Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Seminggu setelah Xian lahir, kakak dan Hyunjae memutuskan untuk tinggal di rumah.
Entahlah, kenapa mereka memilih untuk tinggal dirumah, padahal Hyunjae adalah seorang aktor terkenal dengan pendapatan yang lumayan cukup besar setiap bulannya.
Dia tampan, dia mapan, tapi dia sama sekali tidak berfikir untuk membeli ataupun membuat rumah sendiri.
Sebenarnya dia itu pelit atau bagaimana?
Bukannya aku tidak suka mereka tinggal di rumah, tentu saja aku sangat senang. Apalagi aku pasti akan bertemu dengan Xian setiap hari.
Hanya saja, aku sangat kesal pada Kakak dan Hyunjae yang selalu memihak pada Boo jika Boo sedang berada di rumah.
Mereka lebih terlihat seperti sekelompok geng di sekolah jika sedang bersama. Dan selalu saja aku yang menjadi target mereka untuk mereka nistakan.
Saat ini aku sedang berada di ruang tengah bersama Kakak dan Xian yang sedang menangis karena popoknya yang baru saja selesai di ganti.
Ya Tuhan, Xian sangat lucu dan selalu membuatku gemas setiap kali aku menatapnya. Matanya berbinar dengan pipi kemerahan yang membuatku ingin sekali menggigitnya.
"Bagaimana dengan pesanannya apa Boo menemukannya?" tanya Kakak.
Mendengar pertanyaan Kakak, aku pun langsung meraih ponselku yang ku letakan di atas meja.
"Tidak tau, coba aku hubungi dia dulu." Jawabku sambil mencari nama Boo di ponselku.
Aku mencoba menghubungi Boo beberapa kali, namun telfonku sama sekali tidak di respon olehnya.
Dimana dia sebenarnya?!
Tadi pagi Boo bilang bahwa dia akan datang ke rumah, dia bahkan memberitahukan hal tersebut pada kak Sae dan bukan padaku. Kak Sae bilang dia meminta bantuan Boo untuk mencarikannya sesuatu, tapi entah apa yang dia maksud karena kakak tidak memberitahuku sama sekali.
"Dia tidak mengangkat telfonku." Kataku.
"Kenapa tidak di angkat?"
"Ya, mana aku tahu!"
Ck!
Apa maksud Kakak?!
Sudah tau Boo memang tidak mengangkat telfon dariku kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Ya mana aku tahu kenapa Boo tidak mengangkat telfonnya.
Tidak lama, seseorang datang di tengah-tengah pembicaraanku dengan kakak.
Ya, Boo akhirnya datang.
"Selamat siang gadis-gadis..." sapanya terkekeh.
Aku hanya menatapnya heran karena setahuku pintu rumah itu selalu terkunci. Lalu bagaimana Boo bisa masuk ke dalam?
"Kenapa kau bisa masuk?" tanya ku sedikit sinis.
"Eh...?"
Boo yang ku berikan pertanyaan itu malah menatapku dengan tatapan bingung.
"Kenapa kau bisa masuk?!" tanyaku sekali lagi dengan nada yang agak mengeras.
"Tentu saja bisa."
"Bagaimana bisa?!"
"Ibu memberikanku kunci cadangan padaku." Jawabnya menunjukan kunci yang sebelumnya dia taruh di saku mantelnya.
Kenapa Ibu mempercayainya memegang kunci cadangan?
"Sae, aku hanya mendapatkan ini?! Penjual yang kau maksud itu sudah sangat tua dan pikun. Saat aku bilang bahwa aku di suruh oleh mu, dia bahkan tidak tau siapa itu Saerom. Kau tahu, aku sampai berdebat dengan anaknya!"
"Benarkah?"
Mendengar apa yang Boo ceritakan pada kakak justru malah membuatku jadi ingin tertawa mendengarnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Boo terlihat kesal saat aku mencoba menatapnya sambil beberapa kali menahan tawaku.
"Siapa juga yang menatapmu? Aku hanya sedang mengajak Xian bercanda. Benar kan gadis lucuku... ayok kemari... ikut Yiyi..."
Boo hanya mendelik sambil menunjukan ekspresi wajah bebeknya dan membuat ku semakin ingin tertawa.
Aku langsung menggendong Xian sambil mendengarkan obrolan antara kakak dan Boo karena sedikit penasaran dengan apa yang kakak pesan pada Boo.
"Ya sudah tidak apa-apa..." kata Kakak yang langsung membuka isi di dalam sebuah kantong yang dia pegang.
Ternyata kakak menitip serbuk harumanis pada Boo.
Ya tuhan, misi terselubung apa ini sebenarnya?!
"Aku harap Hyunjae menyukainya." kata Kakak menatap bungkusan hitam di tangannya dengan penuh cinta.
Aku pun menatap kakak heran.
"Apa maksudmu Kak? Kau akan membuatkannya harumanis? Kau fikir, Hyunjae itu anak kecil kak?" tanya ku agak sedikit sarkas.
"Tentu saja dia bukan anak kecil! Hanya saja, beberapa hari yang lalu dia mengatakan bahwa dia ingin mengingat masa kecilnya. Dia menunjukan padaku bahwa dia sangat menyukai harumanis. Itu kenapa sebabnya aku menyuruh Boo membelikan serbuk harumanis di tempat biasa aku membelinya saat sekolah dulu."
"Ah begitu rupanya. Ya sudah lagi pula itu bukan urusanku." Jawab ku masa bodoh.
Kakak pun langsung mendelik kesal ke arahku.
Sementara Boo, entahlah dia bahkan sudah berkeliaran di rumahku untuk mencari minum dan makan sendiri.
Tidak lama, Hyunjae pun pulang.
"Aku pulang!!!" teriak Hyunjae dari arah pintu masuk.
Mendengar suara ayahnya yang baru saja pulang, Xian tiba-tiba menangis.
"Kau sudah pulang?" tanya Kakak dengan mata yang dipaksakan membulat.
"Sudah, hari ini adeganku tidak terlalu banyak. Jadi, aku bisa pulang lebih cepat." Jawab Hyunjae dengan tangan yang sudah bersiap menggendong Xian.
Sebenarnya aku masih ingin menggendong Xian, tapi aku juga tidak enak. Lagi pula Xian itu anak Hyunjae. Jadi, aku biarkan saja untuk memberikan Xian pada Hyunjae.
"Anak Ayah yang cantik. Mmuaahh..." kata Hyunjae mencium Xian dengan sangat gemas.
"Jadi kau hanya mencium Xian?" tanya kakak pada Hyunjae dengan tatapan jahil.
Aku hanya bisa memutar bola mataku malas. Apalagi saat ini dengan tanpa malunya Hyunjae mencium kakak di depan ku.
Aku arahkan pandanganku ke arah lain, dan aku melihat Boo sedang berjalan ke arahku dengan pandangan yang tidak beralih menatap Hyunjae dan kakak.
Apa-apan dia? Mengapa dia sama sekali tidak malu melihat orang bermesraan?
Boo duduk di samping ku, saat aku menoleh ke arahnya dia malah tersenyum ke arah ku.
Mengapa cukup aneh rasanya. Saat aku berada di sampingnya seperti saat sekarang? Dan yang lebih parahnya lagi, aku kembali teringat saat malam itu.
Malam di saat dia dengan tanpa bersalahnya memeluk ku di atas bukit itu.
Hufftt!!!
Seharusnya aku bisa melupakan kejadian itu! Tapi kenapa aku tidak bisa berhenti untuk terus memikirkan hal itu?!
Oh, Tuhan... ini cukup menyiksaku.
"Wah, ternyata ada kau Boo?" kata Hyunjae terlihat malu.
"Aku ada sejak tadi, lanjutkan saja. Aku tidak keberatan." Jawabnya terkekeh.
Eh, apa-apaan dia?
Dasar manusia aneh!
"Tidak. Sudah cukup. Aku hanya merindukan Sae dan Xian."
"Iya aku mengerti. Santai saja."
Mendengar apa yang Boo katakan rasanya cukup aneh, kenapa dia seolah bersikap menjadi pemilik rumah sekarang?
Apa dia lupa, kalau Hyunjae tinggal di sini.
Benar-benar aneh.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengganti baju dulu. Kau kembali pada ibumu yang cantik ya Xianku sayang..." kata Hyunjae memberikan Xian pada kakak.
Saat Hyunjae pergi, Boo mendekati kakak dengan tangannya yang saat ini mengusap-mengusap kepala Xian.
"Sae, aku ingin meminjam adikmu, apa boleh?"
Eh, dia bilang meminjam? Dia fikir, aku ini barang yang bisa dia pinjam?!
"Tentu saja, kenapa kau harus bertanya? Bukankah Yiren sudah kau anggap seperti adikmu sendiri juga?" kata kak Sae.
"Hah, i-iya kau benar hehe..."
Sumpah demi harta ayah, aku sungguh tidak rela dia mengatakan hal tersebut!
Aku hanya di anggap adik olehnya?
Dan jujur, itu cukup membuat dadaku terasa sedikit sesak saat mendengarnya.
"Memangnya kau akan mengajaknya kemana?" tanya kakak.
"Ke perpustakaan."
"Apa?!!" kata ku kaget sedikit berteriak saat mendengar jawabannya.
Kak Sae dan Boo pun menoleh ke arahku.
"Aku tidak mau ke perpustakaan! Ini hari libur dan kau mengajakku untuk belajar? Ah, yang benar saja!" protes ku pada Boo.
"Heh! Aku belum selesai bicara kau main menyambar perkataan ku!"
"Ah! Terserah, tapi aku tidak mau pergi ke perpustakaan!"
"Aku ke perustakan hanya untuk mengambalikan buku pada Beardy. Dan setelah itu aku ingin mengajakmu berkeliling."
"Apa??! Berkeliling? Untuk apa?"
"Ayoklah Yiren! Kau ini tinggal menjawab mau atau tidak?!"
"Dengar ya! Pertama, aku tidak mau pergi ke perpustakaan, dan yang ke dua, aku tidak mau berkeliling saat ini!"
Mendengar perkataanku Boo pun mendelik ke arahku.
"Jadi apa yang kau inginkan?!!!" tanyanya dengan nada bicaranya yang sedikit lebih keras sekarang dan sepertinya dia mulai kesal.
"Aku ingin pizza, aku ingin ramen, dan aku ingin kue beras."
Boo terlihat meringis mendengar permintaanku. Dia tiba-tiba membalikan badannya sambil menempelkan kedua tangannya dan memohon pada kakak hingga membuat kakak pun menjadi heran melihatnya.
"Sae, tolong pinjamkan aku uang..." katanya terlihat meringis memohon.
Tentu saja itu malah membuat kakak tertawa.
Bukan hanya kakak, bahkan aku juga ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajahnya yang mengkhawatirkan itu.
"Tentu, berapa banyak yang kau butuhkan untuk mendekati adikku??" tanya kak Sae menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum jahil.
Eh!
Apa maksud perkataan kakak? Mengapa dia bicara seperti itu?
Dan Boo, dia bahkan terlihat sangat kaget melihat wajah kakak sekarang.
Apa kakak tau soal perasaanku yang sebenarnya pada Boo?
Tapi....
"Apa yang kau lihat Boo?! Aku bertanya padamu!" kata Kakak dengan ekspresi wajah yang serius sekarang.
"Demi semesta, kau kehilangan pesonamu saat gagap seperti itu, Boo! Aku tidak mau jika adik ku dekat dengan orang gagap sepertimu!" goda kakak dengan wajah yang sepertinya sengaja dia pasang serius.
"Apa yang kau bicarakan, Sae?!!"
Dan Boo, dia malah terlihat salah tingkah sekarang.
Kakak hanya terkekeh menatapnya kali ini.
Aku?
Entahlah, perasaanku begitu sangat campur aduk sekarang, antara heran, senang dan juga takut jika Kakak akan memarahi ku setelah Boo pulang nanti.
Tapi, sepertinya itu tidak akan terjadi.
Aku rasa sepertinya kakak memang sudah mengetahuinya, hanya saja dia tidak banyak bicara. Lagi pula, aku ini kan adik kesayangannya, mana mungkin dia akan memarahiku.
Benar kan?
"Aku tidak jadi meminjam uang. Caramu bicara sangat menyeramkan." Kata Boo merubah fikirannya.
Kakak pun kembali terkekeh. Bahkan sekarang Hyunjae yang baru saja selesai mengganti pakaiannya pun kembali ikut bergabung dan terkekeh bersama kakak.
"Kenapa?" tanya Kakak jahil pada Boo.
"Tidak apa-apa." Jawab Boo yang sekarang terdengar seperti orang pesimis yang menyerah.
Entah pesimis atau memang dia juga merasakan hal yang sama sepertiku, takut kalau Kakak akan memarahinya.
"Aku dan Hyunjae sudah mengetahuinya." Celetuk Kakak berhasil membuatku membulatkan mataku lebar-lebar.
"Eh, mengetahui apa maksudmu?!" tanya Boo yang malah terlihat seperti orang yang sedang terancam.
"Hmm, bagaimana ya sayang?" jawab Kakak melemparkan pertanyaan pada Hyunjae.
"Haha, iya, intinya kami tau tentang kalian."
Mendengar perkataan Hyunjae, Boo menatap ke arahku. Dan setelah itu menggaruk kepalanya gusar.
"Tau apa maksud kalian?!! Jangan buat aku jadi semakin takut dan tidak akan pernah menginjakan kaki kuu lagi ke sini!!!" teriak Boo kesal.
"Hey, ayoklah. Tidak apa-apa." Kata Hyunjae terkekeh.
Boo mendelik dan beberapa kali menoleh ke arah ku.
Dan kakak, dia malah menatap kami dengan tatapan jahilnya sekarang.
"Boo..."
Boo pun menoleh saat Hyunjae menyebut namanya. Dan aku pun juga ikut menoleh ke arahnya.
"Cinta itu adalah anugrah."
"..."
"Iya Hyunjae benar... Dan aku sangat berterimakasih karena kau sudah menyayangi adik ku dengan tulus Boo."
"Apa maksud kalian??!!!" bentak Boo terlihat seperti akan menangis.
"Jadi, kau tidak sayang pada adikku?"
"Bukannya begitu Sae. Tentu saja akuu......." kata Boo menggantung.
Kak Sae dan Hyunjae menatap Boo hingga akhirnya Boo melanjutkan perkataannya.
"Aku menyayanginya." Lanjut Boo dengan nada yang semakin melemah di akhir dan itu berhasil membuatku sedikit mulas.
Entahlah, kaget atau bagaimana tapi perutku tiba-tiba terasa sangat mulas setelah mendengarnya.
"TAPI BUKAN BERARTI KALIAN MEMPERMAINKAN KU DI DEPANNYA!!!!! INI MEMALUKAN !!!" Teriak Boo yang tiba-tiba lalu dia berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya di lengan.
Melihat Boo seperti itu, jelas saja Kakak dan Hyunjae jadi tertawa terbahak-bahak. Sementara aku, aku bahkan baru tahu jika Boo ternyata menyayangiku.
Tapi, sayang sebagai apa?
Sayang sebagai adik atau apa?
Lalu apa yang kakak ketahui lagi soal perasaan Boo sebenarnya padaku?
Hhuuuffffftttt!!!!
"Kak..."
Semua pun terdiam dan menoleh ke arahku.
"Pinjamkan uang padanya, aku berubah fikiran. Sekarang aku ingin berkeliling dan setelah itu memakan ramen di bukit dengannya."
Kak Sae dan Hyunjae menatap ku dan setelah itu mereka saling bertukar tatap.
"Kenapa memangnya?" tanyaku pada kakak dan Hyunjae yang terlihat heran menatapku.
Apa maksud tatapan mereka?
"Heh! Tidak usah pinjamkan uang padaku. Kalau hanya untuk membeli ramen uang ku masih cukup." Sambar Boo terkekeh sekarang.
Aku pun menghampiri Xian, dan setelah itu mencium kepala botaknya untuk pamit.
"Xian sayang, tunggu Yiyi kembali ya. Muuaahh, gadis lucuku."
"Jadi kita?" tanya Boo masih saja bertanya padaku.
"Iya ayok pergi! Bukankah kau ingin berkeliling?!" jawabku sedikit membentak.
"I-iya baiklah. Dadah Xian..." kata Boo mengusap kepala Xian dengan antusias sekarang. Dia juga bahkan mengedipkan matanya beberapa kali pada kak Sae dan Hyunjae.
"Kak aku pergi dulu." Kataku pamit.
"Iya hati-hati. Jangan pulang larut malam!"
"Hanya sebentar tidak akan lama."
Kakak pun mengangguk lalu aku dan Boo melangkah pergi keluar.
Seoul - Korea Selatan, Desember 29, 2042
Hari ini adalah hari yang cukup membahagiakan untukku, kenapa? Bukan hanya karena aku yang sudah berbaikan dengan Boo, dan bukan juga karena hari ini adalah hari ulang tahunku, tapi tepat hari ini, seorang gadis kecil terlahir ke dunia.
Ya, kak Saerom melahirkan bayi kecil yang imut tepat di hari ulang tahunku. Sungguh, ini adalah kado yang sangat indah yang pernah aku dapatkan seumur hidupku.
Saat ini kami semua, keluargaku dan juga keluarga Hyunjae sedang berkumpul dan menunggu di lorong sebuah rumah sakit. Kami semua sangat bahagia saat tahu bahwa ternyata kakak melahirkan seorang anak perempuan. Ya, cucu pertama dari keluarga Wang dan keluarga Lee.
Oh iya, aku juga sudah memberitahu Boo bahwa kakak sudah melahirkan, dan dia sedang dalam perjalanan menuju kerumah sakit saat ini.
Saat menunggu si manusia aneh, aku melihat Ayah dan Ibu terlihat menitikan air mata bahagia mereka saat kami semua mendengar suara rengekan seorang bayi dari dalam ruang persalinan.
Saat aku fokus mendengar suara tangisan itu, tiba-tiba seseorang datang menepuk bahuku. Aku pun menoleh, dan aku melihat Boo sedang tersenyum padaku.
"Kau ini lama sekali?!" bentakku pada Boo.
"Eh, kau fikir jarak rumahku ke rumah sakit itu tidak jauh apa?!" protes Boo dengan wajah yang kurang santai.
Aku hanya merespon jawaban Boo dengan delikan. Dan Boo malah memilih pergi menghampiri Ayah dan Ibu untuk bersalaman tanpa memperdulikanku.
Oh iya, dia memang selalu bersalaman jika bertemu dengan keluargaku. Entahlah, mungkin itu memang sebuah tradisi dan kebudayaan di negaranya, hingga dia harus selalu bersalaman jika bertemu dengan orang lain atau mencium tangan orang dewasa. Tapi, dia tidak pernah mau bersalaman jika saat bertemu denganku!
Tidak lama, seorang suster keluar dari balik pintu dan memperbolehkan kami untuk masuk melihat keadaan kakak dan keponakan baruku.
Kami semua berebut untuk masuk, bahkan aku beberapa kali kesal karena kesulitan untuk melihat kakak dan bayinya.
Ugh!
Mereka semua mengerumuni kakak. Hingga akhirnya aku hanya bisa diam dan memilih untuk mundur memperhatikan punggung mereka semua.
Sial!
Mereka sangat menyebalkan, apa mereka lupa jika aku ini juga berhak melihat keponakanku?
Boo mengusapi punggungku beberapa kali. Sepertinya dia sangat sadar bahwa aku sedang kesal pada semua keluarga Hyunjae yang rusuh.
Aku manatap Boo dan dia hanya tersenyum padaku lalu mengusap lembut kepalaku.
"Yiren..."
Terdengar suara Hyunjae memanggilku dan aku pun menoleh dengan raut wajah yang hampir menangis.
"Kemarilah..." lanjutnya terkekeh sambil menyuruhku untuk menghampiri.
Ya, aku tau Hyunjae memang sangat pengertian sebagai seorang kakak ipar. Tidak salah jika sebelumnya aku sempat mengidolakannya.
Aku pun melangkahkan kakiku menghampirinya bersama Boo. Hyunjae memberikan kode pada keluarganya hingga anggota keluarga Hyunjae yang lain pun akhirnya memberikan ruang untukku dan Boo melihat kakak dan bayinya.
Ya Tuhan, bayinya terlihat sangat mirip dengan kakak. Aku tidak menyangka gadis mungil itu adalah keponakanku?
Rasanya ingin sekali aku menggigit pipinya yang merah itu.
Aaarrggh! Benar-benar sangat lucu.
"Dia sangat lucu sekali..." kataku sambil menatap kakak dengan mata yang sudah tidak bisa ku tahan lagi dan akhirnya aku pun menangis karena terharu.
Aku langsung memeluk kakak dan kakak malah mentertawakanku.
Bukan hanya kakak, tapi Boo dan Hyunjae juga ikut tertawa.
"Hahaha sudahlah, apa-apaan kau ini Yiren!"
Aku langsung melepas pelukanku dengan perasaan heran. Dan sepertinya kakak bukan hanya merasa geli dengan sikapku, tapi dia juga merasa sesak karena aku begitu kencang memeluknya.
