menyukai mereka bersama. Ia berharap bahwa perempuan itu akan menolaknya, tapi nyatanya Xiyeon baik-baik saja dengan hal itu.
"Sayang, kamu dengerin aku nggak sih?"
Panggilan dari Xiyeon itu terasa asing di telinga Jeno. Itu tidak membuat jantung Jeno berdetak lebih cepat, berbeda dibanding saat kata itu keluar dari mulutmu.
"Eh, iya, denger kok."
Tentu saja itu bohong. Jeno tidak tahu apa yang sedari tadi Xiyeon ceritakan. Otaknya sedang berputar, memikirkan cara meminta Xiyeon untuk pulang dengan halus.
"Xiyeon, udah mau gelap nih. Kamu pulang dulu mendingan. Istirahat. Besok kamu ada jadwal, kan?" tanya Jeno sehalus mungkin.
"Kamu ngusir aku?" Xiyeon menatapnya dengan mata memelas.
"Nggak. Nggak gitu. Gak baik juga kamu sampe malem di apartemen cowok berduaan," ucap Jeno berusaha memberikan alasan yang masuk akal.
Kalau saja teman-temannya mendengar hal itu keluar dari mulutnya. Ia pasti akan dicibir. Sebab selama ini Jeno tidak pernah peduli ketika kamu bermalam di apartemennya.
Ah, ia jadi teringat ketika Renjun mengatainya laki-laki brengsek.
Jeno tidak marah. Temannya itu hanya mengutarakan fakta. Ia memang brengsek.
Tapi Renjun juga mengerti bahwa Jeno tidak bisa mengakui hubungannya denganmu. Ia takut kalau-kalau hubungan kalian akan ditentang dan ia malah dipaksa untuk memutuskanmu.
"Anterin aku balik?" tanya Xiyeon dengan nada memohon.
"Lain kali, ya. Jisung mau mampir hari ini. Gak enak kalo aku suruh dia nunggu," balas Jeno dengan nada menyesal. Kalau dilihat aktingnya selama ini, mungkin Jeno sudah cocok untuk menjadi aktor. "Aku anterin kamu sampe lift aja, ya?" sambungnya.
Xiyeon hanya mengangguk. Wajahnya sudah terlihat bete.
"Maaf, ya. Lain kali aku yang anterin kamu pulang," ucap Jeno ketika mereka sudah berada di depan pintu lift yang terbuka.
"Janji ya!" seru Xiyeon penuh semangat.
Jeno hanya menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
"Oke, aku pulang dulu ya. Jangan kangen!"
Xiyeon tiba-tiba saja melingkarkan tangannya di leher Jeno dan mengecup bibir laki-laki itu. Diikuti dengan pintu lift yang kembali tertutup.
Jeno hanya terpaku di tempatnya. Ini pertama kalinya bibir lain yang bukan milikmu menyentuh bibirnya.
Tapi itu bukan satu-satunya hal yang membuatnya terkejut. Kamu yang muncul dari balik pintu tangga membuat mata Jeno terbelalak. Ia terlalu kaget sampai-sampai ia mendorong Xiyeon menjauh membuat perempuan itu menatapnya aneh.
Tapi kamu tidak melihat itu terjadi. Tubuhmu sudah kembali hilang di balik pintu.
"Kenapa?" tanya Xiyeon bingung.
"Nggak enak kalau dilihat orang," balas Jeno cepat sambil menekan tombol lift berkali-kali. "Hati-hati, ya," sambung Jeno ketika Xiyeon sudah masuk ke dalam lift.
Rasanya Jeno ingin bumi menelannya saat itu juga. Ia terlalu takut untuk menemuimu.
Tapi tentu saja bumi tidak akan mendengar permintaan dari laki-laki brengsek sepertinya.
Jeno memberanikan diri untuk membuka pintu tangga di depannya. Netranya menangkap punggungmu yang sedang duduk terdiam di anak tangga teratas.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari bibir Jeno.
