Sebuah Prolog untuk Buah Hati
Sering kita mendengar istilah buah hati, bahkan sampai ada yayasan yang namanya mengandung istilah tersebut. Setidaknya itulah yang sering kita dengar untuk menggantikan kata anak.
Buah itu ada yang manis, asam, dan hambar. Atau bahkan mungkin buah yang pahit? Seperti buah berenuk. Kalau gak tahu buah berenuk, ya sudah, gak dosa juga.
Toh, manis, asam, dan hambar sudah cukup mewakili beragam rasa dasar buah.
Kedondong memang dasarnya masam, begitulah kedondong disukai. Rambutan disukai karena manis dan ada juga yang sedikit asamnya. Pear dan buah naga ya dasarnya manis-manis hambar. Kayak janji manis. Apel, melon, semangka sudah tentu disukai karena manis. Salah satunya.
Buah itu disukai, sampai-sampai buah menjadi hadiah yang indah untuk diberikan. Jika ada sebagian orang yang memag gak suka buah tertentu atau bahkan semua buah, ya begitulah manusia. Gak bisa semua sama persis dalam hidup di dunia ini.
Fokus kita sekarang bukan hanya tentang buah. Tapi lebih ke buah sebagai hadiah.
Buah itu memang hadiah. Bahkan bagi pengebun buah yang harus menggarap lahan, menanam bibit, menyirami kebun, mengendalikan hama, belum tentu bisa memanen buah. Ketika Tuhan berkata, “Tidak” maka tidak ada panen buah. Karena intinya buah memang hadiah.
Hadiah itu wajib diterima.
Suka gak suka. Perkara diapakan hadiah itu, lain cerita.
Seorang manusia yang memiliki akhlaq yang begitu menyentuh hati bagi siapa yang bersentuhan dengannya, baik langsung ataupun tidak. Yang bila perilakunya dipikirkan akan sangat logis meski beberapa kali di awal tidak logis. Yang jika perilakunya ditiru meskipun hanya satu hal kecil saja, badan ini menjadi ringan, lapang, bebas, tanpa belenggu.
Putra terbaik Bangsa Arab yang mendunia. Utusan terbaik Sang Pencipta. Muhammad SAW, sayyidi bani adam.
Beliau mengajarkan untuk menerima hadiah, menyukai hadiah, menyayangi hadiah, menikmati hadiah dengan sepenuh hati. Bagaimanapun keadaannya.
Ada sebuah kisah.
Ketika beliau SAW sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, datang lah seorang Yahudi yang merupakan tetangga beliau dan memberikan hadiah berupa buah anggur, dalam versi lain adalah buah jeruk, untuk beliau. Dengan wajah yang berseri, beliau menerima hadiah tersebut dan kemudian memakannya dengan lahap.
Sahabat pada saat itu, ikut senang. Salah satu alasannya bisa jadi, karena berpikir pasti bisa ikut makan anggur. Tumben. Biasanya kurma. Eh tapi, kok semakin sedikit semakin sedikit, ternyata habis anggur itu dimakan sendiri.
Sungguh hal yang bertentangan dari yang biasa dilakukan oleh beliau. Apakah beliau sebegitu laparnya?
Hanya wajah yang berseri saat mengucapkan terimakasih dan menyatakan bahwa beliau senang dengan hadiah yang diberikan Yahudi tersebut lah yang masih sama seperti biasanya.
Tentu saja, Yahudi tersebut pulang dengan senyum bahagia karena hadiahnya diterima dan diperlakukan dengan sangat baik.
Barulah setelah itu, Sahabat memberanikan diri bertanya mengapa beliau berperilaku seperti itu.
Sebenarnya, anggur tadi rasanya masam. Aku khawatir raut muka kalian akan berubah saat mencicipi anggur tersebut. Dan itu bisa melukai hati yang memberikan hadiah. Maka dari itu, Aku habiskan semuanya.
Gila! Dahsyat!
Sangat logis mendengar klarifikasi dari manusia terbaik. Begitu lembut menyentuh hati yang kering agar kembali basah sehingga hati ini kembaliblembut dan tenang.
Begitulah pengajaran untuk menerima hadiah dengan suka cita, kemudian menyayanginya, mencintainya, dan bermesraanlah dengan asam-manis-hambarnya hadiah itu. Dan terakhir, selalu ridho terhadapnya karena setiap buah memiliki ciri khas masing-masing.
Biarlah buah hebat dengan apa yang ia pilih untuk menjadi dirinya. Untuk menjadi asam? Maniskah? Ataupun hambar. Dibalik rasa, masih ada gizi yang bermanfaat dari buah itu. Tentu kadarnya tidak sama di setiap buah.
Sejatinya, kita semua adalah buah hati.
Kita memiliki rasa yang bisa jadi berbeda. Bahkan oragtua dan anak.
Meskipun buah jatuh tidak jatuh jauh dari pohonnya.
Tapi, tidak selamanya, itu berarti orangtuanya adalah pohon utama pembentuk dirinya.
Karena sesungguhnya setiap buah memiliki pohon arsy di dalam dirinya.
Maka, para buah hati. Pilihlah apa yang paling kamu minati. Apa yang paling kamu ingini.
Jika ada 5 hal yang kamu sukai, jalanilah ke 5 nya sepenuh hati. Sampai kamu bisa menemukan 3 yang paling kamu sukai dan bisa jadi hanya tersisa 1 hal yang akan kamu bela sampai mati.
Karena kamu akan terus berada di jalan itu tak peduli siapapun yang akan menghadangnya.
Berjuanglah menjadi buah yang kamu inginkan.
Just be what you wanna be!
Setelah kamu berhasil, orangtuamu akan sadar, kamu sudah memiliki jalan hidupmu sendiri.