Aku langsung menghapus air mata di pipi ku dan kini aku melihat Ayah dan Ibu sedang menggendong bayi lucu itu.
"Kami berdua sudah sepakat untuk memberikannya nama Lee Xian Jae, bagus bukan?" kata Hyunjae tersenyum.
Ah, namanya sangat bagus. Tapi sayang, nama kakak sama sekali tidak ikut berkontribusi.
Baiklah, aku akan memanggil bayi mungil yang lucu itu dengan sebutan Xian. Karena aku tahu nama itu diambil dari etnik latar belakang keluarga kami.
"Ibu, aku ingin menggendongnya." Kata ku sedikit merengek pada ibu yang sedang menggendong Xian.
Baru saja ku rentangkan tangan, ibu malah memukul tanganku pertanda tidak boleh.
"Bagaimana mungkin bayi menggendong bayi." Ledek kak Sae terkekeh.
Aku langsung menatap kesal kakak yang semakin ku lihat dia malah semakin terkekeh.
"Ibu... kakak..."
"Sae..." kata Ayah yang akhirnya membela ku.
"Ya sudah, coba biarkan saja bayi besar ini menggendong bayi mungilku, Bu."
"Kak... aku ini bibinya, berhentilah memanggilku bayi!"
"Tapi bagiku kau akan tetap menjadi bayi besar ku, Yiren..."
Eh, kakak?!
Mendengar perkataan kakak yang terdengar seperti sebuah ledekan itu, aku hanya bisa memutar bola mataku kesal.
"Sae benar, lagi pula dia memang bayi."
Dan Boo, Apa-apaan ini?! Boo bahkan bersekongkol dengan kakak sekarang!
"Iya, kau benar. Bayi yang memiliki perasaan cepat berubah kan?"
Hyunjae juga!
Ah, aku tidak jadi memujinya!
Aku menyesal mengidolakan makhluk tampan itu.
"Monster Moody..."
"Sepertinya itu cocok Boo."
Kakak, Hyunjae dan Boo bahkan semua orang yang sedang berada disana pun tertawa mentertawakan sebutan baru yang dibuat oleh Boo untukku.
Sangat menyebalkan!
Terserah apa kata mereka! Mataku kini ku alihkan untuk menatap Xian yang sangat mungil itu di pangkuan ibu.
"Aku ingin menggendongnya..." rengekku lagi pada ibu.
Ibu terlihat mendengus menatapku.
"Tidak apa-apa ibu, biarkan saja dia menggendong putriku."
"Ya sudah, nih hati-hati."
Horeeee akhirnya ibu membiarkanku untuk menggendong Xian.
Ya Tuhan, gadis kecil itu kini berada di dalam pangkuanku.
Aku lihat, Boo berjalan mendekatiku, dan sepertinya dia juga sangat penasaran dengan keponakanku yang cantik ini.
Dan sekarang Boo malah sibuk mengajak bercanda seorang bayi yang baru saja lahir beberapa jam yang lalu. Dan anehnya Xian seperti sudah besar saja. Dia terlihat seolah mengerti jika Boo memang sedang mengajaknya bercanda.
Entahlah, melihat semua ini aku malah jadi gemas melihatnya.
"Aku yakin jika sudah besar nanti dia akan menjadi gadis cantik yang digilai banyak orang, baik hati dan jangan sampai dia seperti bibinya yang monster moody ini." Ledeknya hingga membuatku kembali kesal mengepalkan tanganku.
Ingin sekali rasanya aku memukul kepalanya, tapi aku tidak bisa, karena aku sedang menggendong Xian.
Ibu bahkan sudah melototiku agar menggendong Xian dengan hati-hati. Maklum saja, tidak enak bersikap anarkis, apalagi saat ini juga ada keluarga Hyunjae yang memperhatikan.
"Ibu, aku juga ingin punya bayi." Pintaku yang malah membuat semua orang menatap ke arahku.
"Ah, kau belum pantas Yiren! Kau sendiri bahkan seorang bayi."
"Boo benar." Kata kakak setuju sambil mengedipkan matanya pada Boo.
Iewh!
Mereka selalu saja bersekongkol untuk menyudutkanku.
Menyebalkan sekali!
"Putriku dan Yiren lahir di tanggal yang sama. Aku hampir lupa soal itu, selamat ulang tahun ya adik iparku yang cantik." Kata Hyunjae mengacak-ngacak rambutku.
Ya Tuhan, benar adanya jika Hyunjae itu memang sangat pengertian dan perhatian. Dia bahkan mengingat hari ulang tahunku.
"Terimakasih kak." Jawabku.
"Maaf ya, aku dan Sae belum bisa membelikanmu hadiah ulang tahun."
"Tidak apa-apa kak. Kalian bahkan sudah memberikanku kado yang sangat istimewa sekarang." kataku menatap Xian yang sedang tertidur di pangkuanku.
"Wah, benar juga, kenapa Ayah baru ingat jika ini hari ulang tahunmu sayang. Kemarilah..." kata Ayah menyuruhku untuk menghampirinya.
Aku hanya bisa tersenyum dan mengembalikan Xian pada kak Sae dengan bantuan ibu. Dan setelah itu aku pun berlari kecil menghampiri Ayah dan langsung memeluknya.
"Putriku, selamat ulang tahun sayang." Kata Ayah memelukku erat dan mencium pucuk kepalaku beberapa kali.
Boo?
Dia sama sekali tidak mengatakan apapun padaku. Sama seperti tahun lalu, dia selalu saja diam dan tiba-tiba memberikanku kejutan yang aneh.
Ah, iya aku baru ingat, ternyata sudah 2 tahun aku mengenal Boo. Tidak terasa dan aku merasa sepertinya semakin hari aku mengenalnya aku malah merasa memiliki sebuah chemistry dengannya.
Eh!
Chemistry apa maksudku?
Sudah jelas dia itu sangat menyebalkan dan selalu saja membuatku kesal. Ditambah lagi si pembohong itu ternyata dekat dengan semua orang.
"Yiren, pulanglah, bukankah besok kau ada kelas?!" kata kakak sedikit berteriak melihatku yang sedang berpelukan dengan Ayah.
Aku tahu, kakak pasti iri melihatku dipeluk oleh ayah. Itu sebabnya dia mencoba menghentikan kami.
Ayah pun melepas pelukan kami.
"Oh iya, kau harus pulang dan beristirahat. Setelah ini Ayah dan Ibu juga harus mengurus sesuatu terlebih dahulu, mungkin kami akan pulang sedikit agak terlambat."
"Tapi ayah..."
"Boo yang akan mengantar, benar kan Boo?" Sambar kak Sae tidak jelas.
Mendengar apa kata kak Sae, Boo malah terlihat sedikit terkejut.
"Hah, i-iya aku yang akan mengantar Yiren..."
"Ih, maksudku bukan itu kak!" kataku merespon kak Sae namun mataku ku buat mendelik ke arah Boo.
"Lalu apa?"
"Jika Ayah dan Ibu pergi, lalu aku juga pergi, bagaimana dengan kakak dan keponakanku?"
"Eh, apa kau lupa Yiren? Disini kan ada aku sang ayah muda? Hallo..." sambar Hyunjae melambaikan tangannya beberapa kali padaku.
"Iya ada Hyunjae, kau ini berlebihan sekali! Lihat di belakangmu... keluarga Hyunjae juga akan menjagaku. Jadi kau tenang saja. Tidak usah berlebihan seperti itu." sambar kakak.
Perkataan macam apa itu!
Jelas saja aku takut keponakanku di rebut oleh keluarga Hyunjae. Buktinya nama saja hampir 95% berasal dari keluarga Hyunjae!
"Boo, maaf merepotkanmu terus ya?" kata Ibu terlihat tidak enak pada Boo.
"Ah, tidak apa-apa bu. Aku akan mengantar Yiren pulang, dan menemaninya sampai Ayah dan Ibu kembali pulang. Kebetulan aku sangat lapar dan tidak ada teman untuk makan malam ini. Apa boleh aku mengajak Yiren makan malam diluar sebentar?" kata Boo meminta izin pada orang tuaku dan aku hanya bisa membulatkan mataku.
Dia meminta izin Ayah dan Ibu untuk mengajakku makan malam?
Tentu saja aku heran, apa dia sedang mencoba mengajakku berkencan?
Eh!
Apa maksudnya? Kenapa aku jadi percaya diri sekali?
Huufffttt!
"Tentu saja boleh... tapi, hati-hati dan jangan pulang terlalu larut!" pesan Ayah menunjukan jari telunjuknya.
"Ayah tenang saja. Ayok monster moody kita pulang sekarang!" ajak Boo menepuk bahuku cukup keras dengan kekehan menyebalkan khasnya.
Aku hanya mendelik menatap Boo yang sedang terkekeh dengan wajahnya yang tanpa dosa itu.
Beraninya dia memukul bahuku dengan tenaga dalam seperti itu!
"Ya sudah, Ayah, Ibu,... Aku pamit untuk pulang." kataku pamit.
Ayah dan ibu pun mengangguk.
"Kak aku pulang."
"Iya hati-hati..."
Boo tersenyum sambil melambaikan tangannya pada kak Sae dan Hyunjae, lalu kami pun pergi meninggalkan ruang persalinan kakak.
-[USB MISSIONS 2049]-
Aku dan Boo berjalan menyusuri jalan malam itu, udara cukup dingin bahkan terasa begitu menusuk di kulitku.
Sepanjang perjalanan aku dan Boo hanya diam tanpa pembicaraan apapun. Dan parahnya lagi, aku masih saja berharap kalau Boo akan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Tapi nyatanya dia juga malah ikut diam dan sibuk menggosok kedua tangannya sedari tadi.
Uhhukkk uhuuukk!!!
Aku pun berpura-pura batuk agar si manusia aneh disampingku memulai pembicaraan.
Lagi pula siapa yang tahan dengan suasana canggung seperti ini?
"Ada apa? Tersedak nyamuk?"
Apa?
Tersedak nyamuk katanya?
Dia fikir aku apa?
Membuka mulutku lebar-lebar hingga mengundang kedatangan nyamuk, begitu?
Dasar manusia aneh!
Aku hanya mendelik menatapnya. Dan Boo malah terlihat salah tingkah dan beberapa kali juga dia menggaruk kepalanya.
Tanpa obrolan apapun kami pun kembali melanjutkan langkah kami.
Sangat membosankan.
"Yiren..."
Akhirnya dia mulai mengajakku berbicara juga. Aku langsung menoleh ke arahnya.
"Apa?"
"Kau lapar?"
"Tidak."
"Lalu kenapa? Kau masih marah padaku? Bukan kah kita sudah baikan?"
Aku hanya diam dan malas berkomentar.
"Eh, kau ini memang monster moody ya!"
"Terserah!"
Aku melangkahkan kakiku lebih cepat namun tiba-tiba Boo menarik tanganku.
"Yiren..."
Aku kembali menoleh ke arahnya, dan entah apa yang sebenarnya sedang terjadi, kami pun malah saling bertukar tatap sekarang.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
4 detik...
5 detik...
Aku pun tersadar dan langsung menepis tangan Boo. Tapi rupanya tidak bisa, karena Boo mencengkram tanganku cukup kencang.
"Ikut aku!" perintahnya.
Aku pun mendengus pelan sambil bertanya. "Kemana?"
"Nanti juga kau akan tahu."
Aku hanya bisa memutar bola mataku malas. Karena ku fikir dia terlalu bertele-tele.
Tanpa aba-aba, dia langsung menarik tanganku dan membawa ku pergi.
Aku kira, dia akan mengajakku ke kedai atau ke sebuah cafe untuk makan malam. Tapi ternyata, dugaanku salah, sangat salah!
Saat ini kami berdua sedang berjalan menuju bukit. Bukit yang biasa kami datangi saat sore hari ternyata sangat berbeda saat malam hari.
"Untuk apa kita kesini?" tanyaku heran.
Boo pun menghentikan langkahnya dan setelah itu dia menatapku cukup intens.
Jangan tanya!
Melihat Boo seperti ini, justru malah membuatku semakin salah tingkah. Entahlah, dia membuatku sangat bingung karena terus menatapku seperti itu.
Ck!
Aku pun menutup wajahnya yang sedang menatapku itu dengan telapak tanganku.
Pelan, tapi cukup ampuh membuatnya berhenti menatapku.
"Apa yang sebenarnya kau lihat?!" tanyaku sedikit membentak.
"Aku hanya sedang menatap bidadari yang sedang berulang tahun hari ini." jawabnya terkekeh.
Aku pun terdiam karena akhirnya dia mengatakannya juga.
Jadi, apa harus ditempat seperti ini agar aku mendapatkan ucapan itu darinya?
"Bidadari? Kau mengejekku?" tanyaku.
"Tentu saja tidak!" jawab Boo membuka baju hangatnya dan tanpa di duga dia langsung memakaikannya padaku.
Aku hanya terdiam di perlakukan seperti itu olehnya. Tumben sekali dia melakukan hal seperti ini. Karena sebelumnya yang aku tahu dia adalah makhluk dengan kadar kepekaan yang sangat minim.
"Okay baiklah, sekarang kau ikut aku!" kata Boo langsung menggenggam lembut tanganku.
Entahlah, sebenarnya apa maksudnya melakukan semua hal ini dan mengajakku ke bukit malam-malam begini. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku sejak tadi.
Saat sampai diatas bukit, aku merasa sangat terpukau melihat indahnya kumpulan cahaya lampu perkotaan. Sekian lama, aku baru melihat keindahan langit saat malam hari seperti ini.
Dalam sekejap aku pun tersadar, ternyata tangan Boo masih menggenggam tanganku dan sama sekali tidak dia lepas.
Haduh, kenapa wajahku tiba-tiba terasa sangat panas?
Dan kenapa juga aku harus malu?
Ada yang tidak beres denganku!
Kami pun sibuk memandang cahaya perkotaan, dan entahlah semua terasa begitu canggung untuk memulai pembicaraan.
"Jika harus memilih, apa yang akan kau pilih antara langit dan Bumi?"
Mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba, tentu saja membuatku sangat heran.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, apa yang akan kau pilih, langit atau Bumi?!"
Apa yang harus aku jawab?
Jika aku menjawab langit, memang nya ada apa dilangit? Itu hanya ruang kosong dan sebuah ilusi.
Sementara jika aku menjawab Bumi, memangnya apa yang bisa membuatku senang di Bumi?
Tidak ada, aku hanya membutuhkanmu Boo...
Eh,
Apa ini?! Dasar bodoh!
"..."
Boo setia menatap dan menunggu jawaban dariku.
"Hm, a-aku, aku akan memilih... "
"..."
Dia menatapku hingga membuatku jadi tambah salah tingkah sekarang.
"Memangnya harus aku menjawabnya?!"
"Iya, aku sedang menunggu jawabanmu, kau ini lama sekali!"
"Lagipula untuk apa kau memberikanku pilihan seperti itu!"
"Kau tinggal menjawabnya tidak usah protes!"
"Aku tidak mau menjawabnya! Aku sangat tahu kau itu sangat jahil padaku!"
"Kau ini percaya diri sekali!"
"Kau...!"
Karena kesal, aku pun melepas genggaman tangan Boo.
"Monster moody."
Terserah dengan apa yang dia katakan tentangku. Yang jelas aku sangat kesal padanya sekarang.
Tidak ada pembicaraan lagi diantara kami berdua. Dan aku pun mulai merasa bosan dengan keheningan ini.
Aku beberapa kali mendengus kasar hingga Boo juga terlihat beberapa kali menoleh ke arah ku.
Suasana kembali hening, dan fikiranku pun tiba-tiba tertuju pada gadis mungil yang lahir hari ini.
Aargghh, aku hampir lupa bahwa aku memiliki keponakan sekarang.
Saat aku merasa gemas memikirkan Xian, tiba-tiba aku merasa seseorang sedang menyanggakan dagunya di pundakku dari belakang, dan saat aku menoleh, ternyata itu Boo.
Jarak wajahnya bahkan sangat dekat denganku sekarang.
Dadaku?
Haduh, aku bahkan sulit bernafas sekarang.
Aku pun mengusap dadaku beberapa kali agar sedikit lebih santai.
Ya Tuhan, ini sungguh membuatku jadi sulit bergerak. Dan aku juga takut Boo menyadari bahwa aku sedang salah tingkah dan bersusah payah menahan rasa gugupku.
Dengan jarak Boo seperti ini, aku malah takut Boo mendengar detakan jantungku yang terasa semakin cepat.
Aarrrggghhh!!!
"Maaf, tapi malam ini terasa begitu dingin." katanya tanpa dosa.
Aku pun hanya terdiam sambil mengangguk pelan. Entah apa yang harus aku jawab. Lagi pula aku juga tidak mungkin menyuruhnya berhenti melakukan hal ini.
Tidak!!!
Jangan!!!
Aku ingin dia terus menempel seperti ini padaku.
Ya Tuhan, tolong buat dia nyaman di pundakku.
Arrrgghh aku ingin terus berada didekatnya seperti ini.
Dan aku dibuat semakin kaget karena Boo mencoba melingkarkan tangannya di perutku.
Saat aku melihat tangannya, aku lupa kalau baju hangatnya memang dia berikan padaku agar aku tidak kedinginan. Tapi, tetap saja malah dia yang jadi kedinginan karena ini.
Aku hanya bisa menelan air liurku yang terasa sangat serat di tenggorokanku. Dan perlahan aku sentuh tangannya dan aku genggam agar dia merasa sedikit hangat.
"Kenapa kau memberikan baju hangatmu padaku?" tanyaku dengan nada sedikit melemah.
"Biarkan saja, aku tidak mau kau sampai kedinginan, jadi biar aku saja yang kedinginan, kau tidak boleh kedinginan."
"Kenapa?"
"Hey, walaupun kau ini sangat keras kepala tapi aku sangat peduli padamu." katanya semakin mengeratkan lingkaran tangannya di perutku dan menenggelamkan kepalanya di pundakku.
Aaaaaaarrrggh!!!! Aku sangat menyukainya.
Sumpah demi apapun ini adalah hari terbaik dalam hidupku dan aku tidak akan pernah melupakan hari ini.
Tidak akan pernah!
"Selamat ulang tahun ya bayi besar." katanya gemas.
Aku hanya mengangguk dan tersipu malu dengan perkataannya.
Tuhan tolong jangan biarkan semua ini cepat berakhir. Ini juga adalah kado terindah yang aku dapatkan saat ini setelah aku mendapatkan Xian di dunia ini.
Walaupun dia sangat menyebalkan, tapi aku sangat menyukainya.
Hari ini semua terasa begitu membingungkan. Aku tidak mengerti mengapa sikap Yiren begitu aneh akhir-akhir ini.
Dan aku juga tidak mengerti mengapa dia bersikap seolah-olah aku adalah teman yang paling buruk untuknya.
Dia seperti seorang monster yang sangat sulit untuk ditebak. Dan kini, dia juga sangat sering memarahi ku tanpa sebab yang jelas.
Aku rasa, sepertinya dia marah karena aku mendukung Nathan untuk dekat dengannya.
Lagi pula, apa aku salah mendukung mereka untuk dekat?
Nathan adalah pria yang cukup baik, dia juga keponakan dari rektor di kampus kami. Dan, aku fikir mereka akan sangat cocok jika bersama.
Tapi, sepertinya Yiren sangat tidak menyukainya. Dan itu sangat terlihat jelas.
Padahal Nathan sangat tampan menurutku. Banyak dari teman-temanku yang menyukainya, tapi Nathan tidak pernah mau menggubris mereka.
Entahlah...
Tapi untuk Yiren, sepertinya Nathan rela memberikan perhatiannya pada Yiren yang malah membalas kebaikan Nathan dengan sikapnya yang angkuh.
Dia memang monster moody!
Aku tidak tahu, apakah Yiren memang marah karena hal itu atau adahal lainnya yang aku tidak sadari. Karena kemarin, dia tiba-tiba memarahiku dan mengusirku dari rumahnya dengan mengatakan hal yang sangat membingungkan.
Dia bilang aku pembohong.
Aku berbohong apa padanya?
Selama aku mengenalnya, aku bahkan mempercayainya untuk menjadi tempatku berbagi cerita. Karena walaupun dia adalah orang baru dalam kehidupanku, tapi entah mengapa aku sangat percaya dan yakin bahwa dia sangat dapat dipercaya. Dan perasaanku tidak pernah salah akan hal itu.
Itulah kenapa sebabnya selama beberapa hari ini, aku sengaja menjaga jarakku dengan si bayi besar itu.
Entahlah, aku hanya tidak ingin emosi Yiren semakin memuncak karena kesal padaku.
Kata orang, orang yang sering marah-marah itu akan lebih cepat tua, dan aku tidak mau jika Yiren menua mendahului ku.
Lagipula, aku juga tidak mau jika harus terus dimarahi olehnya. Memangnya dia fikir aku itu apa?
Saat aku selesai kelas, aku heran kenapa Yiren tiba-tiba ada di depan kelasku.
Apa dia menungguku?
Aku sudah sangat senang karena fikirku mungkin Yiren ingin memperbaiki hubungan pertemanan kami yang sedang tidak baik. Tapi, aku lihat ternyata dia sedang mengobrol dengan Nathan di depan kelasku.