Yang selama ini ia takutkan benar-benar terjadi.
"Aku minta maaf," ulang Jeno pelan saat kamu akhirnya berdiri menghadapnya. Ia tahu sejuta maaf pun tidak akan mengobati sakit hati yang kamu rasakan. Ia tidak pantas mendapatkan maafmu.
"It's okay," bisikmu dengan suara yang sangat pelan.
Jeno mengepalkan tangannya. Ia benci dirinya sendiri.
"It's not okay," balas Jeno melangkahkan kakinya ke arahmu. Tangannya terangkat berusaha menggapaimu yang saat ini terasa sangat jauh.
Tapi kamu melangkah mundur membuat Jeno mengurungkan niatnya.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti kalian. Tenangmu memberitahu Jeno bahwa kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya.
"Sejak kapan?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Jeno begitu saja. Padahal Jeno sendiri tahu kalau ia sendiri tidak siap untuk mendengar jawaban darimu.
"Apa?"
"Sejak kapan kamu tau?"
"Empat bulan lalu," jawabmu enteng.
Jeno merasa bahwa dirinya adalah pria paling brengsek di muka bumi.
Empat bulan.
Harusnya Jeno sadar kalau ada sesuatu yang salah saat kamu menolak bertemu di hari jadi kalian. Mungkin itu adalah saat pertama kali kamu mengetahuinya, tebak Jeno.
Harusnya ia tahu ada yang salah ketika kamu yang selalu tepat waktu tiba-tiba menjadi sering terlambat.
Tapi dirinya yang terlalu bodoh mengira bahwa ia hanya sedang beruntung.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa kamu nggak pergi? Kenapa kamu nggak marah? Kenapa kamu cuma diem?" Kalau Jeno tidak menghentikan dirinya. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah selesai. Ia tidak mengerti jalan pikiranmu. Perempuan lain pasti sudah mengamuk saat melihat pacarnya berselingkuh.Â
Jeno tidak tahu apakah yang ia lakukan itu bisa disebut perselingkuhan. Faktanya ia tidak punya perasaan apa-apa terhadap Xiyeon. Ia tidak pernah memanggil perempuan itu dengan sebutan sayang. Ia tidak pernah mengungkapkan perasaan pada Xiyeon. Ia tidak pernah membalas genggaman tangan ataupun pelukan Xiyeon.
"Nggak tau, ya. Mungkin aku yang belum siap untuk kehilangan kamu. Mungkin aku berharap kalau masih ada tempat di hati kamu buat aku. Walaupun sedikit, itu udah cukup buat aku." Jeno mengeraskan rahangnya, ia menatapmu dengan mata memohon. Entah memohon agar kamu memaafkannya, atau memohon agar kamu mendorongnya jatuh dari tangga, Jeno juga tidak yakin. "Asal kamu tau aja, ya. Aku marah. Tapi bukan sama kamu. Bukan sepenuhnya salah kamu, Jeno. Gak usah ngeliatin aku kayak gitu."
Ini salahnya. Jeno tahu ini salahnya.
Kamu terlalu baik baginya. Dan ia terlalu brengsek bagimu.
"Tempat kamu masih ada. Selalu ada." Jeno ingin mengatakan kalau hatinya masih milikmu. Sepenuhnya milikmu. Tapi ia juga tahu kalau kamu tidak akan memercayainya.
"Makasih Jeno. Untuk semuanya. Jadi sekarang kita selesai, ya?" Ucapanmu menampar Jeno dengan sangat keras.
Bukan hanya kamu yang tidak siap untuk kehilangannya. Jeno juga tidak siap untuk kehilanganmu. Tidak akan pernah siap.
Ia ingat semua obrolan larut malam kalian. Bahwa kamu ingin menikah di venue outdoor dengan pemandangan indah. Bahwa kamu hanya ingin pernikahan yang sederhana. Bahwa kalian setuju untuk memiliki dua anak.
