Beberapa bulan yang tidak “baik-baik saja”.
Alhamdulillah sekarang sudah “baik-baik saja”, insyaAllah.
Satu semester ini, sepertinya banyak energi yang terkuras untuk sekedar kembali ke “baik-baik saja”. Banyak hal yang membuatku perlu berpikir lebih, perlu bersabar lebih, dan perlu jaauuh lebih ikhlas.
Ada aplikasi-aplikasi beasiswa yang tertolak, beberapa orang yang ingin kuhindari, dan penelitian yang belum muncul hasil. Semua terlihat begitu nyata. Seperti semua beban dijatuhkan, disaat aku merasa belum mampu menerima semua itu bersamaan.
Satu persatu rasanya keyakinanku pun tergoyahkan. Tentang pelajaran hidup dan nilai-nilai yang selama ini kuyakini. Aku jadi ragu.
Ternyata bukan sekedar kenyataan tentang tertolaknya beasiswa, atau kesulitan belajar. Kurasa ini lebih dalam dari itu. Mungkin aku perlu kembali melihat lebih dalam, pada diriku sendiri ?
Kadang secara tidak sadar, keyakinan didasarkan pada hal yang tidak begitu kuat. Sampai ada saatnya keyakinan itu teruji maksimal. Lalu ia sampai pada batas akhirnya. Begitu (mungkin) yang terjadi padaku.
Banyak keyakinanku yang seketika terancam, tapi pemikiranku sudah tidak sampai. Aku mencoba mengerti, memikirkannya untuk waktu yang tidak sebentar. Tapi... nihil ?! Aku masih berputar pada hal yang sama. Sampai kesehatanku juga mulai merasakan dampaknya.
Kukira aku mengerti. Kupikir aku bisa melalui semua ini, bersama diriku sendiri. Tapi ternyata tidak begitu cara kerjanya. Aku juga perlu melihat ke luar. Bahwa ada kepedulian orang-orang sekitar, seperti orang tua, keluarga, guru, atau teman, yang membuat kita bertahan. Karena berjuang demi diri sendiri kadang tidak lebih membahagiakan daripada berjuang demi yang kita sayangi.
Aku sudah menangis. Keyakinanku sudah tidak (perlu) begitu teguh.
Kadang sombong juga ya, meneguhkan keyakinan diri sendiri dan lupa untuk pasrah. Lupa kalau Sang Maha Kuasa lebih bisa dipercaya daripada diri sendiri.
Mungkin kalau semua ini diserahkan pada Allah, dipasrahkan begitu dari awal. Mungkin ... tidak begini-begini amat ya. Kalau ... , kalau saja dari awal targetnya diletakkkan untuk lebih mendekat, lebih mengenalNya, bukan sekedar ingin jadi apa, ingin bisa apa, ingin se-kaya si A, ingin se-pintar si B, bahkan ingin punya pasangan seperti si-C dan seterusnya. Mungkin saja. Mungkin aku akan selalu “baik-baik saja”.
Tapi aku bersyukur, masa yang tidak mudah ini mengajariku untuk melihat lebih jauh. Jauuuhhh sekali.
Menetapkan niat saja, sudah ada beberapa hal baik yang terjadi padaku pekan ini. Aku jadi lebih bersahabat dengan masalahku, aku bisa kembali membersamai keluarga dan teman-temanku, dan aku bisa berbagi cerita dengan guruku. (Semoga aku semakin di dekatkan pada hal-hal baik.)
Hal baik memang sering tidak mudah. Tapi kalau bisa mendekatkanku padaMu, aku percaya aku akan “baik-baik saja”.
Mungkin akan berdarah-darah, mungkin akan banyak air mata, mungkin tidak mudah dimengerti, mungkin juga tidak mudah diterima. Tapi ... mungkin ini akan menambah rasa syukur, mungkin meluaskan kesabaran, dan bisa lebih mendekatkan pada Allah. Lalu kenapa tidak ?
Masa ini adalah pelajaran.
Bisa jadi ada hal yang belum kumengerti, tapi aku percaya suatu hari insyaAllah aku akan difahamkan. Seperti masa lalu, yang baru kumengerti belakangan ini.