Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Hari ini langkah kakiku sedikit lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Ini bukan karena aku memenangkan sebuah voucher untuk makan gratis sepuasnya. Tapi, karena tepat hari ini dia akan kembali pulang.
Ya, dia yang saat ini sedang berada dalam sebuah misi Planet Mars sudah tidak terasa telah menghabiskan masa 3 tahunnya. Waktu yang tidak mudah bagiku untuk menghabiskan hari-hariku hanya seorang diri.
Ketika dia kembali, akan ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya. Aku ingin dia mendengarkan semuanya! Jika dia menolak untuk melakukannya, aku bersumpah bahwa aku akan memilih untuk pulang ke rumah orang tuaku.
Memang terdengar egois, tapi bagaimana denganku?
Aku yang sudah terlalu lama bersabar menunggunya ini hanya ingin dia tahu, bahwa selama 3 tahun ini aku tidak pernah sedetik pun mengalihkan semua fikiranku darinya.
~Pluuuppp!!!
Aku mendengar nada pesan dari ponselku. Aku lihat dilayar nama Tori muncul dengan foto yang tidak pernah dia rubah sejak pertama kali kami bertukar nomor telfon.
"Dia pasti menanyakan keadaanku lagi."
Tori atau yang bernama asli Victoria ini adalah seorang Research or Clinical Health Psychologist di NASA, dia adalah orang yang selama ini paling sering menanyakan keadaanku setiap hari bahkan setiap saat. Dan, jika akhir pekan tiba, dia selalu mengajakku pergi keluar hanya untuk sekedar minum teh bersama dan berbagi cerita.
Pertemanan kami berawal sejak 9 tahun yang lalu saat pertama kali Boo mendapatkan tugas pertamanya untuk penelitian ke hutan tropis bersama timnya. Dan sejak saat itulah pertemanan kami semakin dekat hingga akhirnya para crew dari Unicorn Space Beam berangkat untuk misi ke Planet Mars.
Ya, ini karena ulahnya, Boo. Dia yang selalu menitipkanku dengan seenaknya pada Tori seperti anak bayi yang di titipkan pada tetangga sebelah rumahnya. Dia memang gila!
Bukan hanya Tori, tapi dia menitipkanku kepada semua orang-orang yang ada di kantor NASA. Sungguh sangat membuatku malu!
Tapi, disisi lain aku cukup senang, karena dengan itu aku tahu bahwa betapa dia sangat menyayangiku dan tidak ingin melihatku sendirian karena menunggunya kembali.
Saat itu, dia berpesan pada semua orang di NASA, jika aku tidak dijaga dengan baik, dia mengancam akan membajak pesawat dan membuat keonaran di ruang angkasa. Haha dia memang gila, bukan?
Dan sejak saat itulah, aku mengenal banyak teman-teman barunya di NASA. Hmm, memang tidak semua, tapi itu cukup membuatku merasa memiliki banyak pelindung. Aku jadi tidak merasa sendirian sampai dia kembali nanti.
Ketika aku mulai membaca pesan Tori, aku sangat terkejut. Dadaku tiba-tiba terasa begitu sesak dan otakku pun jadi sulit untuk berfikir.
VICTORIA
Tori
[ Yiren, bisa kah kau datang ke kantor pusat? ]
[ Ada hal penting yang ingin kami sampaikan, ini soal para crew USB.]
(Note : USB adalah singkatan dari Unicorn Space Beam)
Pesan Tori memang terlihat biasa saja, tidak ada hal yang mengarah ke kabar buruk dan juga tidak mengarah pada kabar baik.
Ini terasa membingungkan. Karena tiba-tiba, perasaanku malah jadi tidak enak dibuatnya. Bahkan entah mengapa, aku malah ingin menangis sekencang-kencangnya.
Entahlah, ini aneh! Mengingat selama ini Tori tidak pernah membicarakan hal penting tentang itu. Tapi hari ini, ada apa???
Aku bangkit dari posisi dudukku sambil meraih mantelku dan setelah itu aku bergegas pergi meninggalkan ruang kerjaku.
Saat sampai dihalaman kantor pusat NASA, disana aku bertemu dengan Bright, dia adalah seorang pemuda baik dengan posisi Human Resources Specialist di NASA. Dia juga adalah salah satu yang Boo percayakan untuk menjagaku disini.
Dulu sebelum Boo pergi melakukan perjalanan antariksanya, kami sering sekali pergi bersama untuk piknik. Bright adalah pribadi yang cukup menyenangkan dan konyol. Sama sepertinya, mereka berdua sangat konyol jika sudah dipertemukan dan selalu saja membuatku tertawa.
