Psikologi Fatherless: Mengapa Anak Tanpa Figure Ayah Cenderung Menghindari Komitmen?
Pernahkah kalian melihat atau mendengar opini tentang seseorang yang takut untuk menikah? opini ini sedang sering beredar di kalangan anak muda indonesia pada saat ini.
Fenomena ini juga diperkuat dengan bukti bahwa terdapat penurunan pernikahan indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Tentunya opini tersebut tidak beredar secara tiba-tiba, beberapa alasan mengapa anak muda takut akan menikah adalah dikarenakan terdapat perubahan cara pandang anak muda terhadap komitmen dan hubungan jangka panjang, dimana pernikahan tidak lagi menjadi prioritas utama bagi sebagian orang.
Selain itu, terdapat alasan lain yaitu ketiadaan figur ayah atau fatherless, yang membuat individu tumbuh tanpa keterlibatan emosional ayah sehingga berpengaruh terhadap cara mereka memandang hubungan dan kesiapan untuk menikah.
Indonesia sedang menghadapi fenomena yang sunyi namun berdampak besar: angka pernikahan yang terus merosot. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan dari sekitar 2,11 juta pernikahan pada 2014 menjadi hanya 1,78 juta pada 2023. Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya tersembunyi perubahan cara pandang generasi muda terhadap komitmen dan kehidupan berkeluarga. Banyak yang menunda, sebagian memilih tidak menikah sama sekali. Sementara berbagai faktor ekonomi dan sosial kerap disebut sebagai penyebab, ada satu akar yang kerap luput dari perhatian: fenomena fatherless, ketika tumbuhnya anak-anak tanpa kehadiran emosional seorang ayah.
Fatherless bukan semata-mata soal ayah yang wafat atau pergi. Lebih sering, ia hadir dalam wajah yang lebih senyap: ayah yang pulang ke rumah setiap malam, namun tak pernah benar-benar ada. Ayah yang sibuk bekerja, yang jarang berbicara, yang tidak terlibat dalam tumbuh kembang anak. Dalam kondisi seperti ini, anak kehilangan sesuatu yang tak tampak, namun terasa dalam jangka panjang: model tentang bagaimana sebuah hubungan yang sehat seharusnya berjalan.
Ketika anak-anak ini beranjak dewasa, pernikahan bukan lagi tujuan yang dirindukan. Ia menjadi sesuatu yang terasa asing, penuh risiko, bahkan menakutkan. Mereka tidak memiliki referensi nyata tentang dinamika suami-istri yang penuh kehangatan dan saling menghargai. Yang mereka kenal hanyalah diam, jarak, atau ketiadaan. Maka tak mengherankan jika sebagian dari mereka memilih untuk tidak mengulang pola yang sama dengan cara yang paling aman: tidak menikah.
Secara empiris, kaitan ini didukung oleh berbagai penelitian. Laporan BPS dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2021) mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat fatherless parenting yang cukup tinggi. banyak anak tumbuh dengan keterlibatan ayah yang sangat terbatas. Riset dalam Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan berpengaruh signifikan terhadap perkembangan emosional anak dan kemampuannya membangun hubungan yang stabil di masa dewasa.
Anak yang besar tanpa figur ayah yang hadir secara emosional cenderung memiliki tingkat kepercayaan interpersonal yang lebih rendah dan kesulitan dalam membangun komitmen jangka panjang. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) juga memperlihatkan semakin banyaknya individu usia muda yang menunda pernikahan hingga usia lebih matang. Jika kita hubungkan dua tren ini, meningkatnya kondisi fatherless dan merosotnya angka pernikahan pola yang muncul terlalu kuat untuk diabaikan.
Tentu, penurunan angka pernikahan adalah fenomena multifaktor. Tekanan ekonomi, naiknya standar hidup, pengaruh media sosial, dan pergeseran nilai generasi muda turut berperan. Namun mengabaikan dimensi psikologis yang ditinggalkan oleh ketidakhadiran figur ayah adalah sebuah kekeliruan. Fatherless adalah salah satu luka diam yang selama ini bekerja di bawah permukaan.
Pada akhirnya, fenomena menurunnya angka pernikahan di kalangan generasi muda tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi tanpa sebab, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk pengalaman keluarga seperti kondisi fatherless.
Kurangnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak dapat membentuk cara pandang individu terhadap kepercayaan, hubungan, dan komitmen jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan peran ayah dalam pengasuhan serta memperkuat edukasi mengenai hubungan yang sehat, agar generasi mendatang memiliki kesiapan emosional yang lebih baik dan tidak lagi memandang pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan.