Jadi, dia menghampiri kelasku hanya untuk Nathan?
Baguslah.
Saat itu, Choerry juga tiba-tiba datang menghampiriku, dan seperti biasa dia selalu merangkul tanganku.
Bukan hanya padaku, tapi pada siapapun dia memang selalu bersikap seperti itu. Terkecuali dengan teman-teman pria.
Ku fikir itu adalah hal yang wajar dan tidak ada yang aneh. Tapi entahlah, aku sangat heran, kenapa tiba-tiba Yiren menghampiri kami dan dengan sangat kasarnya dia menarik tangan Choerry yang sedang merangkul lenganku.
Aku heran, ada apa dengannya?
Mengapa Yiren terlihat sangat marah sekali?
Dan yang sangat mengejutkannya lagi bagiku adalah, dia bilang bahwa dia adalah kekasihku di depan semua teman-temanku.
Pengakuan macam apa itu?!!
Apa dia sudah gila!
Jelas saja teman-temanku yang mendengar perkataan Yiren pun langsung tertuju kearah ku. Begitu juga Nathan, aku melihatnya mendelik kearah ku dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
Entah dimana fikirannya saat itu? Mengapa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu hingga membuat semua teman-temanku jadi melotot kearah ku sekarang.
Ya, daripada aku mendapatkan masalah dan segudang pertanyaan dari teman-temanku, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke perpustakaan.
Dan, aku kira Yiren tidak mengikutiku, tapi saat Birdy menyapaku, aku baru sadar ternyata ada penguntit nakal yang mengikutiku sejak tadi.
Yiren, ada apa dengamu sebenarnya?
Aku mencoba bersikap biasa saja. Tapi, sepertinya Yiren terlihat sangat terkejut saat aku menoleh kearahnya.
Daripada kami kembali bertengkar, aku pun lebih memilih mencari buku yang bagus untukku baca siang ini di rak buku.
Aku melangkah, dan diam-diam aku memperhatikannya yang sedang menghampiri Birdy. Mereka terlihat sangat serius sekarang.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan saat itu.
Aku penasaran, tapi aku harus bersikap biasa saja sekarang. Aku tidak mau kemarahan Yiren bertambah hanya karena aku terlalu ikut campur dengan masalahnya.
"Lalu, aku harus bagaimana sekarang?!!"
Rengekan Yiren terdengar sampai ke telingaku yang saat ini sedang duduk sambil membaca sebuah buku astro fisika kesukaanku di sudut perpustakaan
Kenapa dengannya?
Apa dia memang sedang ada masalah?
Aku jadi khawatir, bagaimana jika dia sedang membutuhkan bantuanku?
Aarrgh! Kenapa semua jadi serba salah begini?
Tidak begitu lama, aku lihat Yiren pergi meninggalkan Birdy yang sedang berusaha memanggil-manggilnya.
Mataku tidak beralih dari langkah kakinya yang saat ini sedang berjalan menuju keluar perpustakaan.
Setelah Yiren menghilang dari pandanganku, aku pun langsung menghampiri Birdy.
"Ada apa dengannya?" tanyaku.
"Kau khawatir padanya?"
Aku sejenak berfikir mendengar apa yang di tanyakan oleh Birdy.
"Hey Boo... kasihan anak itu. Jangan terlalu keras padanya."
Terlalu keras apanya?
Memangnya aku sudah melakukan apa padanya?
Bukankah dia yang selalu berkata keras padaku?
Aneh sekali.
"Temui dia, perbaiki hubungan kalian. Aku yakin, dia akan merasa baik-baik saja setelah itu."
Aku masih terdiam dan mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Birdy, dan sepertinya dia terlihat kesal karena aku masih disana.
"BOO!!"
Aku pun langsung menoleh ke arah Birdy yang sedang menatapku dengan lelah.
"Dia itu menyukaimu." lanjutnya dengan sangat serius.
Apa?
Menyukaiku?
"M-menyukaiku bagaimana maksudmu?"
"Ck! Dasar bodoh." Kata Birdy terkekeh dan aku hanya mendelik dengan candaannya itu.
Tiba-tiba terdengar sebuah notifikasi dari ponselku dan dengan reflek aku langsung meraih ponsel yang ku taruh di saku dalam jaketku.
Saat aku lihat, aku sedikit kaget karena aku mendapatkan sebuah email masuk dari NASA.
"Ah, Birdy, Birdy... coba lihat ini, application ku lolos!"
Birdy terkejut dan dia ikut senang melihatku.
"Katakan pada Yiren, beritahu dia soal ini. Jangan sampai dia mengira, jika kau bukan teman yang baik untuknya."
Aku pun akhirnya menatap Birdy.
"Ah, iya kau benar, dia marah pada ku karena katanya aku pembohong dan..."
"Yasudah, katakan padanya."
Aku pun mengangguk mengiyakan apa yang Birdy suruh.
Sepertinya Yiren menceritakan semua permasalah kami pada Birdy, itu sebabnya Birdy berkata seperti itu.
-[USB MISSIONS 2049]-
Sore ini, aku berencana akan mengajak Yiren pergi ke bukit. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengajaknya berbaikan denganku dan setelah itu aku akan memberitahukannya soal application ku yang lolos di NASA.
Aku tidak ingin dia berfikir jika aku adalah pembohong. Karena harus dia ketahui, bahwa hanya dia lah teman yang bisa membuatku bercerita banyak hal tentang kehidupanku. Karena sebelumnya, aku tidak memiliki teman sepertinya.
Di kampus aku memang mengenal banyak orang. Tapi hanya sebatas mengenal dan aku tidak terlalu dekat pada mereka seperti aku dekat dengan Yiren. Ya, hanya teman biasa saja.
Saat ini, aku sedang memberanikan diri melangkah kakiku ke rumah monster moody. Dan, saat sampai di depan pintu rumahnya, aku mulai memencet bell.
Tingg~ Tooong~
Dan tidak begitu lama, aku lihat wajah Saerom menyapa ku dari balik pintu.
"Hey, ternyata kau... ayok masuk!"
Aku pun tersenyum dan menganguk sambil melangkah masuk.
"Kemana saja kau? Mengapa jarang kemari?" tanya Saerom.
"Aku sedang banyak tugas." bohongku.
Padahal aku sedang tidak ada banyak tugas akhir-akhir ini. Hanya saja, aku tidak ingin kemarahan adiknya memuncak karena melihatku.
"Jadi, kau kemari untuk menemui ku atau adikku Boo?"
Tidak biasanya Saerom bertanya seperti itu. Karena biasanya jika aku datang dia tidak pernah banyak bicara.
Oh, mungkin itu karena dia sedang mengandung dan perbawa dari bayi dalam kandungannya, fikirku.
"Pertama, aku ingin melihat keadaanmu, dan yang kedua aku ingin mengajak Yiren keluar. Apa boleh?"
"Haha, mengapa terdengar formal sekali. Ya sudah, kau tunggu disini. Aku akan memanggilkannya ke dalam."
Aku pun mengangguk sambil menatap Saerom yang sedang melangkah pergi meninggalkan ku di ruang tamu.
Tidak begitu lama, aku lihat Saerom datang bersama Yiren.
Mataku saat ini hanya tertuju pada wajah Yiren yang terlihat masih marah padaku.
Entahlah, dan sepertinya juga dia agak ragu untuk menghampiriku, karena aku lihat beberapa kali dia menatap ke arah Saerom dan Saerom terlihat mendorong-dorong Yiren untuk mempercepat langkahnya.
Saat Yiren sampai di hadapanku, aku pun bangkit dari sofa, dan berusaha mensejajarkan posisiku dengan Yiren.
"Ada apa?" tanyanya terdengar sedikit ketus di telingaku.
"A-aku hanya ingin mengajakmu pergi keluar. Bisa?"
"Hmm, bagaimana ya." jawabnya malah so' berfikir.
Padahal di rumah, dia sama sekali bukan tipe anak yang suka membantu orang tuanya. Aku sangat tahu itu.
"Bisa. Dia bisa. Iya kan?" sambar Saerom membuatku jadi heran.
"Kakak!" kata Yiren menatap tajam pada Saerom.
"Ajak saja dia Boo! Daripada dia di rumah dan selalu saja mencebikan bibirnya. Dan itu sangat merusak moodku!" kata Saerom menjulurkan lidahnya pada Yiren dan Yiren hanya merespon dengan wajah bebeknya.
Aku terkekeh melihat tingkah lucu adik kakak di depanku, juga saat mendengar perintah Sae yang seolah memberi dukungan padaku.
Sebentar,
Apa yang ku katakan barusan?
Dukungan?
Dukungan apa yang ku bicarakan?!
Aku pun masih setia memperhatikan Yiren yang masih saja berlagak jual mahal untuk berfikir menerima ajakanku dengan tatapannya yang masih tidak berhenti memicing pada Saerom.
"Bagaimana?" tanyaku memastikan.
"Hm, baiklah... aku akan mengganti pakaianku dulu."
"Eh, tidak usah!" kataku menarik tangan Yiren yang akan pergi melangkah ke kamarnya.
Dan dia menatapku sekarang.
"Hanya sebentar, dan aku tidak akan mengajakmu pergi jauh, hanya sekitar sini."
"Tapi..."
"Tidak usah, Yiren."
Yiren pun mendengus pelan menatap ku.
"Baiklah."
Dan akhirnya kami pun pergi. Yiren pamit pada Saerom. Dan setelah itu, entahlah, apa ini memang hanya perasaanku saja atau apa yang aku lihat memang benar adanya. Aku melihat Sae sepertinya sedang mencari sesuatu hal. Entah apa yang sedang dia cari, tapi dia tidak berhenti menatapku dan Yiren.
Sesekali aku bahkan menoleh ke belakang untuk memastikan. Dan, ya... aku masih melihat Saerom memperhatikanku dan Yiren dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Kenapa rasanya aku sedang di mata-matai olehnya ya?
"Kau sebenarnya ingin mengajaku kemana?" tanya Yiren berhasil membuyarkan lamunanku.
"Ke bukit." jawabku singkat.
"Untuk apa? Tidak biasanya, mengapa tidak kau ajak saja kekasihmu itu!"
"Eh, memangnya siapa kekasih ku?!"
"Luda atau yang tadi siang bersamamu."
"Apa maksudmu?"
"Halah."
Aku pun hanya diam dan tidak ingin merespon pembicaraannya yang bisa saja memicu pertengkaran.
Eh, aku lupa. Seharusnya aku menyuruh Yiren menggunakan masker.
Untung saja, aku selalu membawa banyak masker baru. Jadi, aku bisa memberikan satu untuknya.
Aku hanya tidak ingin dia sakit. Dan sebagai teman yang baik, aku harus mengingatkannya untuk menjaga kesehatan temanku dari cuaca buruk akhir-akhir ini.
"Ini..." kataku menyodorkan masker pada Yiren.
"Apa?"
Bukannya ambil saja, dia malah bertanya. Apa dia tidak lihat apa yang aku pegang?!
"Untukmu."
"Tidak usah! Aku punya banyak dirumah."
"Aku tidak peduli kau punya banyak atau tidak. Kau tahu kan meskipun pandemik sudah berakhir beberapa tahun yang lalu, setidaknya kau ingat bahwa cuaca buruk terjadi akhir-akhir ini."
"Berikan saja pada kekasihmu!"
Lagi, dia kembali memulainya.
"Kau ini bicara apa sih sejak tadi! Katanya kau kekasih ku. Kekasih apa yang tidak menurut seperti ini."
Yak!
Apa yang aku bicarakan? Semoga Yiren tidak berfikir yang macam-macam sekarang. Lagipula aku hanya bercanda mengingat apa yang dia katakan kemarin.
Tapi, rupanya itu cukup ampuh untuk Yiren menuruti apa kataku, menerima masker pemberianku dan langsung memakainya.
Eh, apa harus dengan cara seperti itu?
Sesampainya di bukit, kami pun duduk berdua. Menatap langit indah berwarna jingga keemasan.
Ya, sore ini langit terlihat begitu indah.
"Jadi, apa maksudmu mengajakku kemari?" tanya Yiren yang sepertinya dia sangat penasaran kenapa aku mengajaknya ke bukit.
"Hm, sebenarnya aku hanya ingin mengatakan suatu hal padamu?"
"Masalah kemarin yang aku bilang bahwa aku adalah kekasihmu? Jangan geer!!! Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu."
DEGH!
Mendengar apa yang Yiren katakan, entahlah sepertinya aku merasa dadaku sedikit sesak. Aku tidak tahu, kenapa jawabannya itu malah membuatku jadi tidak karuan. Padahal jika memang dia bercanda mengatakan hal itu, kenapa juga aku jadi gelisah.
Lagi pula, itu bukan hal yang ingin aku sampaikan padanya.
"Bukan soal itu."
"Lalu soal apa?"
"Soal kita."
Yiren mendelik kearah ku. Dan sepertinya dia merasa bingung.
Untuk apa dia berlagak bingung?
Seharusnya dia faham kemana arah pembicaraanku.
"Maksudku, aku hanya ingin hubungan kita seperti sebelumnya, tidak ada masalah dan kita selalu melakukan segala hal bersama."
Bukannya menjawab atau membalas perkataanku, Yiren terus saja mendelik kearah ku hingga membuat ku malah jadi semakin tidak karuan ditatap oleh matanya yang tajam itu.
Sungguh tatapan yang sangat mengintimidasi!
"Apa yang kau lihat?! Jawab aku! Jangan hanya melihatku seperti itu!"
Yiren pun mendengus pelan, lalu dia memutar arah pandangannya ke depan.
"Maksudmu, kau merindukan aku?"
Mendengar pertanyaannya, tentu saja aku heran. Mengapa dia jadi sepercaya diri itu sekarang?
"Ya, tentu saja. Teman mana yang tidak rindu saat teman satunya bahkan tidak ada di sisinya selama beberapa hari."
Dan. Ya, dia kembali menatapku.
Walaupun matanya tidak setajam sebelumnya, tapi tetap saja itu berhasil membuatku jadi salah tingkah.
Dia aneh sekali sekarang.
"Boo, kau tahu. Aku senang kau mengajakku untuk menperbaiki hubungan pertemanan kita."
Aku hanya diam, mencoba mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya.
Eh, bukannya melanjutkan perkataannya dia malah terus saja menatapku seperti itu.
Ada apa dengannya???
Akhirnya, karena aku tidak memiliki rasa percaya diri saat di tatap seperti itu olehnya, aku pun langsung menutup kedua matanya dengan tanganku.
Lagi pula, siapa yang tahan di tatap seperti itu oleh gadis cantik sepertinya.
Aku sangat suka saat dia mengomel seperti itu, tapi aku benci saat dia mengajakku bertengkar seperti beberapa hari yang lalu.
Entahlah, tapi bagiku ocehan dan omelannya itu sangat candu.
"Tolong jangan merusak moodku yang sedang baik ini ya Boo! Jika kau berani merusaknya, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, sekalipun kau memaksa dan berdemo di depan rumahku."
"Eh, jangan begitu."
"Yasudah, kalau begitu ayok berbaikan!" katanya mengacungkan jari kelingkingnya padaku.
Aku pun menatap jari kelingkingnya sejenak.
Ah, dia memang seperti anak kecil dan itu sangat membuat ku gemas.
Dasar bayi besar...
Aku pun tersenyum padanya lalu aku tautkan jari kelingkingku pada jari kelingkingnya hingga aku pun melihat senyum yang mulai merekah di bibirnya.
Ya, tuhan mengapa rasanya sangat damai?
Kenapa aku merasa semua beban di hidupku perlahan hilang sekarang?
Karena terbuai oleh senyumannya yang indah, aku hampir saja melupakan bahwa aku harus mengatakan suatu hal yang penting padanya.
Tapi, aku tidak mungkin merusak moodnya.
Atau mungkin, aku akan memberitahunya nanti saja? Saat semuanya tepat.
Ya, aku tidak akan mengatakannya sekarang.
Jadi, biarkanlah aku menatap senyuman indah miliknya itu sekarang.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hari ini sepulang kampus, aku dan Boo pergi ke pasar swalayan untuk membeli beberapa perlengkapan bulanan rumah yang sudah menipis.
Sebelumnya, aku memang tidak pernah pergi berbelanja ke swalayan, apalagi untuk membeli perlengkapan bulanan rumah seperti sekarang ini. Karena biasanya ini adalah tugas kakak. Tapi, karena kehamilan kakak yang sudah cukup membesar dan tidak mekungkinkan dia untuk pergi berbelanja, di tambah juga mungkin orang rumah berfikir karena aku ada yang menemani (Boo) jadi, kakak dan ibu memberikan tugas ini padaku sekarang.
Sebenarnya, rasa kesal ku yang sejak kemarin memuncak masih belum mereda. Karena, tetap saja saat kami berjalan di pasar swalayan, kami tidak sengaja bertemu dengan beberapa teman Boo yang juga sedang berbelanja.
Mereka menyapa Boo, menggoda Boo dan terlihat sangat akrab sekali.
Dan Boo?
Dia membalas dengan ramah semua sapaan mereka tanpa menghiraukan aku.
Aku masih sangat kesal jika aku mengingat kata-kata yang pernah di katakan olehnya bahwa hanya akulah temannya. Tapi kenapa, sejak aku satu kampus dengannya, perkataannya itu hanya terdengar seperti guyonan belaka. Karena ternyata, sekarang aku tahu bahwa temannya bukan hanya aku.
Dia pembohong, fikirku.
Sepanjang hari hingga detik ini aku tidak ingin begitu banyak berbicara padanya. Entahlah, aku sendiri juga bingung ada apa denganku sebenarnya. Kenapa aku begitu tidak suka jika Boo dekat dengan orang lain selain diriku.
Saat kami sampai di halaman rumahku, Boo menarik lenganku.
"Seharusnya jika kau marah padaku, katakan apa salahku?" katanya membuatku mendengus pelan dan berbalik kearah nya.
"Yi, ada apa denganmu?" lanjutnya kembali bertanya.
Aku kembali mendengus sambil mengalihkan pandanganku. Dan tanpa mau menghiraukan pertanyaannya, aku rebut beberapa kantung belanjaanku yang dibawa olehnya.
"Biar aku saja! Lebih baik kau pulang."
"Hey, apa maksudmu? Kau mencoba mengusirku?"
"Aku tidak mengusirmu! Aku hanya tidak ingin merepotkanmu lagi!"
"Apa maksudmu?!"
Boo menatapku heran. Dia mencoba meraba keningku yang langsung saja ku tepis.
"Aku tidak demam!"
Boo menatapku sejenak.
"Iya, kau memang tidak demam. Tapi kau... oh, baiklah aku mengerti, kau sudah mendapatkan teman baru dan sekarang kau mencoba untuk menghindariku ya? Baiklah."
"Apa yang kau katakan?"
"Aku benar kan? Sekarang kau sudah memiliki Nathan. Dan kau memujinya kemarin, setelah itu kau mulai menjauh dari ku. Seharusnya aku tau sejak awal, Yiren!"
"Kau gila! Memangnya aku apa, Hah?! Kau sendiri! Kau bilang bahwa kau tidak memiliki teman selain aku. Tapi kemarin, aku melihatmu bersama seorang gadis, bergandengan tangan dan berjalan di koridor?!!"
Ya Tuhan, aku mengatakan semuanya.
Aku pun langsung diam sambil menutup mulutku yang tidak sengaja mengatakan semua tentang apa yang membuat ku kesal kemarin. Tapi mendengar perkataanku, Boo malah menatapku dengan pandangan yang aneh.
"Kau cemburu?"
Pertanyaan macam apa itu?
Boo pun tertawa terbahak-bahak dan membuatku jadi bertambah sangat kesal melihatnya. Tanpa basa basi, aku pun memutuskan untuk pergi ke dalam dan meninggalkannya diluar.
Biarkan saja! Aku tidak ingin mengajaknya masuk ke dalam.
Saat masuk, aku melihat kak Sae sepertinya sedang mengintip di balik pintu. Karena saat aku masuk, kakak terlihat begitu salah tingkah dengan wajah yang terlihat sangat khawatir menatapku.
Sepertinya benih penggosip sudah mulai tumbuh dalam diri kakak.
Aku tidak peduli, aku langsung menaruh semua kantung-kantung belanjaanku dan setelah itu aku pun langsung berlari menuju kamar.
Di dalam kamar, perasaan ku jadi tidak menentu. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi padaku sebenarnya.
Benarkah aku cemburu?
Tapi cemburu untuk apa?
Mengapa rasanya sangat lain?
Atau mungkin karena aku belum pernah merasakan cemburu saat temanku di ambil oleh teman lainnya?
Atau bagaimana?
Aaarrgghh! Kenapa otakku jadi sulit berfikir sekarang.
-[USB MISSIONS 2049]-
Aku berjalan menuju kamar kakak dengan segelas susu yang ibu suruh untuk diberikan pada kak Sae.
Ya, ini susu khusus untuk ibu hamil. Aromanya tidak begitu enak di hidungku, makanya selama aku membawanya menuju kakak, aku terus menahan hidungku untuk tidak bernafas.
