Gua rasa seseorang berhak untuk hidup dengan apa yang ada dalam isi kepala mereka, termasuk soal apa yang dia pikir tentang suatu hal. Apapun itu, tak terbatas. Seperti gua yang hidup dengan ketidak-setujuan pada konsep βkasianβ mainstream, yang menurut gua pada akhirnya hanya akan merendahkan dan mengatakan pada orang bahwa hidupnya tidak cukup baik. Ayolah, itu sama sekali tidak membantu. Semua orang punya apa yang harus mereka hadapi, dalam beberapa keadaan itu mungkin akan memunculkan rasa βkasianβ dari lingkungan sekitarnya. So, akan lebih baik jika kita menghargai dia sebagai orang yang harus menghadapi itu.
kaya kalo lu liat kakek-kakek di jalan lagi nggendong kayu bakar, dia mau jual kayu itu. Keliatan capeβ banget. Ya udah gak usah drama, itu hal yang harus dia hadapi sebagai seseorang. Mau bantu? Ya bantu aja. Nggak bisa nganter ke pasar? Ya ngapain harus sampe pasar. Beliin dia air mineral kemasan, kasih ke kakeknya, bilang,Β β Kek, kayaknya cape banget. Aku ada minum, isturahat dulu deh, minum dulu sebentar.β Selesai, yah, mungkin disambi ngobrol-ngobrol santai sebelum kakeknya jalan lagi.
Intinya lu disitu menghargai dia sebegai seseorang, yang dia emang harus menghadapi itu. Lu gak perlu drama harus nganterin dia ke pasar, njuk lu anter dia sampe ke rumah lagi. Ayolah, kalau dia melakukan hal itu setiap hari? Dan pas lu gak ada, bagaimana? Karena setiap orang punya hal yang harus dia hadapi, itu yang membuat dia βmenjadiβ seseorang dan punya martabat. Jangan sampe rasaΒ βkasianβ itu malah merendahkannya.
itu sedikit soal kenapa gua gak suka konsepΒ βkasianβ mainstream. dan cara pandang itu lebih bisa mengarahkan gua untuk menghargai semua orang apapun yang sedang dia kerjakan dan hadapi.
Oke, kita balik lagi ke cara pandang atau sudut pandang. Sebenernya ini gara-gara gua akhir-akhir ini sering berbagi sudut pandang gua ke seseorang. Dan gua jadi ngerasa, asik sih klo kita bisa menggunakanΒ βpilihanβ sudut pandang kita ini sehingga kita punya hidup yang lebih positif. Dan tentunya bisa lebih menghargai diri senndiri dan orang lain. Contohnya, mungkin kita bisa merubah cara pandang kita tentang apa itu mantan, hehe.
Intinya sih kita berhak hidup dengan isi otak kita, tapi isi otak kita juga menentukan kualitas hidup kita. Termasuk sudut pandang mana yang kita pilih untuk melihat dan menilai sesuatu.
(Opini, Magelang 17 Desember 2019)