Kemarin, tepat di minggu sore, salah satu sahabat sejak duduk di bangku Aliyah, menelponku. Seperti biasa, kami selalu bertukar pikiran by phone, karena kesibukan kami yang berbeda mengharuskan untuk mengobrol lewat telepon genggam. Perbincangan kami tidak jauh dari apa yang sedang terjadi belakangan ini di Indonesia bahkan beberapa negara juga. Ya, ia ingin menanyakan sudut pandangku perihal kasus ini.
Dibuka dengan pertanyaan mengenai kabar kami masing-masing. Meskipun jarak antara kami tidak lebih dari 20 KM, tapi kami tahu, perbedaan perkembangan kasus ini di daerahku dan dia, juga berbeda. Dia adalah anak perantauan. Sebenarnya, aku sangat khawatir dengan beberapa kawan yang perantauan di Jabodetabek. Sebab, mereka jauh dari keluarga disaat menghadapi situasi seperti ini. Alhamdulillah, kabar dia baik, dia juga sedang tidak sakit. Tapi tetap saja kekhawatiran masih saja ada dalam benakku. Hingga aku sampaikan padanya, “Dijaga makannya, dijaga pola istirahatnya, jangan lupa minum vitamin, yang penting jaga jarak aman, jangan keluar kost-an dulu kalo ga penting-penting banget. Dan jangan pulang dulu. Tahan. Tunggu sampai pemerintah bilang aman, baru boleh pulang.”
Lalu, tiba-tiba dia menanyakan bagaimana sudut pandangku terhadap kasus ini. Aku memang tidak terlalu kritis dalam menghadapi pertanyaan “bagaimana pandanganmu terhadap....?” atau “bagaimana menurutmu tentang....?” Ya, aku harus mencari bahan pembicaraan terlebih dahulu, mencari informasi yang valid terhadap apa yang ditanyakan, agar tidak salah dalam berpendapat. Untungnya, dia menanyakan hal ini, ketika aku sudah mencari beberapa informasi yang menurutku sumbernya sudah valid.
Seperti biasa, aku netral, dalam artian aku tidak menyalahkan juga tidak membenarkan. Adapun sudut pandangku dalam kasus ini, sesuai dengan apa yang aku lihat dan aku dengar adalah
Bagaimana seharusnya kita menghadapi hal seperti ini, mengingat setiap harinya memakan banyak korban ?
Bagaimana semestinya kita menanggapi pemerintah ketika telah memberi ultimatum terhadap warganya ?
Sebab, aku masih melihat beberapa orang lalu lalang, tidak terlalu penting, keluar rumah hanya untuk sekedar mengobrol dengan tetangganya, sedangkan situasi ini seharusnya ditanggapi serius oleh tiap individu. Pun, dengan ketegasan pemerintah daerah setempat yang melihat masih banyak warganya yang berkeliaran tanpa ada tujuan atau kepentingan darurat (seperti kepentingan membeli bahan baku harian, membeli keperluan kesehatan). Hal ini, masih saja dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Padahal sudah sangat banyak berita tersebut beredar di sosial media, bahkan di media televisi dan surat kabar. Tetap saja, kembali kepada masing-masing individu dalam menyikapi hal ini. Entah ini salah pemerintah atau individu warganya sendiri. Sedangkan, aku menanyakan perihal kasus ini di Malaysia pada bibiku di sana. Di Petaling Jaya telah menerapkan perintah untuk #stayathome karena apabila ada yang keluar rumah, maka akan dikenakan denda. Bahkan, temanku yang pernah belajar di Jerman, mengatakan bahwa apabila ada yang keluar, maka akan didenda 250 euro (woow!). Bagaimana dengan Indonesia ?
Keluar rumah memang adalah kegiatan yang menyenangkan. Seperti, bertemu dengan teman lama, bersilaturahim dengan tetangga, menghadiri kajian (pengajian), dll. Pasalnya, kondisi seperti ini mengharuskan kita untuk tetap di rumah. Kasus ini, belum bisa diidentifikasi secara langsung (berbeda dengan batuk, pilek, dan flu)--- bahkan symptoms-nya hampir sama. Pun dengan obatnya. Belum ada. Maka, pemerintah mengharuskan warganya untuk tetap di rumah sebagai langkah paling ampuh dalam menghambat dan meminimalisir bertambahnya angka korban.
Sedangkan, citizen +62 itu, terkenal dengan santuy (i dunno, is it positive or negative?). Ya semestinya, tindakan dari banyak aparat yang membuat geram dan takut akan ancaman yang dapat menyadarkan bahwa kasus ini adalah pandemi di seluruh dunia, dikarenakan belum adanya obat penyembuh bahkan pencegahnya. Perlu ditegaskan, kasus ini belum ditemukan penyembuh bahkan pencegahnya kalau bukan dari diri sendiri yang bertindak. Kurangnya edukasi, bisa jadi penyebab utama. Edukasi di sini bukan hanya pengenalannya saja, tapi bagaimana cara meningkatkan kesadaran dan penerimaan (atas informasi darurat dan mau mengaplikasikannya). Kalau bahasa betawinya “lu kalo dibilangin teka’ banget dah! jan ngeyel ngapa sih dikasih tauk!”. Ya, point di sini yang harus ditekankan adalah Kesadaran dan Penerimaan.
