Kepada Lelaki Pertama yang Mengajari Saya Bercerita
Ketika akan memulai mengetik tulisan ini, saya hanya memandang layar laptop kosong selama hampir satu jam. Karena tak tahu harus menulis apa tentang ayah saya? Oh, bukan. Tentu saja bukan. Ada terlalu banyak memori yang terputar di benak saya, semuanya berdesakan ingin keluar. Ah, tapi saya tahu, tak mungkin menuliskannya satu per satu di sini. Tak mungkin menuliskan semua hal yang terjadi selama hampir dua puluh tujuh tahun saya hidup bersama Ayah. Jadi, saya memilih beberapa memori yang paling kuat, yang ketika mengingatnya, saya tahu bahwa dia bukan ayah yang sempurna, tetapi ayah terbaik.
Entah kenapa, setiap saya mendengar Ayah menceritakan kisah ini kepada siapa pun, saya bisa merasa sangat kesal dan bahagia di saat yang sama. Mungkin kesal karena Ayah selalu dengan riangnya bercerita tentang “Rara kecil” yang bisa menghabiskan tiga butir telur ayam kampung setengah matang dan satu bungkus mi instan dalam sekali makan. Lalu, Ayah harus menggemblok saya dari warung kopi langganan Ayah ke rumah. Setelah menceritakan ini, biasanya Ayah dan para pendengarnya akan tertawa geli. Tetapi, saya ingat ketika dalam gendongan Ayah itulah beliau banyak bercerita kepada saya. Tentang harapannya, tentang “Rara dewasa” seperti apa nanti, tentang doa-doa yang selalu ia kirimkan ke langit. Lalu, di dalam gendongannya itu pula ada banyak tawa yang kami bagi.
Dad is my bestfriend? Jika seorang sahabat adalah orang yang kau percayakan setiap ceritamu, sejujurnya, saya akan mengatakan “tidak”. Ayah adalah tempat paling baik untuk mengadu, pundak paling kukuh untuk dijadikan sandaran, peluk paling hangat untuk menenangkan hati yang gusar. Namun, ada beberapa cerita yang tidak dapat saya bagi dengannya. Tidak, jika itu terlalu menyakitkan bagi saya yang jelas akan lebih menyakitkan baginya. Tidak, jika itu terlalu mengecewakan saya yang tentunya akan lebih mengecewakannya. Ayah memang tak pernah memaksa saya bercerita apa pun yang tidak ingin saya ceritakan. Seperti ketika ia mendapati saya yang saat itu masih kelas 3 SMA menangis di balkon rumah kami karena patah hati pertama. Ia tak banyak bicara, hanya mengusap pundak saya dan mengatakan, “Nanti, semuanya bakal baik-baik saja. Nggak apa-apa, Nak. Nggak apa-apa.” Ia tahu, semakin saya bicara banyak, rasa sakit itu akan semakin dalam.
Ayah tak pernah memberi saya dan adik-adik saya, yang semuanya perempuan, barang mahal secara “gratis”. Kami harus punya pencapaian untuk mendapatkannya. Saya masih ingat ketika di kampus, hanya saya yang masih menggunakan Nokia 3310, sedangkan teman-teman saya asyik dengan blackberry-nya. Sesering apa pun saya merengek, ia tak akan berubah pikiran untuk membelikan saya ponsel baru. Tidak, setelah saya menghilangkan ponsel yang cukup mahal pemberiannya, sebagai hadiah ketika saya diterima di sebuah universitas favorit.
Ah, ya! Saya juga masih ingat suatu hari di pertengahan 2007, saya diterima di perguruan tinggi, yang katanya, impian hampir semua lulusan SMA di negeri ini. Ayah tak henti-hentinya bersyukur. Matanya dan mata Ibu yang berkaca-kaca bangga dan bahagia saat itu menyadarkan saya bahwa malam-malam yang saya habiskan untuk belajar keras, setiap acara televisi favorit yang saya lewatkan karena saya harus ikut bimbingan belajar lima kali dalam seminggu, terbayar lunas. Saya juga ingat, air mata bangga ia tahan sekuat tenaga agar tak jatuh saat saya membawa pulang almamater kuning itu, lalu ia memeluk saya erat sekali. Mungkin ia tak pernah tahu, di dalam dekapannya, ada air mata haru yang saya sembunyikan juga. Ah, saya memang mewarisi “gengsian”-nya.