"Akhirnya kau datang juga, Tori sudah menunggumu. Ayok!" katanya menyapaku dengan wajah yang terlihat cukup gelisah.
Bright langsung mendorong punggungku agar aku melangkah sedikit lebih cepat.
Sampai di sebuah ruangan, aku melihat Tori dan beberapa timnya sedang duduk dengan wajah yang sulit diartikan.
Tori yang menyadari kedatanganku pun langsung berlari menghampiriku dan tiba-tiba dia memelukku dengan begitu erat, hingga membuatku bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi sebenarnya?
"Ayok duduk!" kata Tori menarikku untuk duduk dikursi yang sebelumnya dia duduki.
Aku masih kebingungan dengan keadaan ini. Beberapa orang yang ada disana bahkan seolah tidak mau berlama-lama menatap wajahku.
"Ada apa?" tanya ku semakin penasaran pada Tori.
Tori menarik nafasnya pelan, dia terlihat berfikir sebelum akhirnya dia membuka suaranya.
"Yiren, aku harap setelah mendengar kabar ini kau akan baik-baik saja."
Lidahku terasa keluh, aku tidak ingin menebaknya, tetapi fikiranku sudah lancang menebak dengan sendirinya.
"Tolong katakan, ada apa sebenarnya?!" kataku sedikit mengeraskan nada bicaraku.
Aku tatap semua wajah mereka bahkan Bright pun malah tertunduk sekarang.
"Kami kehilangan kontak dengan semua crew USB." Jelas Tori.
Mendengar apa yang dikatakan Tori aku sedikit tersentak.
"Apa?!"
"Sejak tadi malam sekitar pukul 22.06 semua kontak terputus. Beberapa dari kami sedang mencari tau apa yang sedang terjadi disana." Lanjut Tori.
"Tapi, bukankah hari ini adalah hari keberangkatan mereka untuk kembali pulang ke Bumi??" tanya ku masih belum percaya.
Tori menatap Bright sebentar, dan setelah itu dia memegangi bahuku.
"Aku hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja." Jawabnya dengan nada yang terdengar begitu lirih.
Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Tori rasanya begitu membuatku enggan mempercayainya. Terasa seperti sebuah mimpi, tapi begitu sangat menyakitkan.
Fikiranku kembali menuju hari itu, hari dimana dia akan pergi dengan senyuman di wajahnya yang masih terbayang dengan sangat jelas di memori otakku.
Dia pergi seolah memberikan harapan bahwa dia akan kembali. Tapi, aaahh... Entahlah, mengapa semua jadi seperti ini?!
Dari arah luar, seseorang melambaikan tangannya pada Tori. Tori hanya merespon dengan anggukan kecil dan meninggalkanku dengan usapan lembut di kepalaku. Selama ini, dia memang seperti seorang kakak bagiku di Houston.
Aku melihat Tori berbicara dengan beberapa staff lainnya dibalik pintu kaca. Ku lihat mereka terlihat sangat serius dengan wajah yang terlihat semakin cemas.
Melihat semua hal ini aku jadi semakin yakin bahwa keadaan di Planet Merah itu memang sedang tidak baik-baik saja.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Apa yang terjadi padanya?
Apa dia baik-baik saja atau...?
Ya Tuhan, tolong lindungilah dia untukku.
"Yiren..."
Aku menoleh saat Bright memanggil namaku.
"Aku yakin dia pasti pulang. Bukan kah dia adalah jagoan kita?" kata Bright dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dan saat itulah, pertahananku mulai roboh, apalagi saat aku melihat beberapa keluarga dan kerabat para Astronot lainnya yang mulai berdatangan sambil menangis.
Dan setelah ini, apa aku masih boleh berharap lebih?
Apa aku masih diperbolehkan untuk memaksa?
Atau, apakah aku bisa memutar waktu agar aku bisa menahannya pergi dan menuruti ego ku agar dia menemaniku disini saja?
Jika aku bisa mencegahnya, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Mungkin saat ini dia sedang bersama ku, disampingku.
-[USB MISSIONS MARS 2049]-
Amerika Serikat - Houston, 5 Agustus 2052
3 tahun berlalu, hari dimana aku yakin jika dia akan kembali lagi untukku, tapi nyatanya hanya sebuah harapan kosong!
Sudah hampir 12 hari sejak aku menerima kabar menyakitkan tentangnya. Tidak ada lagi kabar apapun, seluruh staff NASA bahkan terlihat masih mondar mandir bekerja sama untuk mencari tahu apa yang terjadi disana dan masih belum menemukan titik terang.
Saat ini, seluruh staff antariksa dari berbagai negara juga ikut andil untuk membantu. Pasalnya, semua robot yang sempat mereka lepas menuju Mars juga sama-sama kehilangan kontak.
