ya Allah, buat aku lebih banyak menangis karena dosa-dosaku daripada karena luka-lukaku. ampuni aku dan sembuhkan aku ya Allah. ya Jabbar, Engkau Maha Perkasa dan Maha Berkehendak.
trying on a metaphor

blake kathryn
DEAR READER
Three Goblin Art

if i look back, i am lost

@theartofmadeline
todays bird
noise dept.
wallacepolsom
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

#extradirty

shark vs the universe
d e v o n

Janaina Medeiros
Lint Roller? I Barely Know Her
taylor price
almost home
Xuebing Du

seen from Italy
seen from United States
seen from Malaysia

seen from South Africa

seen from Cambodia

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Bulgaria

seen from Singapore

seen from United States
seen from Philippines
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Brazil
@alamandafu
ya Allah, buat aku lebih banyak menangis karena dosa-dosaku daripada karena luka-lukaku. ampuni aku dan sembuhkan aku ya Allah. ya Jabbar, Engkau Maha Perkasa dan Maha Berkehendak.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lathif
Gara-gara membahas doa Nabi Yusuf AS, gue juga jadi teringat dengan makna kata Laṭīf.
Di Indonesia, Al-Laṭīf biasanya diterjemahkan dengan "Maha Lembut". Tapi kalau kita membaca tafsir para ulama, makna "lembut" dalam bahasa Indonesia jadi terasa sempit sekali.
Kata Laṭīf mengandung makna sesuatu yang halus, detail, samar, dan bekerja dengan cara yang tidak selalu terlihat. Ada nuansa gentle sekaligus subtle. Sampai-sampai kebaikan-kebaikan Allah terkadang sampai kepada hamba-Nya melalui cara yang tidak kentara, sehingga kita tidak akan menyadarinya kalau tidak mencoba connecting the dots.
Makanya dulu waktu membaca terjemahan secara literal, gue sempat bertanya-tanya:
"Lah, Nabi Yusuf AS dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara, dan dilupakan. Kok masih mengatakan bahwa Rabbnya Maha Lembut?"
Ternyata setelah membaca tafsir para ulama, baru paham bahwa Nabi Yusuf AS mengucapkan:
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ "Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
bukan ketika beliau berada di sumur atau di penjara.
Beliau mengucapkannya setelah seluruh perjalanan hidupnya tersambung. Setelah beliau melihat bagaimana Allah mengeluarkannya dari sumur, membawanya ke rumah Al-Aziz, memasukkannya ke penjara, mempertemukannya dengan raja, mempertemukannya kembali dengan keluarganya, dan menjadikan semua luka itu tidak sia-sia.
Maka ucapan itu seolah bermakna:
"Sesungguhnya Rabbku mengatur semuanya dengan cara yang begitu halus, begitu detail, dan begitu rapi."
Ada jalan-jalan yang dahulu tampak seperti musibah, tetapi ternyata merupakan bagian dari pertolongan-Nya. Ada sebab-sebab yang dahulu terlihat acak, tetapi ternyata berada dalam pengaturan-Nya yang sangat teliti. Kadang keterbatasan bahasa memang membuat kita ikut terbatas dalam memahami.
Dan mungkin memang sebagian kelembutan Allah baru bisa dikenali ketika kita sudah cukup jauh berjalan dan menoleh ke belakang.
Lalu berkata seperti Nabi Yusuf AS:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
Tadi sempet baca kata-kata bagus,
"ngeliat dia ngelanjutin hidupnya tanpa menoleh ke arahku sedikit saja, rasanya malu kalo masi kangen sama kenangannya."
Dan jujur aja, kalimat itu agak ngena.
Kayak tiba-tiba ada bagian lama di kepala yang kepanggil lagi.
Bukan karena aku pengen balik ke masa lalu, tapi karena rasanya masih ada sisa yang belum sepenuhnya selesai di dalam diri sendiri.
