Setelah semesta menghancurkan hidupmu berkali-kali meski kau sudah memohon dengan teramat sangat namun rasa perih itu tak kunjung juga berhenti, terkadang tak percaya lagi akan kekuatan doa menjadi hal yang rasanya wajar sekali.
Seperti halnya malam ini, selepas lembur, aku memutuskan untuk pulang kantor. Teman-temanku sudah pada menikah. Setelah bekerja, mereka akan pulang menuju keluarganya masing-masing. Sedangkan aku yang tidak punya siapa-siapa ini, sekarang mash duduk sendirian di parkiran mobil yang sudah lengang dengan sebotol bir, rokok murah, dan sepotong kue yang aku beli dari toko manisan dekat kantor.
Tidak ada yang menantiku di rumah. Di kota yang penuh gegap gempita ini, entah kenapa aku merasa sepi sekali. Hari-hari monoton dan ditutup dengan kesendirian, tampaknya lambat laun mulai membuat hidup tak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dijalani.
Dulu, kupikir merantau ke Ibu kota akan mengubah hidupku menjadi lebih baik. Atau setidaknya bisa lebih hidup sebagai seorang manusia pada semestinya. Namun sekarang, bahkan di tengah pesta yang penuh dengan hingar bingar dan tawa lepas itu pun, aku selalu merasa sendiri.
Aku tidak pernah menyangka, kesepian ternyata bisa semembunuh ini.
Ini adalah kumpulan cerita dari orang-orang yang mudah digantikan;
mau membaca?