Ada beberapa rumor berkembang jika mereka telah tewas karena gagal keluar dari atmosfir Mars saat akan kembali ke Bumi. Dan, ada juga yang mengatakan bahwa kapal mereka dibajak oleh makhluk asing.
Omong kosong macam apa ini?!!!
Jelas aku tidak percaya! Apalagi pada mereka yang bersikeras mengatakan bahwa mereka telah tewas. Itu tidak mungkin!
Aku bahkan masih bisa merasakan detak jantungnya disini. Dan aku sangat yakin bahwa dia masih hidup!
Aku tidak mengerti, bagaimana cara semesta bekerja. Mengapa semesta bisa sekejam ini membiarkanku berjuang sendirian setelah aku menunggunya begitu lama.
Padahal, sebelumnya dia sudah berjanji untuk terus disampingku selamanya. Dan, dia juga sudah berjanji untuk kembali pulang, tapi mengapa? Mengapa dia meninggalkanku dengan cara seperti ini?
Sakit! Aku hancur sekarang. Tanpanya semua terasa begitu berat. Aku merasa hidupku kehilangan arah dan tujuan.
Boo... tolong, jangan buat semua ini jadi yang terakhir untuk kita. Bukankah kita masih memiliki banyak mimpi yang belum kita wujudkan bersama?
Bahkan, kau sudah berjanji untuk menghabiskan waktu bersamaku setelah ini? mengajakku pergi ke tanah Africa, berkeliling untuk melihat kebudayaan yang ada di muka Bumi, mengajaku mendaki gunung, mengunjungi air terjun, dan memelihara 10 ekor anak kucing bersama-sama???
Sungguh, begitu banyak janji yang kau buat, tapi kenapa kau mengingkari semuanya ???
Tolong kembalilah...
Aku sangat membutuhmu...
Ku mohon.
Setelah hari kebahagiaan kakak dan Hyunjae yang menikah beberapa minggu yang lalu. Kini saatnya aku yang bahagia karena ini adalah hari pertamaku menjadi seorang penghuni baru di kampus yang sama dengan Boo.
Baru saja aku melangkahkan kakiku di kampus, sudah banyak sekali pria-pria yang mencari perhatian untuk menyapaku.
Ya, walaupun tidak menyapa secara langsung, tapi sangat jelas terlihat jika mata mereka terus saja menatap ke arahku saat aku berjalan. Dan bahkan, di ujung jalan sana juga aku melihat ada beberapa senior ku yang mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali ke arah ku.
Iewwwhh!!!
Sedikit kurang nyaman, tapi mau bagaimana lagi?
Lagipula, mereka adalah para seniorku di kampus dan mana mungkin aku berani memarahi mereka satu per satu untuk berhenti memperhatikanku.
Dan sialnya! Aku juga tidak melihat Boo saat ini. Entah kemana dia, padahal kami berangkat bersama tadi pagi.
Aku pun mencoba meraih ponsel di dalam tasku untuk mencoba menghubungi Boo. Namun, tiba-tiba seseorang datang menghampiriku dan berhasil membuatku sedikit heran.
"Hai..." sapanya padaku hingga aku pun akhirnya menoleh kearah nya, dan dengan heran aku menatap ke arah sekitarku.
Bodoh! Dia memang menyapaku rupanya. Aku kira dia bukan berbicara padaku.
"Apa kau mahasiswa baru disini?" tanyanya padaku.
"A-aku?" tanya ku sambil menunjuk diriku sendiri dengan jari telunjuk.
"Iya kau, siapa lagi?"
Aku mendengus pelan dan masih menatap ke arah sekitar.
Jujur, bukannya aku tidak mau membalas jabatan tangannya. Jika dilihat dari wajahnya dia juga memang cukup tampan. Tapi, aku tidak mau sembarangan berkenalan dengan orang lain! Aku kan tidak tau dia ini pria yang seperti apa.
Aku lihat Nathan menarik kembali tangannya dengan canggung.
Dan aku?
Aku hanya diam memperhatikannya. Lagi pula, aku bukan seperti wanita pada umumnya yang merasa besar kepala saat dihampiri pria tampan seperti Nathan.
"Kelas apa yang kau ambil?" tanyanya membuat ku tambah heran.
Untuk apa dia menanyakan hal itu?
"Humaniora." Jawabku singkat dan kembali melanjutkan aktifitasku sebelumnya untuk menelfon Boo.
"Wah, keren." Katanya menatapku dengan penuh rasa bangga.
Apa maksudnya?
Hening dan canggung.