Terkadang, saya tersenyum sendiri ketika sedang melihat album foto masa kecil saya. Tak mengira bahwa saya yang di foto itu sedang terlelap di pangkuannya bisa membuat air mata kecewanya jatuh. Rasa kecewa yang dalam menyeruak ketika ia tahu saya beberapa kali membolos sekolah, bahkan memalsukan tanda tangannya untuk dapat izin pulang lebih cepat dari sekolah. Sedih yang sama dalamnya pasti ia rasakan ketika saya berteriak kepadanya karena marah. Yap, youth: a time to make mistakes. Pagi ini, ketika melihat wajah Ayah lebih dekat, juga setiap kerut di sana, saya bertanya dalam hati; bagaimana mungkin saya pernah mendiamkannya selama hampir satu bulan karena terjadi kesalahpahaman di antara kami? Bagaimana bisa saya pernah berpikir untuk berhenti bertegur sapa dengannya karena saya merasa ia tak pernah bisa mengerti? Bagaimana mungkin pernah ada saat saya, dengan bodohnya, merasa membenci lelaki pertama yang mengajari saya bercerita itu karena ada kemauan yang tak terturuti?
Ayah saya, yang selalu menganggap bahwa pendidikan anak-anak beliau adalah investasi terbesarnya, tak pandai merangkai kata. Ada saja “seharusnya tidak begitu” di hampir setiap “ceramah” panjangnya. Tetapi, saya lebih suka ia mengatakan yang “seharusnya tidak begitu” itu daripada semua kata terkunci di dalam hatinya.
Hari ini, lelaki yang selalu mengajarkan saya tentang perempuan harus berwawasan luas itu merayakan ulang tahunnya. Lima puluh tujuh tahun, semoga menjadi angka yang terus menambah kebijaksanaan Ayah.
Saya ingat, pertengahan tahun lalu, saya, Ibu, dan adik-adik bergenggaman tangan begitu erat ketika Ayah harus tinggal lebih lama di rumah sakit karena jantungnya tak bekerja dengan semestinya. Lagi-lagi, ada air mata yang saya sembunyikan di sana, lalu setengah mati meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja. Ketika semua orang hampir terjatuh, harus tetap ada seseorang yang berdiri tegak, bukan? Semoga kesehatan tak pernah meninggalkan Ayah walau hanya sebentar. Stay with us forever!
Ayah, mungkin kita sering berseberangan di banyak hal. Sering tak bersepakat pada hal remeh. Terkadang, karena kadar gengsi yang sama bersarang di kepala kita, ada banyak rasa yang tidak menemukan jalan keluar. Ada banyak kata yang tak termaknai dengan tepat. Tetapi, percayalah, akan ada banyak cerita yang bisa kita bagi. Dan, aku akan tetap mendengar cerita itu di sebalahmu, seperti ketika kau kisahkan aku sebelum tidur. Berjanjilah untuk tak bosan mendengar pertanyaanku yang tak habis-habis, persis seperti ketika cerita “Nenek Diana” kau dongengkan kepadaku. Bersama Ibu dan dua gadis kecilmu lainnya, aku juga akan selalu menjadi teman setia perjalananmu, Ayah. Kita sama-sama tak bisa membaca peta, tetapi kita tetap bisa berbagi arah.
Ayah benar, hidup itu seperti perjalanan. Kau harus mempersiapkan apa saja yang perlu kau bawa, apa saja yang harus kau tinggalkan. Saat di dalam perjalanan, mungkin tak semua situasi sesuai harapanmu. Mungkin ada jalan berbatu yang tak nyaman kau jejaki. Kerikil mungkin membuatmu enggan berjalan lagi. Tanah merah mungkin akan membuatmu tergelincir. Namun, jika kau memiliki teman berjalan yang tepat, bisa kau pastikan akan selalu ada tangan yang membantumu berdiri lagi. Terima kasih telah menjadi tangan itu, Ayah.
Mungkin di depan nanti akan banyak argumen kami yang berbenturan lagi, akan ada banyak kesalahpahaman yang bersembunyi di balik hati yang meradang, akan banyak kata yang tertahan. Namun, kami percayakan saja semua kepada pijakan yang sama kuatnya pada rumah yang selalu menaungi kami dengan cinta. Lima orang yang tinggal di dalamnya semoga juga dihidupi oleh cinta.
Ayah, aku menyayangimu lebih daripada yang kau tahu. Lebih dari kata-kata yang tertawan oleh ketidaktahuanku untuk mengungkapkannya. Tetaplah menjadi pencerita terbaik yang pernah kupunya. Tetaplah menjadi mata paling teduh yang pernah kulihat, yang pada setiap tatapannya bisa kuleburkan segala lara.