Memang sedang masanya ia bermain, main kesana main kesini. Main permainan bayi sampai peralatan dapur. Tapi kelak ada masanya ia tak lagi banyak bermain dan lebih banyak belajar.
Memang sedang masanya ia bereksplorasi, berantakin rumah sana-sini, satu bagian rumah rapi bagian lainnya diberantakin. Semua barang dikeluarkan dan ia perhatikan satu persatu. Tapi kelak ada masanya ia tak lagi menghamburkan barang, orangtua bisa mengajarkannya untuk merapikan barang yang telah dihamburkannya.
Memang ada masanya sulit makan. Dibuatkan bubur menolak, nasi tidak mau, makanan favoritnya juga tak mau, sampai ibu bingung harus memasak apa. Tapi kelak ada masanya pula ia mau makan banyak, meski dengan menu yang sebelumya tidak ia suka.
Memang ada masanya begitu cerewet, bertanya ini itu, sampai ayah ibu bingung harus menjawab apa. Rasa keingintahuannya sangat besar. Tapi ada masanya ia tak lagi bertanya, karena sudah paham apa yang ingin ia ketahui.
Memang ada masanya sering menangis. Ibu sampai ingin ikut menangis mendengarnya karena bingung harus berbuat apa lagi. Tapi ada masanya ia begitu ceria, tak lagi banyak menangis, namun asyik bermain bersama teman.
Memang ada masanya begitu penasaran dengan apa yang dilihatnya, lalu dalam sekejap dapat meniru hal yang dilihatnya. Tapi ada masanya tidak semua hal yang dilihatnya akan ditiru, kelak ia dapat memilah mana yang ingin ditiru, mana yang tidak.
Memang ada masanya banyak berulah, membuat orangtua kesal. Terkadang terasa menyusahkan, menyebalkan, membuat stress, dll.
Tapi itulah anak-anak, mereka hanya sedang asyik bermain dengan dunianya sendiri, mereka hanya sedang belajar dengan dunia disekitarnya, mereka hanya sedang melatih kemampuannya, mereka hanya sedang bertingkah sesuai dengan nalurinya.
Tidak seharusnya sebagai orangtua, kita memaksakan sesuatu kepada anak hingga ia menangis keras. Tidak seharusnya kita berlaku kasar baik fisik maupun verbal, hanya karena kepolosannya. Tidak seharusnya kita mengabaikan mereka yang masih butuh bimbingan dari orangtuanya. Tidak seharusnya kita menelantarkannya.
Bagaimana bisa kita begitu tega menghapus senyumnya dengan memperlakukan ia seperti itu?
Ia masih lemah dan belum tahu apa-apa. Ia hanya butuh kasih sayang dan arahan yang baik dari ibu, ayah, serta orang-orang disekitarnya. Ia hanya butuh pelukan, belaian, dan senyum sabarmu dalam menghadapinya. Bukan salah anak jika ia bertingkah begitu, hanya kita sebagai orangtua yang perlu lebih banyak memahami anak dan lebih bersabar menghadapi anak.
Karena merekalah hadiah yang Allah SWT hadirkan untukmu, sekaligus amanah yang Dia titipkan kepadamu. Merekalah penerus generasi kita, tak seharusnya kita begitu jahat padanya, jika kau bukanlah orang tua yang mensyukuri dan bertanggungjawab atas kehadirannya.
MasyaAllah, sungguh saya sadari diri ini belum menjadi ibu yang baik untuk anak sendiri, masih suka kesal ketika anak sedang asyik bermain, masih suka ngomel dan melarang ini itu. Semoga, Allah senantiasa membimbing kami (saya dan suami) menjadi orangtua yang sabar dalam merawat dan mendidik anak-anak kelak. Aamiin yaa Rabbal'alamiin.