Itulah yang terjadi antara aku dan Nathan saat ini. Aku pun mendengus pelan dan berusaha untuk memutar otakku agar bisa menghindar darinya. Hingga akhirnya, aku pun melihat Boo sedang berjalan di koridor kampus.
"BOO!!" panggilku sedikit lebih keras.
Boo pun menoleh ke arahku dan dia juga langsung menghampiriku dengan sedikit berlari.
Syukurlah dia datang disaat yang tepat, fikirku.
"Hey, apa kau tidak masuk kelas?" tanya Boo padaku dengan tatapan heran menghiasi wajahnya.
"Tidak ada kelas..." jawabku datar sambil mendelik kearah Nathan yang ternyata masih setia berdiri di sampingku.
Boo pun hanya ber-oh ria saat pandangan matanya tertuju pada Nathan.
"Eh, Nathan..."
"Hai Boo..." sapa Nathan melambaikan tangannya pada Boo.
Ok bagus!
Ternyata mereka saling mengenal. Dan sepertinya juga mereka adalah teman satu tingkat. Aku lega, aku kira Nathan adalah teman satu tingkat denganku. Jadi, aku tidak akan berada disatu ruangan yang sama dengannya nanti. Dan, itu artinya Nathan adalah seniorku.
-[USB MISSIONS 2049]-
Korea Selatan - Seoul, 12 Agustus 2042
Ini adalah hari kedua ku di kampus. Tidak hanya hari kemarin, ternyata hari ini Nathan kembali menghampiriku dan selalu saja mengikutiku kemana pun aku pergi. Dia bersikap seolah dia sangat mengenal ku.
Dan, Boo juga bilang ternyata Nathan adalah tetangga dirumahku.
Apa? Kenapa dari sekian lama aku baru mengetahui nya?
Terserah! Tapi apa yang dia inginkan dariku sebenarnya?
Sangat menyebalkan!
Dia terus saja membuntutiku dan membuatku merasa dunia begitu sangat sempit. Langkah kakiku bahkan terasa sangat sulit melangkah sekarang.
Ya Tuhan, apakah ini ujian darimu untuk menguji kesabaranku?
Dan beberapa hari kemudian, saat aku keluar dari kelasku, aku melihat Nathan dan Boo mengobrol berdua di bawah pohon.
Keduanya terlihat sangat akrab dan membuatku sedikit khawatir.
Tunggu!
Yang benar saja, kenapa aku harus khawatir pada kedekatan mereka?
Bukan kah itu adalah hak mereka untuk dekat ataupun tidak.
Ah, Yiren kau ini aneh sekali!
Aku memberanikan langkahku untuk menghampiri Boo. Jelas saja aku menghampirinya, lagi pula kami memang akan pulang bersama.
Saat aku menghampiri Boo, terlihat dengan sangat jelas jika Boo sedang menyikut-nyikut lengan Nathan.
Eh, apa maksudnya bersikap seperti itu?!
"Hai Yiren..." sapa Nathan melambaikan tangannya ke arahku.
Baiklah sapaan yang sepertinya akan menjadi sebuah lalapan baru bagiku. Hai Yiren... Aarrgh! aku jadi benci kata itu!
Aku tidak peduli dengan sapaan Nathan. Aku hanya meresponnya dengan senyuman kecil dan setelah itu aku cepat-cepat menarik tangan Boo untuk segera menghindar dari Nathan.
"Nat, Besok kita bicara lagi!!" teriak Boo yang langsung mendapat acungan jempol dari Nathan.
Entah apa yang sebenarnya telah mereka bicarakan. Tapi, itu berhasil membuatku sangat kesal.
Jujur, aku tidak suka mereka seperti itu!
Aku terus menarik tangan Boo hingga akhirnya Boo pun kesal dan menepis tanganku dengan kurang santai.
"Lepaskan! Apa kau mencoba memutuskan tanganku?!" protes Boo meringis.
Sepertinya aku memang terlalu kencang menarik tangannya.
Ya Tuhan, maafkan aku Boo...
Tapi kau memang sangat menyebalkan!
"Oh iya, aku punya kabar baik untukmu." Katanya langsung mengalihkan topik. Dan wajahnya pun tiba-tiba berubah terlihat antusias.
Aku pun penasaran.
"Kabar baik apa?" tanyaku.
"Kau tau, sepertinya Nathan sangat menyukaimu." Kata Boo menaik turunkan alisnya.
"Apa maksudmu?"
Boo hanya terkekeh dan terus menggodaku dengan wajah menyebalkannya itu.
Karena muak dengan sikap Boo, aku pun mencubit perut Boo beberapa kali hingga membuatnya sedikit berteriak dan menjauh dariku.
