Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
⠀⠀ BISING TEVE kehilangan sinyal lantang mengaum di gudang kosong pelabuhan Prince Rupert. Sudah lebih dari dua puluh empat jam Sakurai diikat dan digantung bagaikan umpan untuk ikan raksasa di lautan, tapi bagaimana pun kerasnya dia mengatakan ‘tidak’ dan mengutuk para anjing di bawah sana, mereka masih enggan membunuhnya.
⠀⠀ Tentu saja metode mengakhiri hidup seseorang banyak ragamnya, sesuaikan dengan selera. Bagi Sakurai, ia lebih menyukai sedikit memar dan luka pada kulit korbannya karena dirinya tidak perlu menunggu lama untuk menguliti mereka.
⠀⠀ Namun, itu adalah gambaran Sakurai empat tahun yang lalu. Sekarang dia hanyalah seorang guru taman kanak-kanak yang setiap harinya bau ompol dan muntahan anak kecil. Dan terkadang terdapat ingus kering serta bekas air liur pada bajunya juga.
⠀⠀ Dari seorang yakuza menjadi pengasuh anak-anak adalah kesenjangan yang terlalu luas. Bahkan Sakurai sendiri mengakui kontras profesi di hidupnya, tapi itu bukan masalah besar. Untuk seseorang yang tumbuh besar di panti asuhan, Sakurai memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luar biasa mengenai anak kecil; alih profesi ini bukanlah syok kultur baginya.
⠀⠀ “Hei, kenapa kau diam saja?” tanya pria berhidung bengkok di dekat teve. “Apakah kau kelaparan?”
⠀⠀ Ini tidak masuk akal, pikir Sakurai. Sepanjang keterlibatannya di dunia kriminal, mereka diajarkan untuk tidak beradab di hadapan mangsa. Tentu dirinya akan mengerti jika para anjing itu memberinya sampah atau muntahan hewan, tapi beberapa jam sekali, mereka akan menghidangkan makanan layak untuknya.
⠀⠀ “Apakah Tuan kalian adalah sadis dengan perilaku menyimpang lainnya? Mungkin senang bermain peran sebagai penjahat dan penyelamat? Katakan kepadanya bahwa aku tidak tertarik menjadi bagian dari fantasi Stockholm Syndrome miliknya.”
⠀⠀ Ekspresi si Hidung Bengkok membuat Sakurai tersenyum. Dia menikmati telinga yang membara dan mata penuh keinginan untuk membunuh dirinya. Orang-orang seperti pria itu selalu mudah dipermainkan emosinya. Mereka bodoh dan tolol, oleh karena itu tugasnya tidak lebih dari sekadar tukang jaga.
⠀⠀ “Kau masih bisa menghina orang yang menculikmu? Sungguh tidak tahu diri! Satu perintah dari dia, maka aku akan mencincang dadu tubuhmu dan melemparnya ke laut!”
⠀⠀ Mendadak Sakurai terbahak. Rantai yang menahan bobot tubuhnya manghasilkan bunyi gemerincing nyaring, seolah ikut mengolok marah si Hidung Bengkok.
⠀⠀ “Kuharap kau memotong dagingku sama rata. Aku ingin ikan-ikan di laut mendapatkan porsi yang adil,” kata Sakurai setelah lumayan tenang. “Tambahkan sedikit kecap asin Jepang. Anggap saja penghormatan untuk tanah kelahiranku. Apakah kau mencatat ini? Aku takut otak kecilmu tidak mampu merekam perkataanku.”
⠀⠀ “Kau bajingan!”
⠀⠀ Klasik, batin Sakurai. Menyebut dirinya dengan kata ‘bajingan’ adalah penghormatan terendah dan paling lumrah. Dia sampai bosan mendengar julukan tersebut.
⠀⠀ “Angelo! Hold it!,” teriak pria lainnya dari arah pintu masuk dan keluar gudang. “They told us to not kill him until they arrived. You’ll ruin the agreement and we can’t afford the penalty.“
⠀⠀ Angelo, nama si Hidung Bengkok, mengepal tangannya erat dan menjauhi tombol kontrol katrol tempat Sakurai digantung.
⠀⠀ “But this son of a bitch plays with my nerves. I’ll just punch him once, Jamal!“
⠀⠀ “Kendalikan emosimu. Lihatlah wajahnya sudah hancur penuh memar. Jika kau meninjunya sekali lagi, maka mereka akan—“
⠀⠀ Kalimat Jamal terpotong, digantikan dengan rasa horor pada kedua mata. Lisan pria keturunan Mesir itu tidak sanggup bergerak ketika melihat sosok Sakurai sedang berlari ke arah mereka sembari menyeret rantai besi yang memeluk kedua pergelangan tangannya.
⠀⠀ “Tangkap!” seru Angelo sambil memanggil kawanannya yang lain.
⠀⠀ Namun, tidak ada yang sempat menyelamatkannya dari tinju maut Sakurai. Begitu pun Jamal yang kepalanya dicambuk menggunakan rantai besi. Darah mengucur segar bagaikan buliran delima yang diperas kuat. Mereka adalah duet sengsara yang menawan.