Jeno masih mengingat semua itu. Selama ini Jeno selalu berpikir bahwa itu adalah gambaran masa depan yang akan ia jalani bersamamu.
Harusnya ia sadar bahwa ini adalah akhir yang harus kalian jalani. Semuanya hanya karena dirinya yang pengecut.
Mata Jeno berkaca-kaca. "Please, jangan kayak gini. Marah. Pukul aku. Aku brengsek," ucap Jeno frustasi. Ia ingin kamu menamparnya. Memukulnya. Balas menyakitinya. Walaupun ia tahu rasa sakit itu tidak akan bisa membayar dosanya.
"Shh, kamu nggak brengsek Jeno. Don't sell yourself so low in front of me. Di mata aku kamu sempurna, Sayang." Panggilan itu membuat dada Jeno terasa sesak. Bukan karena ia tidak menyukainya. Tapi karena ia tahu bahwa ia tidak akan lagi mendengar suara lembutmu memanggilnya dengan sebutan itu.
Jeno ingin meralat ucapanmu. Kamu salah. Salah besar.
Ia jauh dari kata sempurna. Yang sempurna itu kamu.
Jeno merasakan tanganmu merangkulnya ke dalam pelukmu dan air matanya mulai menetes membasahi kemejamu. Pelukanmu masih sama. Selalu menghangatkannya. Masih membuat kupu-kupu memenuhi rongga abdomennya.
"Shh, Jeno, udah ya? Jangan bikin ini makin susah untuk aku."
Kamu tidak tahu kalau melepasmu juga sulit bagi Jeno. Kehilanganmu juga menyakitkan bagi Jeno. Isakan Jeno semakin menjadi ketika ia sadar bahwa di kepalamu, kamu berpikir bahwa Jeno sudah tidak mencintaimu.
Itu adalah suatu hal yang sangat mustahil. Jeno tidak percaya tentang cinta pada pandangan pertama. Tapi sejak pertama ia bertemu denganmu, ia tahu kalau ia harus mendapatkanmu. Jeno jatuh hati padamu sejak pandangannya pertama kali jatuh kepadamu.
"Aku masih sayang kamu dan akan selalu sayang kamu." Jeno ingin mengatakan itu. Tapi ia akan jadi terlalu egois kalau ia benar-benar melakukannya. Benar katamu. Jeno hanya mempersulitmu. Mengatakan hal itu tidak akan memperbaiki hubungan kalian. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki hubungan kalian.
Jeno merasakan tetesan air mata di pundaknya. Kamu menangis. Jeno membuatmu menangis. Entah untuk yang keberapa kalinya ia tidak tahu. Ia mengeratkan pelukannya di pinggangmu. Berharap kalau ia tidak harus melepaskannya.
Kamu adalah rumahnya. Sejak lama kamu adalah tempat Jeno untuk pulang. Rasa lelahnya selalu hilang saat ia melihat senyummu, bahkan walau hanya di foto sekalipun. Jadi ke mana ia harus pulang jika kalian berakhir?
"Jeno, udah ya. Kamu punya Xiyeon sekarang," bisikmu di telinga Jeno membuatnya menggelengkan kepala.
"Nggak. Aku maunya kamu."
Jeno yakin saat itu ia terlihat seperti anak kecil. Tapi ia tidak peduli. Itu adalah isi hatinya.
Jeno merasakan tanganmu di bibirnya. Menghentikannya dari menumpahkan seluruh isi hatinya.
Seharusnya posisinya tidak seperti ini. Seharusnya Jeno membuatmu tersenyum. Bukannya malah membuatmu menangis.
"Mungkin di kehidupan lain akan ada tempat buat kita," ucapmu membuat Jeno mengeraskan rahangnya.
Ia tidak mau kehidupan lain. Ia akan sangat bersyukur kalau di kehidupan lain ia memiliki kesempatan untuk bersama dengan wanita sempurna, yaitu kamu.
