Pagi ini, saya jadi bingung mau keluar membuang sampah atau menyampah dikamar. Karena kalimat kampanye membuang sampah pada tempatnya sudah tak laku lagi. Harusnya, digeser. Hati-hati, sampah berserakan dimana-mana.
Teman-teman indikos mengharapkan saya atau agus yang menjadi pahlawan sampah. Tanpa tanda jasah pulak. Agus adalah seorang anak di kos ceria pada generasi kedua setelah wahyu, dkk. Karena cuman agus dengan pe-de nya memajang fotonya diruang tamu. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.
Caritanya, agus adalah anak yang baik, bertanggungjawab dan setia sama calon istrinya. Dipersingkat, anak pejuang rupiah. Sholeh? saya tidak tahu. Itu urusan ia sama Tuhannya. Dari sekian anak kos yang dapat saya kagumi. Secara pemikiran ia mempunyai kedewasaan yg berbeda dari orang lain. Mungkin, dari beberapa anak kos masih perlu penjelasan kenapa harus bersih, harus ini, harus itu. Si agus, tidak perlu penjelasan seperti itu. Hanya saja ia butuh penjelasan kenapa parkiran yang tidak rapi. Akhirnya, ditulisnya sebuah ajakan/himbauan di kertas berukuran A4, "Parkir yang Rapi. Yang kalau kita jeli melihatnya, ternyata si agus yang rapi suka nyampah juga.
Disetiap pagi, biasanya kami berdua membereskan sampah yang tertumpuk bak gunung gamalama itu. Terkadang, si agus dengan gaya senyapnya membuang sampah dikali pada malam hari. Kadang juga saya dengan heningnya membakar disore hari.
Kami sampai tak berdaya dgn masalah sampah yang ada dikos. Apalagi, diluar sana. Tapi dibalik itu ada nikmat yang dimiliki oleh orang lain. Mungkin, para petugas kebersihan dan para pemulung yang rela dan bersabar hati mengambil dan memungut untuk mata pencahrian mereka sehari-hari.
Entah, kenapa, dipagi ini tak seperti biasa. Saya lebih memilih berdiam diri dikamar lalu menonton sampah-sampah yang berserakan di internet. Memang, yang saya tonton adalah sampah. Setidaknya saya masih bisa memfilternya. Mana rokok yang bisa masuk ke hati atau ke jantung.
Lagi ramai orang-orang aneh yang selalu muncul diberanda ataupun dinotifikasi Ytb saya. Entah karena mereka tersesat atau memang sungguh² memberi ilmu yang bermanfaat. Kebanyakan dari mereka yang sok-sok bijak menjadi seperti om super duper dan bubar.
Padahal, latarbelakang pendidikan dan pengalaman orang-orang aneh itu pun tak diberitahu. Biar terkesan mereka tidak menyombongkan diri. Agar saya tidak gagal paham. Saya dimintai menonton video itu sampai selesai. Saya dimintai mendaftar, dan rayuan agar sembuh. Seperti seorang sales rokok yang menawarkan rokok ke saya ditempo hari itu. Dengan wajah meyakinkan bahwa rokok yg ia tawarkan lebih unggul dari rokok-rokok yg saya konsumsi atau orang-orang konsumsi.
Kalau dibilang lebih bijak seharusnya diindentifikasi dulu penyakitnya. Berobat dulu, baru diberi obat. Beri obat dulu, baru bayar obat. Membayar dulu, baru dikasih obat. Ah, kok ribet yaa. Ada BPJS, kok. hahaha
Kita kembali ke intisarinya. Intinya, orang-orang aneh itu tujuan mereka baik tapi lagi-lagi kehidupan orientasinya yang berbeda. Bisa jadi obatnya hanya tengok kiri atau kanan dan banyak nikmat yg bisa kita lihat yang dimiliki oleh orang lain. Kalau begitu, kan, tidak perlu menguras tenaga mendengar kebisingan mereka. Bahkan kekacauan di dunia ini.
Namun, mereka juga seperti orang-orang diluar sana yang profesinya patut dihargai. Dan perlu ditegur ketika orientasinya yang salah arah.
Peperangan akhir-akhir ini, diakibatkan karena kebanyakan orang awam tidak paham. Termasuk saya. Mungkinkah saya harus mengajukan pertanyaan, "Peradaban macam apa yang kalian dan mereka inginkan? Sedangkan, aku, kamu dan dia punya impian peradaban yang tentu berbeda. Banyak sampah-sampah internet yang berserakan dimana-mana. Diabaikan. Malah menambah sampah alias "nyampah" ditetangganya. Saya cukup berterimakasih banyak pada beberapa aplikasi termasuk tblr yang telah membantu saya membuang sampah disini. Siapa tahu ada yang membaca dan memilah dan dipilah atau didaur ulang kembali.