Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
how a man and a woman meet, being completely clueless about love.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
[ WhatsApp to Ayudia ]
IAN.
: Sebentar.
Setelah mengirimkan pesan WhatsApp ke Ayudia. Gabrian langsung menaiki lift untuk menuju lantai bawah, tepatnya lobby kantor. Sang tuan menyempatkan merapikan rambut serta penampilan wajahnya dengan bantuan kaca lift, setidaknya ia ingin beri kesan rapi walau nyatanya pakaian yang tengah dikenakan amat tidak rapi karena kaos yang kusut serta kemeja yang keluar dari celananya.
Sedikit gugup, Gabrian melihat sekitarannya kala telah keluar dari lift, nampak sepi namun ia dapat menyadari sosok yang tengah berdiri di depan meja lobby.
"Ayu?" tanyanya memastikan kala ia mendekat pada wanita itu.
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Netranya melebar mencoba menangkap apa yang ia bisa lihat sembari dua jemari tangan saling meremat. Kuasanya tampak berkeringat karena gugup.
Ayudia sebenarnya bukan tipikal orang yang mudah gugup ketika berhadapan dengan orang baru tetapi sejak pertemuannya dengan sosok Gabrian, sang puan tidak bisa menahan perasaan gugup setiap kali hendak bertemu.
Bukan cinta, ia menolak hal tersebut. Mungkin hanya karena tidak terbiasa bergaul dengan para tuan, karena ketatnya pengawasan orang tua kepadanya.
Layar ponsel menampilkan pesan dari lelaki yang ia tunggu tanpa diberinya balasan. Hingga sebuah suara mengudara, membuatnya menoleh lantas dengan wajah bersemu merah, malu katanya.
"Eum, halo, Ian," sapanya gugup dengan jeda di setiap kata. Datan genggamannya yang sejak tadi saling meremat itu, terdapat sebuah tas kotak bekal yang sengaja dibawanya.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Gabrian tidak terbiasa berbicara dengan wanita, terlebih yang ditemui atau dikenalnya baru-baru ini, seperti contohnya Ayudia. Namun dirasa bukan hanya dirinya yang gugup, dari cara wanita itu berucap, Gabrain berkesimpulan bahwa Ayudia juga tengah gugup, seperti mana dirinya.
Namun, bukankah lelaki yang seharusnya berinisiasi dan memimpin? Setidaknya untu kali ini.
"Terimakasih Ayu sudah nyempatin ngantar sendiri."
Gabrian semakin mendekat, nampak debuah tas kotak tengah dibawa oleh Ayu.
"Kamu apa sedang kosong?" tanyanya pada wanita itu. Jika jawaban adalah tidak, mungkin ia bisa mengajak sang puan untuk makan bersama.
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Ayudia memasang senyuman manis tatkala melihat Gabrian mendekat. Bahkan wajahnya kembali bersemu ketika sang tuan mengucap terima kasih. "Sama-sama," ucapnya malu-malu.
Kemudian sang puan menatap sosok gagah dihadapannya kala tawaran itu terucap.
"Kosong," cicitnya berharap di dengar oleh Gabrian. Kuasanya kemudian terulur menyerahkan tas kotak bekal tersebut guna isinya bisa dinikmati sang tuan.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Berusaha tetap tenang, itu yang tengah dilakukan oleh Gabrian. Keberadaan Ayudia sudah cukup membuatnya gugup, terlebih selagi kotak bekal yang dibawa. Baru kali ini ada yang membuatkan bekal untuknya, selain mama tentunya.
"Mau temani saya makan?"
Gabrian mengambil kesempatan, walau mungkin ditolak atau akan berakibat buruk mengingat ia yang tak panadai mencari topik, mungkin suasana hanya akan canggung. Namun tetap saja ia coba.
Gabrian mengambil tas kotak bekal terse but dan tanpa menunggu jawaban, ia meraih pergelangan tangan sang puan untuk diajaknya menuju cafeteria yang mungkin sepi mengingat sudah waktunya pulang.
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
"Aa-"
Ayudia belum sempat membuka belah bibirnya ketika salah satu kuasanya sudah diraih oleh sang tuan dan membawa langkah mereka menuju cafetaria.
