Untuk yang Nakal tapi Zeyenk
Kubuka tulisan ini dengan sepenggal doa yang sering kupanjatkan dalam hati, diawal pembelajaran dimulai.
“ Tuhanku, Bantulah aku
Kuatkan suara, tubuh dan pikiran mereka. Berikan ekpresi pada perasan mereka, lalu kendalikan tingkah laku mereka, karena sesungguhnya Engkau maha membolak balikan hati. Terakhir kupinta, bantu hati ku untuk mencintai mereka”
Doa itu ku panjatkan dalam hati sambil menatap wajah wajah kalian. Wajah yang kadang datang dipagi hari dengan mengemaskan. Wajah yang datang dipagi hari kadang dengan semangat dan senyum cerianya. Tak jarang juga, hadir dipagi hari dengan wajah kusam tak bersemangat. Entah karena hari itu , kau membawa pikiran pilu dari rumah, atau mungkin aku yang membuatnya pilu dengan pembelajaran yang akan kita lalui hari itu.
Setiap hadir didepan kelas, aku sadar bahwa aku tak punya apa – apa. Aku hanya belajar ilmu pengetahuan lebih dulu, mungkin karena aku lahir lebih dulu. Tak pernah ada yang istimewa, bahkan mungkin menjadi sumber kebosan baru saat rentenan rumus dan hapalan wajib kau pelajari. Kau kadang lelah, banyaknya kau malas melewati hal hal tersebut. Maaf nak, aku hanya guru biasa yang diwajibkan menaati peraturan perundang undangan tentang kurikulum.
Hari ini Hari Guru,
Hari ini, aku yang kau sebut guru ingin meminta maaf. Sepenggal doaku, meminta Tuhan untuk membukakan seluruh indramu untu mampu belajar. Aku sadar sepenuhnya, bahwa ilmu itu milik Tuhan, kau belajar melalui perantaraku. Tapi maaf, jika aku masih belum bisa memberikan hal hal yang kau mau. Masih belum bisa menjadi dahaga ketika kau haus informasi. Sungguh aku masih belajar, menyederhanakan hal – hal rumit yang kuketahui agar berfrekuensi dengan pikiranmu. Mengenalkan hal hal baru melalui mata pelajaran yang mungkin kau anggap sulit. Mencoba meramalkan kondisi massa depan dengan segala tantangannya, kemudian membantu kau untuk mencoba mempersiapkan masa depan. Masa depan yang penuh kejutan. Maaf kan egoku yang kadang memaksa kalian untuk bersikap tak bebas, mengatur hal hal yang “menurutku” itu baik. Membenarkan sikap – sikap yang “ menurutku” tak baik. Sungguh, aku hanya ingin menyiapkan versi terbaik kalian. Versi terbaik secara budi pekerti kalian., versi terbaik secara sukma kalian dan tentu versi terbaik tentang kesantunan kalian. Aku hanya ingin mencoba memberi tau hal hal ideal, baik secara teori pengetahuan maupu kenormaan, meski banyak yang membisiki kalian bahwa itu tak berguna untuk masa depan kalian. Tapi sungguh aku tak punya kuasa untuk merubah hal – hal yang menurutku baik, memaksa kalian untuk menurutinya, maka tentu saja harus keserahkan pada pemilik hati kalian, agar kalian tetap dilindungi.
Diakhir doa, aku meminta agar hatiku bisa mencintai kalian. Dengan demikian aku akan selalu punya alasan untuk terus belajar agar bisa lebih baik lagi, lebih sabar lagi, lebih friendly lagi dalam menghadapi kalian. Sungguh, aku masih butuh banyak waktu memahami kalian, menyamakan versi terbaik kalian dengan versi terbaikku agar kita bisa selalu beresonansi. Agar interaksi kita mengahasilkan interaksi positif, untuk kebaikan kalian juga kebaikan ku. Karena sesungguhnya hakikat pembelajaran adalah merubah kita kearah yang lebih baik.
Hari ini hari guru,
Maka aku yang kau sebut guru mengahturkan banyak terimakasih. Untuk setiap dedikasi terbaik kalian dalam setiap proses pembelajaran. Untuk setiap sapa dan salam kalian disetiap waktu. Untuk sabar juga hormat kalian kepadaku, bahkan disaat momen momen yang mungkin aku begitu menyebalkan bagikalian. Terima kasih, karena sesunggunya aku takan pernah jadi guru bila tak ada kalian sebagai murid.
Salam hormat dariku
Yang selalu ngatur ngatur hidup kalian saat disekolah.
Salam sayang dariku,
Yang akan selalu menikmati hasil karyamu.



