Saat aku masuk, aku lihat wanita yang tengah hamil itu sedang membaca majalah diatas tempat tidurnya.
"Kak, ini susumu!" kataku sedikit berteriak.
"Ah, baiklah terimakasih sayangku."
Mendengar jawaban kakak, aku hanya mendelik. Tidak biasanya dia mengatakan hal itu padaku.
Aku pun langsung duduk disamping kakak yang kini tengah meminum susunya.
"Yi, katakan pada kakak, apa yang terjadi tadi siang antara kau dan Boo, kenapa kalian bertengkar?"
Sudah ku duga, dia pasti menanyakan hal itu. Jelas saja! Karena aku tahu dia menguping tadi siang.
"Entahlah, hanya salah faham." Jawabku dingin.
"Benarkah?"
Aku kembali mendelik ke arah kakak. Apa maksudnya dia bertanya hingga sedetil itu padaku. Tidak biasanya.
Aku hanya diam dan membiarkan kakak bermain dengan tebakannya sendiri. Karena, untuk apa aku menceritakan semua sementara dia mendengar semua pertengkaranku dan Boo tadi siang.
"Eh, kenapa kau diam? Aku ini bertanya padamu."
"Berhentilah bertanya, karena aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaan apapun." jawabku sedikit ketus.
"Eh, kenapa sombong sekali." kata kakak mencubit pipiku.
Biarkan saja kakak mengatakan apa yang ingin dia katakan. Aku memang sedang malas membahas hal itu. walaupun faktanya otakku tidak berhenti untuk memikirkannya.
-[USB MISSIONS 2049]-
Selama beberapa hari ini, fikiranku disibukan dengan bagaimana caranya agar aku bisa memperbaiki pertemananku dan menjauhkan dari gadis yang selalu saja mencari perhatiannya di kampus.
Ya, aku baru tau ternyata gadis itu bernama Luda.
Beraninya dia mendekati Boo!
Saat setelah kelas, aku bergegas pergi menuju ke depan kelas Boo.
Setelah pertengkaran beberapa hari yang lalu di depan rumahku, Boo tidak pernah menghubungiku lagi, dia juga tidak pernah datang ke rumah untuk menjemputku berangkat ke kampus bersama. Dan aku malah dibuat sangat kesal, karena yang sering datang ke rumah beberapa hari ini adalah Nathan.
Untuk apa dia melakukan itu? Lagi pula aku tidak pernah mau dia menjemputku.
Jujur, aku hanya ingin Boo. Bukan yang lain!
Hampir 15 menit aku menunggu dan akhirnya satu persatu penghuni kelas tersebut keluar dari dalam kelas.
Mataku mencoba mencari-cari Boo yang masih tidak terlihat. Dan...
Sial!
"Yiren, kau datang kesini untuk mencariku?"
Nathan, dia sangat percaya diri sekali. Aku bersumpah dia bukan tipe pria idaman ku. Lebih baik aku bersama manusia yang tidak peka dibanding dengannya yang terlalu percaya diri.
Boo?
Apa maksudku itu Boo?
Eh, apa yang aku fikirkan sebenarnya? Bagaimana mungkin aku menyukai Boo lebih dari itu.
Aarrghh!! Tidak mungkin.
"Aduh, aku jadi terharu." lanjut Nathan dan malah membuatku mual mendengar ocehannya.
Tidak lama, aku melihat Boo keluar dari sana, aku pun langsung menghampirinya.
"Boo!"
Boo menoleh ke arahku, tapi hatiku malah terasa begitu sakit saat dia hanya meresponku dengan dengusan kecil.
Dan matanya, matanya begitu lain. Tidak seperti mata Boo yang biasanya.
Tiba-tiba seseorang datang merangkul tangan Boo dari belakang.
Bukan, luda!
Kali ini dengan gadis yang berbeda.
Aaaarrghh, apa-apaan dia?! Mengapa dia begitu mudahnya memberikan lengannya pada gadis lain untuk dirangkul seperti itu!
Ya, mereka sama-sama perempuan. Memang tidak ada yang aneh. Tapi tetap saja aku tidak suka!!!
Aku pun kesal dan ku beranikan diriku untuk melepas rangkulan tangan gadis yang tidak ku ketahui namanya itu dari Boo.
"Eh, apa-apaan ini?! Siapa kau!" protes gadis itu.
"Aku kekasihnya!" kataku reflek sambil menarik tangan Boo yang langsung keheranan menatapku.
"Apa?! Boo, kau..."
Jujur, semua orang saat itu langsung menatap kearah ku dan Boo.
Ya Tuhan! Apa yang sudah ku katakan tadi? Kenapa jadi seperti ini?!
Boo pun langsung melepaskan tarikan tanganku dan dia mulai membuka suaranya sambil menatapku sinis.
"Eh, tidak tidak, dia bohong! Dia hanya adik tingkat kita."
Apa? Dia bilang hanya adik tingkat?!
Hanya?!!!!!
Jadi, aku bukan temannya?
Aku pun menatap wajah Boo dengan tajam. Sepertinya api kemarahan ku sedang meletup-letup saat ini.
Ingin rasanya aku memaki Boo dihadapan semua orang, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa sekasar itu pada Boo. Walaupun sebenarnya Boo sudah mematahkan perasaanku.
Aku ingin menangis sekarang. Karena Boo malah pergi meninggalkanku. Dan dia tidak menghiraukanku sama sekali.
Walau bagaimana pun aku tidak boleh menyerah, aku harus meminta maaf padanya karena sikapku beberapa hari yang lalu padanya. Karena memang tidak seharusnya aku berbicara kasar dan keras padanya.
Aku baru sadar, jika Boo sama sekali tidak bersalah.
Ya, ini memang kesalahan ku.
-[USB MISSIONS 2049]-
Aku mencoba berlari mengejar langkah kaki Boo yang saat ini sedang menuju ke perpustakaan. Aku mengikutinya masuk. Dan aku lihat dia menyapa Birdy yang sedang sibuk dengan buku-bukunya di counter.
"Hey Boo! Hey Yiren..."
Sapaan Birdy tersebut berhasil membuat Boo terdiam lalu menoleh ke belakang, tepatnya ke arahku.
Sepertinya dia tidak tahu jika aku mengikutinya.
Boo menatapku dengan sinis dan setelah itu dia memutuskan untuk pergi mencari buku di rak buku.
Sama sekalii tidak ada pembicaraan apapun.
"Sstt!!! Sssttt!"
Ya, Birdy mencoba memanggilku, dan saat aku menoleh dia memberikan gestur tubuh seolah bertanya ada apa padaku.
Ya, Birdy tentu saja pasti akan bertanya seperti itu. Karena mungkin yang dia lihat selama ini aku dan Boo tidak pernah berjauh-jauhan seperti ini.
Aku pun melangkah untuk menghampiri Birdy dengan tatapan yang tidak beralih dari Boo.
"Sepertinya dia sangat marah padaku." Kataku duduk di counter.
"Entahlah. Aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Eh, ceritakan dulu, baru kau bertanya seperti itu. Lagi pula sahabat mana boleh bertengkar?!"
Apa maksud Birdy?
Tentu saja ini bukan keinginanku. Boo lah yang memulainya, dia sangat keras kepala, sudah jelas-jelas aku mempunyai niat yang baik untuk mengajaknya berdamai seperti biasa.
Aku pun menceritakan semuanya pada Birdy dengan sangat jelas, detil dan tanpa kurang sedikit pun.
Dan setelah aku menceritakannya, Birdy malah tertawa sangat puas.
"Heh! Mengapa kau tertawa?! Memangnya ini terdengar lucu?!"
Birdy pun mencoba menahan tawanya sekarang.
"Maaf..."
Aku hanya mendelik pada Birdy dan setelah itu aku arahkan pandanganku kembali pada Boo yang sedang duduk dengan buku-buku tebal di sudut perpustakaan.
"Jangan takut untuk mengungkapkan perasaanmu padanya. Jika kau memang menyukainya katakan saja."
Mendengar perkataan Birdy, membuatku kembali menoleh padanya. Dan dengan reflek mataku pun membesar menatap Birdy yang sedang tersenyum jahil kearah ku.
Apa maksud perkataannya itu?!
Yang benar saja. Bagaimana mungkin dia berspekulasi bahwa aku menyukai Boo.
Tentu saja aku menyukainya, tapi hanya suka sebatas teman. Ingat, hanya teman dan tidak lebih!
"Semua akan menjadi kacau jika kau tidak mengungkapkan perasaanmu itu. Kau tidak mau kan, Boo jatuh kepelukan orang yang salah?"
Eh! apa lagi yang dia katakan sekarang? Dan apa urusannya denganku, jika dia jatuh kepelukan yang salah? Itu kan akibat kecerobohannya. Untuk apa aku ikut campur ke dalam masalahnya jika memang itu terjadi padanya.
"Itu sebabnya aku percaya padamu." Lanjut Birdy.
Sebentar,
Apa Birdy sedang mencoba memberikanku sebuah dukungan?
Apa dia tidak merasa bahwa perasaan itu salah dan seharusnya tidak boleh tumbuh apalagi diungkapkan?
Aaahh! Birdy kau membuatku sangat pusing sekarang.
Aku harus bilang apalagi padamu?
Jika harus jujur tentang perasaanku,
Aku...
Entahlah, huwaaaah...
Apa ini yang namanya cinta?
Apakah semua akan baik-baik saja jika aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Boo bahwa aku sebenarnya...
Aku....
Ya, sepertinya aku memang menyukainya.
"Aaaaarrgghh! Birdy, aku bingung sekarang." kataku sedikit merengek pada Birdy.
Aku bersumpah, rasanya aku ingin menangis sekarang.
"Eh, jangan bersikap seperti itu! Kau tidak malu Boo akan memperhtikanmu nanti."
Aku pun langsung mengangguk pelan. Mataku mulai berkaca-kaca sekarang.
"Entahlah perasaan ini membuatku ragu. Tapi, aku tidak bisa menahan bahwa ternyata, aku memang menyukai Boo." Jawabku dan perlahan aku menundukan kepalaku malu.
"Sudah ku duga." katanya malah membuatku semakin ingin menangis sekarang.
Entahlah, kenapa semua terasa begitu sulit. Mengingat bahwa tidak seharusnya perasaan ini tumbuh karena pasti akan ada banyak hal yang akan menentangnya.
"Sekarang, katakan saja pada Boo. Kau harus jujur soal perasaan mu itu, Yiren."
"Aku takut dia akan menolak lalu membenciku dan menjauh dari hidupku."
Bagus Yiren! kau sangat kacau sekarang. Aku harap hanya Birdy yang tahu soal ini.
"Eh, menurutku Boo adalah sosok yang dewasa, jika memang dia menolakmu, dia tidak akan melakukan hal itu. Aku yakin dia tidak akan membencimu apalagi menjauh dari hidupmu."
Dewasa apanya?
Birdy tidak tahu saja bagaimana Boo sebenarnya. Dia bahkan lebih kekanak-kanakan dariku.
"Ayok! Berhentilah merengek. Katakan pada Boo bahwa kau menyukainya."
"Hey, mengapa jadi kau yang antusias!!"
"Eh, aku hanya mendukungmu. Agar kau tidak menjadi semakin kacau karena perasaanmu sendiri."
Aku mengusap kedua mataku. Aku kembali menatap Boo yang masih berkutat dengan buku-buku itu.
Entahlah, bagaimana aku harus memulainya. Setiap kali saat aku menatapnya, keraguan selalu saja muncul.
Aarrghh! Kenapa semua jadi terasa sangat membingungkan??
"Birdy..."
"Ya..."
Birdy pun menoleh kearahku yang sedang bangkit dengan wajah tertunduk.
"Sepertinya aku harus menyiapkan mentalku secara lahir dan batin untuk mengatakannya langsung pada Boo. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang."
"Eh, kenapa begitu?"
"Aku harus pulang."
Aku pun langsung bergegas pergi meninggalkan Birdy.
"Yiren!"
Ya, walaupun aku dengar Birdy memanggilku beberapa kali, tapi aku tidak ingin menoleh. Aku tidak mau melihat Boo!
Setelah hari kebahagiaan kakak dan Hyunjae yang menikah beberapa minggu yang lalu. Kini saatnya aku yang bahagia karena ini adalah hari pertamaku menjadi seorang penghuni baru di kampus yang sama dengan Boo.
Baru saja aku melangkahkan kakiku di kampus, sudah banyak sekali pria-pria yang mencari perhatian untuk menyapaku.
Ya, walaupun tidak menyapa secara langsung, tapi sangat jelas terlihat jika mata mereka terus saja menatap ke arahku saat aku berjalan. Dan bahkan, di ujung jalan sana juga aku melihat ada beberapa senior ku yang mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali ke arah ku.
Iewwwhh!!!
Sedikit kurang nyaman, tapi mau bagaimana lagi?
Lagipula, mereka adalah para seniorku di kampus dan mana mungkin aku berani memarahi mereka satu per satu untuk berhenti memperhatikanku.
Dan sialnya! Aku juga tidak melihat Boo saat ini. Entah kemana dia, padahal kami berangkat bersama tadi pagi.
Aku pun mencoba meraih ponsel di dalam tasku untuk mencoba menghubungi Boo. Namun, tiba-tiba seseorang datang menghampiriku dan berhasil membuatku sedikit heran.
"Hai..." sapanya padaku hingga aku pun akhirnya menoleh kearah nya, dan dengan heran aku menatap ke arah sekitarku.
Bodoh! Dia memang menyapaku rupanya. Aku kira dia bukan berbicara padaku.
"Apa kau mahasiswa baru disini?" tanyanya padaku.
"A-aku?" tanya ku sambil menunjuk diriku sendiri dengan jari telunjuk.
"Iya kau, siapa lagi?"
Aku mendengus pelan dan masih menatap ke arah sekitar.
Jujur, bukannya aku tidak mau membalas jabatan tangannya. Jika dilihat dari wajahnya dia juga memang cukup tampan. Tapi, aku tidak mau sembarangan berkenalan dengan orang lain! Aku kan tidak tau dia ini pria yang seperti apa.
Aku lihat Nathan menarik kembali tangannya dengan canggung.
Dan aku?
Aku hanya diam memperhatikannya. Lagi pula, aku bukan seperti wanita pada umumnya yang merasa besar kepala saat dihampiri pria tampan seperti Nathan.
"Kelas apa yang kau ambil?" tanyanya membuat ku tambah heran.
Untuk apa dia menanyakan hal itu?
"Humaniora." Jawabku singkat dan kembali melanjutkan aktifitasku sebelumnya untuk menelfon Boo.
"Wah, keren." Katanya menatapku dengan penuh rasa bangga.
Apa maksudnya?
Hening dan canggung.
Itulah yang terjadi antara aku dan Nathan saat ini. Aku pun mendengus pelan dan berusaha untuk memutar otakku agar bisa menghindar darinya. Hingga akhirnya, aku pun melihat Boo sedang berjalan di koridor kampus.
"BOO!!" panggilku sedikit lebih keras.
Boo pun menoleh ke arahku dan dia juga langsung menghampiriku dengan sedikit berlari.
Syukurlah dia datang disaat yang tepat, fikirku.
"Hey, apa kau tidak masuk kelas?" tanya Boo padaku dengan tatapan heran menghiasi wajahnya.
"Tidak ada kelas..." jawabku datar sambil mendelik kearah Nathan yang ternyata masih setia berdiri di sampingku.
Boo pun hanya ber-oh ria saat pandangan matanya tertuju pada Nathan.
"Eh, Nathan..."
"Hai Boo..." sapa Nathan melambaikan tangannya pada Boo.
Ok bagus!
Ternyata mereka saling mengenal. Dan sepertinya juga mereka adalah teman satu tingkat. Aku lega, aku kira Nathan adalah teman satu tingkat denganku. Jadi, aku tidak akan berada disatu ruangan yang sama dengannya nanti. Dan, itu artinya Nathan adalah seniorku.
-[USB MISSIONS 2049]-
Korea Selatan - Seoul, 12 Agustus 2042
Ini adalah hari kedua ku di kampus. Tidak hanya hari kemarin, ternyata hari ini Nathan kembali menghampiriku dan selalu saja mengikutiku kemana pun aku pergi. Dia bersikap seolah dia sangat mengenal ku.
Dan, Boo juga bilang ternyata Nathan adalah tetangga dirumahku.
Apa? Kenapa dari sekian lama aku baru mengetahui nya?
Terserah! Tapi apa yang dia inginkan dariku sebenarnya?
Sangat menyebalkan!
Dia terus saja membuntutiku dan membuatku merasa dunia begitu sangat sempit. Langkah kakiku bahkan terasa sangat sulit melangkah sekarang.
Ya Tuhan, apakah ini ujian darimu untuk menguji kesabaranku?
Dan beberapa hari kemudian, saat aku keluar dari kelasku, aku melihat Nathan dan Boo mengobrol berdua di bawah pohon.
Keduanya terlihat sangat akrab dan membuatku sedikit khawatir.
Tunggu!
Yang benar saja, kenapa aku harus khawatir pada kedekatan mereka?
Bukan kah itu adalah hak mereka untuk dekat ataupun tidak.
Ah, Yiren kau ini aneh sekali!
Aku memberanikan langkahku untuk menghampiri Boo. Jelas saja aku menghampirinya, lagi pula kami memang akan pulang bersama.
Saat aku menghampiri Boo, terlihat dengan sangat jelas jika Boo sedang menyikut-nyikut lengan Nathan.
Eh, apa maksudnya bersikap seperti itu?!
"Hai Yiren..." sapa Nathan melambaikan tangannya ke arahku.
Baiklah sapaan yang sepertinya akan menjadi sebuah lalapan baru bagiku. Hai Yiren... Aarrgh! aku jadi benci kata itu!
Aku tidak peduli dengan sapaan Nathan. Aku hanya meresponnya dengan senyuman kecil dan setelah itu aku cepat-cepat menarik tangan Boo untuk segera menghindar dari Nathan.
"Nat, Besok kita bicara lagi!!" teriak Boo yang langsung mendapat acungan jempol dari Nathan.
Entah apa yang sebenarnya telah mereka bicarakan. Tapi, itu berhasil membuatku sangat kesal.
Jujur, aku tidak suka mereka seperti itu!
Aku terus menarik tangan Boo hingga akhirnya Boo pun kesal dan menepis tanganku dengan kurang santai.
"Lepaskan! Apa kau mencoba memutuskan tanganku?!" protes Boo meringis.
Sepertinya aku memang terlalu kencang menarik tangannya.
Ya Tuhan, maafkan aku Boo...
Tapi kau memang sangat menyebalkan!
"Oh iya, aku punya kabar baik untukmu." Katanya langsung mengalihkan topik. Dan wajahnya pun tiba-tiba berubah terlihat antusias.
Aku pun penasaran.
"Kabar baik apa?" tanyaku.
"Kau tau, sepertinya Nathan sangat menyukaimu." Kata Boo menaik turunkan alisnya.
"Apa maksudmu?"
Boo hanya terkekeh dan terus menggodaku dengan wajah menyebalkannya itu.
Karena muak dengan sikap Boo, aku pun mencubit perut Boo beberapa kali hingga membuatnya sedikit berteriak dan menjauh dariku.
"Yiren! Hey hentikan! Itu sakit!"
"Aku akan menghentikannya jika kau berhenti membicarakan dia!"
"Oh, apa kau cemburu jika nama Nathan keluar dari bibirku ya?"
Apa maksudnya?
Sepertinya Tuhan memang memberikan ujian padaku lewat Boo.
Daripada aku menderita tekanan darah tinggi karena menghadapi manusia aneh di hadapanku, akhirnya aku memilih untuk melangkah lebih dulu meninggalkannya.
"Hey, kenapa kau meninggalkan aku? Tunggu!"
Teriaknya berlari mengejarku.
-[USB MISSIONS 2049]-
Weekend ini tidak ada jadwal yang khusus selain memperhatikan Ibu, Kak Sae dan Boo yang sibuk di dapur. Ibu sengaja mengundang Boo hri ini untuk mencicipi eksperimen masakannya bersama kakak.
Tapi kenapa harus Boo yang mencicipinya?
Apa ibu lupa bahwa dia memiliki putri secantik diriku?
Ibu benar-benar tidak bersyukur memilikiku!
"Yi... apa kau mau mencobanya?" tanya kak Sae sedikit berteriak dari arah dapur.
"Tidak!" jawabku singkat.
"Yakin? Tapi, ini sangat enak." Sambar Boo yang berusaha membuatku agar tergiur dan bergabung di dapur.
"Tidak terimakasih." Jawabku sinis dan langsung mengarahkan remote ke layar tv.
Entahlah kenapa akhir-akhir ini aku merasa sangat kesal pada Boo. Padahal jika di fikir-fikir, Boo sama sekali tidak melakukan hal apapun padaku. Tapi, aku muak jika dia selalu menggodaku soal Nathan.
Padahal sebelum Nathan hadir diantara kami, rasa kesalku pada Boo tidak sekesal ini.
Ting~ Tong~
Aku pun menoleh kearah pintu mencoba memastikan apa benar bell pintu rumahku berbunyi atau tidak. Karena suaranya yang memang terdengar agak samar akibat tawa Boo dan kak Sae di dapur.
