jalan selanjutnya...
“Hey baru keliatan, habis jalan dari mana?” “Tumben nih ada di kantor, jalan terus ya.” “Wah balik juga, kirain lupa jalan pulang.” “Baru pulang nih? Kapan jalan lagi?” “Ga biasanya lama di kantor, next mau jalan kemana?”
Bergantian kalimat serupa datang dari teman-teman kerjaku di kantor. Saat nongkrong, meeting, atau sekadar berpapasan. Aku sudah seperti aneh bila terlihat hadir di tengah-tengah mereka. Bahkan berkali aku dikejar security ketika hendak naik tangga atau lift. Mereka meneriaki dan bertanya aku mau kemana. Pun tak jarang aku sebelum masuk gerbang ditanyai tentang keperluan apa. Jika sudah begini hanya perlu menyiapkan senyum terbaik dan tatapan mata anak baik-baik. Dan seketika mereka sadar bahwa itu aku. Anak yang “hilang” berminggu-berbulan lalu. Pergi dengan rambut tipis, pulang membawa sarang tempua di kepalanya.
Tidak berarti buruk. Adanya tugasku pun memang lebih sering di luar kantor. Berpindah dari satu pelosok ke pelosok yang lebih pelosok lagi. Dari sudut negeri yang satu ke sudut tersudut lainnya. Bersyukurnya, di sela penugasan itu aku berkesempatan untuk menapakkan kaki ke tempat-tempat yang asyik. Menyambangi berbagai hal menarik. Hutan-gunung-sawah-lautan. Dan yang tersuka; perkampungan.
Akhir pekan biasanya menjadi waktu pilihan untukku berjalan-jalan. Karena lumrahnya di saat inilah aku bisa sejenak meletakkan amanah pekerjaan, dan melakukan sepenuhnya kesenangan. Tak begitu dengan akhir pekan ini. Bukan aku sedang tak senang, tapi sedang dalam suasana tegang bersiap untuk akhir pekan depan.
Sepekan lagi, insya Allah aku akan melakukan perjalanan. Perjalanan yang ku bayangkan akan penuh liku, aral gendala, dan pernak-pernik keseruan tak terbayangkan. Persis seperti yang ku suka selama ini. Namun kali ini lebih dahsyat. Persiapannya saja terasa begitu menguras jiwa dan raga. Sampai sewaktu-waktu rusukku mesti bertahan keras meredam debaran hebat tak terkira. Aku akan menjemput sang penggenap separuh agama!
Pernikahanlah perjalananku selanjutnya. Rumah tangga yang akan menyatukan aku dengan dia. Yang ku temukan dalam satu kisah perjalanan. Sepenggal cerita yang mengubah haluan bahteraku untuk bersandar. Dia yang membuat aku bertekad menghadapi akad. Sebuah janji yang menjadi simpul tempat bergabungnya dua keluarga. Ikatan yang bukan memaksa dua beda menjadi sama, melainkan menghimpun untuk bersama. Perjalanan yang isinya petualangan dan amanah. Saling membersamai-menguatkan-mengisi, mewujudkan takdir untuk bertemu di jannah nanti. Bismillahi. Aamiinn!
-- Bekasi, Safar 1439 H
















