Emang Kamu Nikah Buat Senang-Senang Doank?
Nikah kok ngajak susah? Maaf akhi, ayah dan bunda ana berjuang mati-matian untuk membuat anaknya bahagia. Lalu kamu datang meminang hanya untuk ngajak susah? Belajar lagi akhi, belajar untuk menghargai keringat orang tua yang membesarkan anaknya. Tapi lain halnya kau mengajak berjuang, ada tujuan perjuangan tersebut. Maka denga izin Allah akan ana meridhoinya.
Speecheless juga baca ending tulisan ini.
Agaknya paradigma ini perlu diluruskan. Jika mau menelisik perkataan; “Ukhti maukah saya ajak susah jika ukhti menjadi istri saya kelak?” Sebenarnya itu bukanlah ajakan secara langsung untuk ngajak hidup susah, melainkan tantangan kepada seorang calon istri; apa dia siap sekiranya datang masa susah saat bersama suami? Apa dia masih tetap setia menjadi pendamping saat kondisi terpuruk?
Coba tanyakan pada setiap lelaki di dunia ini, apakah mereka rela mengajak orang yang mereka cintai dalam keadaan susah?
Jika kamu seorang istri, tanyakan pada suamimu; apakah dia mengajakmu untuk hidup menderita?
Jika kamu seorang anak, tanyakan pada ayahmu; apa dia mengajak ibumu untuk hidup sengsara?
Duhai istri, lihatlah tetesan keringat yang terjatuh dari dahi suamimu; pergi pagi, pulang petang. Itu untuk kebahagiaanmu.
Dan kamu, sebagai anak … coba lihat rauh wajah ayahmu yang sudah mulai menua. Lalu raba tangannya. Apa kau masih mengira umur yang dia habiskan untuk ibumu adalah warsa-warsa lara?
Tidak ada seorang lelaki pun yang rela untuk mengajak istrinya dalam kesusahan. Melainkan ia akan berusaha menghilangkan kesusahan itu.
Tapi, apakah kamu mengira menikah itu kesenangan belaka?
Apa kamu mengira pernikahan itu seperti di film-film? Penuh romantisme. Indah nian menatap purnama bersama sang pujaan hati.
Saya tidak menampik pentingnya materi dalam bahtera rumah tangga. Tapi itu bukanlah jaminan bahwa hidupmu akan senang. Itu bukanlah jaminan kamu akan terbebas dari hidup susah.
Berapa banyak orang kaya yang tak bisa menikmati rumah tangganya.
Atau, dalam perkara jabatan? Apakah itu bisa menjamin dari terbebas hidup susah?
Berapa banyak orang-orang yang memiliki jabatan tinggi, tapi biduk rumah tangganya karam.
Bahkan popularitas, itu tidak mampu menjamin hidupmu akan baik-baik saja. Akan senang-senang saja.
Salah satu hal yang paling penting dalam pernikahan adalah kesiapan mental. Percuma banyak harta, jabatan tinggi, memiliki popularitas, tapi tak memiliki mental untuk menjadi suami atau istri.
Lelaki yang bertanya kepada wanita dengan pertanyaan; ”Siap hidup susah nggak, nanti?” Bukan ajakan untuk hidup susah. Melainkan untuk mengetahui, apa si wanita sudah siap mentalnya jika masuk ke dalam zona itu.
Kamu pasti paham tentang pasang surut kehidupan. Tentu saja kamu dan suamimu merencanakan hal-hal yang indah setelah menikah. Tapi jangan lupa, Dia sang pembuat rencana berhak atas segalanya. Termasuk mengubah rencanamu.
Ngajak hidup susah itu bukan syarat, melainkan seorang lelaki tahu bagaimana kedudukannya dalam rumah tangga. Ibarat medan perang, seorang panglima yang menghadapi masa kritis dengan pasukannya akan berusaha sekuat mungkin agar mereka bisa keluar dari zona itu. Dan tentu saja, itu tak bisa dilakukan oleh sang panglima seorang diri. Melainkan perlu peran pasukan untuk bahu membahu agar tujuan itu tercapai.
Begitulah yang diinginkan suami; jika nanti “kita” dalam keadaan susah, apa kamu siap tetap berada di sampingku? Apa kamu masih setia menemani perjalananku? Menjadi bahu tempat bersandar. Menjadi kemudi, agar tak hilang arah.
Saya sendiri pernah berkata kepada calon istri saat akan menikah; ”Apa kamu siap menderita? Saya seorang mahasiswa, dan saya masih belum bekerja (ketika itu masih pengangguran). Jika kamu siap, kita langsungkan pernikahan ini. Jika tidak, silahkan berpikir ulang.”
Saat itu dia menjawab; ”Saya siap memulai dari nol.”
Menikah itu mudah; tapi kehidupan setelahnya yang perlu diperjuangkan.
Menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati. Bukan hanya menyatukan dua pemikiran. Tapi menyatukan dua buah keluarga. Menyatukan adat, budaya dari masing-masing pihak. Menyatukan selera, se-iya, se-kata, satu dalam harmoni. Mendayung bersama dalam biduk rumah tangga.
Menikah itu menyelaraskan visi dan misi. Agar satu tapak. Agar satu langkah. Agar satu jalan. Semusim dalam balutan senyum. Se-payung dalam gerimis lara. Dan senampan dalam pesona surga.
Surabaya, 09:53 WIB
22 07 17