Dia udah jalan jauh banget sekarang, udah bisa ketawa lepas sama hidup barunya, sementara aku masih kadang berhenti di momen kecil yang dulu pernah berarti.
Hal-hal sepele yang mungkin buat dia udah nggak penting lagi.
Kadang aku ngerasa aneh sendiri, kenapa masih inget hal-hal kecil begitu. Padahal buat dia mungkin semua itu udah jadi bagian yang selesai.
Dan aku masih aja kadang nyari jawab darisesuatu yang nggak lagi nyari aku.
Kadang aku mikir, ini sebenernya rindu atau cuma kebiasaan yang kebetulan belum berhasil aku lepasin sepenuhnya. Soalnya kalau dibilang masih berharap, aku juga nggak tau. Tapi kalau dibilang udah bener-bener lepas, juga belum sepenuhnya. Ada hari di mana aku ngerasa udah baik-baik aja, tapi ada juga malam di mana semuanya tiba-tiba balik lagi. Dan aku cuma bisa diem sambil mikir, kok masih kebawa ya.
Di satu sisi aku pengen bener-bener lupa, biar bisa jalan tanpa ngerasa ada yang masih ketinggalan.
Tapi di sisi lain, bagian dari diriku masih nyimpen hal-hal kecil itu.
Entah karena masih berarti, atau karena belumsanggup ngelepasin sepenuhnya. Lucunya, yang aku simpen mungkin udah lama dia tinggalin.
Dan sadar hal itu kadang bikin malu sendiri.
Bukan karena masih kangen, tapi karena belum sepenuhnya berhenti.
Mungkin yang paling nyakitin bukan dia yang udah berubah, tapi sadar kalau yang aku tunggu sebenernya udah lama pergi.
Dan yang aku harapin buat balik, ternyata nggak pernah niat balik.
Kadang rasanya kayak nunggu kereta di stasiun yang udah tutup. Tetap berdiri, padahal tau nggak ada lagi yang dateng. Dan yang tersisa cuma diri sendiri yang belum bisa bener-bener pergi. Padahal semua tanda sebenernya udah jelas dari dulu.
Jadi sekarang aku coba jalan pelan-pelan aja. Nggak maksa diri buat lupa semuanya, tapi juga nggak terus-terusan balik ke hal yang sama.
Belajar nerima kalau ada hal yang emang cuma boleh jadi kenangan. Nggak semua yang pernah berarti harus dibawa terus. Dan mungkin nggak apa-apa kalau belum sepenuhnya sembuh. Yang penting nggak berhenti buat jalan ke depan.
Batu bara, 11 Juni 2026
"Aku sedih karena ketika keinginanku terwujud, aku sudah tidak menginginkannya."
Barangkali itulah yang disebut oleh Marcel Proust sebagai kutukan. Manusia hanya mencapai sesuatu yang diinginkannya tepat pada saat hasratnya terhadap hal itu benar-benar mati. Implikasinya, keinginan yang dibunuh oleh waktu juga membunuh identitas lama kita. Oh man, I hate what time has done to this.
Waktu merambat begitu lambat sedangkan manusia berubah begitu cepat, sehingga ketika sesuatu yang diinginkan dengan gila-gilaan oleh diri di masa lalu itu baru terwujud bertahun-tahun kemudian, "diri lama" yang menginginkan hal itu sudah tidak ada lagi (too late for joy). Kita menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang diinginkan oleh diri kita yang sudah lama mati.
"Apa arti semua perjuangan itu jika aku sudah bukan orang yang sama?"
Proust melihat perubahan diri sebagai alasan mengapa pemenuhan keinginan menjadi sia-sia. Masa lalu telah memberiku tujuan dan masa kini yang membuat tujuan itu terasa asing. Lantas siapa aku sekarang? Jadi ini yang dulu kuanggap akan memberiku kebahagiaan dan kepuasan? Apa yang akan terjadi seandainya ini datang sedikit lebih cepat? Apa yang akan terjadi seandainya aku tidak berubah terlalu cepat? Aku bahkan merasa kesal ketika hidup terus melanjutkan alur ceritanya.