Mereka sangat berisik!
Ting~ Tong~
"Yi... ada yang datang. Tolong bukakan pintu!" teriak kak Sae dari dapur.
Ternyata memang ada yang datang memencet bell.
"Baiklah." Jawabku.
Aku pun bangkit dan berjalan menghampiri pintu.
Dan saat aku membuka pintu, aku cukup terkejut dengan sesosok manusia yang tengah tersenyum manis ke arahku.
Ya, Nathan.
Untuk apa dia kemari?
"Selamat siang. Apa kau sedang sibuk?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Nathan, aku hanya melipat kedua tanganku sambil mendengus pelan menatapnya.
"Siapa yang datang?!!" tanya kak Sae kembali berteriak.
Mungkin dia fikir suaminya yang datang. Padahal selama Hyunjae tinggal dirumah. Dia tidak pernah memencet bell pintu.
"Bukan siapa-siapa." Jawabku yang juga sedikit berteriak.
Tatapanku kembali menatap pria bernama Nathan yang ada dihadapanku. Dan dia terlihat sangat canggung menatapku sekarang.
Sungguh! Manusia ini mengganggu waktu akhir pekanku saja.
Hening...
Sama sekali tidak ada pembicaraan apapun dari kami.
"Eh, Nathan, ayok masuk jangan sungkan!"
Dan akhirnya Boo menghampiri kami di depan pintu.
Dan apa maksudnya menyuruh Nathan untuk masuk ke dalam rumah seolah rumah ini adalah rumahnya.
Benar-benar sangat menyebalkan!
"Boo? Kau ada disini?" tanya Nathan yang terlihat heran karena melihat keberadaan Boo.
"Ya begitulah, aku ada bisnis dengan ibu bayi besar ini?"
Apa? Dia menyebutku bayi besar?
Yang benar saja!
"Apa yang kau katakan?! Katakan sekali lagi!" kataku sambil mencubiti perut Boo.
"Aw! Hentikan bayi besar!"
Tidak akan ku beri ampun! Aku terus mencubiti Boo hingga akhirnya Boo pun berlari ke dalam untuk menghindariku.
Nathan hanya tertawa memperhatikan pertarunganku dengan Boo.
"Apa yang lucu?" tanya ku hingga membuat Nathan langsung menghentikan tawanya.
Masa bodo, Nathan akan mendeskripsikanku gadis seperti apa, aku tidak peduli. Mau dia bilang aku ini kasar, pembunuh berdarah dingin atau apapun juga aku tidak peduli!
"M-maaf, maksud kedatangan kemari untuk memberikan ini padamu."
Aku lihat dia menyodorkan 2 kantung plastik berisi makanan padaku.
Aku pun heran dengan apa maksud dan tujuannya memberikanku makanan-makanan itu.
Aku pun menerima makanan itu dari Nathan. Lagi pula sayang untuk ditolak, karena aromanya cukup menggoda hidungku.
Setelah Nathan memberikanku makanan, aku lihat dia tidak berhenti mengacungkan jempol tangannya ke arah di belakangku.
Aku pun heran dan menoleh kearah sumber tatapan Nathan.
Ternyata di belakang, aku melihat Boo dan kak Sae yang juga sedang mengacungkan jempol tangan mereka pada Nathan.
Apa-apaan ini?!
Kak Sae juga! Apa yang dia lakukan? Memangnya dia mengenal Nathan?!
Boo juga terlihat jadi manusia yang paling antusias saat melihat ku menerima makanan dari Nathan.
Aku bisa membaca fikirannya.
Aku pun hanya melotot pada mereka dan akhirnya mereka langsung pergi kembali ke dapur.
"Terimakasih, dan apa ada yang lain lagi?" kataku pada Nathan.
"Hah...?"
"..."
Lihatlah, dia malah terlihat bingung dan canggung sekarang. Mungkin, dia fikir aku akan menyuruhnya untuk masuk kedalam rumah setelah dia memberikanku makanan-makanan ini.
Tentu saja aku tidak akan melakukannya!
Lagi pula, Walaupun dia adalah tetanggaku, tetap saja aku tidak mengenalnya. Dia adalah orang asing!
Aku hanya mengangguk dan membiarkan dia pergi tanpa mencegahnya sedikit pun.
Ok, ok, dia memang tampan. Tapi ingat! Aku tidak suka padanya.
Lagi pula pria tipeku itu seperti Hyunjae.
Eh...
Tidak. Sekarang tidak lagi!
Seperti siapa ya?
Aaarggh, sepertinya aku sudah berhenti untuk memiliki tipe pria kesukaan. Bagaimana pun tipenya asalkan aku nyaman itu sudah cukup bagiku.
Ya, walaupun begitu. Tetap saja aku tidak menyukai Nathan.
Aku tutup pintu rumahku dan kubawa 2 kantong berisi makanan itu ke dalam.
Tadinya aku memang sangat tergiur akan aromanya. Namun, jika mengingat bahwa itu pemberian dari Nathan, perlahan nafsu makanku pun hilang.
Entahlah...
Aku taruh kantung itu dia atas meja tepat dihadapan kakak dan Boo yang sedang bercanda berdua.
Apa-apaan mereka?
Mengapa mereka terlihat akrab sekarang.
Uggh!!!
"Apa ini ?" tanya kak Sae.
"Entahlah makanan."
"Waahh... harumnya enak sekali."
Aku pun hanya mendelik melihat sikap Boo yang sekarang terlihat tidak sabar ingin memakan makanan pemberian Nathan. Aku sudah menebaknya, dia pasti sangat antusias karena makanan dari Nathan. Bahkan kakak juga terlihat antusias sekarang.
"Siapa pria tampan tadi?" tanya kakak dengan tatapannya yang menggodaku.
"Aku tidak tahu!"
"Dia Nathan, dia tinggal di ujung jalan komplek perumahan ini." Jelas Boo sangat hafal sambil memberikan kue yang dia dapatkan dari dalam kantung itu padaku.
Aku pun menggeleng karena aku memang tidak ingin memakannya.
"Ya sudah jika kau tidak mau." Kata Boo yang berhasil membuat ku gemas karena dia langsung memakan makanan itu seolah itu adalah miliknya.
"Sae, coba ini!" kata boo menyuapi kakak makanan itu.
DEGH!
Apa-apaan dia?!!
Beraninya dia menyuapi kakak seperti itu di depanku.
Hih!
Aku pun memalingkan pandanganku ke layar ponsel. Aku sangat kesal melihat kakak yang terlihat manja pada Boo.
Tidak seperti biasanya! Apa iya itu adalah perbawa saat hamil. Tapi itu benar-benar membuatku kesal.
"Boo, aku ingin minum." Pinta kak Sae terdengar begitu sangat manja.
"Baiklah akan aku ambilkan, kau tunggu disini."
Tentu saja kakak akan terus berada sisini, memangnya dia akan pergi kemana?
"Baiklah, terimakasih." Jawab kakak.
"Sama-sama."
Drama apa ini? Apa yang mereka lakukan dihadapanku?
Beraninya kakak merebut Boo dari ku!
"Aku pulang!"
Akhirnya Hyunjae pun pulang, dia langsung menghampiri Kak Sae yang sedang meminum air yang diberikan oleh Boo .
"Sayang, kau sudah pulang?"
"Iya, wah... kalian berpesta tanpa aku?"
"Tidak, itu pemberian dari kekasih Yiren." Kata Boo.
Heh! Apa-apaan dia!
Mendengar apa yang dikatakan oleh Boo, amarahku pun sepertinya sudah memuncak.
Hari ini dia benar-benar sangat menyebalkan. Bukan hanya hari ini, tapi akhir-akhir ini!
Beraninya dia mengatakan bahwa Nathan adalah kekasihku. Ah, yang benar saja, menyukainya pun saja tidak!
"Oh begitu. Aku coba ya..."
Dan akhirnya mereka pun sibuk menyantap makanan itu dihadapanku.
Bagus! Berpestalah kalian dihadapanku.
Mereka bahkan terlihat sangat akrab dan terus saja menggodaku bahwa Nathan adalah kekasih yang sangat baik untukku.
Dari pada aku tambah naik darah, aku pun memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka. Namun, baru juga beberapa langkah, aku hentikan langkahku sambil berfikir bagaimana mungkin aku melupakan aroma lezat itu.
Ya, perutku mulai tergoda saat membayangkan bagaimana cara makan Boo, Kak Sae dan Hyunjae yang begitu lahap.
Sepertinya makanan itu sangat enak! Lagi pula tidak ada salahnya kan, jika aku mencobanya sedikit saja?
Aku pun kembali menghampiri mereka untuk merebut beberapa makanan yang masih utuh dan belum mereka sentuh.
"Hey, makananku!" protes Boo.
Aku tidak merespon apa yang dikatakan oleh Boo, aku hanya menunjukan jari telunjukku sambil melototkan mataku yang sebenarnya tidak bisa melotot ini pada Boo.
Boo pun terdiam, dia tidak membalas ku, dan dari raut wajahnya mungkin dia tahu bahwa aku sedang kesal sekarang.
Dan setelah itu aku meninggalkan mereka.
-[USB MISSIONS 2049]-
Esok harinya, seperti biasa aku berangkat ke kampus bersama Boo. Sebenarnya aku tidak pernah menyuruhnya untuk menjemputku dan pergi bersama ke kampus.
Entahlah, mungkin dia khawatir jika aku berangkat sendirian.
Ya, Mungkin.
Lagi pula dia adalah manusia yang tidak memiliki kadar kepekaan yang baik.
Jadi, entah dia khawatir padaku atau mungkin dia sengaja menjemputku karena dia tidak ada teman.
Membingungkan sekali.
Oh iya, hari ini moodku benar-benar sangat kurang baik. Apalagi setelah kejadian kemarin, Boo yang sudah bersekongkol dengan kakak untuk terus menggodaku soal Nathan.
Jujur, aku sangat tidak suka jika Boo bilang kalau Nathan dan aku itu dekat!
Entahlah, rasanya sangat mengganjal sekali.
"Apa kau akan terus diam? Tidak biasanya kau begini?" tanyanya padaku.
Aku tidak menjawab aku masih diam dan memfokuskan pandanganku ke depan.
"Yiren, kau marah padaku?"
"Tidak!"
"Lalu... kenapa kau seperti orang asing hari ini?"
Aku hanya mendengus pelan. Aku lupa, kalaupun aku marah, dia tidak akan sadar kenapa aku marah.
Jangan lupa, bahwa dia adalah manusia tidak peka di dunia ini.
Boo pun terlihat canggung sekarang. Aku juga jadi bingung harus bagaimana. Lagi pula, aku memang sengaja melakukan hal ini agar Boo lebih berusaha untuk membujukku. Walaupun hasilnya sudah aku tebak jika Boo tidak akan melakukan apa-apa untukku.
Payah!
Dan akhirnya, apa yang aku khawatirkan pun terjadi.
Ya, Nathan datang menghampiri kami. Aku heran, kenapa dia selalu mengganggu ketentraman hidupku.
"Selamat pagi..." sapanya.
"Eh, nathan. Kau rajin sekali."
Nathan hanya terkekeh sambil menggaruk tengkuk kepalanya dengan tatapan yang mengarah padaku.
Apa yang dia lihat? Mengapa tatapannya mengarah padaku?
Dia Bercanda dengan Boo tapi pandangannya mengarah padaku.
Sangat tidak sopan!
Aku pun mengalihkan pandanganku pada Boo yang sedang mengajak Nathan bicara. Lebih baik aku menatap Boo daripada menatapnya.
Tapi, entah mengapa tiba-tiba aku berfikir ingin sekali rasanya memberikan pelajaran pada Boo.
Aku ingin melihat bagaimana reaksinya, jika aku terlihat dekat dengan Nathan. Apakah Boo akan merasa kehilangan temannya yang cantik ini?
Ok, baiklah akan ku coba.
"Nathan..." kata ku seketika membuat Nathan dan Boo menoleh ke arahku dengan tatapan yang heran.
"I-iya..."
"Kau terlihat tampan hari ini."
Ya Tuhan, apa yang sudah ku katakan!
"Apa?!!"
"..."
Aku hanya menatap Boo yang saat ini sedang menatapku dengan tatapan yang menyebalkan.
"Ah, kau membuatku malu Yiren. Tapi, kau juga terlihat cantik hari ini." Jawab Nathan mencoba memujiku kembali.
Beberapa kali aku perhatikan Boo sepertinya tidak ada reaksi yang menunjukan bahwa dia merasa khawatir padaku.
Sepertinya ini tidak berhasil.
Aku lihat Boo malah terlihat menyikut-nyikut lengan Nathan sambil menaik turunkan alisnya.
Tunggu! Apa aku terjebak dengan permainanku sendiri?
"Haha Ok, baiklah, aku ada kelas cepat hari ini. Jadi, lebih baik aku tidak mengganggu kalian. Sampai jumpa." Pamit Boo sambil mengacak-ngacak rambutku.
Aku hanya bisa terdiam sambil melihat langkah kakinya pergi meninggalkanku dan Nathan.
Ternyata rencana ku sama sekali tidak berhasil.
Ingin sekali rasanya aku menangis.
Dan hey, tunggu! Aku melihat Boo di hampiri oleh seorang gadis dengan rambut panjang terurai di sana.
Dia menghampiri Boo, menyapa Boo dan merangkul tangan Boo.
Sial! Dia bilang bukankah dia tidak memiliki teman selain aku?
Tapi apa yang baru saja aku lihat?
Dia bahkan dengan sangat mudahnya pergi bersama gadis lain dan meninggalkanku disini.
Ini tidak bisa di biarkan!
"Um, Yiren..." kata nathan yang langsung ku respon dengan jari telunjuk.
Nathan terlihat bingung apalagi saat ini aku langsung pergi meninggalkannya.
Baiklah, lupakan soal nathan.
Jadi, siapa gadis itu?
Siapa yang sudah berani merebut boo dariku?
Aku pun melangkah dengan sedikit menghentakan kakiku. Namun, setelah melangkah cukup jauh, aku baru tersadar.
Ada apa denganku sebenarnya?
Perasaan apa ini?
Mengapa aku begitu sangat marah saat dia bersama gadis itu?
Aku ini takut kehilangan seorang teman atau aku sedang cemburu?
Apa??? Cemburu???
Tidak, Tidak! Itu tidak mungkin!
Ya Tuhan... ada apa denganku?
Aku pun langsung menghentikan langkah kakiku dan memilih untuk mengurungkan niatku mengejar Boo dan teman gadisnya itu.
Hari ini aku memutuskan untuk meminta bantuan Boo mengajariku beberapa hal tentang Sains. Ya, masalahnya aku tidak cukup pintar dalam pelajaran tersebut. Jadi, aku meminta bantuan Boo untuk mengajariku dirumah hari ini.
Oh iya, sebenarnya ini adalah usulan dari ayah yang merekomendasikannya padaku.
Minggu depan adalah Ujian Akhir Sekolah. Jadi, sebisa mungkin aku harus mendapatkan nilai yang cukup agar bisa lulus sekolah di tahun ini. Jika memang bisa, seharusnya aku mendapatkan nilai tertinggi seperti ujian biasanya.
Aku harap begitu.
Siang ini aku dan Boo berada di ruang santai dirumahku. Aku sedang mengerjakan banyak soal sains yang diberikank oleh Boo saat ini. Sementara Boo, dia sedang sibuk dengan mengerjakan tugas karya ilmiahnya yang sengaja dia bawa ke rumah.
Disela-sela pembelajaran, Boo bertanya soal kemanakah aku akan melanjutkan kuliah. Dan aku masih bingung untuk memikirkannya.
Entahlah, ayah malah menyuruhku untuk melanjutkan kuliah bisnis. Jelas saja aku tidak tertarik! Lagi pula aku lebih tertarik dengan hal-hal berbau sosial dan kebudayaan. Ya, walaupun aku sendiri adalah makhluk yang kurang bersosialisasi dengan banyak manusia di muka Bumi ini.
Maksudku, aku lebih senang dengan hal berbau tradisi dan adat. Jadi aku tidak tau kemanakah aku harus melanjutkan kuliah ku. Entahkah itu seni, atau ilmu sosial, aku tidak tahu.
Aku hanya menggelengkan kepala saat Boo menanyakan hal itu kepadaku. Dan Boo? ku kira dia akan berkomentar atau memberikan usulan kuliah mana yang bagus untukku.
Ck! Dia malah sibuk dengan pekerjaannya.
Yasudah aku lanjutkan saja lagi menyelesaikan tugas soal darinya.
Disaat aku fokus mengerjakan soal-soal, Boo benar-benar sangat mengganggu! Suara berisik yang dia hasilkan dari menumbuk-numbuk bahan besi dihadapanku membuatku harus beberapa kali mengulang hasil hitunganku.
Sungguh, dia menghancurkan semua konsentrasiku!
Apa-apaan ini?!
Aku sangat kesal padanya, tapi saat aku melihat ke arahnya, Entah kenapa kemarahanku tiba-tiba saja menghilang.
Ya Tuhan...
Dia sangat lucu saat terlihat serius seperti itu.
Eh! Apa yang sebenarnya aku bicarakan?!
Benar-benar keterlaluan, seharusnya aku kembali mengerjakan soal-soalku. Bukan malah memuji-mujinya seperti seorang fansgirling.
Sepertinya ada yang tidak beres denganku.
Tiba-tiba Boo mulai membuka suaranya dan memberikan sedikit usulan padaku. Katanya dikampus tempatnya ada kelas yang mempelajari hal-hal tentang kebudayaan dan kemanusiaan. Katanya sih itu cocok denganku. Namanya kelas Humaniora.
Ah, baiklah. Humaniora.
-[USB MISSIONS 2049]-
Korea selatan - Seoul, 16 Mei 2042
Setelah melaksanakan Ujian akhir sekolah dan mendapati pengumuman bahwa para murid kelas 12 dari sekolahku semuanya lulus, pihak sekolah pun menyelenggarakan acara perpisahan bagi para siswa-siswi di sekolah yang juga di hadiri para orangtua.
Suasana haru cukup terasa bagi ku. Entahlah, Padahal sebelumnya aku sangat menantikan hari ini, hari dimana aku bisa meninggalkan sekolah berisi para manusia pencibir. Dan, entah mengapa sekarang aku cukup sulit untuk meninggalkan sekolah ini.
Ayah dan Ibu bahkan mentertawakanku, apalagi saat aku mengucapkan salam perpisahan dengan teman-teman sekelasku.
Ayah bilang, akulah yang paling terlihat sangat menyedihkan diantara teman-temanku yang lain. Untung saja Boo tidak ada disini, jika dia ada disini, Aku yakin dia akan mengolok-olokku seenaknya.
Setelah itu, kami pun sampai dirumah. Ayah masih saja mengolok-olokku dan mencoba meniru gaya menangisku disekolahku tadi. Dan Ibu, malah tertawa karena ulah ayah.
Ugh, sangat menyebalkan!
Aku hanya bisa diam dan mendelik kearah keduanya. Bagaimana tidak kesal, Ayah bahkan melebihi-lebihkannya.
Ayah dan Boo ternyata sama saja.
Saat ayah dan ibu tertawa karena ulah Ayah yang terus saja menirukan ku saat disekolah tadi, tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan kakak yang tiba-tiba berdiri sambil menahan tangisnya dihadapan kami bertiga.
"Ibu... Ayah..."
Suasana pun tiba-tiba hening.
Aku tidak tahu ada apa sebenarnya. Mengapa kakak terlihat sangat kacau.
"Sae, ada apa nak?"
"Ayah Ibu... Hiks." Kata kakak yang langsung bersujud dihadapan ayah dan ibu dengan tangisnya yang juga pecah.
Tidak mungkin jika kakak sedang melakukan sebuah prank untuk sebuah konten di Youtube. Walaupun dia adalah seorang kekasih dari pemain drama terkenal bernama Hyunjae, tapi aku sangat yakin, kakak bukan tipe manusia yang suka berdrama apalagi berakting di depan kamera.
Aku lihat ayah dan ibu seolah kebingungan melihat sikap kakak. Bukan cuma mereka berdua, tapi aku juga.
Aku hanya diam, mencoba untuk tenang dan menunggu kakak bicara tentang apa yang akan kakak sampaikan selanjutnya. Melihat keadaannya sepertinya ada hal yang tidak beres. Apakah ini soal Hyunjae atau...?
Ah, aku tidak ingin menebaknya!
"Aku mohon, Ayah dan Ibu jangan marah padaku."
"Bagaimana kami akan marah jika kau tidak bicara, Sae!"
"Ayah maafkan aku. Ibu..."
"Ada apa nak, ayok bicaralah!"
"A-aku hamil bu..."
APA?!!! Kakak hamil?!
Ya Tuhan apa yang sedang terjadi? Apa hari ini aku sedang bermimpi? Kakak hamil? Dan aku, akan menjadi seorang bibi?
Ah, aku bahkan belum siap dipanggil bibi.
"Bagaimana bisa Sae?! Ya Tuhan!" kata Ibu yang langsung menangis dan memeluk kakak.