⠀⠀ Ketika anggota yang lain tiba, Jamal dan Angelo sudah tergeletak kaku bersimbah darah dengan mulut ternganga dan bola mata terbalik.
⠀⠀ “Kau membunuh ketua kami!” seru seseorang dari barisan. Dan itu adalah kode bahwa mereka harus menyerang Sakurai.
⠀⠀ Setidaknya ada sepuluh orang pria dewasa menerjang Sakurai. Sebagian mengayunkan tinju secara membabi-buta dan sebagian lagi memercayakan takdir pada tongkat kasti.
⠀⠀ Pemandangan itu kelewat jenaka untuk Sakurai. Alih-alih memancarkan aura gangster, mereka tampak seperti gerombolan anak muda yang masih mencari jati diri. Singkatnya, mereka dan Sakurai berada di kelas yang berbeda.
⠀⠀ “Apa yang lucu, Bajingan?” tanya Alex, tinjunya mendarat pada pipi Sakurai. Dia menyaksikan pria itu tersungkur di atas tanah.
⠀⠀ Meski begitu, untuk suatu alasan yang tidak jelas, Alex dan kawan-kawannya merasa gelisah. Ayolah, apakah yang bisa dilakukan oleh pria sekarat itu? Seluruh tubuhnya sudah penuh lebam dan darah terus mengalir dari hidungnya.
⠀⠀ “Kurasa dia mati,” kata Benjamin. “Apa yang harus kita katakan kepada klien?”
⠀⠀ Alex mendesis. “Tentu saja perjanjian batal. Keparat ini membunuh Jamal dan Angelo, sudah semestinya nyawa dibayar dengan nyawa!”
⠀⠀ “Tetapi dia membayar penuh dan uangnya sudah habis kita gunakan untuk perbaikan markas. Bagaimana cara kita mengembalikan uang mereka?”
⠀⠀ “Bodoh! Tentu saja kita harus kabur secepatnya.”
⠀⠀ Benjamin menatap ke arah jasad Jamal dan Angelo. “Kita membawa mereka?”
⠀⠀ “Kau serius bertanya mengenai hal itu? Kita akan mengubur mereka di tempat yang layak. Cepat gotong Jamal dan Angelo, waktu kita semakin tipis. Dia akan tiba sebentar lagi.”
⠀⠀ “Permisi, anak-anak. Jika aku boleh memberikan saran, sebaiknya kalian tinggalkan saja dua monyet evolusi Darwin itu di sana. Mereka akan memperlambat kalian, percayalah kepadaku.”
⠀⠀ Dari seluruh orang yang hadir, Alex tidak menyangka akan mendengar suara Sakurai lagi. “Kau masih hidup?”
⠀⠀ “Kau berharap aku mati dengan tinju bocah milikmu? Jangan menghinaku.”
⠀⠀ Wajah Alex memerah dan kakinya bergerak untuk menendang Sakurai. Namun, kurang dari dua inci mencapai target, sepatunya tertangkap. Yang terjadi selanjutnya adalah kejatuhan Alex. Perutnya ditikam menggunakan belati dan dikoyak dalam kurun waktu bersamaan. Dia tidak diberikan jeda untuk bernapas.
⠀⠀ Ketika Alex mati, Sakurai tanpa ragu melempar tubuh pria itu kepada kawan-kawannya. Lalu dengan tangkas dirinya memanfaatkan momen itu untuk berdiri dan mencambuk sebagian dari mereka menggunakan rantai besi. Kekejaman Sakurai adalah kontinuitas struktural yang tercipta di antara kemarahan dan kehausan akan darah. Dia tidak berhenti membanting, memukul, dan menusuk semacam pembunuh yang kehilangan seluruh simpati dan empati.
⠀⠀ “Monster!” teriak Benjamin sembari mencengkram tangan Sakurai yang menekan lehernya. Dia berusaha mencari ruang untuk bernapas.
⠀⠀ “Tepat.” Penuh tenaga, Sakurai menancapkan belatinya ke mata Benjamin dan memutar benda itu searah jarum jam. Dia membiarkan teriakan kesakitan bergema dan didengarkan oleh mereka yang masih tersisa. Sakurai sekadar ingin berkabar bahwa giliran kematian orang-orang itu semakin dekat.
⠀⠀ “Membusuklah dengan baik,” lanjutnya sembari menarik belati dan menginjak kepala Benjamin sebelum beralih ke korban selanjutnya.
⠀⠀ Semua diberikan perlakuan yang adil. Sakurai tidak pilih kasih ketika menarik nyawa lawannya, kecuali mereka memberikan manuver menyegarkan di waktu pertarungan. Kasus unik harus dirawat dengan unik juga, begitulah imannya. Dan setelah tidak ada dari mereka tersisa, Sakurai melirik ke pintu masuk gudang dan berkata: “Keluarlah. Kalian tidak pernah pandai bersembunyi.”