Tapi ia mau kamu sekarang. Saat ini. Ia menginginkanmu untuk selalu menjadi miliknya. Selain brengsek ternyata ia juga egois. Ia akui itu.
Kamu melepaskan sentuhanmu dari Jeno dan ia langsung merasa begitu hampa. Rasanya terlalu sepi tanpa sentuhanmu.
Jeno jatuh berlutut melihat punggungmu menghilang untuk yang kedua kalinya di hari itu. Tapi ia tahu kalau kali ini kamu akan menghilang untuk selamanya.
Ia ingin berteriak, menjerit, memintamu untuk tetap tinggal. Tapi ia tidak berani. Ia sudah terlalu menyakitimu.
Bodoh. Bajingan. Brengsek. Jeno membisikan semua kata kasar yang ia tahu pada dirinya. Menyadarkan dirinya bahwa ia tidak pantas untuk bersama denganmu.
"Aku akan selalu sayang kamu," bisik Jeno kepada bayanganmu yang akhirnya menghilang sepenuhnya.
Kamu duduk termenung di tangga gedung apartemen Jeno, menunggu terdengarnya bunyi suara lift yang menandakan bahwa Jeno baru saja mengantar tamunya pergi.
Sebenarnya kurang tepat untuk dibilang tamu karena kamu sudah puluhan kali memergoki Jeno bermesraan dengan Xiyeon di apartemen yang ditinggalinya.
Tapi, kamu juga tidak mau menyebut perempuan itu kekasihnya. Karena kalau begitu, apa posisimu dalam hidup Jeno?
Bodoh memang. Perempuan mana yang mau membiarkan kekasihnya berselingkuh dengan perempuan lain? Mungkin hanya kamu.
Sakit. Kamu tidak akan mengelak bahwa rasanya sangat sakit.
Kamu masih ingat pertama kali kamu memergoki mereka empat bulan lalu. Kamu berniat untuk memberikan Jeno kejutan di hari jadi kalian yang kedua. Sayangnya rencanamu berbalik, malah Jeno yang memberimu kejutan.
Kejutan pahit bahwa kamu bukan satu-satunya perempuan yang Jeno sebut kekasihnya.
Jadi hari itu kamu pulang dengan mata sembab dan hati hancur berantakan. Kamu hanya mengirim pesan sebagai bentuk ucapan dan menolak saat Jeno mengajakmu bertemu di malam harinya.
Sampai beberapa hari setelahnya pun kamu masih menolak untuk bertemu Jeno. Dadamu terlalu sesak bahkan untuk melihat wajah laki-laki itu di wallpaper handphonemu.
Tapi kamu memutuskan untuk mengalah. Kamu masih belum siap untuk kehilangan Jeno. Bahkan sampai detik ini pun kamu masih berusaha menguatkan hatimu untuk menerima kenyataan kalau sebenarnya Jeno bukan lagi milikmu.
Jadi ini mungkin adalah pilihan terbaik yang kamu punya saat ini. Setidaknya sampai kamu siap.
Suara lift berbunyi membuyarkan lamunanmu.
Kamu melangkah keluar dari pintu tangga ketika bunyi itu terdengar untuk yang kedua kalinya, menandakan bahwa orang yang memanggilnya sudah menjauh dari lantaimu saat ini.
Tapi kamu kurang beruntung. Perkiraanmu salah. Netramu disambut dengan Xiyeon yang sedang memberikan kecupan perpisahan pada Jeno.
Padahal selama ini kamu sudah sangat berhati-hati untuk menghindari mereka. Rasa lelahmu ketika harus bersembunyi di toilet selama berjam-jam bukan apa-apa dibandingkan harus mengalami apa yang kamu rasakan sekarang.