"Yiren! Hey hentikan! Itu sakit!"
"Aku akan menghentikannya jika kau berhenti membicarakan dia!"
"Oh, apa kau cemburu jika nama Nathan keluar dari bibirku ya?"
Apa maksudnya?
Sepertinya Tuhan memang memberikan ujian padaku lewat Boo.
Daripada aku menderita tekanan darah tinggi karena menghadapi manusia aneh di hadapanku, akhirnya aku memilih untuk melangkah lebih dulu meninggalkannya.
"Hey, kenapa kau meninggalkan aku? Tunggu!"
Teriaknya berlari mengejarku.
-[USB MISSIONS 2049]-
Weekend ini tidak ada jadwal yang khusus selain memperhatikan Ibu, Kak Sae dan Boo yang sibuk di dapur. Ibu sengaja mengundang Boo hri ini untuk mencicipi eksperimen masakannya bersama kakak.
Tapi kenapa harus Boo yang mencicipinya?
Apa ibu lupa bahwa dia memiliki putri secantik diriku?
Ibu benar-benar tidak bersyukur memilikiku!
"Yi... apa kau mau mencobanya?" tanya kak Sae sedikit berteriak dari arah dapur.
"Tidak!" jawabku singkat.
"Yakin? Tapi, ini sangat enak." Sambar Boo yang berusaha membuatku agar tergiur dan bergabung di dapur.
"Tidak terimakasih." Jawabku sinis dan langsung mengarahkan remote ke layar tv.
Entahlah kenapa akhir-akhir ini aku merasa sangat kesal pada Boo. Padahal jika di fikir-fikir, Boo sama sekali tidak melakukan hal apapun padaku. Tapi, aku muak jika dia selalu menggodaku soal Nathan.
Padahal sebelum Nathan hadir diantara kami, rasa kesalku pada Boo tidak sekesal ini.
Ting~ Tong~
Aku pun menoleh kearah pintu mencoba memastikan apa benar bell pintu rumahku berbunyi atau tidak. Karena suaranya yang memang terdengar agak samar akibat tawa Boo dan kak Sae di dapur.
Mereka sangat berisik!
Ting~ Tong~
"Yi... ada yang datang. Tolong bukakan pintu!" teriak kak Sae dari dapur.
Ternyata memang ada yang datang memencet bell.
"Baiklah." Jawabku.
Aku pun bangkit dan berjalan menghampiri pintu.
Dan saat aku membuka pintu, aku cukup terkejut dengan sesosok manusia yang tengah tersenyum manis ke arahku.
Ya, Nathan.
Untuk apa dia kemari?
"Selamat siang. Apa kau sedang sibuk?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Nathan, aku hanya melipat kedua tanganku sambil mendengus pelan menatapnya.
"Siapa yang datang?!!" tanya kak Sae kembali berteriak.
Mungkin dia fikir suaminya yang datang. Padahal selama Hyunjae tinggal dirumah. Dia tidak pernah memencet bell pintu.
"Bukan siapa-siapa." Jawabku yang juga sedikit berteriak.
Tatapanku kembali menatap pria bernama Nathan yang ada dihadapanku. Dan dia terlihat sangat canggung menatapku sekarang.
Sungguh! Manusia ini mengganggu waktu akhir pekanku saja.
Hening...
Sama sekali tidak ada pembicaraan apapun dari kami.
"Eh, Nathan, ayok masuk jangan sungkan!"
Dan akhirnya Boo menghampiri kami di depan pintu.
Dan apa maksudnya menyuruh Nathan untuk masuk ke dalam rumah seolah rumah ini adalah rumahnya.
Benar-benar sangat menyebalkan!
"Boo? Kau ada disini?" tanya Nathan yang terlihat heran karena melihat keberadaan Boo.
"Ya begitulah, aku ada bisnis dengan ibu bayi besar ini?"
Apa? Dia menyebutku bayi besar?
Yang benar saja!
"Apa yang kau katakan?! Katakan sekali lagi!" kataku sambil mencubiti perut Boo.
"Aw! Hentikan bayi besar!"
Tidak akan ku beri ampun! Aku terus mencubiti Boo hingga akhirnya Boo pun berlari ke dalam untuk menghindariku.
Nathan hanya tertawa memperhatikan pertarunganku dengan Boo.
"Apa yang lucu?" tanya ku hingga membuat Nathan langsung menghentikan tawanya.
Masa bodo, Nathan akan mendeskripsikanku gadis seperti apa, aku tidak peduli. Mau dia bilang aku ini kasar, pembunuh berdarah dingin atau apapun juga aku tidak peduli!
"M-maaf, maksud kedatangan kemari untuk memberikan ini padamu."
