Terjagamu, lelahmu, usahamu, keteguhanmu tidak akan pernah sia-sia. Karena Allah tidak menyia-nyiakan lelah orang yang berusaha beramal sebaik mungkin. Maka mintalah pertolongan kepada Allah, dan jadilah sebaik-baik sahabat Alqur'an 🌻
art blog(derogatory)
Three Goblin Art
$LAYYYTER
Xuebing Du

Kaledo Art

@theartofmadeline
noise dept.
🪼
cherry valley forever

Love Begins

titsay

祝日 / Permanent Vacation
Not today Justin
trying on a metaphor
One Nice Bug Per Day

h
Sweet Seals For You, Always
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

seen from Malaysia
seen from Iraq

seen from Italy
seen from Bangladesh

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from Argentina

seen from Iraq
seen from Syria

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from Azerbaijan

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@taraaram
Terjagamu, lelahmu, usahamu, keteguhanmu tidak akan pernah sia-sia. Karena Allah tidak menyia-nyiakan lelah orang yang berusaha beramal sebaik mungkin. Maka mintalah pertolongan kepada Allah, dan jadilah sebaik-baik sahabat Alqur'an 🌻

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Melanjutkan foto2 makanan
Mie Godog Mbok Seneng Gunungkidul
Hot, Nice and Niceee 💕
#food #indonesianfood #miegodog #jawa
Memperkenalkan tahu goreng buatan ibunda tersayang
#food #indonesianfood
Haiii . Jajan Mr. Squid....ward nyaam huaah pedas enak 😋😋 📷 Xiaomi mi A1

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Naaisss. Tenggo !! Sayang pesenan kedua datengnya nggak Tenggo, kitah cancel
Xiaomi mi A1
Menjadi Hebat
Kau adalah gadis yang penuh rasa ingin tahu, sekaligus sebenarnya kau memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal besar. Kau punya kesempatan untuk melihat dunia, lebih dari yang setiap hari kamu lewati. Selain, kau juga memiliki hal-hal baik yang tersimpan, sesuatu yang membuatmu terlihat menarik sebagai perempuan.
Jangan biarkan pikiranmu dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang melelahkan. Seperti temanmu yang ribut dengan riasan, sibuk bagaimana menarik hati orang lain, sibuk memikirkan memiliki pasangan di usia muda, kau jangan.
Kau adalah gadis yang haus akan ilmu juga aktivitas. Itu menjadikanmu cemerlang, bersinar karena kau menyibukan dirimu di ruang-ruang kebermanfaatan yang jarang terisi. Dan itu membuatmu amat mudah dikenali.
Kau adalah gadis yang cemerlang. Jangan biarkan tekanan sosial, kata orang, dan pandangan umum masyarakat mengalahkan keteguhan hatimu, mengerdilkan perananmu. Juga jangan takut untuk menjadi seseorang yang lebih, yang kata orang-orang nanti tidak ada laki-laki yang mau denganmu. Jangan dengarkan itu, dengarlah bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali.
Kau adalah gadis yang cerdas. Kau mampu membuat rumusan hidupmu sendiri, mampu menyesuaikan dirimu dengan keadaan, juga mampu mengubah keadaan disekitarmu.
Suatu hari, aku akan melihatmu berdiri tegak, menjadi perempuan, menjadi ibu peradaban yang penuh dengan hal cemerlang. Sesuatu yang menjadikanmu berbeda, itu menjadikanmu amat berharga. Kebaikan hati, kepedulian, keramahan, keluhuran budi, kecerdasan pikir, dan segala sesuatu yang membuat mampu menjadi cantik, tak peduli waktu, tak peduli penilaian.
Hingga suatu hari kudengar kau berkata padaku :
“Terima kasih Ayah, telah mengajarkanku menjadi perempuan yang demikian.”
Rumah, 26 Januari 2017 | ©kurniawangunadi
nyoba naik bis tingkat. Gak sengaja Di Jak Pus Welcome Jakarta !
Jajanan bocah namanya CIMOL. Jajanan cimol langka soalnya abangnya promote pake blueband, jadi dia sebut jajanan sehat, buat anak2 kata bapaknya. Good Pak ! Sukses !
Jajan di Gokana sama anak kantor nyaaam 😋 abis gajian dan pas istirahat Jum'at 📷 Smartphone smartfren