⠀⠀ Lalu derap langkah memenuhi ruang. Kiranya ada lima puluh orang berpakaian serba hitam menunjukkan batang hidung. Di antara mereka, tepat di bagian tengah, terdapat seorang pria berpakaian tradisional Jepang sedang tersenyum. Pemandangan penuh kematian tragis tampak tidak membuatnya ngeri atau jijik. Sebaliknya, tersirat kepuasan pada matanya.
⠀⠀ “Dan kau masih sama seperti empat tahun yang lalu, Azumaya-san. Apakah tadi kau bersenang-senang?” tanyanya.
⠀⠀ Sakurai membersihkan darah dari belatinya menggunakan jari. “Aku harus membiarkan para monyet ini menyiksaku selama beberapa hari untuk mengetahui identitasmu. Jika aku melarikan diri, maka kau akan mengirimkan monyet lainnya untuk kubunuh dan itu membuang-buang waktu. Padahal cukup temui aku satu kali saja dan suruh anak-anak buahmu melawanku, itu akan memberikanmu gambaran yang lebih jelas tentang perubahan kemampuanku.”
⠀⠀ Hening sejenak. Sakurai menjilat darah segar dari sudut bibirnya.
⠀⠀ “Lagi pula, anggota-anggotamu memiliki kulit premium. Aku akan senang memberikanmu beberapa pajangan dari diri mereka. Anggap saja itu adalah pengabdian paling tinggi.”
⠀⠀ “Bajingan!” seru Tetsu.
⠀⠀ “Terima kasih. Lain kali gunakan kata-kata yang lebih menstimulasi darahku, oke?”
⠀⠀ Sakurai tersenyum, tetapi matanya menatap tajam satu orang. Murakami Masaki.
⠀⠀ “Aku datang bukan untuk berkelahi denganmu, Azumaya-san.”
⠀⠀ “Wah, kau yakin, Pak Tua? Apakah kau sadar ada lima puluh orang bersamamu?”
⠀⠀ “Ini adalah prosedur keamanan. Kau pernah membunuh seluruh timku.”
⠀⠀ “Ayolah. Apa yang kau takutkan? Kini aku hanya satu daging yang sudah babak belur.”
⠀⠀ Masaki meneliti wajah Sakurai dengan saksama. “Itulah bahayanya. Semakin terluka dirimu, semakin kejam perilakumu. Kau tidak tahu kapan harus berhenti sampai semua lawanmu mati.”
⠀⠀ Lalu Sakurai tertawa sambil menggaruk leher menggunakan ujung belati. “Mau bagaimana lagi? Aku belajar dari yang terbaik. Dan pelatihan itu bukan untuk orang berjiwa lemah apalagi yang tidak memiliki gairah untuk menjadi yakuza. Kau sudah tahu jawabanku.”
⠀⠀ “Azumaya-san, hubungan kita tidak seburuk itu. Dan kau bukan bagian dari Sui-kai lagi. Kemanakah kau akan pulang ketika kembali ke Jepang?”
⠀⠀ “Kau berasumsi aku ingin kembali ke Jepang?”
⠀⠀ “Kau berniat membiarkan anjing-anjingmu mati dalam penantian? Tidakkah kau dengar beberapa orang datang untuk memukuli mereka?”
⠀⠀ Sakurai tahu, tapi dia diam. Dia tahu dan terus diam karena yakin cara terbaik melatih peliharaannya adalah dengan membiarkan mereka bertemu predator dan membakar sebagian besar harapan di hati kecil mereka. Lalu ketika taring dan cakar mulai menajam, dan pengasingan semakin bersahabat, Sakurai akan keluar dari bayangan, memberikan mereka kesempatan. Kesempatan untuk bebas dari jerat benang merah yang dirajutnya menggunakan darah. Sungguh murah hati. Sungguh tidak tahu diri.
⠀⠀ “Apa yang aku lakukan kepada anjing-anjingku bukan urusanmu. Fokuslah merawat anak anjingmu,” ujarnya tegas.
⠀⠀ Masaki mengambil langkah, begitu pula anak buahnya. Kini mereka hanya dipisahkan oleh tiga jasad, satu di antaranya menjadi alas bagi sandal kayu Masaki. “Azumaya-san, aku mengenalmu sebaik aku mengenal anakku sendiri. Dan kupastikan kau akan menerima permintaanku setelah mendengar anjing-anjingmu sekarat.”
⠀⠀ Genggaman Sakurai pada belati mengencang, tetapi wajahnya masih setenang musik klasik era romansa. “Berhenti mengucapkan sesuatu yang membuatku ingin memuntahkan asam lambungku. Dan tidakkah ibumu mengajarkanmu untuk tidak menyentuh properti orang lain, Pak Tua?”
⠀⠀ Masaki menginjak kepala jasad di bawah sana hingga terdengar bunyi retak pada tengkoraknya. “Azumaya-san, kita adalah yakuza. Tato di punggungmu adalah pengingat keras tentang jati dirimu yang sesungguhnya. Kembalilah ke akarmu.”
