Tanah tak bertuan
Lalu dua argumen itu saling bertabrakan, saat pemikiran logis bisa mematahkan keduanya bahkan dengan dampak yang amat sangat besar. jauh sebelum pertengkaran sisi ada hal yang sangat ingin dilewatkan, bahkan pemikirannya saja bisa menjadi momok selama 5 tahun terakhir ini, sebut saja “Menjalin Suatu Hubungan dengan Seseorang”. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pautkan segala hal dengan tujuan yang itu-itu saja, dengan tegas aku menjawab:
“Aku tidak akan menikah atau menjalin lagi suatu hubungan dengan siapapun, apa urusanmu?”
sontak raut wajah mereka terlihat heran dengan mimik yang sama. ku jelaskan mengapa, pertama, aku sendiri dan keadaan yang memang memaksa untuk seperti ini saja, dan mungkin juga terlalu sering dikecewakan baik dalam hal apapun, atau memang seutuhnya keadaan yang memang memaksa untuk di tahap seperti ini saja. juga, menghindari segala rasa yang tak mengenakan hati, aku yang menghambat semua perasaan tumbuh tapi ingat, perasaan untuk mereka tidaklah pernah bisa benar-benar mati. Terakhir, sudah kubuang semua pengharapan untuk dicintai oleh wanita yang kukagumi, bahkan untuk saat ini cukup dengan mengagumi wanita wanita baru, aku sudah merasa puas. Perasaan ingin memiliki? mungkin sudah tidak ada, mengaguminya saja sudah mewakili semua perasaan apapun. Mau apa aku dengan jalanku terserah, dalam hati.
tetapi sisi bantahan lain diriku, aku merasa ingin dipandang oleh wanita yang kukagumi, kubuat sibuk terus menerus melakukan apapun demi pemikiran ini
“jika dia bisa mengagumiku, aku ingin sekali menjadi seorang pekerja keras untuk bisa meyakinkannya untuk tetap disini saja”
targetku adalah menyamai pengalaman mereka dengan jalan yang berbeda, misal ia berpendidikan S1 maka aku harus mempunyai penghasilan tetap dalam usahaku, setimpal? menurutku sangat, tetapi kalian boleh saja menyangkalnya. jika ia berpendidikan maka aku wajib menyamainya dengan segala cara pandangku. mungkin saat ini belum bisa mewujudkannya, sedang dalam proses pemulihan diri dulu, untuk menyingkirkan hal-hal yang membuatku terhenti ditengah jalan. tidak perlu juga aku menceritakannya disini, karena nantinya bakal melebar kemana-mana.
ada saat dimana semua pemikiranku ini menjadi terhenti, pegangan teguh untuk tidak menjalin suatu hubungan menjadi pemikiran yang amat sangat bodoh untuk kupegang erat. tapi, sesi curhat malam itu membuka segalanya, karena aku sedang dalam keadaan tidak berpihak pada perasaan apapun, seperti sedang membuka lebar- lebar pikiran untuk masukan yang masih bisa dicerna namun harus logis tegasku, dia hanya tertawa melihat tingkahku yang seperti remaja kebingungan dalam menghadapi cobaan hidup bertubi-tubi, sedangkan aku pun masih labil untuk mengambil jalan mana yang harus dipilih, tidak jarang aku berlari seperti pengecut untuk menghindari suatu masalah padahal jika mau, tak usah repot-repot untuk bepergian ke antah-berantah cukup memasang badan biarpun nanti hancur dan merasa malu bisa sembuh sendiri. pikirku lari dari kenyataan adalah hal yang paling ampuh, atau melupakannya sejenak di keheningan ruang dan menjadi asing bagi orang disekitar yang memandang risih dan mengutuk jika pikiran ini sedang ku seting sedemikian rupa melalui hal-hal yang merusak.
Nawan ini berbeda, ia memandang maklum atas segala tindakan yang kuambil, tidak membenarkan juga. selebihnya mengarahkan ke arah yang lebih baik tentunya.