Kak Saerom tidak menjawab, dia hanya bisa menangis dan memeluk ibu dengan sangat erat. Sementara Ayah? Terlihat jelas dari matanya bahwa dia sangat kecewa pada kakak. Dia hanya diam mematung dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
Bukan cuma ayah, tapi jujur akupun juga sama kecewanya seperti ayah. Aku tidak percaya jika kakak melakukan hal itu dengan seorang pria? Dan ya Tuhan, aku belum cukup umur untuk membayangkannya.
Sesaat setelah pengakuan kakak, aku dibuat terkejut karena tanpa adanya respon dari ayah, ayah tiba-tiba menarik paksa kakak.
Kemarahan ayah begitu membuatku takut, karena selama ini ayah tidak pernah berbuat kasar padaku ataupun pada kakak walaupun disaat kami melakukan kesalahan.
Tapi kali ini, ini benar-benar sangat mengejutkan. Ayah menunjukan sisi lainnya padaku yang membuat ku bersumpah untuk tidak melakukan hal bodoh seperti yang kakak lakukan.
Ayah menyeret kakak keruang tengah, dan ibu mencoba berteriak mencegah ayah beberapa kali, tapi ayah tidak mau mendengar apa yang ibu katakan. Dia terus saja menarik kakak secara paksa bahkan sampai baju kakak robek.
"Katakan padaku! Siapa yang melakukan ini padamu?!"
Ayah pun melepaskan tarikan tangannya dengan kasar, bahkan kakak sampai terjatuh dibuatnya. Ibu yang menangis langsung meraih dan memeluk kakak.
Aku? Aku tidak berani mendekat. Aku hanya menangis memperhatikan mereka.
"KATAKAN PADA AYAH, SIAPA YANG MELAKUKANNYA SAEROM?!!"
Teriakan ayah terdengar sangat keras. Ini adalah kali pertamanya aku mendengar teriakan ayah yang terdengar begitu sangat menyeramkan. Sebelumnya, sungguh tidak pernah.
Kakak terus saja menangis. Karena kesal, ayah menarik tangan kakak kembali dengan sangat kasar. Aku bahkan bisa melihat dengan sangat jelas jika kakak sangat kesakitan.
"Sudah hentikan! Kau bisa bertanya baik-baik tanpa harus menyakiti anakku!"
Dan Akhirnya, ayah dan ibulah yang bertengkar. Aku sedikit menjauh dari mereka, karena ini adalah sesuatu yang sangat jarang bagi kehidupanku dan keluargaku. Bahkan, tidak pernah sama sekali. Karena ayah dan Ibu juga tidak pernah bertengkar sebelumnya.
Aku berdiri dibalik dinding pembatas, Entah mengapa disaat aku merasa seperti saat sekarang, tiba-tiba aku malah teringat tentang Boo. Aku juga tidak mengerti kenapa aku sangat membutuhkan manusia aneh itu sekarang.
Hingga akhirnya aku pun mencoba menelfonnya.
Rasanya sangat menyebalkan sekali karena hampir 3x menelfon, dia sama sekali tidak mengangkat telfonku. Hingga akhirnya aku putuskan untuk berhenti menelfonnya.
Lihat saja nanti! Jika dia mencoba mengajakku bicara, aku tidak akan menjawabnya. Aku akan marah padanya.
Tapi dasar bodohnya aku, saat nomor Boo menelfonku aku malah antusias untuk mengangkat telfonnya.
"Ada apa gadis lucu ini menelfoniku?"
Pertanyaan Boo di telfon berhasil membuatku jadi tersipu malu.
Eh, aku ini apa-apaan sih? Keadaan rumah sedang kacau, bisa-bisanya aku seperti ini!
"Kenapa berisik sekali? Siapa yang menangis? Kau tidak apa-apa kan?"
"Apa kau bisa datang kerumah?"
"... b-bisa, tapi ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Semuanya tidak baik-baik saja.
"Baik lah, aku akan segera kesana."
"Hm."
Aku langsung menutup sambungan telfon Boo dan kembali berbalik untuk melihat keadaan di dalam.
"KATAKAN SAEROM!!!" kata ayah kembali berteriak.
"H-hyunjae. Aku mengandung anak Hyunjae, Ayah."
Sudah ku duga jika pria itulah pelakunya!
Aku benci keadaan ini, ingin sekali rasanya aku memukul Hyunjae.
Aku pun memilih untuk pergi keluar. Aku tidak bisa melihat amukan ayah yang semakin menjadi-jadi saat ayah mengetahui siapa yang telah menghamili kakak.
Aku lebih memilih untuk duduk di halaman depan rumah.
Dan tidak begitu lama, Boo pun datang dihadapanku. Dia menarik wajahku dengan segudang pertanyaan.
"Apa kau baik-baik saja? Siapa yang tadi menangis? Apa kau dimarahi oleh ayahmu? Kau melakukan kesalahan apa? Apa kau tidak lulus?"
Aku langsung menepis tangannya. Enak saja dia bilang aku tidak lulus.
"TIDAK!" jawabku sedikit mengeras.
"Lalu ada apa? Mengapa tadi aku mendengar keributan di telfon?"
"Kakak.."
"Saerom? Ada apa dengannya?"
Aku pun mendengus pelan sebelum akhirnya aku menjawab pertanyaannya.
"Kakak hamil, itu sebabnya ayah sangat marah."
"APA?!!!"
Boo terlihat sangat terkejut mendengar apa yang aku katakan. Dia mematung sebentar hingga akhirnya tangannya pun mencoba mengusap-ngusap kepalaku dan setelah itu dia duduk mendekat disampingku.
Tidak ada obrolan apapun, dan kami malah sibuk memperhatikan gerombolan semut yang ada dihadapan kami sambil mendengar sayup-sayup suara tangis kakak dan teriakan ayah dari dalam.
Sangat tidak jelas!
Kukira dengan kehadirannya bisa sedikit membantu untuk membuatku merasa sedikit tenang. Tapi ternyata, dia malah ikut ketakutan apalagi saat mendengar suara amukan ayah yang terdengar sampai keluar.
-[USB MISSIONS 2049]-
Korea selatan - Seoul, 20 Mei 2042
Setelah kejadian hari itu, Ayah dan keluarga Hyunjae pun sepakat untuk menikahkan kak Saerom dengan Hyunjae hari ini, tepat beberapa hari setelah amukan ayah yang menyeramkan dirumah kemarin.
Dan sekarang, benar-benar sangat sulit untuk dipercaya, bahwa aku akan memiliki seorang kakak ipar pemain drama terkenal.
Whooaaaa!!!
Fikiranku bahkan sudah malayang jauh ke angkasa. Entahlah, karena mungkin jika kakak menikah dengan Hyunjae berarti aku masih memiliki banyak kesempatan untuk dekat dengan teman-teman Hyunjae yang lain yang tidak kalah tampan darinya, populer dan kaya.
Tapi sayang, itu hanyalah sebuah mimpi. Ternyata semua teman-teman Hyunjae sudah memiliki pasangan dan tidak ada yang tersisa satupun untukku.
Sore ini, aku dan Boo menghabiskan waktu di sebuah padang rumput yang luas. Kami duduk berdua sambil menghadap ke arah dimana matahari mulai terbenam.
Sungguh pemandangan yang saat indah ditemani warna jingga yang perlahan mulai berubah menjadi warna nila. Warna yang sangat aku sukai sejak kecil.
Jika harus jujur, sebenarnya baru kali ini aku pergi bersama orang lain yang ku sebut teman. Karena sebelumnya, memang tidak pernah. Aku tidak mempunyai teman dekat sejak aku datang ke Seoul.
Teman-teman di kelasku hanya sebatas teman di sekolah saja dan tidak ada yang dekat denganku. Itu sebabnya, ada beberapa siswa yang bilang kalau aku adalah seorang remaja yang anti sosial, seorang yang pemilih dalam mencari teman, dan entah apalagi yang mereka katakan tentangku.
Mereka tidak tahu, jika sebenarnya aku hanya merasa canggung untuk memulai pembicaraan dengan orang lain. Aku begitu malu, apalagi mengingat bahasa Korea ku masih belum cukup baik.
Saat ini, aku baru saja mulai bercerita banyak tentang apa yang aku rasakan kepada sosok yang sekarang menjadi teman baruku.
Jauh dari apa yang ku duga sebelumnya, ternyata bercerita pada manusia aneh ini tidak begitu buruk. Dia bahkan selalu mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirku.
"Memangnya salah ya, jika aku mendapatkan nilai tertinggi di kelas?" tanyaku pada Boo hingga membuatnya merasa heran dan menatapku tajam.
"Eh, tentu saja tidak. Itu bagus. Katakan padaku berapa nilaimu?" tanya Boo terlihat antusias.
"Nilai rata-rataku 95 dan aku mendapatkan poin tertinggi di kelas." jelasku.
"Wah, ternyata temanku pintar juga ya?" ledeknya menaik turunkan alisnya dan malah membuatku kesal karena wajahnya malah terlihat seperti meledekku.
Aku hanya terdiam melihat Boo yang sedang menggodaku. Dia memang pendengar yang baik, tapi dia tidak pandai dalam hal memuji.
"Hey, jangan dengarkan apa kata mereka. Mereka itu iri karena tidak mampu menjadi sepertimu. Mereka itu T-o-x-i-c!" katanya sedikit gemas.
Mendengar apa yang dia katakan, memang ada benarnya juga. Kenapa juga aku harus larut memikirkan hal yang tidak penting sama sekali?
"Tersenyumlah... bukankah tadi kau sudah tersenyum?" lanjutnya sedikit memaksa sambil mencolek-colek daguku beberapa kali.
"Tidak mau!"
"Eh, kau ini pemarah sekali Wang."
Terserah apa yang dia katakan, aku tidak peduli. Yang jelas, aku sedang mencoba untuk bersikap masa bodoh soal pembicaraan teman-temanku di sekolah siang tadi. Walaupun faktanya tetap tidak bisa dan selalu saja terngiang di telingaku.
"Heh, Yiren! Kau sudah membuang energi dan waktumu." kata Boo dengan tidak sopan menempelkan jari telunjuknya di kepalaku.
Bukan cuma itu, bahkan kukunya menusuk kulit keningku.
"Apa maksudmu?" kataku mendelik sambil menjauhkan kepalaku dari kuku jari tangannya.
"Memangnya kau fikir hidupku semulus yang kau kira, huh?" katanya.
Aku tidak menjawab apa yang dia katakan. Hanya saja aku tiba-tiba merasa penasaran dengan kisah hidupnya.
Aku ingin dengar, apa seorang manusia aneh pernah merasakan apa yang aku rasakan seperti saat ini?
"Kita tidak jauh berbeda, Yiren."
Tidak jauh berbeda apanya, jelas-jelas dia lebih tua dari ku. Dia juga aneh dan sulit ditebak. Bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa aku dan dia tidak jauh berbeda.
Yang benar saja!
"Sebagai seorang imigran, aku juga mendapat begitu banyak tekanan, sindiran, bahkan makian. Semua tidak seperti yang aku fikirkan sebelumnya. Hm, apa kau masih memiliki orang tua?" tanya Boo dan dibalas anggukan olehku.
"Kakak?"
Aku mengangguk lagi.
"Adik?"
Aku pun menggeleng karena aku memang tidak mempunyai adik, walaupun aku pernah memaksa pada Ibu dan ayah untuk memberikanku seorang adik tapi permintaanku tidak dituruti oleh mereka.
"Nah, kau beruntung karena masih memiliki mereka yang sayang padamu. Sedangkan aku, aku hanya seorang diri. Bahkan, jika kau ingin tahu, aku ini adalah anak yang tidak diharapkan oleh ayahku sendiri." lanjutnya menjelaskan dengan nada bicara yang terdengar melemah.
Entahlah, mendengar apa yang dia katakan kenapa tiba-tiba suasananya berubah jadi dramatis seperti ini.
Dan aku bahkan bisa melihat kesedihan yang amat menyakitkan lewat matanya.
"Tidak diharapkan? Apa maksudmu?"
Mendengar pertanyaanku Boo tersenyum simpul.
"Sebenarnya jika diceritakan akan sangat panjang sekali. Mungkin waktu 1 minggu tidak cukup untuk menceritakannya padamu." Katanya terkekeh.
Manusia ini sudah lancang memancing rasa kepenasaranku, dan setelah aku penasaran, dia malah menggantung cerita. Hebat!
"Ceritakan! Jika tidak aku tidak ingin menemuimu lagi!" ancamku dengan nada yang terdengar kesal.
Boo pun mendengus pelan sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mulai bercerita padaku.
Aku terdiam karena masih menunggunya untuk bicara. Lagi pula, ini adalah kali pertamaku mendengar cerita kehidupan orang lain.
Aku jadi penasaran.
"Saat ibuku tau bahwa dia mengandungku, dia pergi mengatakan hal itu pada ayah. Dan apa kau tau apa jawaban ayahku?"
"Tidak. Apa?"
"Ayahku malah menyuruh agar ibu menggugurkan kandungannya." Katanya menatapku.
Aku terkejut saat mendengar kalimat terakhir yang Boo katakan. Begitu miris dan itu pasti sangat menyakitkan baginya.
Aku tatap perlahan wajahnya yang sekarang sedang tertunduk sejenak mengatur nafasnya yang terdengar mulai terisak.
Apa dia menangis?
Suara isakan itu terdengar sangat jelas.
"Hanya ada dua pilihan saat itu, pergi untuk mempertahankanku, atau tetap bersama ayah dan menggugurkan kandungannya. Sejak kejadian itu, ibu memutuskan untuk pergi meninggalkan ayah. Dia memilih untuk berjuang dan membesarkan kandungannya seorang diri sampai aku lahir. Ayah? Dia tidak pernah mencari ibu. Bahkan hingga detik ini pun aku belum pernah bertemu dengannya. Pribadinya seperti apa dan wajahnya seperti apa pun aku tidak tahu." lanjutnya mencoba memaksakan senyum diwajahnya.
Aku sangat bingung, apa yang harus aku katakan lagi padanya. Akhirnya aku pun memutar otakku untuk mencari pertanyaan lain selain membicarakan ayahnya yang keterlaluan itu.
"Lalu, hm, b-bagaimana dengan ibumu sekarang?" tanyaku sedikit terbata.
Saat aku bertanya tentang ibunya, Boo bukannya menjawab dia malah mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Aku hanya diam dan mencoba memperhatikan tingkah lakunya.
Aku fikir, dia akan menunjukan sebuah foto di galeri ponselnya. Tapi ternyata tidak! Dia malah menunjukan sebuah aplikasi astronomi padaku.
Aku? Jelas saja aku bingung. Sebelumnya aku bertanya soal ibunya, kenapa dia malah menunjukanku ini?!
"Ini Ibu." katanya menunjuk salah satu bintang yang terlihat bersinar.
Aku heran dan beberapa kali menatap wajahnya.
Apa dia baik-baik saja?
Apa otaknya masih berfungsi dengan baik?
Bukankah dia memang aneh? Dan mengapa aku jadi merasa khawatir padanya.
Ah, Apa-apaan aku ini!
"Saat aku duduk di sekolah menengah pertama, ibu membelikanku sebuah teleskop."
Dan akhirnya, dia kembali memulai ceritanya.
"Bintang pertama yang aku lihat adalah bintang Canopus. Aku memperlihatkan itu pada ibu. Dan ibu bilang itu sangat indah." Jelasnya.
Aku hanya diam mendengarkan ceritanya sambil memperhatikan layar ponselnya yang menunjukan bintang-bintang bersinar.
Jujur, semua bintang terlihat sama bagiku. Aku tidak bisa membedakan mana Sirius dan mana Canopus yang dia maksud.
Kepalaku bahkan jadi sakit memikirkannya.
"Ibuku tiada 2 hari setelah itu. Makanya aku anggap bintang itu adalah ibu." Lanjut Boo menunjukan dengan jari telunjuknya, bahwa bintang yang sedang dia tunjukan padaku adalah ibunya.
Aku hanya terdiam.
Mungkin maksudnya menjadikan Canopus sebagai bayangan sosok ibunya karena ibunya pernah melihat keindahan Canopus sebelum dia meninggal dunia.
Kata orang melihat bintang sama halnya seperti kita melihat masa lalu. Jadi, mungkin Boo melihat masa lalunya lewat bintang itu. Dan dia melihat ibunya di bintang Canopus.
Atau bagaimana sih?
Ah, entahlah aku jadi tambah pusing memikirkannya!
"Kau menyukai sains sejak kecil?" tanyaku mengganti topik pembicaraan. Karena jika dilanjutkan aku pasti akan semakin terlihat bodoh.
Dia mengangguk sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaanku.
"Ibuku seorang dosen fisika dan ayah seorang ilmuan."
Oh... pantas saja Boo tertarik pada hal yang berbau sains. Kedua orang tuanya saja adalah orang yang bergelut dengan bidang sains. Bahkan ayahnya juga adalah seorang Ilmuan.
Tapi ayahnya? Ah, aku tidak menyukainya!
Aku saja tidak suka, bagaimana dengan Boo? Pasti sakit rasanya.
"Bagaimana dengan keluargamu?" tanyanya membuatku sedikit berfikir untuk menjabarkan keluargaku padanya.
"Hm, Ayahku hanya seorang kepala rumah sakit, ibu hanya seorang ibu rumah tangga, dan kakak hanya seorang mahasiswa dari kelas managemant." jelasku hati-hati.
"Wah, kau bilang itu hanya? Hahaha." Katanya sambil tertawa.
Ya, aku sengaja mengatakan dengan cara seperti itu agar aku tidak menyinggung perasaannya.
"Bagaimana rasanya memiliki keluarga?" tanyanya.
Apa maksudnya?
"Memangnya kau tidak punya keluarga?" tanyaku tanpa berfikir.
"Sudah ku bilang kan, ibuku sudah tiada sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama, ayahku bahkan tidak menginginkan aku hidup. Padahal belum satu jam aku bercerita. Kau ini masih muda tapi sudah pelupa!"
"Eh, bukan begitu..."
Kan, aku mulai terlihat bodoh sekarang.
"Hm, lalu, dengan siapa kau tinggal selama ini?" tanyaku kembali mengalihkan topik pembicaraan.
"Hanya sendirian, terkadang paman datang menjengukku, tapi sebelum aku memutuskan pergi ke Seoul paman tewas akibat kecelakaan lalu lintas."
Aku pun terdiam.
Rasanya setiap pertanyaan yang coba ku lontarkan kepadanya selalu berakhir dengan kecanggungan dan jawaban yang mengenaskan.
Mungkin sebaiknya aku berhenti bertanya dan biarkan saja dia bicara dengan sendirinya.
"Saat ini aku hanya mengenal dosen pembimbingku Mr. Jin, Beardy si penjaga perpustakaan dan..."
Aku pun sedikit penasaran dengan perkataannya yang menggantung. Aku tatap dia dengan tatapan ingin tahu.
"Dirimu." lanjutnya.
Aku sedikit tersentak, hingga dengan refleknya aku langsung membulatkan mataku.
Sebentar, dia bilang selain Mr. Jin dan Beardy, dia hanya mengenalku?
Baiklah, jika harus berkata jujur, selain keluargaku, aku juga hanya punya dia sebagai teman.
-[USB MISSIONS 2049]-
Korea Selatan - Seoul, 28 Desember 2041
Sudah satu tahun aku mengenal Boo, sepertinya aku tidak salah pilih untuk memposisikannya sebagai seorang teman di hidupku.
Ya, dia tidak terlalu buruk untuk menjadi temanku, walaupun umurnya tidak jauh berbeda dengan kakak.
Oh iya, beberapa bulan yang lalu aku sempat memperkenalkan Boo pada keluargaku. Dan orang pertama yang terlihat sangat antusias padanya adalah, Ayah.
Mereka seperti sepasang teman lama yang baru di pertemukan kembali. Pembicaraan mereka terdengar sangat cocok. Dan saking cocoknya mereka bahkan terlihat seperti anak dan ayah.
Eh apa-apaan ini dia Ayahku, Boo!
Terkadang aku merasa iri dengan kedekatannya dengan Ayah. Ditambah lagi ibu, ibu juga sepertinya sangat menyukai Boo. Itu sebabnya jika ibu memasak, dia selalu memikirkan apa yang Boo suka dan apa yang tidak Boo sukai. Menyuruhku untuk menelfon Boo dan makan bersama dirumah. Hingga terkadang ibu juga menyuruhku untuk mengantarkan hasil masakannya pada Boo.
Sebenarnya siapa anak mereka? Aku atau Boo?!!
Hari ini, di rumah sedang mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk acara ulang tahunku besok. Ada Boo juga disini, dia bilang dia akan menginap dan berjanji padaku untuk jadi orang yang paling pertama mengucapkan ulang tahun padaku.
Kita lihat saja.
Saat ini yang ku lihat Boo sedang sibuk memperhatikan ibu yang sedang memasak di dapur.
Sementara aku, aku hanya menyibukan diriku dengan menonton TV, memeriksa ponselku beberapa kali, bahkan aku juga memotret diam-diam Boo dari kejauhan.