⠀⠀ Sakurai tidak langsung menjawab. Dia sedang memikirkan apa saja yang sudah dilakukan oleh Masaki kepada orang-orang di kediamannya. Dadanya terasa panas membayangkan mereka di bawah kontrol Murakami-gumi.
⠀⠀ Ini gila, batin Sakurai. Bagaimana pun, Murakami-gumi ada di jajaran atas sebagai grup paling berpengaruh di Jepang. Sepak terjang mereka di dunia hiburan dan media tidak bisa dianggap sebatas angin sepoi. Jika ingin melawan, maka Sakurai butuh jaringan yang setara atau lebih besar, contohnya Sui-kai. Jelas pilihan itu adalah kemustahilan sekarang. Kini pilihan teramannya adalah untuk menerima tawaran Masaki sembari menyusun rencana baru.
⠀⠀ “Baiklah. Tapi aku butuh kau untuk memenuhi permintaan-permintaanku,” ucap Sakurai sembari menunjuk Masaki dengan belatinya.
⠀⠀ "Sepakat. Apa pun yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Begitu pula sebaliknya, kau harus memenuhi permintaan utamaku. Jadikan Hanase oyabun Murakami-gumi selanjutnya.”
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nama: Shinhwa (神話)
Umur: 23+
Bergabung dengan Komunitas Role Play sejak: 2009
Keahlian: Menyiksa OC
Karya oleh: kalajengkel (ini adalah karya komisi, jadi jangan gunakan visualisasi saya untuk RP/penggunaan pribadi Anda)
Yang boleh dilakukan:
Diskusi tentang RPC
Kolaborasi penulisan / kegiatan kreatif
Pembicaraan ringan antara penulis / mun melalui DM
Brainstorming
Yang tidak boleh dilakukan:
Melanggar privasi saya
Menulis inses
Menulis roman/karya dewasa dengan penulis di bawah umur (di bawah 18 tahun)*
Mengikuti akun ini jika Anda merasa tidak nyaman dengan orang-orang seusia saya. Tolong jaga diri Anda agar tetap aman dan nyaman
*Diskusi terkait topik (dalam Bahasa Inggris):
1. RPMoans
2. PSA: If You Want to Romance RP, Don't Make Your Character A Minor by Tiergan
Name: Shinhwa ( 神話)
Age: 23+
Joined Role Play Community since: 2009
Best at: Torturing his OCs
Art by: kalajengkel (I commissioned the artist, so don’t use my visualization for your RP/your personal use)
Do(s):
Discussion about RPC
Writing collaboration/creative activities
Light talks between writers/mun through DM
Brainstorming
Don’t(s):
Trespassing my privacy
Write incest
Write romance/smut with mun who’s minors (under 18)*
Follow if you’re uncomfortable with people of my age, let’s keep ourselves safe
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
LIFE IS a constant battle between Sakurai and God. Ever since he was born, nothing good served on his plate. On Monday, it would be pain; on Tuesday, it would be despair; on Wednesday, it would be violence; on Thursday, it would be regret; on Friday, it became milder, shame; on Saturday and Sunday, Lord gave him a little bit mercy and fun with lust.
Had Sakurai plead for more mercies, God might send him a packet of blessing every day. But no one ever taught the man how to kneel down or to slosh in tears, asking for forgiveness and hoping the heaven belonged to him. But for once, he saw and heard his parents shouting: “God! Oh, God! Forgive me. God!” while raising a kitchen knife. Later, they thrusting at each other with it, still calling out for anybody’s God.
When the shouting stopped and the red river claimed the lifeless builds, Sakurai crawled on top of them. His dark hair which inherited from his mother and his sharp strong-willed eyes gifted by his father, shaped him like a vulture in a huntㅡready to devour the corpse before flies and maggots joined the feast.
For days, he sucked on his mother’s stiff nipples, but no milk calmed his hunger; all left was dried blood and maggots eddying around him. They nudged his weakened cheek and hand several times as if inviting the boy to play. But he was too hungry to move and his mother’s warmth had gone, so he did what a three years old would do: crying. And when the vocal cords couldn’t support another weep, he fell asleep.
Days passed, Sakurai was saved. He didn’t know who and when, but what he faced once he woke up was a woman dressed in white, carrying him while feeding something unfamiliar. A year later, he learned that he fed from a cow and he loved it. He loved it more than his mother’s which he couldn’t recall the taste anymore.
Everything became blurred to him. How his parents look like? What nickname did they give him? What was the title of his favorite bedtime story? All those memories dead along with his parents.
Fighting over flower scented blanket or new donated toys was the usual activity. Some kids would use their fist and the others would cry. The strongest got the blanket and the toys while the weak ones bawled together in the corner of the room. Sakurai believed they shouldn’t cry because later, once someone took them away, they would have their own toys and bedroom. Just like Nanao who left with an uncle who had big belly, she sent some pictures where she went to the Disneyland and stuffed her pink bedroom with dolls from there.
