Gakada yang lebih melelahkan dan kompleks dari saat sedang menunggu.
Menunggu apapun. Menunggu bus kota yang tak kunjung tiba di halte aku sedang berdiri. Berharap, semangat, mulai khawatir, menengok sedikit, lihat layar, menengok lagi, mulai buka-buka sosial media, melihat jam, menengok lagi. Kepala mulai ribut dan riuh. Apakah tetap menunggu dan berharap 5 menit lagi bus yang dinanti akan tiba. Ataukah lebih baik segera memesan ojek online agar lebih pasti?
Kondisi seperti itu, sering sekali aku alami dalam hidup. Menanti orang yang sedang janjian dengan kita. Mulai cek pesan. Sibuk membaca menu, menimbang apa yang akan dipesan, mulai lihat jam, scroll-scroll lagi, melihat sekeliling, raut muka menjadi awkward, menimbang apakah mengirim pesan dan bertanya. Melihat ke arah pintu. Mulai gusar. Mulai ingin menelepon. Berharap mukanya segera jalan ke arahku. 5 menit berlalu, pesan tidak berbalas, apa lebih baik tetap sabar menunggu, atau kita biarkan saja rasa kesal dan marah ini menyeruak di udara. Apakah lebih baik tetap duduk atau beranjak berdiri dan pergi?
Lagi-lagi, situasi itu kembali hadir, saat di ruang tunggu menanti antrean dokter. Hadir 30 menit sebelum waktu janjian. Takut terlewat. Namun, nama tak kunjung dapat panggilan. Mulai resah. Terlebih kalau mengingat kita punya janjian atau jadwal lain. Lagi-lagi gusar menghampiri dan menyeringai.
Ada juga, momen di mana kejadiannya sungguh lebih besar ukurannya. Menanti pengumuman tawaran kerja, beasiswa, atau menunggu pasangan hidup tiba.
Momen paling tidak nyaman dalam hidup. Sesak di dada. Gusar di muka. Berkecamuk di kepala. Apakah tetap sabar menunggu, atau memutuskan ambil langkah dan pergi?
Sungguh, momen menunggu selalu penuh kejutan. Tidak ada kekuatan yang bisa mengontrol perasaan menjadi lebih tenang. Semua atas dasar ikatan kepercayaan antara kita dengan Tuhan. Apakah tetap sabar, menanti, percaya… atau memenangkan perasaan kesal dan melangkah pergi?
Tidak mudah. Tidaklah mudah. Namun, semoga Tuhan berikan aku tanda, di titik mana aku perlu tetap sabar menunggu dan di titik mana aku bisa ikhlas dan melangkah pergi. Semoga, apapun momen dan situasinya, itu yang terbaik dan membawa ketenangan dan rasa syukur dalam hati.















