Teruntuk Jiwa-jiwa yang Memaksa Kuat
Jangan pernah denial terhadap hal-hal yang kamu rasakan dalam menghadapi jenis peristiwa yang kamu lalui. Perasaan marah, kecewa menyikapi hasil, tidak sanggup menjalani atau melanjutkan proses, dsb. adalah hal yang harus kamu akui, bahwa itu nyata. Mereka betul-betul ada.
Kamu sungguh tidak bijak jika menganggap bahwa dirimu kuat. Bahwa kamu harus terus tampil menawah di hadapan siapapun. Sekuat apapun manusia, tetap butuh dikuatkan. Sebab tabiat manusia pada asalnya lemah, dan dengan berkumpulah mereka kuat. Mereka saling melengkapi dan memahami tiap-tiap kekurangan diri.
Kamu tidak harus bercerita ke semua orang, jika melakukan itu kamu anggap sebagai bentuk menunjukkan sisi terlemahmu. Tidak apa, cukup satu orang yang kamu percaya dengan hati yang fokus mendengarkan, sampai tidak sempat telunjuknya mencari dalil penghakiman. Cukup satu orang, namun kamu percaya dengannya. Lantas apa yang membuat urung melakukan itu?
Ah aku tau. Bukan, bukan berarti kamu mengabaikan Tuhanmu dengan cerita ke salah satu hamba-Nya. Mungkin kamu takut itu bukan? Bercerita ke orang lain itu, bukan bermaksud kita mengadu dan memohon kepadanya, melainkan sebagai bentuk ikhtiar untuk meringankan beban pikiran yang selama ini tertahan sendiri.
Ada kalanya jiwa membutuhkan ruang napas melalui lisan. Bercerita kepada sesama hamba bukanlah tanda hilangnya tawakal kita terhadap-Nya, melainkan cara kita menyadari bahwa manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan penguat.
Kamu tetap percaya bahwa segala hal yang terjadi padamu adalah dalam skenario-Nya, kamu tidak terbesit sedikitpun dalam benak bahwa kejadian yang menimpa adalah bentuk ketidakadilan-Nya, namun kamu hanya menyampaikan rasa yang kamu alami terhadap sesama hamba, agar hatimu tidak merasa sendirian dalam memikul beban yang begitu riuh.
Menyampaikan rasa kepada sesama hamba bukanlah bentuk protes atas ketetapan-Nya, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjaga kewarasan. Terkadang, jiwa hanya butuh divalidasi bahwa lelah itu manusiawi, dan sesak itu nyata, tanpa harus kehilangan iman sedikit pun. Semoga kamu mengerti.
















