Senang dan malu bersama Romo Mangun
Sore tadi, sepulang kerja, agak heran dengan beberapa benda ini, sampai akhirnya "engeh" kalau hari ini ternyata hari guru. Jujur, saya senang sekaligus malu. Senang, karena Allah ngasih garis hidup untuk tetap selalu menghayati dan merayakan ilmu pengetahuan (masih dikasih sempat untuk selalu belajar dan dikasih pula kesempatan mengajar). Malu, karena masih merasa jauh dari pantas untuk menjadi bagian orang-orang yang di-"selamat"-i di hari guru ini. Padahal saya cuma "pendamping" yang menemani mereka belajar. Bahkan, sejatinya saya yang kerap memetik pelajaran dari mereka, dari waktu ke waktu ketika mendampingi mereka belajar.
Hingga akhirnya rasa senang sekaligus malu tersebut menggerakkan saya kembali melongok ke pustaka kecil saya, untuk membuka kembali halaman-halaman pada buku ini:
"Impian dari Yogyakarta" karya Romo Mangun. Saya dua kali membeli buku ini. Yang pertama saya hadiahkan untuk seorang kawan yang kebetulan sedang mengambil studi keguruan. Saya takjub betul dengan tulisan-tulisan Romo Mangun dalam buku ini yang menggedor kesadaran saya tentang dunia pendidikan. Sehingga ketika seorang kawan jauh suatu ketika singgah di rumah saya dan bercerita tentang studi keguruannya, dengan spontan dan semangat saya menyodorkan buku ini. Sederhana saja harapan saya waktu itu; semoga di tengah-tengah kesibukan akademisnya, sesekali ia membaca esai-esai dalam buku ini, lalu ada nilai yang mengendap dalam hati-pikirannya, untuk kemudian ketika ia lulus dari studinya nanti, endapan nilai tersebut bisa menjadi "bahan bakar" saat ia mengamalkan ilmunya sebagai seorang pengajar.
Yang menjadi favorit saya ialah esai ke-7, berjudul: Persoalan Anak dan "Anak". Tapi saya tak sampai hati menceritakan esai yang sarat akan ironi itu, yang sialnya, ironi tersebut ialah kenyataan yang memang ada dan menjadi pil pahit bagi pendidikan kita, yang mau tak mau, suka tak suka, musti kita telan.
Dan, sialnya lagi, pahitnya masih terasa relevan sampai hari ini.
Selamat Hari Guru.