Aku lihat dia menyodorkan 2 kantung plastik berisi makanan padaku.
Aku pun heran dengan apa maksud dan tujuannya memberikanku makanan-makanan itu.
Aku pun menerima makanan itu dari Nathan. Lagi pula sayang untuk ditolak, karena aromanya cukup menggoda hidungku.
Setelah Nathan memberikanku makanan, aku lihat dia tidak berhenti mengacungkan jempol tangannya ke arah di belakangku.
Aku pun heran dan menoleh kearah sumber tatapan Nathan.
Ternyata di belakang, aku melihat Boo dan kak Sae yang juga sedang mengacungkan jempol tangan mereka pada Nathan.
Apa-apaan ini?!
Kak Sae juga! Apa yang dia lakukan? Memangnya dia mengenal Nathan?!
Boo juga terlihat jadi manusia yang paling antusias saat melihat ku menerima makanan dari Nathan.
Aku bisa membaca fikirannya.
Aku pun hanya melotot pada mereka dan akhirnya mereka langsung pergi kembali ke dapur.
"Terimakasih, dan apa ada yang lain lagi?" kataku pada Nathan.
"Hah...?"
"..."
Lihatlah, dia malah terlihat bingung dan canggung sekarang. Mungkin, dia fikir aku akan menyuruhnya untuk masuk kedalam rumah setelah dia memberikanku makanan-makanan ini.
Tentu saja aku tidak akan melakukannya!
Lagi pula, Walaupun dia adalah tetanggaku, tetap saja aku tidak mengenalnya. Dia adalah orang asing!
Aku hanya mengangguk dan membiarkan dia pergi tanpa mencegahnya sedikit pun.
Ok, ok, dia memang tampan. Tapi ingat! Aku tidak suka padanya.
Lagi pula pria tipeku itu seperti Hyunjae.
Eh...
Tidak. Sekarang tidak lagi!
Seperti siapa ya?
Aaarggh, sepertinya aku sudah berhenti untuk memiliki tipe pria kesukaan. Bagaimana pun tipenya asalkan aku nyaman itu sudah cukup bagiku.
Ya, walaupun begitu. Tetap saja aku tidak menyukai Nathan.
Aku tutup pintu rumahku dan kubawa 2 kantong berisi makanan itu ke dalam.
Tadinya aku memang sangat tergiur akan aromanya. Namun, jika mengingat bahwa itu pemberian dari Nathan, perlahan nafsu makanku pun hilang.
Entahlah...
Aku taruh kantung itu dia atas meja tepat dihadapan kakak dan Boo yang sedang bercanda berdua.
Apa-apaan mereka?
Mengapa mereka terlihat akrab sekarang.
Uggh!!!
"Apa ini ?" tanya kak Sae.
"Entahlah makanan."
"Waahh... harumnya enak sekali."
Aku pun hanya mendelik melihat sikap Boo yang sekarang terlihat tidak sabar ingin memakan makanan pemberian Nathan. Aku sudah menebaknya, dia pasti sangat antusias karena makanan dari Nathan. Bahkan kakak juga terlihat antusias sekarang.
"Siapa pria tampan tadi?" tanya kakak dengan tatapannya yang menggodaku.
"Aku tidak tahu!"
"Dia Nathan, dia tinggal di ujung jalan komplek perumahan ini." Jelas Boo sangat hafal sambil memberikan kue yang dia dapatkan dari dalam kantung itu padaku.
Aku pun menggeleng karena aku memang tidak ingin memakannya.
"Ya sudah jika kau tidak mau." Kata Boo yang berhasil membuat ku gemas karena dia langsung memakan makanan itu seolah itu adalah miliknya.
"Sae, coba ini!" kata boo menyuapi kakak makanan itu.
DEGH!
Apa-apaan dia?!!
Beraninya dia menyuapi kakak seperti itu di depanku.
Hih!
Aku pun memalingkan pandanganku ke layar ponsel. Aku sangat kesal melihat kakak yang terlihat manja pada Boo.
Tidak seperti biasanya! Apa iya itu adalah perbawa saat hamil. Tapi itu benar-benar membuatku kesal.
"Boo, aku ingin minum." Pinta kak Sae terdengar begitu sangat manja.
"Baiklah akan aku ambilkan, kau tunggu disini."
Tentu saja kakak akan terus berada sisini, memangnya dia akan pergi kemana?
"Baiklah, terimakasih." Jawab kakak.
"Sama-sama."
Drama apa ini? Apa yang mereka lakukan dihadapanku?
Beraninya kakak merebut Boo dari ku!
"Aku pulang!"
