There’s someone I’m (not really) know.. Dibilang rekan kerja pun ga pernah bersinggungan langsung, tapi gue selalu dengar cerita tentang pria ini. Dan gue pun kerap melihat langsung cerita-cerita/gosip-gosip/fakta-fakta tentang pria ini.
Jadi, entah kenapa dia hampir selalu jadi objek kekesalan atasan, atau entah kenapa selalu terlihat salah. Dan atasannya ini lebih sering ngasih “pelajaran” yang menurut gue menjatuhkan harga diri si pria ini DAN AMAZINGLY DIA BERTAHAN!! (sampai saat gue mengetik ini pun dia masih bertahan). Mental baja.
Suatu saat gue balik sama rekan kerja gue yang udah gue kenal banget dari jaman kuliah, dan dia tuh satu atasan dengan Mr. X ini. Berhubung gue adalah wanita dengan kekepoan yang tinggi, gue pun nanya ke temen gue ini (Mr.Ri).
“Ri, si X teh kenapa sih? Naha dimarahin wae.”
“Teuing! Aing juga ga ngerti. Kata orang-orang mah karena si X udah beberapa kali ga masuk dan ga mau lembur.”
“Lah kan cuti mah emang ada jatahnya. Terus lembur mah ga wajib mereun kecuali emang mendesa!!”
“Nah teuing aing juga tau dari orang-orang. Katanya sih sebenernya digituin biar dia resign dengan sendirinya gitu, karena di sini katanya belum pernah mecat pegawai.”
“Lah!? Terus digituin? Anjir aing sih mending resign aja!!”
Lalu tadi pagi, nama dia disebut (ada beberapa orang yang namanya sama) dan refleks rekan kerja gue nanya “X yang mana?” then Bapak yang mencari orang bernama X ini jawab “X yang bener. Hahaha.” Dimana maksudnya adalah X yang lain bukan X yang gue sebut diatas. Kesel sih sebenernya gue, kalo gue jadi si X ini gue pasti sakit hati dan untungnya dia ga ada di ruangan ini (tapi kalo dia ada di ruangan ini juga gue yakin tidak akan ada perbedaan).
Gue ga ngerti setiap gue ga sengaja papasan sama dia, mau dia lagi “dihukum” atau sekedar lewat, muka dia tuh selalu sama, ramah. Ga ada muka kesel, dendam atau gimana gitu. Gila sabar banget nih orang, pikir gue.
Rekan kerja sebelah meja gue pun nanya (Ms. H).
“Eh kok aku ga pernah liat si X ya?”
“Ada kok, sering temu kalo didepan tempat absen.”
“Oh kirain aku udah resign. Kalo aku jadi dia sih aku resign aja!”
“Hahaha ya mungkin dia butuh.”
“Yaelah sebutuh uangnya aku, kalo digituin terus sih aku mah resign aja.”
Dan gue teringat obrolan gue dengan rekan kerja gue si Mr. Ri.
“Katanya sih dia (Mr. X) mau nikah, dan dia juga kalo resign belum tentu langsung dapet kerja. Mungkin itu yang bikin dia bertahan.”
Hmm.. Dan gue pun menanggapi pernyataan Ms. H,
“Karena prioritas kita dan dia beda.”
Mungkin dia rela diperlakukan “tidak layak” oleh atasannya karena priorotasnya. Mungkin saat ini ada yang lebih penting dari mempertahankan harga diri dan meninggikan ego. Ada yang lebih membahagiakan dia, walau mungkin caranya menyakitkan.
Thanks Mr X, karena lu memberikan pelajaran buat gue untuk lebih menghargai usaha setiap orang, karena gue ga pernah tau apa yang ada dibalik hasil usaha dan kerja keras mereka.
Thanks Mr X, karena lu, gue belajar untuk tidak menuntut seseorang menjadi seperti apa yang gue harapkan atau impikan, karena gue ga pernah tau usaha apa yang udah dia lakukan untuk sampai seperti saat ini.
Dan gue belajar untuk tidak selalu ingin lebih diprioritaskan atau diistimewakan, karena gue ga pernah tau dengan cara apa seseorang memprioritaskan gue dan apa yang telah dia relakan untuk bisa memprioritaskan gue sampai seperti ini.
“You never really understand a person until you consider things from his point of view, until you climb into his skin and walk around on it.” - Harper Lee.