First Ever Attempt (and hopefully the last one)
Sudah beberapa minggu, jam tidur malamku menjadi kacau. Mungkin karena kalau anakku tidur pagi dan siang aku ikutan tidur serta aku meminimalisasi main hp saat anakku tidak tidur. Jadilah aku merasa hanya punya waktu sendiri bersama hp ketika malam hari.
Awal-awal masih oke dengan jam 11 malam. Lama-lama jam 1 pagi. Lanjut ke jam 3 pagi. Sampai akhirnya hingga adzan subuh aku tetap terjaga. Aku yang membangunkan suamiku (saking on timenya aku dengar adzan, padahal biasanya suamiku yg membangunkan).
Ya, aku sering mengantuk di pagi hari. Merasa “aku belum tidur” sehingga aku sering minta waktu di pagi hari untuk tidur. Padahal anakku bangun pagi, aktivitas keluarga banyak di pagi hari. Situasi ini sangat memengaruhi moodku yang pagi harus ini itu dan cepat triggered jika sesuatu tak berjalan mulus sesuai dambaanku.
Hari itu, kalau tidak salah ingat, aku baru tertidur setelah sholat subuh dan terpaksa terbangun karena anakku bangun sekitar jam 7. Belakangan ia sedang tidak enak badan. Batuk, pilek, ditambah tumbuh gigi taring bersamaan keempat2nya. Jujur aku ngantuk sekali tapi aku harus menyuapi anakku.
Aku menyesal mengapa ini terjadi. Seharusnya tidak terjadi jika aku bisa putar waktu. Seharusnya aku memahami kondisi anakku dengan lebih baik. Dia tidak mau makan dan aku “memarahinya”.
Kenapa ga mau makan de? Dede kalau udah gamau mamah urusin dede makan sendiri aja, sana sama papah. Gapapa ya mamah pergi ya.
Ini kedua kalinya aku marah dengan beradu pandang dan nada tinggi disertai tangisan sejak anakku lahir. Aku tersulut emosi. Setan tertawa mungkin saat itu. Aku merasa tidak bisa mengurus anak dengan baik.
Setelah kejadian itu, anakku tidak mau sama sekali aku dekati, aku ajak main, aku gendong, aku suapi. Benar-benar rasanya aku diperlakukan seperti orang asing. Tidak pernah sesakit ini rasanya ketika orang lain yg melakukan ini semua padaku. Hancur hatiku tidak dianggap lagi oleh anakku sendiri, yang aku kandung, yang aku lahirkan. Dia jadi sangat menempel dengan papahnya. Kemana-mana ikut papahnya. Ingin terus papahnya gendong walaupun papah harus sambil kerja. Aku diminta menenangkan diri dulu setelah kejadian itu. Aku dibiarkan tidur dulu.
Seharian itu aku berusaha minta maaf kepada anakku. Aku meminta maaf dengan setulus hatiku, berusaha menangkap pandangannya, tapi dia berpaling. Aku semakin merasa sepertinya suamiku bisa menghandle anakku tanpa diriku. Semuanya bisa dia kerjakan sendiri. Anakku aman walaupun aku pergi.
Saat malam tiba, kami bergantian sholat. Giliran suamiku sholat. Aku bawa kursi ke taman belakang. Aku mau melihat langit, bintang, dan hujan bersama anakku, sekaligus ingin mengajaknya mengobrol sembari meminta maaf. Namun tangisnya semakin keras. Dia sama sekali tidak peduli padaku. Rasanya tatapan marah dan diksiku tersimpan rapi di folder ingatannya. Akhirnya aku mengulang kata-kata yang kurang lebih sama
Gapapa ya mamah pergi. Dede sama papah aja di sini
Namun kali ini disertai dengan tangisanku yang rasanya sesak sekali. Aku sudah kalut, tidak bisa berpikir jernih. Seolah aku sedang mengitung kancing. Minum 5 atau 1. Minum 5 atau 1. Ya, obat dari psikiaterku.
Akhirnya setelah suamiku selesai sholat, ia mengambil kembali anakku yang saat itu tidak berhenti menangis dan tidak kunjung tenang berada dalam pangkuanku.
Aku langsung berjalan cepat menuju meja di mana obatku berada. Aku ambil 5 dan meminumnya. Suamiku tidak memperhatikan aku minum berapa, tapi entah ini sugesti atau benar langsung terasa efeknya, aku langsung seperti bingung dan pusing, hampir mau jatuh. Suamiku menangkapku sambil khawatir dan terus bertanya “ayang kenapa?”
Lidahku kelu. Tidak bisa menjawab. Dalam pikiranku, aku telah mencoba mengakhiri hidupku mendahului takdirku. Maka tak henti aku mengucapkan syahadat mumpung masih hidup. Yaa Allah ampuni aku, tapi aku capek dan hancur. Selama ini anakku membuatku kuat, lalu ketika dia sendiri tidak peduli padaku, aku merasa tak berguna lagi ada di dunia ini.