Ibarat kata begini, “lu kalo dikasih tau masih pada ngeyel, masih pada teka’, masih pada nganggep sepele, kalo kena di elu, gimane? video orang yang kena aja ude disebar masih pada ga peduli, kalo elu mati, begimane?” Dalam hati sih, sebenernya ngucap Na’udzubillahimindzalik.. Ya, kembali lagi, bagaimana dari individu masing-masing. Jangan jadi nyinyir kalo ada orang menjauh dari kita sejarak kurang lebih 1 meter dari kita, jangan heran kalo ada orang yang keluar maskeran (karena dia ingin melindungi dirinya dan orang lain, kalo lagi sakit).
Lalu, pendapatku atas diskusi sore hari kemarin, ialah
Kesadaran dan Penerimaan dalam himbauan bahkan bukan lagi himbauan, melainkan ultimatum bagi seluruh Warga Negara Indonesia harus lebih ditekankan, bahkan perlu ada ancaman. Karena warga +62 ini, merupakan warga yang semestinya diancam terlebih dahulu. (Pls, katanya negara maju, tapi kalo dikasih tau ya nurut gitu). Sudah cukup, orang yang meninggal (baik dari kalangan umum maupun kalangan medis) karena kasus ini jadi pembelajaran kita semua.
Pemerintah harus lebih tegas dalam memberlakukan kebijakan disituasi genting seperti ini. Pemerintah juga harus menyiapkan stok faskes dibeberapa rumah sakit yang notabene-nya adalah masih belum banyak menerima faskes yang memadai bahkan pantas untuk menangani kasus ini.
Dalam hal ini, pemerintah terutama pemerintah daerah sudah mempersiapkan anggaran untuk beberapa warga yang membutuhkan bantuan (baik dari segi pangan maupun ketersediaan hand sanitizer dan beberapa masker untuk warganya yang membutuhkan). Ini penting sekali, karena ternyata tidak sedikit juga yang belum mengetahui seperti apa dan bagaimana penanggulangan kasus Covid-19 ini.
Masyarakat tidak perlu menyalahkan darimana kasus ini bermula. Atau sok bijak dalam hal beribadah. Tidak perlu membawa ranah politik, ekonomi, agama, ras, suku, bangsa, dll. Ini masalah nyawa. Kesampingkan hal tersebut. Kalau nyawa harus dibayar nyawa, apa mau antum semua membayar nyawa dengan nyawa antum juga?
Masyarakat bergotong royong melaksanakan apa yang diperintah oleh pemerintah sebagai langkah paling-paling sederhana dalam menekan kasus ini. Jangan dulu keluar rumah ! Apalagi di tempat yang ramai, kalo gak penting-penting banget, ya jangan dulu lah! Apalagi yang merantau jangan dulu pulang ke kampungnya, please banget, tetap di kost-an atau di kontrakan kalian !
Tetap dalam kondisi tenang dan waspada. Dalam artian, ya jangan santuy-santuy banget lah. Kalau #dirumahaja ‘kan bisa lebih santuy, kerja sambil disemangati keluarga di rumah, belajar sambil dibimbing orangtua :)
Orangtua yang memiliki anak (kategori usia dini bahkan sekolah dasar), lebih harus tegas dalam mengedukasikan ke anak perihal kasus ini. Sebab, masih banyak juga anak-anak (di lingkungan rumahku, terutama) yang berkeliaran main-main di jalan. It’s Not Good, Kids !
Jaga pola makan, pola kebersihan (always wash hands), pola istirahat untuk tetap menjaga daya tahan tubuh (sistem imun), diikuti dengan olahraga dan minum vitamin (atau jamu kesehatan).
Dan, dia juga sependapat denganku. Dia juga mengharapkan bahwa semua Warga Negara Indonesia memiliki mindset semakin di depan untuk kepentingan bersama. Sebab ini bukan lagi kasus Indonesia saja, ini kasus dunia yang masih perlu pengawasan, masih perlu diteliti bagaimana cara penanggulangannya. Bukan hal sepele yang didiamkan saja.
Please, #dirumahaja , baik itu dari cara kita beribadah, bekerja, maupun belajar. Jadikan momen ini sebagai renungan kita untuk memperbaiki apa yang kurang di rumah. Jadikan momen ini momen paling dirindukan jika Indonesia sudah aman 100%. Jadilah warga negara yang cerdas dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini.
Yuk, sama-sama bantu pemerintah dan tenaga medis untuk meminimalisir, untuk menekan jumlah kasus yang semakin bertambah ditiap harinya ini. :)
-Sudah hampir seminggu menghadapi berita Covid-19, semoga Indonesia kembali pulih :’)