Ternyata rasanya masih tetap sakit walaupun kamu sudah menyiapkan hatimu untuk kejadian ini. Ini bahkan lebih menyakitkan dibanding saat pertama kali kamu melihat mereka.
Mungkin karena saat ini kamu tahu bahwa hubunganmu dengan Jeno tidak akan sama lagi.
Tapi kamu bukan satu-satunya orang yang terkejut saat itu. Kamu bisa melihat mata Jeno terbelalak melihatmu.
Kamu tidak yakin apa yang harus kamu lakukan. Jadi kamu hanya memutarbalikkan badan, berpura-pura bahwa kamu dan Jeno tidak saling mengenal dan kembali menghilang di balik pintu.
Kamu terduduk di anak tangga teratas sambil menatap dinding dengan pandangan kosong. Kakimu terlalu lemas untuk digunakan berlari pergi dari tempat itu.
Suara pintu dibuka terdengar membuatmu memejamkan mata erat-erat.
Kamu tahu pasti siapa yang melangkah masuk. Tapi kamu tidak memutar kepalamu untuk melihatnya, kamu masih belum siap untuk menemui Jeno.
Keheningan menyelimuti tempat itu setelah pintu tertutup. Tidak ada bunyi yang terdengar selain suara napasmu dan napas berat Jeno.
"Maaf." Itu suara Jeno yang memecah keheningan. Mungkin laki-laki itu juga tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Kamu menguatkan dirimu untuk bangkit menatap Jeno. Senyum tipis yang tidak dapat Jeno artikan tersungging di bibirmu.
"Aku minta maaf," ucap Jeno pelan. Mungkin ia takut kamu akan marah. Atau takut kamu akan menangis di sana. Tapi kamu hanya mengangguk kaku.
"It's okay," balasmu dengan suara yang lebih pelan. Jeno mungkin tidak akan mendengarnya kalau tempat itu tidak benar-benar hening. Yah, memangnya siapa yang mau menggunakan tangga di lantai dua belas?
"It's not okay." Jeno melangkahkan kakinya mendekat ke arahmu.
Tapi kamu berjalan mundur untuk menghindar membuat Jeno menghentikan langkahnya. Kamu harus mempertahankan jarakmu dengan Jeno. Atau perasaan yang kamu berusaha bendung saat itu bisa meledak kapan saja. Dan kamu tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan Jeno.
"Sejak kapan?" tanya Jeno.
"Apa?"
"Sejak kapan kamu tau?"
Kamu menggigit bibirmu. "Empat bulan lalu."
Kamu tidak menyalahkan Jeno. Sungguh.
Kamu sudah tahu kalau kata selamanya tidak ada dalam kamus hubunganmu dengan Jeno. Bahkan sejak pertama kali laki-laki itu muncul dengan senyum manisnya di hidupmu.
Kalian terlalu berbeda. Jeno adalah seorang bintang, sementara kamu bukanlah siapa-siapa.
Hanya saja kamu terlalu egois. Kamu ingin memiliki Jeno walaupun hanya untuk beberapa saat. Meski akhirnya kamu harus menanggung rasa sakit ini.
Harimu yang abu-abu menjadi lebih berwarna dengan Jeno di dalamnya. Pagimu menjadi lebih cerah dengan ucapan selamat pagi dalam pesan singkat yang dikirim Jeno. Malammu menjadi lebih hangat dengan ucapan selamat tidur darinya.
Rasa sakit ini tidak setara dengan kebahagiaan yang selama ini kamu rasakan. Kalau kamu bisa mengulang waktu, kamu tetap akan memilih untuk bersama Jeno walaupun kamu tahu akan seperti ini akhirnya.
"Kenapa?"
Kamu menatap Jeno bingung. "Apanya yang kenapa?"
"Kenapa kamu nggak pergi? Kenapa kamu nggak marah? Kenapa kamu cuma diem?"