Bisa dibilang kesadaranku masih baik tapi mulai pusing. Aku bisa berjalan sendiri ke kamar walau sedikit sempoyongan. Aku minta matikan lampu dan tinggalkan aku sendiri. Suamiku tidak mau, takut jika aku tidur, lantas aku tidak pernah bangun lagi.
Dia putuskan menghubungi IGD RS tempatku dirawat oleh psikiaterku. Aku bilang aku mau di rumah, aku tidak mau ke RS, tapi suamiku bersikeras membawaku ke IGD.
Di mobil aku semakin merasa lemas dan seperti bingung (walau masih sadar). Aku tidak tahu persis isi kapsul racikan itu apa saja, tapi belakangan aku tahu ketika suamiku bertanya ke dokter jaga, jika diminum berlebih efeknya adalah halusinasi. Ya, mungkin benar, karena aku seperti bingung tapi masih bisa menjawab pertanyaan walaupun agak meracau saat di bed IGD.
Akhirnya aku harus dipasang selang NGT. Aku tahu selang itu dari ibu2 yang bayinya tidak bisa menyusu langsung atau ada kondisi khusus. Selang yang dipasang melalui hidung dan dihubungkan ke kerongkongan menuju lambung sehingga apapun yang masuk, ia otomatis mengalir tanpa perlu ditelan. Sakitnya bukan main dipasang selang ini, apalagi ketika aku harus dimasuki air sebanyak 1,5L yang kupikir kenapa ga suruh aku minum langsung aja, ternyata supaya perjalanan air ke lambung itu langsung tanpa hambatan. Kembung air rasanya saat itu lalu aku pun dipasang jarum infus dan dimasukkan suatu obat.
Tidak lama kemudian, aku mulai sakit kepala, perutku tidak enak, seperti mau muntah tapi ragu. Akhirnya suster menaikkan tong sampah dan bilang jika mau muntah, jangan ditahan. Lalu benar saja, rasanya semua isi lambungku keluar semua. Memang aku sedang menjalani kuras lambung katanya. Entah berapa banyak obat yang sudah menyebar di otakku, tapi aku sekelebat lihat zat warna hijau keluar dari muntahanku. Seperti warna kapsulku.
Selain muntah, efeknya pun jadi ingin pipis karena pasti ada air yg sudah tertampung di kantung kemih. Setelah semua itu selesai aku diperbolehkan pulang. Kondisiku berangsur baik. Sudah bisa menyapa supir gocar seperti biasanya. Namun yang paling terasa adalah lapar. Ya maklum perutku isinya nol.
Kami melipir dulu mengisi perut. Kondisiku seperti tidak terjadi apa2. Aku makan seperti biasa walau masih ada kesedihan karena anakku masih abai padaku.
Itu jam 01.30 dini hari. Paginya, suamiku memutuskan untuk tidak ke kantor dan juga menyembunyikan obatku agar aku tidak nekat lagi. Dia hanya akan menaruh 1-2 kapsul di kotak obatku, sesuai dosis yg dokter bolehkan.
Ia masih takut aku bisa berbuat nekat lagi padahal pemasangan selang NGT itu sudah cukup traumatis bagiku untuk melakukan percobaan bunuh diri dg cara yg sama. Akhirnya aku coba bepergian dengan anakku supaya bapaknya bisa kerja di rumah dengan tenang. Walaupun sepanjang perjalanan dia cemberut, akhir2 sebelum pulang dia sudah mulai mencair.
Aku sangat bersyukur. Rasanya duniaku kembali. Bahkan ketika sampai rumah dan bapaknya pura2 tidak ada (bersembunyi di ruang kerja), anakku sudah kembali seperti anakku yang biasanya. Tidak nangis menjerit2 lagi. Tidak uring2an lagi. Walau ketika bapaknya keluar, itu semua terjadi lagi, tapi aku sudah tidak apa-apa.
Aku bingung. Psikologku bilang, keluarga itu seperti 1 sistem yg saling berpengaruh. Tidak tahu siapa yang memulai jika ada masalah. Aku tidak tahu, anakku rewel karena aku tidak mood, atau justru aku tidak mood karena anakku rewel. Namun psikologku berpesan, ini bisa dimulai dari 1 orang untuk memperbaiki, dan aku mencoba memperbaiki itu dan alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan.
Ampuni aku atas keputusasaanku yaa Allah
Ampuni aku atas ketidakmampuanku melawan hawa nafsu burukku
Jagalah keluarga kami, lindungilah kami dari segala keburukan.
Dan kini, di jam yang hampir berganti hari, aku masih belum bisa tidur, tapi tak apa. Aku tenang, anakku dan suamiku sudah terlelap.