Which university should I choose for my PhD?
Barusan got off a ONE-HOUR call (54 mins sih) with a new friend I made a couple of days ago in Fukuoka. He’s applying for a PhD, dan keluarlah million-dollar question itu: “kak sebetulnya tapi I don’t need to go to the Ivy League gitu kan for PhD? I can go to like sekolah biasa-biasa aja tapi profnya emang expert di bidang yang I want to work in?”
Jawabanku (tentu saja ada biasnya karena I did my PhD in Oxford): yeah, no, you don’t. Lebih ke… You should go to where the experts are; if you want to do carbon capture and storage, for example, I wouldn’t recommend going to Oxford because no one does CCS there! Nanti bingung juga mau nanya ke siapa. Ekosistem expertisenya nggak di sana. Walaupun pasti they can connect you to people sih.
Tapi. TAPI. Ada tapinya besar: still try to go to sekolah yang nggak buruk-buruk banget. Yang at least secara ranking masih ok. Walaupun PhD udah custom banget—lab ke lab bakal beda, bahkan prof ke prof bakal beda—ada faktor uang juga yang main. If you go to good schools, they won’t have any problem with money. Facility-wise, everything should work fine for you. I know stories from friends dari university yang… sebetulnya nggak jelek juga, tapi emang bukan top schools banget gitu, they had to build their lab set-up sendiri, susun protocols… I don’t say being in top uni nggak ada strugglenya: I did have a lab problem that stalled my research for one year, and I also worked with old equipment yang butuh repaired sebulan sekali, tapi at least duitnya ada, or bisa dicari.
Ini juga nanti berhubungan dengan welfare profesornya. Kalau prof kita tidak hepi, struggling sendiri sama kerjaan dia, boro-boro mau supervise kerjaan kita, tau kita ngapain aja nggak. At least kalau di uni bagus, harusnya nggak ada masalah ini: dia welfare-nya OK, nggak perlu cari tambahan dari sana-sini, dan jadinya kalau kita ada masalah, ada apa-apa, dia bakal pasang badan dan bantuin kita cari solusinya. Culture lab-nya juga jadi lebih healthy dan gak toxic.
Intinya lebih ke do your homework sih: cari tahu gimana cara kerja prof ini. Kalau bisa, hubungi their current PhD students, tanya-tanya. Aku sendiri personally nggak ngerjain homework ini,,, karena nggak sempet aja waktu itu timeline-nya mepet banget. Tapi kalau lihat dari cv Tamsin aja udah kebayang minimal value diriku dan dia cukup aligned: she believes more women should be in sciences, suka public outreach…., apa lagi ya,,, udah sih itu aja wkwkw, tapi cukup ok lah ngerjain prnya di saat itu. Dan untungnya Tamsin juga cocok sama aku pas ngobrol, dan betulan baik banget ni orang satu. HUHU.
Jadi yaudah intinya adalah: dalam memilih phd, your phd supervisor jauh lebih penting daripada uni-nya (walaupun faktor kualitas uni juga harus dipertimbangkan).
Sekian itu dulu ngantuk banget & terima kasih.
Suatu hotel dekat bandara cgk, 8 Agustus 2026 23:44 WIB

