Kamu menaikkan bahumu asal, berusaha untuk mencairkan suasana. "Nggak tau, ya. Mungkin aku yang belum siap kehilangan kamu. Mungkin aku berharap kalau masih ada tempat di hati kamu buat aku. Walaupun sedikit, itu udah cukup buat aku. Asal kamu tau aja ya. Aku marah. Tapi bukan sama kamu. Bukan sepenuhnya salah kamu, Jeno. Gak usah ngeliatin aku kayak gitu."
"Tempat kamu masih ada. Selalu ada."
Kamu menganggukkan kepalamu lagi.
"Makasih Jeno. Untuk semuanya. Jadi sekarang kita selesai, ya?" tanyamu, lebih untuk meyakinkan diri sendiri.
Kenyataan bahwa kamu tidak akan bisa berada sedekat ini lagi dengan Jeno baru menghantammu. Kenyataan bahwa harimu akan kembali menjadi abu-abu tanpa senyum yang mendatangkan pelangi itu.
"Please, jangan kayak gini. Marah. Pukul aku. Aku brengsek."
Matamu ikut berkaca-kaca melihat mata indah Jeno mulai berair.
"Shh, kamu nggak brengsek, Jeno. Don't sell yourself so low in front of me. Di mata aku kamu sempurna, Sayang." Panggilan itu mengalir begitu saja keluar dari bibirmu. Mungkin lidahmu sudah terlalu terbiasa mengucapkan panggilan itu sampai kamu lupa kalau panggilan itu sudah bukan lagi milikmu.
Kamu menggenggam tangan laki-laki itu, lalu merangkulnya ke dalam pelukanmu. "Untuk terakhir kali," ucapmu dalam hati.
Pundak lebar itu bergetar dalam pelukmu. Menandakan sang empunya sedang menangis. "Shh, Jeno, udah ya? Jangan bikin ini makin susah untuk aku," ucapmu menenangkan.
Satu tetes air mata menetes dari matamu balas membasahi kaus Jeno. Diikuti dengan tetes-tetes lainnya. Kamu yakin kalau saat ini kalian terlihat seperti pasanganâralat, dua orangâaneh yang terisak bersama di tangga.
"Jeno, udah ya? Kamu udah punya Xiyeon sekarang.â Mengucapkan itu sangat menyakitkan. Kebenaran memang selalu menyakitkan. Tapi kamu tidak akan sanggup jika harus membohongi dirimu lagi dengan mengatakan bahwa Jeno masih milikmu.
"Nggak." Laki-laki itu menggelengkan kepalanya membuatnya terlihat seperti anak kecil. "Aku maunya kamu."
Kamu menjauhkan dirimu dari Jeno dan menatap wajah dengan pahatan rahang yang sempurna itu dengan mata sembabmu. Kamu mengangkat tanganmu menutup mulut Jeno, menghentikannya dari mengucapkan kata-kata yang akan semakin membuatmu sulit untuk melepaskannya.
"Mungkin di kehidupan lain akan ada tempat buat kita."
Kamu melepaskan tanganmu dan memalingkan wajah dengan berat hati. Berjalan meninggalkan Jeno akan selalu menjadi hal terberat yang kamu lakukan sepanjang hidupmu.
Terutama ketika kamu tahu bahwa hal itu adalah untuk yang terakhir kalinya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
(n.) the inevitable discovery of what we would rather not know
Laki-laki itu menatap garis kuning yang menghalangi orang-orang penasaran dari apartemen di sebelahnya. Ekspresi bingung terpampang di wajah letihnya melihat hal itu.
"Permisi pak, ini ada apa ya?" tanyanya pada salah satu petugas kepolisian yang berjaga di sekitar tempat itu.
"Sore tadi pemilik apartemen ini ditemukan meninggal. Anda kenal?" tanya laki-laki berseragam itu kepadanya
Laki-laki itu terdiam mendengarnya.
Ia tidak begitu mengenal perempuan itu.
Mereka tidak pernah bicara selain saling menyapa ketika bertemu di lift, di lorong, atau di depan pintu apartemen yang bersebelahan.