Saat aku memutuskan untuk kembali menonton, tiba-tiba kakakku, kak Sae datang menghampiriku, dia duduk di sebelahku dan memelukku dengan erat tanpa sebab hingga membuat dadaku terasa sesak.
"Apa yang kau lakukan?!" kataku mencoba melepas pelukan kakak tapi sepertinya sia-sia.
Kakak memang memiliki ukuran tubuh yang cukup tinggi dan sedikit lebih besar dariku. Berbeda dengan tubuhku yang kecil dan mungil ini.
"Kak! Lepaskan! Apa kau mencoba membunuh adikmu!!" kataku mulai berteriak.
Kakak malah tertawa dan dia semakin mengeratkan pelukannya.
Ini adalah hal yang memang biasa kakak lakukan jika kakak sedang bahagia. Dan jika sudah begitu, akulah yang selalu menjadi sasarannya.
Aku masih berusaha melepas pelukan kakak. Sementara kakak masih saja memelukku dengan erat.
"IBUUU... KAKAK SUDAH TIDAK WARAS!" teriakku mencoba mencari pertolongan.
Tapi percuma saja, karena ibu sedang sibuk dengan si manusia aneh di dapur. Bahkan aku lihat ibu menyuapi dia untuk mencicipi masakannya.
IBU!
"Jika kau berteriak aku tidak akan melepaskan pelukanku!" ancam kakak.
Siapa yang tahan, tentu saja aku tidak tahan.
"AYAAAHH IBUUU, TOLONG AKU! KAKAK BENAR-BENAR SUDAH GILA!" rengekku mulai menangis.
Kakak pun tertawa dan akhirnya dia melepaskanku dari cengkramannya. Kakak memang sangat senang menggodaku. Dan dia tidak akan pernah berhenti menggodaku sampai aku benar-benar menangis.
Lihat! Sekarang dia tertawa terbahak-bahak sambil memanyun-manyunkan bibirnya padaku.
Sangat menyebalkan!
Saat aku menangis, Boo datang menghampiriku sambil terkekeh dengan mulut penuh dengan makanan.
"Kenapa kau menangis?" tanyanya berdiri di hadapanku seperti seorang pahlawan yang kesiangan.
"Kakak...!" jawabku mengadu pada Boo dengan suara manja.
Boo hanya menatapku heran.
"Aku sangat gemas padanya hari ini. Itu sebabnya aku memeluknya dengan penuh cinta." Kata kakak langsung mendaratkan ciumannya di pipiku lalu dia pergi begitu saja sambil melompat-lompat kegirangan.
Ada apa dengannya? Kenapa kakak sesenang itu hari ini?
Aku pun kembali menangis dengan sangat kencang sambil mengusap-ngusap pipiku yang baru saja kakak cium.
Bukannya membujukku, Boo malah tertawa disampingku sekarang.
Tapi sepertinya dia tidak mendengarkan apa kataku. Dia terus saja tertawa sambil beberapa kali mengacak-ngacak rambutku.
Aku tepis tangan Boo, dan aku tatap wajahnya dengan mata yang ku buat sesinis mungkin hingga membuatnya perlahan terdiam.
"Hey, jangan marah, aku hanya bercanda." katanya mencoba membujukku.
Aku hanya diam dan tidak ingin menjawabnya.
"Jika kau marah aku akan memelukmu seperti yang di lakukan Sae padamu." katanya sudah bersiap merentangkan kedua tangannya padaku.
Melihat Boo seperti itu, aku pun langsung memumukulinya dengan bantal kursi.
-[USB MISSIONS 2049]-
Korea Selatan - Seoul, 29 Desember 2041
Dalam kegelapan malam, aku mencoba memejamkan mataku. Tiba-tiba sesosok bayangan datang mencoba mendekat kearahku.
Itu adalah sesosok bayangan yang selama ini selalu aku impikan.
Unicorn.
Ya, aku melihat Unicorn mendekapku dan memberikan sebuah kecupan di keningku.
"Selamat Ulang tahun Yiren."
Ya Tuhan.
Unicorn itu bisa berbicara?!
Aku sangat bahagia, sampai-sampai aku kesulitan menjawabnya.
Tapi, bayangannya itu perlahan mulai menghilang. Dia pergi meninggalkanku.
~ceklek!!!
Terdengar suara pintu terbuka, dan...
Selamat ulang tahun...
Selamat ulang tahun...
Selamat ulang tahun Yiren,
Selamat ulang tahun....
Yeaaaaahhh...
Suara lantunan sebuah lagu selamat ulang tahun baru saja membuatku terbangun dari tidurku.
Jadi, tadi hanya mimpi?
Ah, sayang sekali padahal aku berharap itu adalah kenyataan.
Aaarrgh, Unicornku... Hiks!
Aku sangat kecewa. Masalahnya tadi terasa seakan nyata. Tapi ternyata itu hanya sebuah mimpi. Ya, mimpi indah di hari ulang tahunku.
Baiklah, tidak apa apa!
Kini, di dalam kamar begitu berisik, apalagi suara kakak yang sudah jelas-jelas terdengar seperti lebah malah dengan tidak tahu dirinya berteriak-teriak di dekat telingaku.
Aku lihat ada Ayah, Ibu, kakak dan...
Eh kemana Boo? Bukankah dia sudah berjanji akan menginap? Atau mungkin dia menginap tapi masih tertidur?
Bahkan, dia sudah sesumbar untuk jadi yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun padaku, tapi nyatanya...
Ah, manusia aneh itu memang menyebalkan!
"Tiup lilinnya!" perintah kakak menyodorkan kue ulang tahun yang dia pegang.
Saat aku akan meniup lilin kue ulang tahunku, ibu malah menghentikanku.
"Eh, berdoalah sebelum meniupnya!" kata ibu menempelkan telapak tangannya pada bibirku agar aku tidak langsung meniup lilin yang sudah menyala di depanku sejak tadi.
Ayah dan kakak hanya terkekeh melihatku.
Aku pun mulai berdoa.
Aneh, bukannya berdoa agar aku bisa meraih harapan-harapanku ke depan. Aku malah berdoa agar aku bisa merayakan ulang tahunku bersama si manusia aneh.
Aku berharap dia selalu bersamaku.
Tanpa sadar aku pun langsung meniup lilinnya hingga padam.
Saat aku tersadar dengan apa yang aku harapkan barusan, Aku pun terdiam.
Dasar bodoh! Apa yang aku harapkan? Mengapa aku mengharapkan dia!
Dan tiba-tiba...
"Surepriseeeeee!!!!!!"
Seseorang muncul dari balik tempat tidurku.
Ya, siapa lagi kalau bukan si manusia aneh.
Apa?! Sebentar!
Sejak kapan dia berada disana?!
Mataku pun langsung melotot saat melihat baju yang dia kenakan.
Dia memakai kostum Unicorn.
Otakku tidak bisa berfikir sekarang. Apalagi setelah melihat pakaian yang si manusia aneh itu kenakan.
Jadi, dia tidur dikamarku?!
Lalu, yang mencium keningku tadi?!
Bukan Unicorn, melainkan dia??!
Haarrggghhh!
Pipiku pun memerah. Entah kenapa, tiba-tiba aku jadi merasa canggung padanya. Mengingat perkataannya yang bilang jika dia akan jadi pertama yang untuk mengucapkannya.
Tahun 2040, yang sempat di rumorkan akan menjadi tahun masa depan bagi Bumi, ternyata masih menjadi sebuah harapan bagi umat manusia. Bumi masih saja seperti sebelumnya, tidak ada perubahan yang begitu signifikan.
Keserakahan, ketidakadilan, pembunuhan, perampokan, dan lain sebagainya masih saja terjadi dimana-mana. Di tambah lagi, di tahun ini semua orang baru saja memulai kembali kehidupan mereka setelah hampir selama 2,5 dekade mengalami pandemik yang melumpuhkan beberapa sistem tatanan di setiap negara dan masalah keuangan global.
Namaku Wang Yiren, orang-orang biasa memanggilku Yiren. Aku lahir di China, 29 Desember 2025 dan pindah ke Korea pada tahun 2034 karena Ayah yang harus menggantikan posisi kepala rumah sakit di sana selama sementara waktu.
Saat ini aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dikarenakan beberapa bulan mendatang aku akan memasuki masa ujian kenaikan kelas, jadi sekarang aku lebih sering menghabiskan waktu akhir pekanku di sebuah perpustakaan. Dan di sanalah aku sering bertemu dengan seorang mahasiswa yang aneh.
Entah siapa namanya, tapi hanya dialah yang selalu ku lihat di perpustakaan setiap akhir pekan. Sebenarnya aku sudah sering melihatnya, bukan cuma akhir pekan, tapi saat hari-hari biasa pun juga aku selalu melihatnya ada di sana. Aku tidak mengenal orang itu secara dekat. Kami hanya sering bertukar senyum jika tidak sengaja berpapasan dan tidak lebih dari itu.
Ada hal yang membuatku selalu ingin tertawa setiap kali melihatnya. Yang pertama, aku sering melihat dia melamun di perpustakaan dengan wajah konyolnya, lalu melihatnya menangis tanpa suara saat melihat tumpukan-tumpukan buku yang ada dihadapannya.
Dan yang kedua, aku juga sering melihatnya sibuk menghitung semua benda yang ada disekitarnya. Sampai-sampai aku pernah melihatnya berdebat dengan seorang pengendara motor yang mengebut dan hampir saja menabrak seorang nenek tua yang sedang menyebrang.
Ya, awalnya tidak ada pertikaian diantara mereka. Bahkan, si pengendara motor itu pun juga sudah meminta maaf terlebih dahulu. Tapi, karena dia mengeluarkan rumus fisika saat menasehati si pengendara, disitulah awal perdebatan panjang mereka di mulai.
Sejak saat itulah aku mulai menyebutnya Manusia Aneh.
Oh iya, hari ini sekolahku hanya berlangsung setengah hari. Aku memutuskan pulang dengan berjalan kaki karena jarak rumahku yang tidak terlalu jauh.
Diperjalanan pulang, aku melihat seorang anak berusia 7 tahun sedang menangis karena balon yang dia pegang terlepas dan terbang tinggi ke langit.
Tanpa diduga, ternyata aku melihat manusia aneh itu sedang melakukan hal konyolnya lagi. Bukannya menolong atau membujuk, manusia aneh itu malah sibuk menghitung kecepatan balon yang terbang disamping anak yang sedang menangis itu dengan santai.
Melihat itu, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Aku pun menghampiri anak kecil itu dan berniat untuk membujuknya agar berhenti menangis.
"Hey ada apa? Mengapa menangis?" tanyaku mengusap kepala anak kecil itu.
Dan dia masih saja menangis sambil menunjuk balonnya yang sudah terbang tinggi padaku.
"Ya... kecepatan angin hari ini 16-18km/jam." gumam manusia aneh itu tiba-tiba sambil melihat kembali catatannya tanpa menghiraukan keberadaanku dan anak kecil tadi.
Setelah berbicara seperti itu, aku lihat manusia aneh itu melemparkan senyumannya dan mengeluarkan botol kecil dari saku celananya. Setelah itu, tanpa basa-basi dia langsung menyemprotkan botol yang berisi cairan hand sanitizer pada kedua lengan anak itu hingga terdiam. Bukan cuma anak itu, tapi dia juga menyemprotkan tanganku dengan sangat rusuh sekarang.
Aku dan anak kecil itu hanya terdiam karena tidak bisa memahami sikapnya.
Setelah menyemprotkan hand sanitizer dengan seenaknya, manusia aneh itu pun bangkit sambil melihat kearah jam ditangannya.
"Bisa kalian tunggu aku sebentar disana?" pintanya sambil menunjuk bangku yang ada di dekat danau.
Sebenarnya aku agak kesulitan menjawab, karena aku masih mencoba mencerna apa yang akan dia lakukan lagi setelah ini?
Menghitung perbandingan gerak daya tubuhku dan anak kecil tadi atau apa?
"Ayoklah! Tunggu sebentar saja. Aku tidak akan lama," lanjutnya langsung pergi saat aku akan menjawabnya.
Anak kecil tadi tiba-tiba menarik bajuku beberapa kali. Dan, saat aku menoleh kearahnya, anak itu berkata, "Apa dia orang gila baru di kota ini?"
Mendengar apa yang terlontar dari bibir mungil anak kecil itu malah membuatku jadi salah tingkah. Aku hanya takut manusia aneh itu kembali dan mendengar apa yang dikatakan anak kecil dihadapanku.
Tanpa merespon pertanyaannya, aku segera menarik tangan anak itu untuk menuruti apa yang di suruh manusia aneh tadi. Ya, menunggunya di bangku taman dekat danau.
Tidak berselang lama, aku melihat manusia aneh itu kembali, dia berlari kearah dimana aku dan anak tadi duduk sambil membawa bungkusan kecil ditangannya.
Aku menatap heran saat si manusia aneh terhenti dihadapanku sambil mengatur nafasnya yang terdengar memburu.
"Maaf lama menunggu, ini untukmu, untukmu, untukmu dan untukmu." katanya sambil mengeluarkan 2 buah es krim dan 2 botol air mineral untukku dan untuk anak kecil tadi.
"Waaaahh, es krim?? Terima kasih kak."
Anak itu pun terlihat senang sekarang. Dia langsung memakan es krimnya dengan lahap.
Manusia aneh itu pun hanya tersenyum sambil ngusap lembut pucuk kepala anak itu beberapa kali.
Aku? Aku juga sedang menikmati es krim gratisku saat ini. Tapi pandanganku tidak beralih dari interaksi mereka berdua.
"Hyunjiii...!"
Teriakan itu berhasil membuat kami bertiga menoleh kearah sumber suara.
Seorang wanita dewasa sedang melambai kearah anak yang duduk disampingku.
"Ibu...!" teriak anak kecil itu langsung pergi meninggalkanku dan manusia aneh yang masih berdiri di hadapanku.
Aku tidak mengerti mengapa dia tidak duduk dan malah berdiri menghalangi pandanganku untuk melihat Hyunji berjalan kearah ibunya.
Ah, anak itu bernama Hyunji rupanya.
"Aku kira dia adikmu?" tanya si manusia aneh itu padaku dan malah membuatku kaget.
"Apa?!"
"Hehe tidak tidak." katanya terkekeh dan langsung duduk disampingku dengan seenaknya.
Karena merasa kurang nyaman, aku pun sedikit bergeser untuk menjaga jarakku dengan manusia aneh yang sekarang duduk begitu dekat disampingku.
Walaupun aku sering melihatnya di perpustakaan, dan selalu melihatnya tersenyum padaku, tapi tetap saja kan dia itu adalah orang asing?
Tidak peduli, aku pun kembali menyantap es krimku yang mulai meleleh.
Dan, tiba-tiba aku kembali dibuat kaget saat manusia aneh itu mencoba mengulurkan tangannya kearahku.
Aku hanya terdiam dengan penuh tanda tanya dalam otakku.
"Boo..."
Oh namanya Boo?
Dasar bodoh! Aku malah melamun sambil mencoba mengingat namanya.
Karena lama menunggu respon dariku, Boo pun malah menatap tangannya dengan heran. Dan setelah itu dia langsung menyemprotkan cairan hand sanitizer ke tangannya dan kembali mengulurkan tangannya lagi kearahku.
"Percayalah, tanganku bebas dari virus, kandungan hand sanitizer punya ku memiliki kadar alcohol 75%, standar dan tidak akan membuat tanganmu rusak." jelasnya sambil tersenyum.
Mendengarkan penjelasan darinya, tentu saja itu malah membuatku jadi ingin tertawa.
Ternyata keherananku malah berbeda dengan apa yang difikirkan olehnya.
Sebenarnya aku sama sekali tidak memikirkan tentang virus-virus yang ada ditangannya. Hanya saja, aku merasa sedikit keheranan karena baru saja aku diajak berkenalan oleh orang asing.
Setelah puas tertawa, Aku pun raih tangannya, dan ku jabat lembut tangannya sambil berkata, "Yiren."
Dia yang sebelumnya menatapku heran karena melihatku tertawa, akhirnya mulai tersenyum.
"Namaku Mbie Debby, Mahasiswa Science and Technology bidang studi Astrophysics tingkat 2. Kau boleh memanggilku Boo, kiyowo, cute, atau apapun itu terserah." katanya kembali memperkenalkan diri dengan sangat lengkap.
"Manusia steril." Kataku nemotong perkataannya sambil terkekeh dan itu berhasil membuatnya kembali terdiam.
Ya, dia hanya diam dengan wajah yang bingung.
"Katamu bukankah aku boleh memanggilmu apapun?" tanyaku heran karena dia malah terdiam menatapku dengan matanya yang membulat.
"I-iya..."
"Baiklah, manusia steril."
Ku lihat dia hanya terkekeh dengan wajah herannya sambil beberapa kali menggaruk tengkuk lehernya.
Aku yakin, dia sebenarnya tidak senang dengan panggilan yang aku buat untuknya. Dia hanya terlihat berpura-pura menyukainya.
Entahlah, tapi dia memang manusia steril.
Dan ini adalah awal perkenalanku dengan Boo si manusia steril, manusia aneh, dan apalagi ya? Sepertinya akan ada banyak nama panggilan untuknya setelah ini.
-[USB MISSIONS 2049]-
Korea Selatan - Seoul, 13 April 2041
Sudah beberapa hari ini, aku menjadi kelinci percobaan seorang manusia Alien. Haha ya, itu adalah sebutan baru ku untuk Boo.
Sejak perkenalanku dengannya saat itu, setiap kami bertemu di perpustakaan kami pasti selalu pulang dan makan siang bersama. Dari hari ke hari kami pun semakin akrab layaknya seorang teman.
Oh iya, tentang kelinci percobaan, saat ini dia sedang mengerjakan project karya ilmiahnya tentang sebuah alat yang mirip GPS yang sengaja dia pasang di lenganku seperti sebuah jam tangan.
Memang terlihat biasa saja, tapi ternyata lama-kelamaan benda ini malah mengangguku.
Bayangkan saja, dia selalu tahu dimana posisiku, dan tahu apa yang sedang ku kerjakan.
Apakah aku sudah tidur atau belum bahkan saat aku berada di dekat Ayah, ibu atau kakakku pun juga dia tahu.
Dasar penguntit nakal!
Sungguh menyebalkan, dan rasanya ingin sekali aku lepas benda aneh ini. Tapi jika aku lepas, manusia alien itu tidak akan memberikanku imbalan atas kerja kerasku ini.
~Pluuuppp!!!
Saat aku akan melangkah menuju ke kamar mandi, aku mendengar sebuah pesan masuk di ponselku. Saat aku lihat layar ponselku ternyata Boo mengirimiku pesan.
BOO
Boo
[ 37°29′4 8″LU 127°01′39″BT ]
[ Temp : 18°C ]
Yiren
[ Apa? ]
Boo
[ Teraktir aku. ]
Yiren
[ Heh, untuk apa aku mentraktirmu? ]
Boo
[ Sedikit beramallah pada pengembara. ]
Yiren
[ Tidak mau! ]
[ Lagi pula aku harus pergi dengan kakak. ]
Boo
[ Kemana? ]
Yiren
[ Bukan urusanmu! ]
Boo
[ Kenapa jahat sekali? ]
Itulah percakapan terakhir kami.
Sungguh, aku tidak berbohong. Kakak memang memintaku mengantarnya untuk menemui seseorang.
Entah siapa yang sebenarnya akan dia temui hingga dia harus meminta bantuan ku untuk berbohong pada ayah dan ibu.
-[USB MISSIONS 2046]-
Aku dan kakak, kami sedang berada di sebuah taman sekarang.
Sebenarnya, aku sedikit merasa berdosa pada ayah dan ibu karena sudah berbohong meminta izin pada mereka untuk mencari buku. Padahal kami bukan pergi ke toko buku, melainkan menemani kakak bertemu dengan seorang pria.
Awalnya aku kira dia hanya akan menemui seorang kakak tingkatnya yang berambut seperti mangkuk sup yang biasa aku lihat.
Tapi, aku sangat terkejut saat aku menyadari bahwa kakak ternyata memiliki hubungan dengan seorang aktor terkenal dan mantan boygroup bernama Lee Hyunjae.
Ya Tuhan, sihir apa yang kakak gunakan untuk menarik seorang Lee Hyunjae?
Dunia benar-benar gila, Hyunjae seorang aktor terkenal bagaimana mungkin bisa menyukai kakak yang hobbynya mendengkur, si koyo lovers jika sedang demam, dan hobby menjilat lendir hidungnya saat kecil??
Eeeewwwhhhh...
Aku tidak berhenti menatap keduanya menurutku ini adalah sebuah kejanggalan yang cukup aneh. Apalagi saat aku lihat Hyunjae terlihat begitu tergila-gila pada kakak, sementara kakak? Dia malah terlihat jual mahal.
Ingin sekali rasanya aku memaki kakak yang berlaga seperti seorang putri saat ini.
Baiklah, sampai dirumah nanti aku berjanji akan mendesak kakak agar memberikan mantra sihirnya itu padaku. Siapa tahu, aku bisa menarik perhatian seorang pria kaya raya yang tampan melebihi Hyunjae kan.