Akhirnya Hyunjae pun pulang, dia langsung menghampiri Kak Sae yang sedang meminum air yang diberikan oleh Boo .
"Sayang, kau sudah pulang?"
"Iya, wah... kalian berpesta tanpa aku?"
"Tidak, itu pemberian dari kekasih Yiren." Kata Boo.
Heh! Apa-apaan dia!
Mendengar apa yang dikatakan oleh Boo, amarahku pun sepertinya sudah memuncak.
Hari ini dia benar-benar sangat menyebalkan. Bukan hanya hari ini, tapi akhir-akhir ini!
Beraninya dia mengatakan bahwa Nathan adalah kekasihku. Ah, yang benar saja, menyukainya pun saja tidak!
"Oh begitu. Aku coba ya..."
Dan akhirnya mereka pun sibuk menyantap makanan itu dihadapanku.
Bagus! Berpestalah kalian dihadapanku.
Mereka bahkan terlihat sangat akrab dan terus saja menggodaku bahwa Nathan adalah kekasih yang sangat baik untukku.
Dari pada aku tambah naik darah, aku pun memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka. Namun, baru juga beberapa langkah, aku hentikan langkahku sambil berfikir bagaimana mungkin aku melupakan aroma lezat itu.
Ya, perutku mulai tergoda saat membayangkan bagaimana cara makan Boo, Kak Sae dan Hyunjae yang begitu lahap.
Sepertinya makanan itu sangat enak! Lagi pula tidak ada salahnya kan, jika aku mencobanya sedikit saja?
Aku pun kembali menghampiri mereka untuk merebut beberapa makanan yang masih utuh dan belum mereka sentuh.
"Hey, makananku!" protes Boo.
Aku tidak merespon apa yang dikatakan oleh Boo, aku hanya menunjukan jari telunjukku sambil melototkan mataku yang sebenarnya tidak bisa melotot ini pada Boo.
Boo pun terdiam, dia tidak membalas ku, dan dari raut wajahnya mungkin dia tahu bahwa aku sedang kesal sekarang.
Dan setelah itu aku meninggalkan mereka.
-[USB MISSIONS 2049]-
Esok harinya, seperti biasa aku berangkat ke kampus bersama Boo. Sebenarnya aku tidak pernah menyuruhnya untuk menjemputku dan pergi bersama ke kampus.
Entahlah, mungkin dia khawatir jika aku berangkat sendirian.
Ya, Mungkin.
Lagi pula dia adalah manusia yang tidak memiliki kadar kepekaan yang baik.
Jadi, entah dia khawatir padaku atau mungkin dia sengaja menjemputku karena dia tidak ada teman.
Membingungkan sekali.
Oh iya, hari ini moodku benar-benar sangat kurang baik. Apalagi setelah kejadian kemarin, Boo yang sudah bersekongkol dengan kakak untuk terus menggodaku soal Nathan.
Jujur, aku sangat tidak suka jika Boo bilang kalau Nathan dan aku itu dekat!
Entahlah, rasanya sangat mengganjal sekali.
"Apa kau akan terus diam? Tidak biasanya kau begini?" tanyanya padaku.
Aku tidak menjawab aku masih diam dan memfokuskan pandanganku ke depan.
"Yiren, kau marah padaku?"
"Tidak!"
"Lalu... kenapa kau seperti orang asing hari ini?"
Aku hanya mendengus pelan. Aku lupa, kalaupun aku marah, dia tidak akan sadar kenapa aku marah.
Jangan lupa, bahwa dia adalah manusia tidak peka di dunia ini.
Boo pun terlihat canggung sekarang. Aku juga jadi bingung harus bagaimana. Lagi pula, aku memang sengaja melakukan hal ini agar Boo lebih berusaha untuk membujukku. Walaupun hasilnya sudah aku tebak jika Boo tidak akan melakukan apa-apa untukku.
Payah!
Dan akhirnya, apa yang aku khawatirkan pun terjadi.
Ya, Nathan datang menghampiri kami. Aku heran, kenapa dia selalu mengganggu ketentraman hidupku.
"Selamat pagi..." sapanya.
"Eh, nathan. Kau rajin sekali."
Nathan hanya terkekeh sambil menggaruk tengkuk kepalanya dengan tatapan yang mengarah padaku.
Apa yang dia lihat? Mengapa tatapannya mengarah padaku?
Dia Bercanda dengan Boo tapi pandangannya mengarah padaku.
Sangat tidak sopan!
Aku pun mengalihkan pandanganku pada Boo yang sedang mengajak Nathan bicara. Lebih baik aku menatap Boo daripada menatapnya.