Yang ia tahu, perempuan itu sudah tinggal di sana jauh sebelum ia pindah menempati ruangan di sebelah apartemennya.
Yang ia tahu, perempuan itu adalah pecinta musik jazz yang memiliki suara indah. Suara perempuan itu sering terdengar menembus dinding pembatas yang tipis.
Yang ia tahu, tiga tahun lalu, ayah perempuan itu yang pemabuk meninggal akibat kecelakaan, meninggalkannya sendirian. Tapi ia tidak pernah tahu tentang ibunya.
Yang ia tahu, perempuan itu tidak menangis di pemakaman ayahnya dan perempuan itu mengucapkan terima kasih sambil tersenyum kepada setiap orang yang datang menyebabkannya menjadi topik pembicaraan. Tapi ia juga tahu kalau terkadang perempuan itu menangis di sela-sela malam.
Yang ia tahu, perempuan itu mulai bekerja di bar setelah lulus SMA tanpa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia juga tahu kalau perempuan itu terpaksa melakukan hal itu demi menghidupi dirinya.
Yang ia tahu, perempuan itu sering meninggalkan makanan kucing di luar gedung. Beberapa kali juga ia melihat perempuan itu memberikan makanan pada kakek pemulung yang sering berkeliaran di lingkungan apartemen mereka.
Yang ia tahu, seminggu yang lalu perempuan itu pulang dengan badan penuh lebam. Kali terakhir ia melihatnya.
Di mata Jeno, perempuan itu adalah wanita mandiri dengan senyum manis yang ia sebut sebagai tetangganya.
Laki-laki itu tahu apa yang terjadi pada tetangganya itu bukan salahnya.
Tapi perasaan bersalah itu tetap muncul di hatinya ketika ia mulai bertanya-tanya.
Apakah perempuan itu masih akan ada di sini kalau dulu ia berusaha untuk peduli terhadapnya?
Apakah perempuan itu masih akan ada di sini kalau dulu ia tidak hanya diam mendengar suara isakannya yang menembus dinding pembatas apartemen mereka?
Apakah perempuan itu masih akan ada di sini kalau saja dulu ia berani berbicara dengannya dan meyakinkannya kalau ia akan selalu ada jika perempuan itu membutuhkannya?
Apakah perempuan itu masih akan ada di sini kalau ia memutuskan untuk bertanya tentang bekas goresan yang ada di lengannya?
Dan apakah perempuan itu masih akan ada di sini kalau ia berani mengecek keadaannya saat terakhir kali perempuan itu pulang dan berhenti keluar dari pintu apartemennya?
Tapi itu semua adalah pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab. Karena perempuan itu tidak akan hidup kembali dan laki-laki itu tidak memiliki mesin waktu untuk kembali ke saat-saat tersebut.
"Dik, halo dik." Bapak polisi itu melambaikan tangan di depan wajah laki-laki itu menyadarkannya dari lamunan.
"Ah, iya, maaf pak,"
"Jadi kamu kenal dengan perempuan yang tinggal di sini?"
"Cukup untuk setidaknya melakukan sesuatu."
inspired by: Must Have Been The Wind â Alec Benjamin
(n.) things better left unsaid; matters to be passed over in silence
A song to listen to when reading this.
Kamu terduduk di atas lahan yang dikelilingi rerumputan, tempat di mana kamu pernah menghabiskan ribuan jam bersama Jeno.
Senyum getir tersungging di bibirmu mengenang masa-masa itu.
Sayangnya, mulai malam ini sampai seterusnya, tempat ini hanya akan menjadi milikmu sendiri, bersamaan dengan laki-laki itu yang menjadi milik wanita lain.
Hidup memang tidak pernah adil.
Kamu yang lebih dulu jatuh cinta kepada laki-laki itu.
