Sebenarnya ini request-an sahabat dari sebrang benua. Yang selalu saling memberikan antibiotik sebagai penghambat kegalauan [apasih?]. Sedikit cerita banyak berkata, aku bukan seorang sastrawan. Ya, hanya senang merangkai kata. Si penikmat kopi, penyuka warna hitam dan akan selalu memilih warna hitam. Entah, warna itu sangat mendominasi diriku. Tidak, aku tidak berkulit hitam. Kulitku sawo matang layaknya kulit orang-orang Asia. Jika kau bertemu denganku, mungkin kamu akan mengira umurku masih 17 tahun, padahal tahun ini aku genap 22 tahun. Sudah pantas untuk dipinang, kah? hihihi. Ya, sembari menunggu toga hinggap di kepalaku, aku juga menunggu sang pangeran. Ini bukan kode, sungguh. Tapi isyarat. [lho apa bedanya?] hahaha...
Jakarta jadi kota kelahiranku. Jauh sebelum aku dilahirkan, dua malaikatku sudah tinggal di kota penuh dengan kriminalitas ini. Mama dan papa asli Jakarta. We are betawisme. Yang katenye orang Betawi punye banyak gaye dan kalau ngomong asal jeplak. Oh, but ‘em not! Really. Malah, banyak yang mengira aku dari Padang atau orang Sunda. Sampai temanku bilang... “itu muka atau peta”. heeemmmmbb! -_-
Kembali ke konteks awal cerita. Ini merupakan permintaan dari sahabat yang jauh di sebrang sana. Ya, kita sudah bersahabat lumayan lama. Entah... 5 tahun, mungkin? Singkatnya, kita bertemu di dunia maya. Aku memang senang berkenalan dengan orang baru yang jauh dari manapun. Tapi, selama berteman itu, Tuhan belum merestui perjumpaan kita hingga akhirnya dia pindah ke Swedia karena alasan tertentu. She is Indonesian. Sampai mungkin, Tuhan lelah melihat persahabatan kita yang semakin hari semakin melekat. Hingga akhirnya, Dia merestui. Bersahabat melalui dunia yang tak nyata selama hampir kurang lebih 4 tahun. Kita akhirnya dipertemukan.
Kalian percaya? Sejauh apapun jarak memisahkan kamu dengan seseorang yang kamu cintai, termasuk sahabat. Jarak tidak akan pernah bisa menampung rasa rindu yang tak terbendung. Suatu saat. Rindu itu akan meledak. Lepas dan pergi. Tapi cinta, akan terus tumbuh.
Aku memang pribadi yang tidak mudah mempercayai seseorang. Tapi jika aku sudah percaya, aku justru lebih tidak akan mudah percaya bahwa dia akan berbuat jahat kepadaku. Gemini. Itu zodiac-ku. Pernah ada seseorang berkata... “kamu tipe orang yang gak enakan, sekalipun orang lain yang salah. Kamu akan tetap menyalahkan dirimu. Karena kamu tidak mau orang lain terluka”. Well, that’s so right! Aku sadar, memang itu karakteristikku. Walaupun, melihat kecintaanku dengan warna hitam sangat bertolak belakang. Tapi arti dari warna hitam sendiri, hampir seluruhnya menggambarkan diriku.
Satu hal, yang membuat aku percaya untuk terus melangkah sejauh ini. Walaupun aku pernah hampir ingin menyerah, tapi Tuhan menunjukan banyaknya scene kehidupan yang lebih dari yang pernah aku bayangkan. Sesulit apapun kehidupan, cerita, dan kisahku. Tuhan tidak pernah lelah menggenggam tangan hamba-Nya.