Tapi, entah mengapa tiba-tiba aku berfikir ingin sekali rasanya memberikan pelajaran pada Boo.
Aku ingin melihat bagaimana reaksinya, jika aku terlihat dekat dengan Nathan. Apakah Boo akan merasa kehilangan temannya yang cantik ini?
Ok, baiklah akan ku coba.
"Nathan..." kata ku seketika membuat Nathan dan Boo menoleh ke arahku dengan tatapan yang heran.
"I-iya..."
"Kau terlihat tampan hari ini."
Ya Tuhan, apa yang sudah ku katakan!
"Apa?!!"
"..."
Aku hanya menatap Boo yang saat ini sedang menatapku dengan tatapan yang menyebalkan.
"Ah, kau membuatku malu Yiren. Tapi, kau juga terlihat cantik hari ini." Jawab Nathan mencoba memujiku kembali.
Beberapa kali aku perhatikan Boo sepertinya tidak ada reaksi yang menunjukan bahwa dia merasa khawatir padaku.
Sepertinya ini tidak berhasil.
Aku lihat Boo malah terlihat menyikut-nyikut lengan Nathan sambil menaik turunkan alisnya.
Tunggu! Apa aku terjebak dengan permainanku sendiri?
"Haha Ok, baiklah, aku ada kelas cepat hari ini. Jadi, lebih baik aku tidak mengganggu kalian. Sampai jumpa." Pamit Boo sambil mengacak-ngacak rambutku.
Aku hanya bisa terdiam sambil melihat langkah kakinya pergi meninggalkanku dan Nathan.
Ternyata rencana ku sama sekali tidak berhasil.
Ingin sekali rasanya aku menangis.
Dan hey, tunggu! Aku melihat Boo di hampiri oleh seorang gadis dengan rambut panjang terurai di sana.
Dia menghampiri Boo, menyapa Boo dan merangkul tangan Boo.
Sial! Dia bilang bukankah dia tidak memiliki teman selain aku?
Tapi apa yang baru saja aku lihat?
Dia bahkan dengan sangat mudahnya pergi bersama gadis lain dan meninggalkanku disini.
Ini tidak bisa di biarkan!
"Um, Yiren..." kata nathan yang langsung ku respon dengan jari telunjuk.
Nathan terlihat bingung apalagi saat ini aku langsung pergi meninggalkannya.
Baiklah, lupakan soal nathan.
Jadi, siapa gadis itu?
Siapa yang sudah berani merebut boo dariku?
Aku pun melangkah dengan sedikit menghentakan kakiku. Namun, setelah melangkah cukup jauh, aku baru tersadar.
Ada apa denganku sebenarnya?
Perasaan apa ini?
Mengapa aku begitu sangat marah saat dia bersama gadis itu?
Aku ini takut kehilangan seorang teman atau aku sedang cemburu?
Apa??? Cemburu???
Tidak, Tidak! Itu tidak mungkin!
Ya Tuhan... ada apa denganku?
Aku pun langsung menghentikan langkah kakiku dan memilih untuk mengurungkan niatku mengejar Boo dan teman gadisnya itu.
1. Dalam cerita ini jalan ceritanya memang dibuat full dengan drama yang menceritakan tentang kehidupan awal antara Boo dan Yiren di tahun 2040. Menceritakan tentang kisah perjuangan hidup menjadi seorang imigran demi meraih mimpinya.
2. Cerita ini memang bukan hanya bergenre Scifi tapi juga drama dan Romance, hanya yang dibuat berbeda disini Author menambahkan genre percintaan berbau gxg, bxb, dan gxb yang sengaja Author tulis. Ini kisah pure tentang perjuangan, kasih sayang yang tulus, dan kehidupan. Dikarenakan kita hidup berdampingan dengan mereka jadi Author sengaja tulis semuanya disini biar lebih kerasa berwarna aja ceritanya. Ditambah juga agaknya jarang kan kisah scifi yang main cast-nya beralur gxg.
3. WARNING!! Ini cuma cerita Fiksi ya, para castnya juga cuma mewakili untuk memvisualisasikan character dalam cerita, jangan sampe di bawa ke kehidupan nyata!
4. Kalo semisalnya ada yang ga suka sama jalan ceritanya terutama yang homophobic contohnya, Author rekomendasikan untuk tidak melanjutkan membaca cerita ini. Dan juga, kalo misalkan ga suka karena ceritanya gaada adegan 18+, Author mohon maaf, karena Author bukan penulis cerita dewasa.
5. Author hanya penulis amatir yang suka menulis dan berhalu, jadi mohon dimaafkan jika terlalu banyak typo yang bertebaran, dan banyak alur cerita yang agak kurang nyambung mohon dimaklumi.