Muka Ayudia semakin memerah karena ini pertama kalinya seorang lelaki menggenggam tangannya (berbeda cerita pada saat ia masih berkuliah dan berinteraksi pada teman-temannya).
Sesampainya di cafetaria, sang puan duduk lantas meraih tas kotak bekal kemudian mulai menyajikan makanan yang ia buat untuk Gabrian.
"Kalau kurang enak, maaf ya," ujarnya pelan.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Sesampainya di cafeteria, Gabrian langsung saja melepaskan genggamannya lantaran jantungnya berdegub kencang, sepertinya ini pertama tuan itu menyentuh Ayudia.
"Kamu ini masak semua?"
Takjub. Sudah lama ia tak makan makanan rumah seperti ini. Cukup senang dan saat seperti inilah ia merasa ingin memiliki pasangan, sekedar sahabat perempuan pun tak masalah.
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Ayudia menarik napas tatkala genggaman Gabrian terlepas dan mengatur degup jantungnya.
"Iya," ucapnya malu-malu karena pujian sang tuan.
"Semoga suka ya, selamat makan," ujar sang puan seraya tersenyum manis menatap sosok Gabrian di hadapannya.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
"Heum!" ia pun mengangguk.
Dari aroma sudah wangi, tak mungkin juga tidak enak. Gabrian mengambil sumpit yang telah disediakan. Sebenarnya ia masih kesulitan memakai alat makan itu, hingga akhirnya setelah beberapa percobaan hendak mengambil gyoza akhirnya Gabrian memilih untuk menusuk gyoza tersebut dengan salah satu sumpitnya. Cara yang aneh dan sering buatnya ditertawakan.
"Enak, Ayu. Ini kamu beneran buat sendiri semua? Tidak capek?"
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Ayudia tersenyum melihat cara makan Gabrian yang menurutnya menggemaskan. Kemudian ia menumpu dagu pada tangannya dan fokus menatap sang tuan yang tengah menikmati sajian buatannya.
"Terima kasih, ia buat sendiri. Tidak capek kok! Sudah biasa masak sendiri," ujarnya dengan riang menunjukkan kecintaannya pada memasak, kemudian tersenyum malu karena sadar ia terlalu riang menjawab pertanyaan Gabrian.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Melihat Ayudia yang tidak menertawakan cara makannya itu sedikit membuat Gabrian lega, setidaknya tak ada tatapan jijik dari wanita itu dan berarti tak keberatan, menurutnya.
"Suka masak ya?"
Gabrian tak ingin ada sunyi diantara keduanya, ia mencoba untuk tak menghentikan obrolan keduanya dengan terus bertanya.
"Tadi saya kira akan makanan manis."
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
"Suka. Kadang suka coba resep baru juga." Ayudia mencoba membuka dirinya dengan menanggapi pertanyaan sang tuan. "Kalau Ian sukanya apa?" Tanyanya lebih lanjut masih menatap lekat pada Gabrian.
Ketika melihat sang tuan menikmati masakannya, tentu saja Ayudia merasa sangat senang.
"Eum, enggak. Masa dibawakan makanan manis padahal Ian belum makan," ujarnya kemudian menggeleng lucu.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
"Bebek goreng yang empuk!" ucapnya sedikit berseru kala ditanyai terkait kesukannya. "Pakai bumbu rempah, di goreng tapi masih empuk."
Perhatian seperti ini cukup membuatnya senang hingga tanpa sadar ia tersenyum. Sebagai wujud terimakasih, ia mencoba untuk mengambil salah saytu gyoza dengan sumpitnya, secara benar dan berhasil setelah berhati-hati.
"Aaaaa- eh-"
Belum sampai ke Ayudia, gyoza tersebut lebih dulu jatuh dari sumpitnya.
"Maaf maaf.. saya masih belajar pakai sumpi," ucapnya yang kemudian mengambil makanan tersebut dengan tangannya dan langsung dimasukan ke mulut.
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
"Nanti aku coba buat bebek goreng sesuai keinginan Ian." Ayudia memasang senyuman terbaik dan mengacungkan jempol pertanda ia akan membuatkan lelaki itu permintaannya.
