NuParents #4 : Tugas Perkembangan di Setiap Tahapan Kehidupan
Setelah bulan lalu membahas serba-serbi Self Assessment terkait pernikahan dan kesiapan mengasuh, bulan ini NuParents kembali mengadakan kegiatan meet up dengan tema yang berbeda, yaitu Tugas Perkembangan di Setiap Tahapan Kehidupan bersama Ibu Ayu Riana Sari, M.Psi, Psikolog.
Sebentar, tugas perkembangan itu apa sih? Ada yang sudah pernah dengar?
Jadi begini … Psikologi membagi individu ke dalam beberapa tahapan sesuai dengan kelompok usianya. Dimulai dari tahapan prenatal (sejak konsepsi – 9 bulan di dalam kandungan), infancy (sejak lahir – 2 minggu pertama kehidupan), bayi (2 minggu – 2 tahun), awal masa anak (2-6 tahun), akhir masa anak (6-10/12 tahun), pubertas (10/12 – 13/14 tahun), remaja (13/14 – 18/20 tahun), dewasa awal (20-40 tahun), dewasa tengah (40-60 tahun), dewasa akhir atau tua (60 tahun ke atas). Dalam setiap tahap perkembangan tersebut terdapat indikator-indikator tugas yang disebut dengan tugas perkembangan. Keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tugas perkembangan pada suatu tahap akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tugas perkembangan di tahapan selanjutnya.
Sebagai generasi milenial, kita berada pada tahap perkembangan dewasa awal. Maka, sudah semestinya kita paham tentang apa yang menjadi tugas perkembangan kita di tahap ini. Memilih pasangan hidup, menikah dan mengasuh anak adalah beberapa tugas diantara tugas lainnya yang harus kita penuhi (lebih lanjut mengenai tugas perkembangan dewasa awal klik disini). Dalam pemenuhan atau pelaksanaannya, boleh jadi kita menemukan kesulitan-kesulitan. Apa yang membuat kesulitan itu terjadi? Banyak faktor, salah satunya adalah kegagalan dalam melaksanakan tugas perkembangan di tahapan sebelumnya. Lalu, apa urgensi kita mempelajari tugas perkembangan ini? Urgensinya adalah karena menikah dan kesiapan mengasuh perlu diawali dengan menyelesaikan masalah-masalah di dalam diri. Ya, kita terlebih dahulu harus selesai dengan diri kita sendiri.
Berikut adalah ringkasan super singkat mengenai tugas perkembangan sejak prenatal sampai dengan dewasa awal. Mengapa super singkat? Ya, karena normalnya meteri ini dipelajari dalam 2 mata kuliah, yaitu Tugas Perkembangan 1 dan Tugas Perkembangan 2 yang masing-masing berjumlah 3 SKS. Semoga yang singkat ini tidak mengurangi esensi pembelajarannya itu sendiri, ya!
a. Pre-Natal (sejak konsepsi – 9 bulan di dalam kandungan)
Kita mungkin berpikir bahwa pengasuhan diawali saat anak sudah lahir, padahal pengasuhan harus sudah dilakukan ketika anak masih ada di dalam kandungan. Kondisi psikologis ayah dan ibu pada periode ini akan mempengaruhi kondisi psikologis anak. Ibu hamil yang sangat gembira menanti kelahiran anaknya tentu akan menunjukkan sikap berbeda atas kehamilannya jika dibandingkan dengan ibu hamil yang merasa bahwa kehamilannya tidak diinginkan. Hal ini juga berdampak pada perlakuan orangtua setelah anak lahir.
b. Infancy (sejak lahir – 2 minggu pertama kehidupan)
Tahapan yang paling singkat ini merupakan tahapan yang radikal dan berbahaya. Tugas perkembangan pada tahapan ini adalah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan, pernafasan, suhu tubuh, ritme tidur, dll.
c. Bayi (2 minggu – 2 tahun)
Pada tahapan ini, pertumbuhan dan perkembangan anak melaju pesat. Tugas perkembangan pada tahapan ini adalah eksplorasi, disinilah seorang anak untuk pertama kalinya mulai mampu bersosialisasi dengan orang lain selain orangtuanya.
d. Awal Masa Kanak-Kanak (2-6 tahun)
Tahapan ini adalah tahapan yang penuh berisi dengan bermain dan eksplorasi. Sehingga, kurang tepat kiranya jika orangtua memaksakan anaknya yang berada di tahap ini untuk menguasai berbagai keterampilan akademis. Terkadang, tahap ini adalah tahapan yang menyulitkan bagi orangtua karena anak mulai sulit untuk dikendalikan ketika tantrum.
e. Akhir Masa Kanak-Kanak (6-10/12 tahun)
Ini merupakan usia-usia sekolah. Biasanya, pada usia ini anak sedang sering bertengkar dengan adik atau kakaknya. Tugas perkembangan pada usia ini adalah mulai bermain secara berkelompok, menyesuaikan diri dengan kehidupan akademis dan menunjukkan kreativitas.
f. Pubertas (10/12 – 13/14 tahun)
Ini adalah masa singkat. Di masa ini terjadi kematangan alat seksual dan kemampuan reproduksi. Di usia ini, anak perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tubuh dalam bentuk ukuran dan proporsi. Fase ini dapat menjadi fase negatif, teruama bagi anak yang kurang mendapatkan arahan dan pengasuhan yang baik.
g. Remaja (13/14 – 18/20 tahun)
Ini adalah fase dimana seorang anak banyak merasakan kebingungan karena sedang dalam tahap pencarian jati diri. Biasanya, banyak juga terjadi konflik dengan orangtua karena si anak sedang dalam fluktuasi emosi.
h. Dewasa awal (20-40 tahun)
Tahapan ini memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah masa pengaturan, masa reproduktif, masa bermasalah, masa ketegangan emosional, masa keterasingan sosial, masa komitmen, masa perubahan nilai, masa penyesuaian diri dan masa kreatif.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tugas perkembangan pada suatu tahap akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tugas perkembangan di tahapan selanjutnya. Sebagai contoh, ada seseorang yang selalu takut memulai perkenalan dengan orang lain karena merasa tidak percaya diri, ternyata di masa anak-anaknya ia kurang diapresiasi oleh orangtuanya sehingga ia selalu merasa rendah diri, dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Bagaimana dengan dirimu dan permasalahanmu? Let’s look in! Apakah kamu memiliki masalah-masalah di tahapan sebelumnya yang ternyata menghambat pelaksanaan tugas perkembanganmu di tahapan dewasa awal, khususnya yang terkait dengan memilih pasangan, menikah dan kesiapan mengasuh?
Yuk kita berdamai dengan diri sendiri dulu! Mengapa? Karena menikah dan kesiapan mengasuh perlu diawali dengan masalah-masalah di dalam diri.