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jajan ramen and dessert in Shirokuma 😋😋 #aeon with Ika Aul
📷 : smartphone smartfren
Cerpen : Lelah
Aku lelah dalam berjuang, di usia yang berbilang masih muda ini. Seketika aku ingat bagaimana orang tuaku dulu berjuang. Melangkahkan kaki dari rumah ke tempat kerjanya, belum berkendara seperti saat ini. Seketika aku merasa malu.
Cita-citaku terlalu tinggi, sampai-sampai mereka berdua tidak paham dengan apa yang aku citakan. Namun, mereka dengan tulus hati mendoakan; semoga apa yang aku cita-citakan itu tercapai.
Sementara aku sendiri ragu apakah bisa mencapainya atau tidak. Di tengah-tengah jalan yang penuh liku ini. Jalanan yang padat, setiap hari aku harus menantang air dingin di pagi hari, melawan kantuk, menerjang kemacetan, duduk berjam-jam dan sesekali pergi ke lapangan untuk survey, kemudian pulang selepas isya dalam keadaan lelah.
Semua ini membuatku rindu pada rumah. Pada setiap butir nasi hangat yang ibu ambilkan dari ricecooker. Pada sayur tadi siang yang dihangatkan kembali. Aku rindu pada setiap kemudahan yang aku dapatkan ketika aku di rumah. Meski berbilang usiaku sudah 25-an, aku tetaplah anak-anak di mata mereka.
Aku lelah di perjalanan ini. Perjalanan yang membuatku risau, apakah ini jalan yang benar atau bukan. Apakah aku akan menjalani jalan ini hingga akhir hayatku? Mencari rezeki di sana? Dan juga jalan yang akan aku ceritakan dengan bangga ke anak-anakku nantinya.
Aku lelah dan lagi-lagi aku malu kepada ayah. Setiap pagi, sewaktu aku masih tinggal dengan mereka. Ayahlah yang selalu mencuci baju sekeluarga, sementara ibu memasak di dapur. Aku hanya perlu bersiap diri. Dan ayah, ia harus berburu dengan waktu agar bisa berangkat tepat waktu.
Aku lelah dan lagi-lagi aku malu kepada ibu. Aku tahu, betapa bangganya beliau ketika bercerita kepada kerabat dan tetangga tentang anaknya yang berhasil masuk universitas, kemudian lulus dengan predikat cumlaude, tak lama setelah itu diterima bekerja.
Aku malu bila aku hendak mengeluh lelah. Aku tahu, mereka tidak perlu tahu kerisauanku. Sebayaku menyebutnya Quarter Life Crisis. Mereka hanya perlu mendengar kabar baik, agar hatinya tentram dan doanya tidak dipenuhi kekhawatiran, dan sesungguhnya itulah kesimpulannya. Aku tidak ingin mereka khawatir. Yogyakarta, 24 Agustus 2017 | ©kurniawangunadi
Terima kasih Mas gun tulisannya .. :') Semoga Allah senantiasa menguatkan istiqomah hambaNya yg sedang dlm posisi tsb. Aamiin
Yaaaapss
saya, ayah, dan ibu ngobrol tentang turnover personil yang dialami sekolah dan perusahaan. ibu bercerita tentang fenomena yang unik–di mana para guru yang lebih senior cenderung lebih setia dibandingkan dengan yang muda. para guru muda itu adalah guru-guru generasi saya, milenial kata mereka. padahal, para guru senior telah bersama kami (sejak) saat semuanya susah, saat kelas masih di garasi. padahal, para guru junior yang akhirnya memutuskan pindah haluan, tidak sedikit yang sekolahnya diupayakan oleh ibu–supaya bisa kembali memberi dan berbagi.
saya jadi sedih–dan malu sih–atas (sebagian) generasi saya itu. kenapa ya daya tahan dan daya juang kami segitu-segitu aja. kenapa ya kami banyak berhitung tentang manfaat (bagi diri sendiri, uang terutama). kenapa ya kami selalu bertanya “what’s in it for me?” dan selalu “taking things for granted”. kenapa ya kami kemakan dogma-dogma tentang mengikuti passion sampai lupa tentang pesan nabi untuk menjadi bermanfaat. kenapa ya?
