Mei 2026
Ada rindu yang tidak datang dengan suara, hanya tumbuh diam-diam seperti akar yang merambat di dalam dada. Ia tidak meminta untuk diingat, tapi selalu tahu cara kembali—di sela-sela jeda, di antara napas yang terlalu panjang, atau pada malam yang terasa lebih sepi dari biasanya.
Aku tidak pernah benar-benar tahu sejak kapan namamu berubah menjadi arah. Tiba-tiba saja, setiap jalan pulang terasa kurang lengkap tanpa bayanganmu berjalan di samping. Bahkan hal-hal kecil—secangkir kopi yang mendingin, lagu lama yang berputar tanpa sengaja—semuanya seperti menyebutmu dengan cara yang halus tapi tak terbantahkan.
Rindu ini aneh. Ia tidak selalu membuatku menangis, tapi sering membuatku berhenti. Seolah waktu tersangkut di satu kenangan yang belum sempat selesai. Aku mencoba mengabaikannya, menumpuk hari dengan kesibukan, menipu diri dengan tawa-tawa yang cepat berlalu. Tapi rindu punya caranya sendiri untuk tinggal. Ia sabar, dan entah bagaimana, selalu menang.
Kadang aku ingin bertanya: jika jarak ini bisa bicara, apakah ia akan jujur tentang betapa sering kita saling mencari tanpa benar-benar menemukan? Atau justru ia akan diam, seperti kita—yang memilih menyimpan segala rasa dalam bentuk yang paling sunyi?
Aku tidak tahu apakah kamu merasakan hal yang sama. Tapi jika suatu hari angin menyentuhmu lebih lembut dari biasanya, atau ada sepi yang tiba-tiba terasa akrab—mungkin itu aku, yang masih belajar merindukanmu tanpa harus kehilangan diri sendiri.


















