Membangun Peradaban dari Dalam Rumah
Membuat surat cinta untuk suami saya merupakan tantangan yang cukup sulit karena saya termasuk orang yang sulit menyampaikan perasaan saya secara tulisan. Melalui tugas NHW 3 IIP kali ini, saya beranikan diri untuk membuatnya dan menyampaikannya secara langsung ke suami saya. Pada saat menyatakan surat cinta tersebut, saya sangat malu dan terkadang saya sering mengambil dan mengembalikannya kembali untuk dibaca. Suami membaca surat tersebut dengan seksama dan senyum-senyum tersipu malu. Sesaat setelah membaca surat cinta yang saya buat, suami langsung memeluk dan mencium kening saya dan berkata “terimakasih juga sudah mau menjadi partner hidupku” dan setelah itu kami mengobrol panjang terkait kehidupan rumah tangga kami dengan penuh kasih sayang dan suka cita.
Saya termasuk orang yang perfeksionis untuk hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi saya. Jujur setelah memasuki masa pernikahan dan melakukan peran sebagai istri dan ibu, saya sangat kaget karena tidak mudah menginginkan kesempurnaan di dalam hidup saya karena untuk membuatnya sempurna tidak bisa hanya dengan mengandalkan diri saya seorang. Harus ada keterlibatan dan kerjasama antar anggota keluarga yaitu suami dan anak saya. Hanya saja untuk mengharapkan kerjasama dari anak saya yang masih toddler masih agak tidak mungkin karena memang baby masih bersifat egosentris.
Saya akui perjalanan saya sebagai istri dan ibu (terutama ibu) adalah masa yang sangat memberikan saya pelajaran terkait ilmu kehidupan. Selain perfeksionis, saya termasuk orang yang maunya serba instan. Saya mudah bosan dan tidak terlalu suka berkutat pada suatu hal terlalu lama, saya suka tantangan baru dan selalu ingin menyelesaikannya secara cepat, dan instan. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan kehidupan menjadi seorang ibu. Setelah melakukan peran sebagai ibu selama 1 tahun lebih, saya sadari umtuk merawat, membimbing, dan dan menumbuhkan anak menjadi anak yang sholeh dan mandiri sangat membutuhkan proses yang cukup panjang bahkan bisa dibilang tidak akan ada habisnya. Pada awalnya saya selalu merasa insecure dan takut untuk menjalani hari esok bahlan rasanya saya ingin mengakhiri kehidupan saya karena merasa sudah tak sanggup lagi menjadi ibu. Untungnya ada suami, keluarga (terutama ibu dan kakak perempuan saya) yang selalu mensupport, memberi nasihat kepada saya untuk terus semangat dan berjuang untuk menjadi ibu dan istri yang hebat dalam keluarga kecil saya ini.
Sejak kecil saya juga termasuk anak yang tidak pernah jauh dari orang tua, dan sekarang saya diharuskan menjadi perantau. Lingkungan tempat saya tinggal termasuk lingkungan yang individual karena masyoritas di tempat saya tinggal ini, suami istri bekerja, sehingga tidak banyak waktu yang mereka punya untuk sekedar mengobrol dengan tetangganya masing-masing. Butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan, karena saya akui saya termasuk orang tipe sanguinis dan suka mengobrol. Kalau saya fikirkan kembali, mungkin maksud Allah menempatkan keluarga  saya di lingkungan saya adalah untuk menjadikan keluarga saya menjadi keluarga yang mandiri dan mempunyai daya juang tinggi dalam menjalani kehidupan.
Saya memang masih sangat jauh dari kata ibu yang sempurna akan tetapi sekarang saya sadar dan akui bahwa Allah justru menghadapkan saya pada hal ini agar saya bisa naik level di kehidupan ini menjadi pribadi yang selalu bersyukur, tawakkal, ikhtiar dan pantang menyerah. Aamiin