Kamu juga yang selalu ada untuk Jeno kapanpun laki-laki itu membutuhkan sandaran.
Tapi laki-laki itu malah berakhir dengan wanita lain.
Kamu tahu ini bukan dunia dongeng di mana Sang Putri akan berakhir hidup bahagia dengan pangerannya. Atau setidaknya, ini bukan cerita dongengmu.
Ah, seandainya saja dulu kamu berani mengungkapkan perasaanmu, mungkin akhir ceritanya tidak akan seperti ini. Mungkin saat ini kamu yang sedang tersenyum bahagia bersama Jeno di atas pelaminan.
Tapi kamu pengecut. Terlalu takut mengambil risiko. Karena kamu sendiri tahu selalu ada kemungkinan lainnya. Kemungkinan kalau laki-laki itu akan pergi meninggalkanmu begitu kamu menyatakan perasaan yang selama ini kamu kubur dalam-dalam.
Jadi kamu memilih untuk diam.
Sebab kalau Jeno benar-benar menghilang, kamu yang akan jadi berantakan.
Kamu pikir mencintai Jeno dalam diam sudah cukup. Tapi kenyataan tidak semanis perkiraan. Nyatanya, kamu tidak ikhlas melepaskan laki-laki itu untuk wanita lain.
Itu juga yang menyebabkanmu berakhir di tempat ini sebagai wanita egois yang tidak hadir di hari bahagia sahabatnya.
Bukannya tidak mau. Tapi kamu tahu kalau hatimu tidak akan sanggup.
Setetes air mata mengalir di pipimu diikuti dengan tetes hujan pertama yang jatuh menghujam bumi. Kamu tertawa kecut. Langit pun ikut menangis menyaksikan akhir ceritamu.
Mungkin ini adalah cara semesta bersimpati kepadamu. Setidaknya, dengan begini tidak akan ada yang melihatmu terisak-isak.
Tapi itu tidak terjadi.
Kamu tidak terisak.
Rasanya terlalu hampa bahkan untuk menangis sekalipun. Atau kamu yang sudah terlalu lelah menghabiskan waktumu menangisi laki-laki yang kini sudah menjadi milik orang lain?
Kamu menggigit bibir ketika wajah tampan itu menyeruak ke dalam benakmu. Sudah berapa juta kali senyum itu terpampang di sana? Seakan menghina dirimu yang tak akan pernah mampu menghapus wajah itu dari ingatan.
Kata-kata itu bukannya tanpa alasan. Kamu sudah mencoba melakukan berbagai hal untuk menghilangkannya. Nyatanya tidak ada yang berhasil. Perasaan itu tetap bercokol di hatimu tanpa tahu malu.
Kamu ingin menjerit. Meneriakkan isi hatimu kepada hamparan luas yang kosong ini. Menjadikan petak-petak tanah di sekitarmu sebagai saksi bisu dari perasaan yang tak sempat terucap.
Tapi lidahmu kelu. Tidak ada suara yang keluar dari bibirmu.
Jadi kamu hanya berbisik sebelum memejamkan mata, "Aku mencintaimu, Lee Jeno. Dulu, sekarang, dan seterusnya."
Itu adalah kali pertama kata-kata itu terucap dari bibirmu. Mungkin juga untuk terakhir kalinya.
Tidak lantang. Tapi itu sudah cukup untuk mengangkat sedikit bebanmu.
Yang jelas, oknum yang disebutkan tidak akan pernah mendengar kata-kata itu terucap langsung.
Dan mungkin akan lebih baik jika seperti itu.
Karena tanpa ada yang tahu, laki-laki dengan marga Lee itu juga merasakan hal yang sama. Bedanya, orang itu jelas lebih berhasil menyembunyikan isi hatinya rapat-rapat.
Lucu bukan? Hidup memang seperti roller coaster komedi yang tiada akhirnya. Terkadang perlu ditertawakan walau hanya sekedar tawa hampa untuk menutup pilu.