Soon, Sakurai figured that not every child who left the orphanage could have a beautiful life like Nanao. He remembered he held hands with his fellow orphans, dressed in all black, following the caretakers who cried while hugging a photo of a kid named Genta. They said Genta was beaten and starved until he passed. The police arrested his adopted parents and threw them into jail.
After Genta’s death, everyone became murky. None of them excited whenever they were told to line up or to hear: “The parents are here!”. Sakurai saw them and himself like the goods being sold in the market. And it was just his luck that a woman dressed in kimono took interest in him. She said he looked handsome and not so Japanese; that his records showed he behaved well.
For a week, Sakurai who lived for only six years on earth, felt nervous. Would he end up like Genta? But did he have anything to lose? He didn’t even know how the future would like.
So he left with Makoto, the woman’s name. She took him to Gion, Kyoto, where she worked as a geisha in her early twenties. Now she in her middle thirties, no one interested being entertained by her. And with her charming mind, Makoto opened a restaurant which serving her hometown delicacies to tourists and the tea houses’ visitors.
Sakurai didn’t end up like Genta and didn’t end up like Nanao. He ended up as Azumaya Sakurai, the adopted son of Nakamura Makoto. Every morning he helped his mother to clean the restaurant and went to school with his friends from the same neighborhood. He grew up bright and playful. Everyone loved him, but some couldn’t help to tease him for being parentless and for being adopted by Makoto.
One afternoon, Sakurai got home with cuts and bruises. Makoto asked him if he were falling or fought someone. And the answer was the latter. “I defeated them,” he said. “Then, I’ll make sure to visit your school tomorrow,” she said.
After Makoto patched his wounds, Sakurai asked her if she didn’t want to know the reason of his fight. And with a motherly smile, she said, “I know the fight is for me. Thank you, Saku-kun. If I were born as a real woman, you wouldn’t need to through this embarrassment.”
And Sakurai yelled in rage: “What was the purpose of the sentence?” For him who left by his parents and knew nothing about how warm a mother’s love could be, Makoto was the most beautiful mother in the universe. Even when she turned into ashes.
Sakurai forgot how to count. He forgot how to count the times he had cried over Makoto’s full name on a tiny jar. It was unreal how he could feel a great sadness in his heart.
The aching, the yearning, and the emptiness he experienced, every single of it were for Makoto; for his mother. That day, Sakurai had his first conversation with God to condemn Him. My mother would still alive if You didn’t allow those drunkard yakuzas came in. I hate You!
An eleven years old boy who grew up with manner didn’t know how to cuss properly. Even when a stranger held him in his arms, Sakurai got nothing to say but to ask: “Who are you?”
His dark long silky hair swayed beautifully as he walked. And his droopy but keen eyes stared at him tenderly, just like Makoto’s. “I’m Makoto’s little brother. So, you are my responsibility now. But because Makoto didn’t have a good relation with our family, you should work harder than everyone else to gain the Oyabun’s favor.”
“I’m sorry, but who is Oyabun?”
Nobody said anything. Not even the men in the front row of the car, they were as quite as the dead. But once the car stopped and a grand gate appeared behind the tinted window, the man opened his mouth: “The Head of Sui-kai, my father.”
General Information
Name: Azumaya Sakurai (東屋櫻井)
CV: Howl
Place and Date of Birth: Tokyo, September 13 1991
Gender: Male
Height and Weight: 188 cm and 87 kg
Blood Type: A
Education: Bachelor of Science Communication University W
Job: Yakuza mentor to Hanase, Vice President of Celestial Entertainment, (former) kindergarten teacher
Outfit: Simple modern black suit, tracksuits, and hoodie
Usually, Sakurai is a good-hearted man. He is sensitive to his surroundings and tend to help his peers in need. Generally, he is respectable, hard-working, and bright in knowledge and practical matters. Everyone will search for him when they need advices.
Sakurai doesn’t enjoy spotlight. He prefers standing in the background as long as he is appreciated for doing things well. He may brush off people’s compliment harshly which leads to uncomfortable situation, but honestly, he’s just shy.
Not everyone knows that Sakurai is honestly a playful and has mischievous sense of humor. He’s a bright person who enjoys life and freedom; he loves to travel the world and meeting new people, creating many lovely memories.
Sakurai doesn’t like to hold back due to his temperamental nature. He’ll dealing with his problems right away so he can get on with other things. He secretly enjoys trouble and confrontations, stagnant life isn’t for him. And some people can’t hate him deeply because of his childlike innocence.
Even so, Sakurai used to live as a soldier; the knight in fairytale stories. He lives listening to the Lord’s command, not the one in command. He’ll submit and do the tasks bestowed upon him, bringing the victory for his Lord.
He is chained by the destiny. He is forced to do what his heart refused to do. All the blood, the suffering, the dying souls in the battlefield, he must weight them on his shoulders for years to come; eating up the little light inside him.
How to trigger him? Anyone who breaks the rules and creates a chaos will not live peacefully until they pay for their actions. Sakurai doesn’t get along with people who have bad manners and direct or abrasive expression of feelings. Not only they’ll keep fighting, but Sakurai has tendency to give in (avoiding conflict) and let the person always bullies him.
