Aku gapunya sosok pria seperti apa yang layak dijadikan suami, yang aku tau aku cuma gamau punya suami seperti ayah dan saudara laki-lakiku.
Bersyukurnya, aku dipertemukan dengan pria yang tutur katanya sangat baik, nada bicaranya sangat lembut, sikapnya santun dan pemikirannya cerdas.
"Menikahlah dengan seseorang yang amarahnya bisa kamu terima dan kekurangannya bisa kamu toleransikan" katamu dulu sebelum menikah. Dan benar aku menerima segala konsekuensi.
Sejauh 4 tahun ini, kita hampir berbeda kapal. Beberapa kali aku merasa di kapal sendirian sedangkan kamu berada di kapal yang kamu impikan.
Tapi tahun ini, aku bersyukur. Adanya manusia kecil yang hidup diantara kami menarikmu dan kembali ke kapal bersama lagi.
Aku harap, taun ini hingga berpuluh puluh tahun kedepan keutuhan ini harus selalu ada dengan ekonomi kita yang semakin pulih.
