Dialog logis malam itu, membantah semua argumen yang ku junjung tinggi untuk tidak menjalin suatu hubungan saat ini, aku disadarkan setelah mencari jawaban pada orang-orang tertentu. banyak sekali hal yang telah aku resahkan terjawab olehnya, mulai dari mengapa sepengecut ini aku untuk menghadapi suatu masalah, tak jarang mereka menyalah artikan pabila aku kurang menjelaskan semuanya tapi Nawan, sangat dewasa ia bahkan membuka pikirannya sendiri sebelum memberikan solusi. kekuatan malam itu seakan meledak, memasang badan dan masukan tapi. ku selipkan harapan sedikit agar tidak terlalu kecewa jika nanti aku memang harus membuang semuanya.
akankah berubah pada arah pandanganku? sedikit meresahkan tak apa lah ya.
Dialog Netral
jam 7 malam aku menghubungi Adhi melalui media sosial, hendak meminjam instalan windows bajakan, karena laptop jadulku ngadat lagi mungkin juga salahku sudah menghapus partisi Hardisk. alhasil data yang ada menjadi crash memaksa untuk instal ulang, ada ada saja.
Aku : ”dhi aku kerumah ya, mau minta mentahan windows”
Adhi : “paling nanti jam 8 malem gapapa? soalnya lagi diluar, euy”
Aku : “oke, jam 8 yaa”
Adhi : “iya, nanti ku kabari lagi”
selang 15 menit aku mulai menuju rumahnya yang terletak cukup jauh jika ditempuh dengan sepeda dari kota Bandung. di sepanjang jalan aku terus memikirkan dan mengekspresikan semua hal pada kayuhan sepeda yang kubuat melesat diantara trotoar dan bahu jalan, tak jarang orang memandangku risih atau menyumpahi jatuh biar tau rasa, aku bisa membacanya dari tatapan mereka diiringi dengan lirikan yang tertuju pada sepedaku melintas sedetik seakan menantang mereka.
20 menit berlalu aku sudah berada di sepanjang jalan batas kota cimahi dan bandung, sedikit kelelahan dan menepi untuk membeli satu botol air mineral di warung juga satu batang rokok tentunya, kunyalakan rokok dan kembali menaiki sepeda tapi kali ini sudah ku atur laju sepeda agar menjadi lambat.
singkat cerita aku sudah berada di kamar Adhi dan menunggu instalan windows yang sedang ia kopikan ke flashdisknya melalui laptop. lalu kulihat ia sedang mengerjakan design pada komputer yang satunya namun kulihat agak familiar dengan logo design yang tertera pada layar komputernya.
Aku : “Desain untuk dower dhi? bikin roda juga?” Adhi : “Iya to, lumayan buat tambah tambah”
Aku : “Ngeri kali sampe dibuat animasinya segala”
Adhi : “Itung itung bantu Nawan juga, mumpung dia serius untuk majuin usahanya”
Aku : “Iya ya, dia survive terus buat usahanya, keren”
Adhi : “Kemarin dia kesini, gak lama cuman mantau ini doang tapi hari ini kayanya beres sih, udah di tungguin terus hahaha”
Aku : “Yaa namanya juga desain kan, apalagi ini animasi pasti agak lama sih, Ahh sekalian entar pulangnya aku mampir dulu kesana, udah lama gak ketemu sama pak ustad heuheu”
Adhi : “iyalah, tengokin tuh punya temen jan di biarin.. takut menghilang nantinya hahahaha
Aku : “Kaya yang lain entar ya? hahahaha
instalan windows bajakan sudah terprogram pada flashdisk yang kupinjam aku pun bergegas menghubungi Nawan untuk meminta izin bertamu ke rumahnya, sekalian berpamitan pada Adhi setelah menghabiskan 2 batang rokok selama aku menunggu di kamarnya, untungnya Nawan sedang tidak bepergian dan tidak sedang mengurusi bisnis barunya jadi aku bisa langsung menuju rumahnya yang tidak jauh dari kediaman Adhi, hanya berjarak 5 menit saja jika ditempuh oleh kayuhan sepeda yang kubuat melesat.
ku buka gerbang rumahnya dan memarkirkan sepeda layak nya seperti dirumah sendiri, aku memang cukup dekat dengan keluarga Nawan, bahkan aku pernah menginap di rumahnya selama 3 bulan, mungkin sudah bisa dibilang kamarnya seperti kamarku, dan orang tua nya sudah seperti keluargaku sendiri, bahkan bisa dibilang sangat dekat dengan mereka yang menampungku saat dimana sedang berada di dalam keterpurukan dan lari dari segala masalah. Sejak jaman sekolah dulu aku sering menginap di rumahnya bahkan pergi ke sekolah bersama meski berbeda satu angkatan