Physical Statistics
STRENGTH (2,205lb/1,000kg)
CONSTITUTION
stamina: 100%
endurance: 100%
vitality: 100%
recovery: 85%
resistance: 90%
fortitude: 100%
resilience: 85%
DEXTERITY
agility: 90%
accuracy: 97%
Mental Statistics
INTELLIGENCE (90%)
CHARISMA
presence: 100%
charm: 100%
social skills: 100%
PERCEPTION
awareness: 100%
POWERS
interrogation (4/5)
firearms (3/5)
hand-to-hand combat (5/5)
intimidation (5/5)
manipulation (3/5)
skilled acrobat (4/5)
multilingual (English, Korean, Japanese) (4/5)
technology (4/5)
Trivia
He has affectionate nature.
He has more networking with older people than younger ones.
Stamina King.
Twitching his eyebrows and gripping his buckle when he’s mad or irritated.
Changing his home or office interior regularly.
Controlling his sensitive side with working out and cleaning home (loves domestic works).
Discount Maniac, he knows when the supermarket will have great deals.
Contributed to society as a health instructor for the senior citizens.
Yes to extreme sports, not much scared of anything; even the dark side of human nature.
Love music and art, Makoto taught him.
Can’t sleep alone, he collects bear dolls to accompany him or sleeping with someone instead.
KEHIDUPAN ADALAH pertempuran konstan antara Sakurai dan Tuhan. Sejak dia lahir, tak ada makanan enak yang disajikan di piringnya. Pada hari Senin, rasa sakit; pada hari Selasa, keputusasaan; pada hari Rabu, kekerasan; pada hari Kamis, penyesalan; pada hari Jumat, menjadi lebih lembut, rasa malu; pada hari Sabtu dan Minggu, Tuhan memberinya sedikit belas kasihan dan kesenangan dengan nafsu.
Jika Sakurai memohon lebih banyak belas kasihan, Tuhan mungkin akan mengiriminya paket berkah setiap hari. Tetapi tak ada yang pernah mengajari pria itu bagaimana caranya berlutut atau meneteskan air mata, meminta pengampunan dan berharap surga adalah miliknya. Tapi untuk sekali, dia melihat dan mendengar orang tuanya berteriak: “Tuhan! Ya Tuhan! Maafkan aku. Tuhan!" sambil mengangkat pisau dapur. Kemudian, mereka saling menusuk dengan benda itu sembari masih memanggil Tuhan.
Saat teriakan berhenti dan sungai merah merenggut tubuh-tubuh tak bernyawa, Sakurai merangkak di atasnya. Rambut hitamnya yang diwarisi dari Ibunya dan matanya yang tajam dan berkemauan keras yang diberikan oleh Ayahnya, membuatnya tampak seperti burung hering yang sedang berburu ㅡ siap melahap bangkai sebelum lalat dan belatung bergabung dalam pesta.
Selama berhari-hari, dia mengisap puting susu Ibunya yang kaku, tapi tak ada susu yang bisa menenangkan rasa laparnya; yang tersisa hanyalah darah kering dan belatung berputar-putar di sekelilingnya. Mereka menyenggol pipi dan tangannya yang lemah beberapa kali seolah-olah mengajak bermain. Tapi dia terlalu lapar untuk bergerak dan kehangatan ibunya telah hilang, jadi dia melakukan apa yang akan dilakukan anak berusia tiga tahun: menangis. Dan ketika pita suara tak dapat mengeluarkan rengek lagi, dia tertidur kelelahan.
Hari-hari berlalu, Sakurai diselamatkan. Dia tak tahu siapa dan kapan, tapi yang dia hadapi begitu dia bangun adalah seorang wanita berpakaian putih, menggendongnya sambil memberi makan sesuatu yang tak dikenalnya. Setahun kemudian, dia mengetahui bahwa selama ini dia meneguk susu dari seekor sapi. Dan dia menyukainya. Dia menyukainya lebih dari susu Ibunya yang tak bisa dia ingat lagi rasanya.
Semuanya menjadi kabur bagi Sakurai. Bagaimana penampilan orang tuanya? Nama panggilan apa yang mereka berikan kepadanya? Apa judul cerita pengantar tidur favoritnya? Semua kenangan itu mati bersama orang tuanya.
Berebut selimut wangi bunga atau saling bertarung untuk mainan baru hasil sumbangan adalah kegiatan yang biasa dilakukan. Beberapa anak akan menggunakan tinju mereka dan yang lainnya akan menangis. Yang terkuat mendapat selimut dan mainan; sementara yang lemah menangis bersama di sudut ruangan. Sakurai percaya mereka tak boleh menangis karena nanti, begitu seseorang membawa mereka pergi, mereka akan memiliki mainan dan kamar tidur sendiri. Lihat saja Nanao yang pergi dengan seorang paman perut buncit, dia mengirimkan beberapa gambar di mana dia pergi ke Disneyland dan mengisi kamar tidur merah mudanya dengan boneka dari sana.
