Review Buku: Teruslah Bodoh Jangan Pintar (Tere Liye)
Judul: Teruslah Bodoh Jangan Pintar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 371 halaman
Harga: Rp 99.000,-
Orientasi
Teruslah Bodoh Jangan Pintar adalah novel fiksi dewasa karya Tere Liye yang mengangkat tema sosial, aktivisme, dan perjuangan. Ceritanya disampaikan dengan alur maju-mundur, mengisahkan peristiwa tragis tahun 1990 yang terhubung erat dengan kejadian di masa kini. Novel ini mampu mengalihkan emosi kepada para pembacanya melalui serangkaian ketidakadilan yang diterima oleh korban-korban pembangunan tambang di lingkungan tempat tinggalnya.
Sinopsis
Saat hukum dan kekuasaan dipegang oleh serigala-serigala buas berbulu domba. Saat seluruh negeri dikangkangi orang-orang jualan sok sederhana tapi sejatinya serakah. Apakah kalian akan tutup mata, tutup mulut, tidak peduli dengan apa yang terjadi? Atau kalian akan mengepalkan tangan ke udara, LAWAN!
Cerita dalam “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” terbagi menjadi dua bagian dengan jarak waktu yang berjauhan. Kisah ini dibuka di masa sekarang, di sebuah ruangan kecil berukuran 3 x 6 meter, tempat para saksi penting berkumpul untuk membahas kejadian tragis tahun 1990, saat seorang anak bernama Badrun meninggal. Kematian Badrun bukan hanya karena kelalaiannya semata, tapi melibatkan perusahaan tambang besar bernama PT Semesta Minerals & Mining. Peristiwa ini menjadi titik awal kehancuran masyarakat di sekitar tambang, dimulai dengan kematian seorang anak, air laut yang tercemar, krisis air bersih hingga kelahiran bayi-bayi cacat imbas limbah perusahaan tersebut. Peristiwa inilah yang mendasari Ahmad, saksi hidup dari peristiwa tragis tersebut dan juga sahabat kecil si Badrun. Ahmad turut menyaksikan berbagai ketidakadilan yang diterima oleh keluarga korban hingga warga yang tinggal di sekitar smelter. Selama memperjuangkan keadilan, Ahmad dipertemukan dengan aktivis-aktivis lain yang memiliki visi yang sepadan --- adalah Ibu Sri (wartawan senior), Dandy (sutradara), Sang Pemilik Warkop, Si Penulis, Setya & Mulya (korban penggusuran) dan seorang anonim yang menjadi tombak perjuangan kisah ini.
Karya berjumlah 371 halaman ini mengisahkan seluruh proses persidangan yang berbelit-belit antara para saksi dan perusahaan tambang. Kehadiran Hotma Cornelius, si pengacara dari perusahaan tambang, justru makin memperkeruh keadaan dengan membawa intrik dan sabotase. Seperti halnya di dunia nyata, pertarungan antara rakyat kecil dan perusahaan besar yang korup hampir selalu dimenangkan oleh pihak yang berkuasa. Hal itulah yang juga terjadi dalam kisah ini. Novel ini mengingatkan kita akan kebenaran, prinsip dan harga diri di tengah kekacauan negeri. Di tengah carut-marut kekuasaan dan ketidakadilan, masih ada sosok-sosok yang memilih berjalan lurus di negeri bengkok, menjaga nurani dan keberanian untuk membela kebenaran, itulah yang tergambarkan dengan baik di sosok Ahmad dan kawan-kawannya.
Apa pendapat saya tentang karya ini?
Saya menghabiskan kata demi kata buku ini dalam dua hari, itu artinya buku ini sangat menyenangkan untuk saya nikmati. Pertama, kata-kata yang digunakan penulis sangat mudah dipahami dalam menggambarkan kecarut-marutan perusahaan tambang melawan warga. Beberapa istilah baru dalam dunia pertambangan, menambah kekayaan kosa-kata. Tere Liye mampu membuat saya tenggelam dan serasa turut berada di ruang persidangan, menyaksikan kelicikan Hotma Cornelius dalam usahanya menjatuhkan pihak-pihak saksi, membungkamnya, menyuapnya dan menggelincirkannya. Kisah yang sangat dekat dengan realita di negeri ini bukan? Ketertarikan saya semakin kuat di bagian akhir buku, terutama saat sosok anonim yang ternyata merupakan ketua komite muncul. Kehadirannya membawa kejutan besar yang mengubah arah cerita secara tak terduga. Saya puas dengan ending cerita ini, walaupun terasa menyesakkan. Namun, alur cerita ini terasa lambat bagi saya, mungkin karena penulis harus banyak flashback demi menggambarkan keutuhan cerita dari banyaknya korban dan saksi. Selain itu, perjuangan para aktivis terasa kurang berapi-api, walau mereka sangat berjuang dalam mendapatkan saksi kunci, tetapi terasa jauh timpang dibandingkan dengan kekuasaan perusahaan, mereka berjuang dengan kekuatan seadanya hingga tanpa sengaja bertemu dengan si anonim.
Karya ini merupakan karya yang sangat menarik di tengah hiruk-pikuknya negeri ini menghadapi korupsi, penyimpangan, nepotisme dan sebagainya. Saya pribadi tidak bisa berharap praktek kecurangan bisa hilang dari negeri ini, namun semoga manusia bisa lebih memiliki hati nurani ke depannya. Bang Tere, teruslah menelurkan karya-karya luar biasa!