mungkin yang salah adalah sosial media–yang menampilkan kehidupan manis senang nan bahagia di permukaan, yang membuat kami (kita) melupakan hakikat perjuangan dan rasa syukur. mungkin yang salah adalah para motivator, yang menyerukan bahwa passion adalah segala-galanya–padahal kami (kita) yang diseru juga sekadar ikut-ikutan saja. mungkin yang salah adalah para pemilik lapangan kerja, yang berlomba-lomba pasang harga sehingga bekerja menjadi kegiatan transaksional belaka, jual beli jasa semata.
“generasi ibu nggak kenal tuh sama istilah passion. yang kami kenal itu menjadi bermanfaat sebab begitu pesan nabi. generasi ibu percaya bahwa rezeki itu paling banyak bisa dijemput di tempat di mana kita bisa bermanfaat paling banyak.”
kita yang muda punya banyak kesempatan, punya banyak jalan untuk dipilih. kita yang muda punya masa depan yang masih panjang. kita yang muda bisa mencoba-coba banyak hal, banyak bidang.
tapi, kita yang muda juga harus selalu ingat untuk bersyukur secara utuh: atas yang dicapai dan tidak dicapai, yang didapat dan tidak didapat, yang dimiliki dan tidak dimiliki, yang dipertahankan dan dilepaskan; untuk berterima kasih pada setiap peran yang telah menjadikan kita diri kita yang sekarang; untuk menjadi makna dan menjadi manfaat–mengutamakannya.
ibu dan ayah benar. apalah arti punya hidup keren kalau hanya untuk diri sendiri. inilah yang selalu saya sampaikan pada adik-adik saya, juga anak-anak saya kelak.
ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat–dunia akhirat.
Bang mau tanya tolong jawab ya bang. Sy pacaran krng lebih 5tahunan, cowok sy udah minta nikah to sy belom selesai kuliah dan ortu sy tdk setuju dg dia, tp kami smsm sudah terlanjur syg bang, sy hrs gmn? Tlg jawab ya bang
Ada puluhan juta laki-laki lain di luar sana, tapi hanya ada sepasang orang tua yang jadi asal muasalmu. Kamu tentu bisa mencari laki-laki lain, akankah kamu mencari orang tua lain? Rida laki-laki yang belum menikahimu tak memengaruhi sedikitpun jalan hidupmu, tapi rida & murka-Nya ada pada rida & murka kedua orang tuamu. Kamu tentu bisa hidup tenteram tanpa rida laki-laki asing, akankah kamu tenteram hidup tenteram tanpa rida orang tuamu?
Ada lima tahun hubungan temporer yang dihabiskan bersama dengan laki-laki yang kamu sebut “pacar”, tapi ada puluhan tahun hubungan permanen yang tengah dan akan dihabiskan bersama dengan laki-laki & perempuan yang kamu sebut “orang tua”.
Laki-laki yang terlanjur menyayangimu itu sungguh tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang tuamu yang “terlanjur” melahirkanmu, menumbuhkembangkanmu, mendidikmu, menjagamu, mengarahkanmu juga bertanggung dengan dunia & akhiratmu. Perkaranya bukan terletak pada studimu yang belum selesai karena kamu tentu bisa menikah sebelum lulus kuliah. Utamakan orang tuamu, utamakan orang tuamu, utamakan orang tuamu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