Tak lama kemudian, Sakurai menyadari bahwa tak setiap anak yang meninggalkan panti asuhan bisa memiliki kehidupan yang indah seperti Nanao. Dia ingat bergandengan tangan dengan sesama anak yatim piatu, menggunakan pakaian serba hitam sambil mengikuti pengasuh yang menangis; ia memeluk foto seorang anak bernama Genta. Mereka bilang Genta dipukuli dan dibiarkan kelaparan sampai dia meninggal. Polisi menangkap orang tua angkatnya dan menjebloskan mereka ke penjara.
Setelah kematian Genta, semua orang menjadi suram. Tak satu pun dari mereka bersemangat setiap kali mereka disuruh berbaris karena para pengasur berteriak: "Para calon orang tuanya ada di sini!". Sakurai melihat mereka dan dirinya seperti barang yang dijual di pasar. Dan itu hanya keberuntungannya ketika seorang wanita berpakaian kimono tertarik kepadanya. Dia bilang Sakurai tampak tampan dan tak mencerminkan fisik orang Jepang sepenuhnya; bahwa catatannya menunjukkan bahwa dia berperilaku baik.
Selama seminggu, Sakurai yang hanya hidup enam tahun di bumi, merasa gugup. Apakah dia akan berakhir seperti Genta? Namun, di sisi lain, dia bahkan tak tahu seperti apa masa depan yang akan dimilikinya. Jadi, dia pergi dengan Makoto, nama wanita itu. Dia membawanya ke Gion, Kyoto, di mana dia bekerja sebagai geisha di usia awal dua puluhan. Sekarang dia berusia di pertengahan tiga puluhan, tak ada yang tertarik untuk dihibur olehnya. Dan dengan pikirannya yang memesona, Makoto membuka sebuah restoran yang menyajikan masakan kampung halamannya kepada turis dan pengunjung kedai teh.
Sakurai tak berakhir seperti Genta dan tak berakhir seperti Nanao. Dia berakhir sebagai Azumaya Sakurai, anak angkat Nakamura Makoto. Setiap pagi dia membantu Ibunya membersihkan restoran dan pergi ke sekolah bersama teman-temannya dari lingkungan yang sama. Dia tumbuh sebagai anak yang cerah dan menyenangkan. Semua orang mencintainya, tetapi beberapa tak bisa menahan untuk menggodanya sebagai yatim piatu dan anak adopsi Makoto.
Suatu sore, Sakurai pulang dengan luka dan memar. Makoto bertanya kepadanya: “Apakah kau terjatuh atau berkelahi?” Dan jawabannya adalah yang terakhir. “Aku mengalahkan mereka,” katanya. “Kalau begitu, aku akan memastikan untuk mengunjungi sekolahmu besok.”
Setelah Makoto mengobati lukanya, Sakurai bertanya kepadanya apakah dia tak ingin mengetahui alasan pertarungannya. Dan dengan senyum keibuan, Makoto berkata, “Aku tahu pertarungan ini untukku. Terima kasih, Saku-kun. Jika aku terlahir sebagai wanita sejati, kau tak perlu melalui rasa malu ini.”
Dan Sakurai berteriak marah: “Apa maksud dari kalimat itu?” Baginya yang ditinggalkan oleh orang tuanya dan tak tahu apa-apa tentang betapa hangatnya cinta seorang ibu, Makoto adalah ibu tercantik di alam semesta. Bahkan saat dia berubah menjadi abu.
Sakurai lupa cara menghitung. Dia lupa bagaimana menghitung berapa kali dia telah menangis untuk nama Makoto yang terukir pada kendi. Sungguh tak nyata bagaimana dia bisa merasakan kesedihan yang luar biasa di dalam hatinya.
Sakit, kerinduan, dan kehampaan yang dialaminya, semua itu untuk Makoto; untuk Ibunya. Hari itu, Sakurai melakukan percakapan pertamanya dengan Tuhan untuk mengutuk-Nya. Ibuku akan tetap hidup jika Kau tak mengizinkan para yakuza pemabuk itu masuk. Aku membenci-Mu!
Sebagai seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang tumbuh dengan sopan, Sakurai tak tahu bagaimana cara mengumpat dengan benar. Bahkan ketika orang asing memeluknya dan membawanya pergi, Sakurai tak bisa berkata apa-apa selain bertanya: "Siapa Anda?"
Rambut hitam panjangnya yang halus berayun indah saat dia berjalan. Dan matanya yang sayu tapi tajam menatapnya dengan lembut, seperti Makoto. “Aku adalah adik Makoto. Jadi, kau adalah tanggung jawabku sekarang. Tetapi karena Makoto tak memiliki hubungan yang baik dengan keluarga besar, kau harus bekerja lebih keras daripada orang lain untuk mendapatkan pengakuan Oyabun."
“Maaf, tapi siapa Oyabun?”