Kita berjuang demi memenuhi keinginan-keinginan kita, tetapi proses perjuangan itu sendiri mengubah kita menjadi orang yang berbeda dari orang yang pertama kali menginginkannya. I hate that the person who wanted this no longer exists.
"Mungkin memang tujuan penundaan itu agar kamu berhenti menginginkannya."
Kabar buruknya kau berubah. Kabar baiknya kau telah berubah. Diri barumu mulai menyadari bahwa kamu tidak membutuhkan hal itu. Justru yang disebut kutukan adalah ketidakmampuan manusia itu sendiri untuk lepas dari keinginan lamanya meskipun dirinya telah berubah. Lihatlah kasih Tuhan yang hendak membebaskanmu dari perbudakan atas keinginan-keinginan tersebut.
Sayangnya kau bisa memahami bahwa suatu keinginan memang harus mati (untuk membentukmu menjadi orang yang lebih baik), dan tetap berduka saat keinginan itu mati. Proust begitu jeli melihat fakta bahwa kita tidak bisa lagi merasakan apa yang dulu kita rasakan. Dalam bukunya, In Search of Lost Time, ia menjelaskan dengan lebih rinci,
Hanya saja, kita harus memberi waktu kesempatan untuk bekerja. Namun tuntutan kita terhadap waktu tidak kalah berlebihan dibanding tuntutan yang diajukan hati agar dapat berubah. Pertama-tama, waktu adalah hal yang paling enggan kita berikan, karena penderitaan kita terasa begitu tajam dan kita sangat ingin melihatnya segera berakhir.
Selain itu, waktu yang dibutuhkan hati orang lain untuk berubah akan dihabiskan oleh hati kita sendiri untuk berubah pula. Akibatnya, ketika tujuan yang dahulu kita tetapkan akhirnya menjadi mungkin untuk diraih, tujuan itu sudah tidak lagi menjadi tujuan kita.
Lagi pula, gagasan bahwa tujuan itu pada akhirnya akan dapat diraih—bahwa tidak ada kebahagiaan yang, setelah berhenti menjadi kebahagiaan bagi kita, tidak dapat akhirnya kita capai—memang mengandung kebenaran, meskipun hanya sebagian kebenaran.
Hal itu jatuh ke tangan kita justru ketika kita telah menjadi tak peduli terhadapnya. Namun ketidakpedulian itulah yang membuat kita menjadi tidak lagi terlalu menuntut. Dan karenanya, ketika menoleh ke belakang, kita dapat meyakinkan diri bahwa hal itu pasti akan membuat kita bahagia seandainya datang lebih awal, padahal mungkin pada saat itu kita justru akan menganggapnya jauh dari cukup dan sangat mengecewakan.
— Giza, beberapa kemenangan mungkin tampak seperti pemakaman. Dan jiwa itu sendiri baru bisa merdeka setelah ia terlebih dahulu berkabung atasnya.
“Do it scared” “do it alone” are all great tips, but my biggest takeaway from therapy is do it messy. This is especially true if you’re getting out of a burnout, which I experience often. Literally just do it messy. You don’t need to pick the perfect trail to walk, the perfect playlist to listen to, whatever the fuck it is. You don’t need to have a meticulous to do list and wake up at the exact time you planned and drink the exact amount of water you planned to drink. Like the biggest thing for people like me to remember is sometimes it’s okay to do it messy. Put on a random yt workout and just get it done in sweats. Do 5 minutes of a daunting task and go from there. Sometimes just getting up is a win during intense burnouts or depressive funks. Literally just do it messy.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Riuh dikepalamu, orang lain juga memilikinya. Hanya saja ketika berjalan berpapasan tampak biasa saja, tapi sebenarnya mereka sama demikiannya denganmu. Mahir nya manusia tidak kelihatan bahwa sebenarnya mereka saling berantakan.
@menyapamakna1