"Aku Pernah Suka, Tapi Kini Tidak Lagi"
Katanya, rasa ini cuma obsesi semata.
Lucu, bagaimana mereka menilai begitu mudahnya—
padahal aku tak pernah benar-benar mendekat,
berharap semesta membaca getar yang tak sempat kusampaikan.
Kupikir, mungkin dia akan peka.
Dan benar, dia mengerti...
tapi bukan aku yang dia hampiri.
Ada sosok lain, di belakang senyum yang kutunggu-tunggu.
Seseorang yang bukan aku, dan tak akan pernah jadi aku.
ia memang ahli dalam menyelamatkan
dengan cara yang tak selalu menyenangkan.
Sebelum rasaku tumbuh terlalu dalam,
ia memberiku kenyataan yang tajam.
cinta yang terlalu diam, seringkali berakhir sendirian.
Lalu aku belajar melepaskan.
Menghapus rasa yang dulu kusebut indah,
dan mulai menganggapnya... tak pernah benar-benar ada.
Meski bekasnya masih menggantung di sela-sela doa malamku.
Yang tertinggal kini bukan rindu—
tapi benci yang tumbuh pelan-pelan.
Tapi karena versi baiknya
yang kubentuk sendiri di pikiranku,
ternyata tak seindah kenyataan yang akhirnya kutelan mentah-mentah.
Mungkin aku tak benar-benar membenci dia.
yang terlalu lihai menyulam harapan
di hati yang tak pernah memberi tanda untuk ditunggu.
Allah selalu Maha Membolak-balikkan hati.
Kemarin aku seperti buta karena rasa,
hari ini aku dibuka mata dan rasa-Nya.
Ternyata rasa itu hanya pinjaman.
Dan kini, pinjamannya telah dikembalikan.
meski dulu sempit oleh bayang-bayang
yang tak pernah menjadi nyata.
dari cinta yang tak pernah benar-benar tumbuh untukku.