Tak ada yang mengatakan apa pun. Bahkan para pria di barisan depan mobil, mereka bersikap seperti orang mati. Namun, begitu mobil berhenti dan gerbang besar muncul di balik jendela berwarna, pria itu membuka mulutnya: "Kepala Sui-kai, ayahku."
Informasi Umum
Nama: Azumaya Sakurai (東屋櫻井)
CV: Howl
Tempat dan Tanggal Lahir: Tokyo, 13 September 1991
Jenis Kelamin: Laki-laki
Tinggi dan Berat Badan: 188 cm dan 87 kg
Golongan Darah: A
Pendidikan Terakhir: Sarjana Komunikasi Sains Universitas W
Pekerjaan: Mentor yakuza untuk Hanase, Wakil Presiden Celestial Entertainment, (mantan) Guru Taman Kanak-Kanak
Pakaian: Setelan jas hitam modern sederhana, baju olahraga, dan hoodie
Biasanya, Sakurai adalah pria yang baik hati. Dia peka terhadap lingkungannya dan cenderung membantu teman-temannya yang membutuhkan. Secara umum, dia terhormat, pekerja keras, dan cerdas dalam pengetahuan dan masalah praktis. Semua orang akan mencarinya ketika mereka membutuhkan nasihat.
Sakurai tak menyukai sorotan. Dia lebih suka berdiri di latar belakang selama dia dihargai karena melakukan sesuatu dengan baik. Dia mungkin menepis pujian orang dengan kasar yang mengarah pada situasi tak nyaman, tapi sejujurnya dia hanya seorang pemalu.
Tak semua orang tahu bahwa Sakurai adalah seorang yang suka bermain dan memiliki selera humor yang nakal. Dia orang cerdas yang menikmati hidup dan kebebasan; dia suka berkeliling dunia dan bertemu orang baru, menciptakan banyak kenangan indah.
Sakurai tak suka menahan diri karena sifat temperamentalnya. Dia akan segera mengatasi masalahnya sehingga dia bisa melanjutkan dengan hal-hal lain. Dia diam-diam menikmati masalah dan konfrontasi, hidup yang mandek bukan untuknya. Dan beberapa orang tak dapat membencinya secara mendalam karena kepolosannya yang seperti anak kecil.
Meski begitu, Sakurai hidup sebagai tentara; kesatria dalam cerita dongeng. Dia hidup mendengarkan perintah Tuan, bukan yang memegang perintah. Dia akan tunduk dan melakukan tugas yang diberikan kepadanya, membawa kemenangan bagi Tuannya.
Dia dirantai oleh takdir. Dia dipaksa untuk melakukan apa yang ditolak hatinya. Semua darah, penderitaan, jiwa-jiwa yang sekarat di medan perang, dia harus membawa mereka di pundaknya selama bertahun-tahun yang akan datang; memakan sedikit demi sedikit cahaya di dalam dirinya.
Bagaimana cara memicunya? Siapa pun yang melanggar aturan dan menciptakan kekacauan tak akan hidup damai sampai mereka membayar tindakan mereka. Sakurai tak cocok dengan orang yang memiliki perilaku buruk dan mengungkap ekspresi perasaan secara langsung atau kasar. Selain karena mereka akan sering berkelahi, Sakurai memiliki kecenderungan mengalah dan membiarkan orang itu terus merundungnya.
Statistik Fisik
KEKUATAN (2.205 lb / 1.000 kg)
KONSTITUSI
stamina: 100%
daya tahan: 100%
vitalitas: 100%
pemulihan: 85%
resistensi: 90%
ketabahan: 100%
ketahanan: 85%
KETANGKASAN
ketangkasan: 90%
akurasi: 97%
Statistik Mental
KECERDASAN (90%)
KARISMA
kehadiran: 100%
pesona: 100%
keterampilan sosial: 100%
PERSEPSI
kesadaran: 100%
KEKUATAN
interogasi (4/5)
senjata api (3/5)
pertarungan tangan kosong (5/5)
intimidasi (5/5)
manipulasi (3/5)
akrobat terampil (4/5)
multibahasa (Inggris, Korea, Jepang) (4/5)
teknologi (4/5)
Trivia
Dia memiliki sifat penyayang.
Dia memiliki lebih banyak jaringan dengan orang yang lebih tua daripada yang lebih muda.
Stamina King.
Mengedutkan alisnya dan terus mencengkeram gesper saat marah atau kesal.
Mengganti interior rumah atau kantornya secara teratur.
Mengontrol sisi sensitifnya dengan berolahraga dan membersihkan rumah (menyukai pekerjaan rumah tangga).
Discount Maniac, dia tahu kapan supermarket akan memberikan penawaran menarik.
Berkontribusi kepada masyarakat sebagai penyuluh kesehatan untuk lansia.
Menyukai olahraga ekstrim, tidak takut pada apapun; bahkan sisi gelap sifat manusia.
Cinta musik dan seni, Makoto mengajarinya.
Tidak bisa tidur sendiri, dia mengumpulkan boneka beruang untuk menemaninya atau tidur dengan seseorang sebagai gantinya.