saya, ayah, dan ibu ngobrol tentang turnover personil yang dialami sekolah dan perusahaan. ibu bercerita tentang fenomena yang unik–di mana para guru yang lebih senior cenderung lebih setia dibandingkan dengan yang muda. para guru muda itu adalah guru-guru generasi saya, milenial kata mereka. padahal, para guru senior telah bersama kami (sejak) saat semuanya susah, saat kelas masih di garasi. padahal, para guru junior yang akhirnya memutuskan pindah haluan, tidak sedikit yang sekolahnya diupayakan oleh ibu–supaya bisa kembali memberi dan berbagi.
saya jadi sedih–dan malu sih–atas (sebagian) generasi saya itu. kenapa ya daya tahan dan daya juang kami segitu-segitu aja. kenapa ya kami banyak berhitung tentang manfaat (bagi diri sendiri, uang terutama). kenapa ya kami selalu bertanya “what’s in it for me?” dan selalu “taking things for granted”. kenapa ya kami kemakan dogma-dogma tentang mengikuti passion sampai lupa tentang pesan nabi untuk menjadi bermanfaat. kenapa ya?
mungkin yang salah adalah sosial media–yang menampilkan kehidupan manis senang nan bahagia di permukaan, yang membuat kami (kita) melupakan hakikat perjuangan dan rasa syukur. mungkin yang salah adalah para motivator, yang menyerukan bahwa passion adalah segala-galanya–padahal kami (kita) yang diseru juga sekadar ikut-ikutan saja. mungkin yang salah adalah para pemilik lapangan kerja, yang berlomba-lomba pasang harga sehingga bekerja menjadi kegiatan transaksional belaka, jual beli jasa semata.
“generasi ibu nggak kenal tuh sama istilah passion. yang kami kenal itu menjadi bermanfaat sebab begitu pesan nabi. generasi ibu percaya bahwa rezeki itu paling banyak bisa dijemput di tempat di mana kita bisa bermanfaat paling banyak.”
kita yang muda punya banyak kesempatan, punya banyak jalan untuk dipilih. kita yang muda punya masa depan yang masih panjang. kita yang muda bisa mencoba-coba banyak hal, banyak bidang.
tapi, kita yang muda juga harus selalu ingat untuk bersyukur secara utuh: atas yang dicapai dan tidak dicapai, yang didapat dan tidak didapat, yang dimiliki dan tidak dimiliki, yang dipertahankan dan dilepaskan; untuk berterima kasih pada setiap peran yang telah menjadikan kita diri kita yang sekarang; untuk menjadi makna dan menjadi manfaat–mengutamakannya.
ibu dan ayah benar. apalah arti punya hidup keren kalau hanya untuk diri sendiri. inilah yang selalu saya sampaikan pada adik-adik saya, juga anak-anak saya kelak.
ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat–dunia akhirat.
Reminds me again :')
cahari
“Tolerance is giving to every other human being every right that you claim for yourself"
Taun lalu, kelas perkuliahan yang saya asuh kedatangan tamu spesial. Beliau adalah seorang pengusaha paruh baya yang telah menggeluti bisnis teknik lebih dari satu dasawarsa. Kisah-kisah kegagalan di masa lalu disampaikannya untuk membuka sharing session di depan puluhan mahasiswa kewirausahaan tingkat akhir.
Beliau membandingkan hidup seorang wirausahawan dan karyawan dari sudut pandangnya. Ucapnya sembari tertawa kecil, “Kalau jadi wirausahawan, mau liburan santai bisa kapan aja. Enggak harus nunggu akhir minggu. Lain dengan karyawan, liburnya cuma akhir minggu atau tanggal merah. Tempat wisatanya udah penuh pula”. Sebagai sesama wirausahawan, saya cukup kaget dengan penyampaiannya.
