“Terlambat untuk menoleh, dan menghapus yang tertoreh, karena jelas tidak lebih indah dari solat teraweh”.
Entah puisi atau bukan, tapi perkataan itu spontan terlontar dari mulut pendosa yang tertutup lantunan do'a. Tepat pada hari dimana aku lahir, tepat 20th yang lalu, dan mati lampu. Anak yang dulunya penggila kegiatan outdoor, tapi sekarang betah kalau tidak keluar rumah berhari-hari. Mulut kecil yang gemar dan terbiasa melanjutkan juz amma, tapi sekarang terbiasa melolong, mengaung, meraung, dam menggonggong persis seperti binatang jalang kata mbah Chairil Anwar. Sesal tiada habisnya di umurku yang sekarang, kenapa selalu sesal yang hadir belakangan, padahal dia bukanlah pahlawan. Tak ada yang namanya tipe-x kehidupan yang dapat sesuka hati menghapus pekatnya tinta kehidupan. Sesal tiada berujung tanpa tangan yang tidak kunjung terjunjung dari pribadi yang selalu termenung. Lewati dan nikmati apa yang saya jalani, karena hidupku adalah hari ini, esok biarlah esok, pasti indah karena berkaca pada hari ini, dan yang lalu biarlah berlalu. Trimakasih lalu, kau telah indahkan hari ini.















