Hai!
.
Sudah 3 bulan lamanya Saya bekerja di Jakarta. Kalau bulan tersebut dihitung dengan jari, tentunya terlihat sedikit, tapi kalau sudah dihitung hari, apalagi jam, sudah tidak dapat lagi dihitung dengan jari.
Tentunya, ada banyak hal yang alami, serap dan pelajari.
Tentunya, ada perubahan-perubahan yang Saya tidak sangka akan terjadi pula.
Saya, tadinya adalah pembenci Jakarta yang macet. Sampai saat ini pun masih. Yang berbeda adalah, sekarang Saya harus rela menghadapi macet tersebut setiap hari demi menunjukkan loyalitas Saya terdahap pekerjaan. Tadinya, Saya paling malas keluar rumah kalau sudah di Jakarta. Karena bagi Saya saat itu, Bandung merupakan comfort zone yang entitasnya tidak perlu dipertanyakan kembali.
Saya, tadinya paling benci melihat orang lembur, dan berpikir bahwa lembur merupakan suatu bentuk ketidak-loyalitas-an seseorang terhadap keluarganya, meski itu berbanding terbalik dengan nilai loyalitas orang tersebut dengan pekerjaannya. Ternyata, Saya menjadi satu dari sekian juta manusia yang rela lembur bahkan sampai jam 5 pagi untuk bisa menyelesaikan pekerjaan Saya tepat waktu.
Saya, tadinya adalah seseorang yang penuh rasa optimis bahwa berita miring mengenai seorang pemimpin hanya akan menjadi sekedar berita miring saja, tinggal bagaimana kita mau melihat dari sudut pandang yang mana. Ternyata, Saya terlalu naif untuk percaya bahwa pencitraan diri berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan dan cara berpikir seorang pemimpin. Sisi positifnya? Saya kembali belajar mengenai kepemimpinan secara langsung.
Saya, tadinya adalah perempuan yang sangat mengutamakan kebahagiaan pasangan Saya. Ternyata, ketika Saya sudah memiliki kesibukan di bidang yang cukup Saya sukai, Saya hampir melupakan orang orang terdekat Saya, terutama pacar Saya. Ternyata, bagi Saya menjadi begitu amat penting untuk menjadi seorang perempuan yang berhasil, bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, sehingga kelak Saya bisa menjadi pasangan hidup (read : istri) yang sudah terlatih skill kemampuan berpikir dan manajemennya untuk mengelola rumah tangga.
Ada beberapa ke'ternyata'an lainnya yang Saya sadari, namun di sisi lain membuat Saya lebih lega, karena darisitu Saya bisa lebih mengenal diri sendiri.
Segala ke-ternyata-an itu juga membuat pikiran Saya lebih terbuka terhadap berbagai peluang atau kemungkinan yang dapat terjadi dalam waktu dekat maupun panjang.
Namun tentunya, hal-hal itu juga menimbulkan berbagai tantangan (read : masalah) baru yang membuat Saya harus berpikir dua kali atau lebih, mengenai cara untuk menyelesaikannya. Sulit, awalnya, bahkan sampai sekarang pun masih sulit, tapi saat ini Saya ingin selalu percaya kalau setiap masalah, apapun solusinya adalah jawaban terbaik untuk masalah tersebut.
Salah satu masalah yang seringkali membuat Saya sering -hampir- merasa menyesal adalah, waktu Saya yang semakin terbatas untuk melakukan hal-hal yang Saya sukai. Saya rindu sekali punya waktu luang untuk bisa mengerjakan beberapa soal latihan untuk tes yang tadinya Saya targetkan untuk diikuti bulan Mei ini tapi rasanya tidak mungkin :___) . Saya rindu baca buku santai pagi-pagi tanpa harus diburu-buru waktu. Saya rindu olahraga pagi, dan bangun pagi dengan hati ringan. Saya rindu masakan ibu, obrolan adik, dan pacar Saya. Kesemua hal tersebut, akhir-akhir ini sedikit berhasil membuat Saya untuk menyerah dan meninggalkan semua yang Saya mulai sejak 1 Februari lalu.
Tapi Saya tidak ingin pergi sebagai pengecut yang menyerah karena kesulitan yang belum mampu dihadapi, Saya harus menyelesaikan hal-hal yang sudah menjadi tanggung jawab Saya. Jadi, semoga Saya bisa!
Udah sih itu saja. Tiba tiba Saya ngantuk, karena baru lembur.....
Catcha later!