Kalau keleluasaan yang diperolehnya memang menyenangkan, semestinya beliau enggak perlu mengunggulkan profesi pribadi dengan merendahkan profesi lain. Lanjutnya lagi, “Kalau jadi wirausahawan, ngatur waktu sama keluarga lebih leluasa juga. Enggak harus nunggu jam lima sore. Lain dengan karyawan, baru santai jam lima lewat. Alhasil, tenaga, waktu dan pikiran untuk keluarga tinggal yang sisa aja”. Rasanya, merana sekali jalan hidup para karyawan dari gambaran beliau. Sambil menyimak, saya cuma membatin di baris belakang. Khawatir ada sebagian mahasiswa yang mengamini pemikiran sempit itu.
Nyatanya, merendahkan orang lain enggak pernah membuatmu betul-betul jadi lebih tinggi. Kalau iya, harusnya mereka yang congkak jadi figur paling dihormati. Saat seseorang menghina pilihan lain untuk mengunggulkan pilihannya, keyakinannya malah terlihat rapuh. Kita enggak perlu membandingkan jalan hidup satu sama lain karena pada setiap kenikmatan yang dikaruniakan-Nya ada beban tanggung jawabnya tersendiri.
Urusan pekerjaan enggak seharusnya membuat kita meninggi karena pekerjaan juga merupakan titipan-Nya untuk dipergunakan sebagai sarana menjemput rejeki. Mereka yang menyombongkan pekerjaannya, amat rentan mengecilkan ikhtiar orang lain. Enggak heran kalau masih banyak oknum yang meremehkan keberadaan asisten rumah tangga, petugas kebersihan, supir atau juru parkir. Dengan medan yang berbeda-beda, setiap orang berjuang setengah mati untuk menafkahi keluarganya.
…
Tersebutlah cerita yang masuk lewat sebuah grup percakapan. Ada seorang murid SD bernama Ceria yang dari awal sekolah selalu meraih peringkat ke-23 dari 25 siswa. Cita-citanya untuk menjadi jadi guru TK dan ibu rumah tangga dipandang rendah oleh keluarganya. Kedua orang tuanya yang gagal paham dengan cita-cita yang terlalu sederhana itu, mendorong sang anak untuk terus belajar tanpa henti.
Karenanya, Ceria pun jatuh sakit dan kedua orang tuanya tersadar bahwa ambisi keras mereka berujung petaka. Setelah kepayahan yang hebat itu, peringkat Ceria di akhir semester berikutnya pun enggak bergeming. Di luar dugaan, wali kelas Ceria mengungkap hasil jajak pendapat murid sekelas dengan judul, “Siapa Teman Sekelas yang Paling Kamu Kagumi & Apa Alasannya?”. 24 siswa di kelas kompak menulis, “Ceria”. Mereka bilang, Ceria senang membantu teman, memberi semangat, menghibur dan enak diajak berkawan.
Puji wali kelasnya, “Anak ibu-bapak kalau bertingkah laku benar-benar nomor satu”. Tersentuhlah hati orang tuanya. Ternyata selama ini Ceria menyimpan kebaikan yang luput dari pandangan mereka. Sang ibu pun menyemangati anaknya, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan, Nak”. Ceria hanya menjawab, “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah: ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan, Bu”.
…
Lewat mata pencaharian, kita bernyala dengan pijar masing-masing. Sebagian jadi api yang mengunggun bangga, sebagian lain jadi pendar di tengah gulita. Sebagian jadi pemimpin yang gemilang, sebagian lagi jadi pengikut yang cemerlang. Ada peran yang dibagi, ada kebermanfaatan yang terdistribusi.
Selama ikhtiarnya halal, enggak ada alasan untuk mengaitkan mata pencaharian seseorang dengan kehormatannya. Toh masih banyak mereka yang menyandang posisi terhormat tapi abai menyandang martabat. Karena martabat enggak pernah ditentukan oleh tinggi-rendahnya posisi di mata sesama, melainkan berapa lama kebaikan bisa menetap atas hal-hal yang telah diperbuat dengan mengharap rida-Nya.