Gelap yang Mengangkat
di mana gelap membisikkan kedamaian
Aku akhirnya mengerti. Bukan karena kekuatanku kurang. Ternyata, aku tidak sekuat yang selama ini terlihat.
Selama ini aku berlari, meraih, mempertahankan; sementara engkau hanya berdiri jauh, mengamati dari tempat yang tak pernah kudatangi.
Aku berjalan sendiri di jalan yang seharusnya kita lalui berdua.
Aku membawa luka, retak, dan ketidaksempurnaan yang tumbuh dari hal-hal yang hanya aku yang menjaganya.
Ketika kutengok diriku, kulihat celah dan retakan. Luka adalah bagian dari menjadi manusia. Namun kelelahan ini datang karena setiap langkah harus kutapaki sendiri.
Ada begitu banyak hal yang menyakitkan. Dan kenangan indah pun tak cukup untuk membuatku terus melangkah seorang diri.
Ada saatnya seseorang berhenti. Bukan karena tak ingin lagi berjalan, tetapi karena sadar bahwa ia terlalu lama berjalan sendiri.
Kini, rasa lelah itu mengeras di dada. Kekuatanku telah habis.
Jadi kali ini aku berhenti. Bukan karena menyerah, melainkan karena akhirnya aku memilih diriku.
Aku butuh diam. Butuh jeda. Butuh menerima bahwa hubungan tidak hidup jika hanya satu yang menghidupkan.
Mungkin inilah saatnya menemukan damai: damai dengan rasa sakit, dengan masa lalu, dan dengan diriku sendiri.
Dengan memberi ruang untuk sembuh, aku tahu aku akan mampu berjalan lagiβ bukan sebagai seseorang yang kehilangan, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya memilih dirinya sendiri.
(y.Q)
-yurizer Queena-