Setelah mengantarkan kakak bertemu dengan Hyunjae, kami pun pulang kerumah.
Aku mengikuti langkah kakak masuk ke kamarnya sambil mencoba mendesak kakak agar dia memberitahuku rahasia bagaimana Hyunjae bisa menyukainya, dan mantra apa yang dia gunakan.
"Cepat beri tahu aku apa mantranya?!"
Kakak malah mendelik saat aku merengek memaksanya.
"Mantra apa?"
"Mantra sihir mu?"
"..."
Tidak ada respon dari kakak, dia hanya menatapku heran.
Kakak bangkit merubah posisi yang sebelumnya telengkup menjadi duduk lalu dia mensejajarkan posisinya denganku.
"Sebenarnya mantra apa yang kau bicarakan?!" ketusnya.
Aku pun memutuskan untuk menghentikan pembicaraanku. Apalagi ketika aku melihat wajah kakak sudah memasuki aura menyeramkannya sekarang. Tapi, sepertinya kakak yang malah terlihat antusias sekarang.
"Kau pasti berfikir yang tidak-tidak kan tentangku? Mantra? Kau fikir aku Elsa dalam film frozen? Ah, Yiren yang benar saja!"
"Bagaimana tidak, ini begitu mengejutkan. Mana mungkin Hyunjae bisa menyukaimu? Dia itu seorang aktor dan mantan Idol Kpop bagaimana mungkin? Sungguh diluar nalar." kataku melipat tanganku didepan dada.
"Ya, mungkin karena aku memang mempesona?" jawabnya sombong dengan percaya diri dan itu membuatku sangat mual sekarang.
"Hey, kau cemburu?!"
"Cemburu? Tentu saja tidak!" tegasku.
"Halah, bukankah kau penggemarnya?"
"Tidak!!!"
"Bohong!"
"Kakak kumohon hentikan!" bentakku kesal dengan wajah yang ku buat sinis.
Kakak hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah nona pemarahku." katanya langsung mencium pipiku dan setelah itu dengan tanpa dosanya dia meninggalkanku sendirian di kamarnya.
Menyebalkan sekali!
-[USB MISSIONS 2049]-
Korea Selatan - Seoul, 10 Mei 2041
Hari ini adalah hari terakhirku melaksanakan ujian kenaikan kelas. Ada beberapa nilai mata pelajaran yang sudah muncul dan membuatku sedikit sombong saat melihat hasilnya.
Ya, aku mendapatkan nilai terbaik dengan hasil tidak kurang dari 95 dengan poin tertinggi di kelas.
Aku sangat senang karena apa yang ku lakukan dengan mengorbankan akhir pekanku selama ini ternyata membawakan hasil yang sangat baik.
Saat aku masih berdiri di papan pengumuman, aku tidak sengaja mendengar beberapa anak di belakangku sedang membicarakanku.
"Bagaimana bisa si perempuan China itu mendapat poin tertinggi di kelas?"
"Kau benar, bahasa Koreanya saja tidak jelas."
Entah memang disengaja atau tidak tapi itu berhasil membuatku mulai tidak nyaman.
"Sepertinya dia menyogok kepala sekolah."
Karena kesal aku pun menoleh dan mereka pun langsung terdiam dan saling menyikut satu sama lain.
Tidak, aku bukan seorang remaja perempuan dengan julukan badgirl yang bisa mengutarakan kemarahanku secara langsung di depan banyak orang. Dan aku juga bukan tokoh utama dalam film yang memiliki keberanian penuh untuk itu. Aku hanyalah Wang Yiren, seorang remaja perempuan berkewarganegaraan China yang hanya besar di Seoul.
Alasanku tidak membalas perkataan mereka, karena aku hanya ingin mencoba menunjukan citra terbaik wanita China di negara ini. Karena jika aku ikut berkoar untuk memarahi mereka satu persatu. Sudah dipastikan citra wanita China akan buruk di mata mereka.
Aku hanya terdiam dan setelah itu aku pergi meninggalkan mereka yang mungkin akan kembali membicarakanku setelah aku pergi.
-[USB MISSIONS 2049]-
Aku duduk di sebuah bangku taman, rasanya sedikit menyakitkan mengingat perkataan teman-temanku.
Bagaimana mungkin hasil kerja kerasku selama ini mereka anggap aku telah menyogok kepala sekolah?
Ah yang benar saja!
Aku hanya butuh 10 bulan lagi untuk melanjutkan pendidikanku di sekolah itu. Ya, 10 bulan bukan waktu yang lama untukku. Setelah itu, aku tidak akan bertemu lagi dengan mereka.
Saat ini pandanganku hanya menatap lurus. Entah apa yang sebenarnya aku lihat. Tapi, otakku masih saja terbayang tentang pembicaraan mereka tadi.
Apa yang salah dari ku?
Apa karena aku seorang imigran China, jadi aku tidak berhak mendapat nilai tertinggi sekolah Korea?
Sangat menyebalkan.
Tiba-tiba aku mendengar suara yang cukup mengganggu telingaku.
Tittt~
Tittt~
Tittt~
Dan itu berhasil membuatku sedikit kaget. Aku lihat dengan seksama benda yang menempel di lenganku. Dan ku coba dekatkan benda itu ke telingaku. Ternyata memang benar, suara itu memang muncul dari benda itu.
Saat aku mencoba mencari cara untuk mematikan bunyi yang keluar dari benda itu, tiba-tiba seseorang datang.
"Suasana hatimu sedang kurang baik. Suhu badanmu bahkan sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Apa yang membuatmu seperti ini?"
Siapa lagi kalo bukan si manusia aneh.
Dia datang sambil memegangi keningku yang langsung aku tepis. Dan setelah itu dia pun duduk disampingku sambil menatapku dengan tatapan cemas.
Dan, benda itu pun berhenti berbunyi dengan sendirinya.
Aku hanya bisa diam. Entah apa yang harus aku jawab sekarang. Aku tahu dia adalah teman baruku sekarang, tapi aku masih belum bisa bercerita banyak padanya. Lagi pula jika ku lihat-lihat, manusia ini terlihat sedikit menyebalkan. Bisa saja setelah aku menceritakan semuanya dia malah mentertawakanku.
"Hey, ayoklah. Aku benci melihatmu cemberut seperti ini."
Dia berkata seperti itu karena tidak merasakan apa yang sedang aku rasakan.
Aku hanya memutar bola mataku malas tanpa merespon perkataannya.
"Baiklah, jika kau tidak mau bercerita." katanya yang sekarang malah ikut cemberut.
Melihat hal itu, aku malah jadi kesal melihatnya.
"Kenapa kau ikut memanyunkan bibirmu? Menyebalkan sekali melihat wajahmu seperti itu!" kataku mendelik kesal.
"Habis, kau cemberut, yasudah aku juga ikut cemberut."
Apa-apaan manusia ini?
"Ayok ikut aku!" katanya menarik tanganku.
Aku tidak tahu kemana dia akan membawaku. Tangannya menarik tanganku dengan sangat hati-hati.
Saat sampai disebuah tempat, aku sedikit heran. Aku fikir dia akan membawa ku ke tempat indah untuk membuat perasaanku menjadi lebih baik seperti adegan yang ada di film-film, tapi ternyata tidak. Dia malah membawaku ke perpustakaan.
Apa dia sedang mencoba membuatku tambah pusing?
"Kenapa kau membawaku kesini? Aku sudah menyelesaikan ujianku. Tidak ada lagi perpustakaan. Sudah cukup. Kumohon!" kataku memohon sambil menempelkan kedua telapak tanganku.
"Kau ini percaya diri sekali." Katanya membuatku jadi bingung.
"Sebentar, kau tunggu aku disini. Aku akan mengembalikan buku ini dulu pada Beardy."
Beardy adalah nama penjaga perpustakaan. Aku juga mengenal Beardy semenjak aku sering mengunjungi perpustakaan. Tapi, sepertinya Boo terlihat sangat akrab sekali dengan Beardy.
Setelah aku menunggu Boo dengan urusannya, akhirnya dia kembali menarik tanganku dan mengajakku keluar dari sana.
Selama dia menarik tanganku, aku hanya bisa mendengus pelan.
Moodku sedang tidak bagus hari ini. Jadi, terserah padanya saja akan membawaku pergi kemana. Aku tidak peduli. Aku sedang kesal!
Sampai disebuah kedai ramen, aku lihat Boo langsung memesan ramen dengan tangan yang masih saja menarik tanganku. Hingga membuat pandangan beberapa orang tertuju kearah ku dan Boo.
Pasti mereka menyangka bahwa kami...
Aaaah! Aku tutup saja wajahku dengan sebelah tanganku.
Setelah memesan ramen dan mendapatkan 2 bungkus ramen, Boo kembali menarik tanganku.
Ya Tuhan, beri aku kesabaran menghadapi manusia aneh ini!
Sampai di sebuah tempat dengan padang rumput yang luas. Mataku dibuat tidak berkedip. Jujur, selama aku tinggal di Korea aku bahkan baru mengetahui tempat ini.
Aku sangat terpukau dengan tempat ini. Sementara Boo, dia sedang sibuk merentangkan sapu tangannya di atas rerumputan.
"Ayok duduklah!"
Eh, aku kira dia menaruh sapu tangan itu untuk alas ramen yang dia beli tadi. Tapi ternyata, itu dia siapkan untukku duduk.
Aku hanya terdiam.
"Apa kau akan terus berdiri disana? Kau tidak akan merasa gatal. Ayok." Lanjutnya lagi.
Dan akhirnya akupun menuruti apa perintah manusia aneh yang ada dihadapanku.
Perlahan aku duduk sambil memperhatikan dia yang sedang sibuk menyiapkan ramen untukku.
"Aku tidak tahu kau suka makanan pedas atau tidak, aku lupa menanyakannya padamu tadi. Hehe." Katanya polos sambil terkekeh.
"Tidak apa-apa, aku suka makanan pedas."
"Baiklah, ini..." katanya memberikan ramen yang sudah dia siapkan untukku.
"Terima kasih."
Dia tidak menjawab dan hanya merespon dengan senyuman lalu sibuk menyeruputi ramen miliknya.
Entahlah, bagaimana bisa dengan sesederhana ini aku bisa melupakan apa yang membuatku kesal sebelumnya.
Ramen hangat, padang rumput, senja hari, dan manusia aneh.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hari ini langkah kakiku sedikit lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Ini bukan karena aku memenangkan sebuah voucher untuk makan gratis sepuasnya. Tapi, karena tepat hari ini dia akan kembali pulang.
Ya, dia yang saat ini sedang berada dalam sebuah misi Planet Mars sudah tidak terasa telah menghabiskan masa 3 tahunnya. Waktu yang tidak mudah bagiku untuk menghabiskan hari-hariku hanya seorang diri.
Ketika dia kembali, akan ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya. Aku ingin dia mendengarkan semuanya! Jika dia menolak untuk melakukannya, aku bersumpah bahwa aku akan memilih untuk pulang ke rumah orang tuaku.
Memang terdengar egois, tapi bagaimana denganku?
Aku yang sudah terlalu lama bersabar menunggunya ini hanya ingin dia tahu, bahwa selama 3 tahun ini aku tidak pernah sedetik pun mengalihkan semua fikiranku darinya.
~Pluuuppp!!!
Aku mendengar nada pesan dari ponselku. Aku lihat dilayar nama Tori muncul dengan foto yang tidak pernah dia rubah sejak pertama kali kami bertukar nomor telfon.
"Dia pasti menanyakan keadaanku lagi."
Tori atau yang bernama asli Victoria ini adalah seorang Research or Clinical Health Psychologist di NASA, dia adalah orang yang selama ini paling sering menanyakan keadaanku setiap hari bahkan setiap saat. Dan, jika akhir pekan tiba, dia selalu mengajakku pergi keluar hanya untuk sekedar minum teh bersama dan berbagi cerita.
Pertemanan kami berawal sejak 9 tahun yang lalu saat pertama kali Boo mendapatkan tugas pertamanya untuk penelitian ke hutan tropis bersama timnya. Dan sejak saat itulah pertemanan kami semakin dekat hingga akhirnya para crew dari Unicorn Space Beam berangkat untuk misi ke Planet Mars.
Ya, ini karena ulahnya, Boo. Dia yang selalu menitipkanku dengan seenaknya pada Tori seperti anak bayi yang di titipkan pada tetangga sebelah rumahnya. Dia memang gila!
Bukan hanya Tori, tapi dia menitipkanku kepada semua orang-orang yang ada di kantor NASA. Sungguh sangat membuatku malu!
Tapi, disisi lain aku cukup senang, karena dengan itu aku tahu bahwa betapa dia sangat menyayangiku dan tidak ingin melihatku sendirian karena menunggunya kembali.
Saat itu, dia berpesan pada semua orang di NASA, jika aku tidak dijaga dengan baik, dia mengancam akan membajak pesawat dan membuat keonaran di ruang angkasa. Haha dia memang gila, bukan?
Dan sejak saat itulah, aku mengenal banyak teman-teman barunya di NASA. Hmm, memang tidak semua, tapi itu cukup membuatku merasa memiliki banyak pelindung. Aku jadi tidak merasa sendirian sampai dia kembali nanti.
Ketika aku mulai membaca pesan Tori, aku sangat terkejut. Dadaku tiba-tiba terasa begitu sesak dan otakku pun jadi sulit untuk berfikir.
VICTORIA
Tori
[ Yiren, bisa kah kau datang ke kantor pusat? ]
[ Ada hal penting yang ingin kami sampaikan, ini soal para crew USB.]
(Note : USB adalah singkatan dari Unicorn Space Beam)
Pesan Tori memang terlihat biasa saja, tidak ada hal yang mengarah ke kabar buruk dan juga tidak mengarah pada kabar baik.
Ini terasa membingungkan. Karena tiba-tiba, perasaanku malah jadi tidak enak dibuatnya. Bahkan entah mengapa, aku malah ingin menangis sekencang-kencangnya.
Entahlah, ini aneh! Mengingat selama ini Tori tidak pernah membicarakan hal penting tentang itu. Tapi hari ini, ada apa???
Aku bangkit dari posisi dudukku sambil meraih mantelku dan setelah itu aku bergegas pergi meninggalkan ruang kerjaku.
Saat sampai dihalaman kantor pusat NASA, disana aku bertemu dengan Bright, dia adalah seorang pemuda baik dengan posisi Human Resources Specialist di NASA. Dia juga adalah salah satu yang Boo percayakan untuk menjagaku disini.
Dulu sebelum Boo pergi melakukan perjalanan antariksanya, kami sering sekali pergi bersama untuk piknik. Bright adalah pribadi yang cukup menyenangkan dan konyol. Sama sepertinya, mereka berdua sangat konyol jika sudah dipertemukan dan selalu saja membuatku tertawa.
"Akhirnya kau datang juga, Tori sudah menunggumu. Ayok!" katanya menyapaku dengan wajah yang terlihat cukup gelisah.
Bright langsung mendorong punggungku agar aku melangkah sedikit lebih cepat.
Sampai di sebuah ruangan, aku melihat Tori dan beberapa timnya sedang duduk dengan wajah yang sulit diartikan.
Tori yang menyadari kedatanganku pun langsung berlari menghampiriku dan tiba-tiba dia memelukku dengan begitu erat, hingga membuatku bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi sebenarnya?
"Ayok duduk!" kata Tori menarikku untuk duduk dikursi yang sebelumnya dia duduki.
Aku masih kebingungan dengan keadaan ini. Beberapa orang yang ada disana bahkan seolah tidak mau berlama-lama menatap wajahku.
"Ada apa?" tanya ku semakin penasaran pada Tori.
Tori menarik nafasnya pelan, dia terlihat berfikir sebelum akhirnya dia membuka suaranya.
"Yiren, aku harap setelah mendengar kabar ini kau akan baik-baik saja."
Lidahku terasa keluh, aku tidak ingin menebaknya, tetapi fikiranku sudah lancang menebak dengan sendirinya.
"Tolong katakan, ada apa sebenarnya?!" kataku sedikit mengeraskan nada bicaraku.
Aku tatap semua wajah mereka bahkan Bright pun malah tertunduk sekarang.
"Kami kehilangan kontak dengan semua crew USB." Jelas Tori.
Mendengar apa yang dikatakan Tori aku sedikit tersentak.
"Apa?!"
"Sejak tadi malam sekitar pukul 22.06 semua kontak terputus. Beberapa dari kami sedang mencari tau apa yang sedang terjadi disana." Lanjut Tori.
"Tapi, bukankah hari ini adalah hari keberangkatan mereka untuk kembali pulang ke Bumi??" tanya ku masih belum percaya.
Tori menatap Bright sebentar, dan setelah itu dia memegangi bahuku.
"Aku hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja." Jawabnya dengan nada yang terdengar begitu lirih.
Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Tori rasanya begitu membuatku enggan mempercayainya. Terasa seperti sebuah mimpi, tapi begitu sangat menyakitkan.
Fikiranku kembali menuju hari itu, hari dimana dia akan pergi dengan senyuman di wajahnya yang masih terbayang dengan sangat jelas di memori otakku.
Dia pergi seolah memberikan harapan bahwa dia akan kembali. Tapi, aaahh... Entahlah, mengapa semua jadi seperti ini?!
Dari arah luar, seseorang melambaikan tangannya pada Tori. Tori hanya merespon dengan anggukan kecil dan meninggalkanku dengan usapan lembut di kepalaku. Selama ini, dia memang seperti seorang kakak bagiku di Houston.
Aku melihat Tori berbicara dengan beberapa staff lainnya dibalik pintu kaca. Ku lihat mereka terlihat sangat serius dengan wajah yang terlihat semakin cemas.
Melihat semua hal ini aku jadi semakin yakin bahwa keadaan di Planet Merah itu memang sedang tidak baik-baik saja.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Apa yang terjadi padanya?
Apa dia baik-baik saja atau...?
Ya Tuhan, tolong lindungilah dia untukku.
"Yiren..."
Aku menoleh saat Bright memanggil namaku.
"Aku yakin dia pasti pulang. Bukan kah dia adalah jagoan kita?" kata Bright dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dan saat itulah, pertahananku mulai roboh, apalagi saat aku melihat beberapa keluarga dan kerabat para Astronot lainnya yang mulai berdatangan sambil menangis.
Dan setelah ini, apa aku masih boleh berharap lebih?
Apa aku masih diperbolehkan untuk memaksa?
Atau, apakah aku bisa memutar waktu agar aku bisa menahannya pergi dan menuruti ego ku agar dia menemaniku disini saja?
Jika aku bisa mencegahnya, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Mungkin saat ini dia sedang bersama ku, disampingku.
-[USB MISSIONS MARS 2049]-
Amerika Serikat - Houston, 5 Agustus 2052
3 tahun berlalu, hari dimana aku yakin jika dia akan kembali lagi untukku, tapi nyatanya hanya sebuah harapan kosong!
Sudah hampir 12 hari sejak aku menerima kabar menyakitkan tentangnya. Tidak ada lagi kabar apapun, seluruh staff NASA bahkan terlihat masih mondar mandir bekerja sama untuk mencari tahu apa yang terjadi disana dan masih belum menemukan titik terang.
Saat ini, seluruh staff antariksa dari berbagai negara juga ikut andil untuk membantu. Pasalnya, semua robot yang sempat mereka lepas menuju Mars juga sama-sama kehilangan kontak.
Ada beberapa rumor berkembang jika mereka telah tewas karena gagal keluar dari atmosfir Mars saat akan kembali ke Bumi. Dan, ada juga yang mengatakan bahwa kapal mereka dibajak oleh makhluk asing.
Omong kosong macam apa ini?!!!
Jelas aku tidak percaya! Apalagi pada mereka yang bersikeras mengatakan bahwa mereka telah tewas. Itu tidak mungkin!
Aku bahkan masih bisa merasakan detak jantungnya disini. Dan aku sangat yakin bahwa dia masih hidup!
Aku tidak mengerti, bagaimana cara semesta bekerja. Mengapa semesta bisa sekejam ini membiarkanku berjuang sendirian setelah aku menunggunya begitu lama.
Padahal, sebelumnya dia sudah berjanji untuk terus disampingku selamanya. Dan, dia juga sudah berjanji untuk kembali pulang, tapi mengapa? Mengapa dia meninggalkanku dengan cara seperti ini?
Sakit! Aku hancur sekarang. Tanpanya semua terasa begitu berat. Aku merasa hidupku kehilangan arah dan tujuan.
Boo... tolong, jangan buat semua ini jadi yang terakhir untuk kita. Bukankah kita masih memiliki banyak mimpi yang belum kita wujudkan bersama?
Bahkan, kau sudah berjanji untuk menghabiskan waktu bersamaku setelah ini? mengajakku pergi ke tanah Africa, berkeliling untuk melihat kebudayaan yang ada di muka Bumi, mengajaku mendaki gunung, mengunjungi air terjun, dan memelihara 10 ekor anak kucing bersama-sama???
Sungguh, begitu banyak janji yang kau buat, tapi kenapa kau mengingkari semuanya ???
Tolong kembalilah...
Aku sangat membutuhmu...
Ku mohon.