Melihat sang tuan meraih sebuah gyoza dengan sumpit namun terjatuh, hanya membuat Ayudia mematung dan kemudian tersenyum maklum mendengar alasannya.
"Gak apa! Nanti saya ajarkan cara pakainya sampai jago," ucap sang puan tersenyum riang lantas membulatkan matanya saat Gabrian memasukkan gyoza yang terjatuh ke dalam mulutnya.
"E-Eh.. Ian... Itu sudah jatuh, tidak apa dimakan?" Ujarnya panik.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
"Tidak apa."
Peraturan 'belum 5 detik' berlaku untuknya, atau mungkin ia hanya lapar.
"Kamu.. memang suka masak ya? Apa saja?" tanyanya terkait Ayudia yang hendak membuatkannya bebek goreng. "Kalau memang gitu mungkin nanti saya yang siapkan bahannya."
Gabrian tersenyum, tiap kata yang terlontar dari bibir Ayudia begitu cukup membuatnya senang, terlebih tawaran-tawaran baik yang diberikan.
"Boleh kalau gitu."
"Kalau tidak keberatan..."
Gabrian kembali mencoba, mengambil gyoza lain untuk diberikan pada sang puan. Tak ingin mengulangi kesalahannya yang sama akhirnya ia pun kembali menusuk dengan sumpit dan diarahkan pada mulut sang puan dengan tangan kirinya berjaga di bawah.
"Aaaa..."
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Ayudia mengangguk, menghilangkan rasa khawatirnya. Pertanyaan yang terbit berikutnya kembali memancing semangat sang puan untuk mengobrol.
"Suka memasak! Apa saja sih selama ada resepnya." Kemudian menghela napas sejenak. "Iya boleh! Nanti masak bareng juga gak apa," ujarnya kelewat semangat.
Kemudian sang tuan kembali menusuk gyoza seperti saat pertama lalu mengulurkannya pada Ayudia. Senyuman manis kembali terbit dibibir sang puan lantas membuka mulutnya, menerima suapan tersebut.
"Eum~ enak!" Ujarnya. "Apalagi disuapin oleh Ian," candanya walau wajahnya setelah itu bersemu memerah.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
"Boleh. Tapi paling saya bantu ngupas-ngupas aja."
Jika boleh jujur, Gabrian memang jarang di dapur dan alasannya karena selama ini sudah selalu ada yang memasak untuknya. Karena itu saat ia tinggal sendiri, ia cenderung membeli makanan alih-alih memasak.
Gabrian tersenyum kala wanita itu memakan suapan, namun seketika terbatuk dan langsung memukul pelan dadanya sendiri. Kalimat terakhir berhasil buatnya kaget dan tersipu malu.
"Ekhm.. kamu yang masak pasti enak. Tadi tidak coba?"
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Ayudia mengangguk. Dibantu mengupas saja sudah sangat membantu. Dirinya yang memang dididik sebagai perempuan oada umumnya yang harus bisa memasak sedari remaja membuatnya menjadi seperti sekarang, si tukang kreasi masakan.
Melihat Gabrian terbatuk karena ucapan terakhirnya membuat Ayudia merasa bersalah. "E-Eh... Maaf Ian, saya gak sengaja," ujarnya tidak enak hati.
Namun pertanyaan berikutnya kembali diajukan sang tuan. "Tidak. Soalnya kalau dicoba nanti gak surprise lagi, saya mau Ian yang pertama coba."
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Gabrian menggelengkan, jadi dia yang merasa tidak enak sudah membuat Ayudia merasa bersalah. Namun begitu ia lanjut memakan gyoza yang tinggal seberapa. Walau awalnya dirasa tidak lapar, namun saat mulai memakan seketika ia merasa ingin menghabiskan.
"Jadi kalau misal tidak enak bagaimana?"
Cukup penasaran dengan maksud Ayudia.
"Benar-benar tidak kamu coba?"
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Ayudia salah tingkah. "E-Eh... Kalau tidak enak ya dibuang saja," ujarnya kemudian menatap Gabrian.
"T-Tapi saya merasa bumbunya sudah pas sesuai resep," gumamnya. Maklum, ini pertama kali ia membuat dumplings karena sebelumnya sang puan hanya menikmati di restoran.
"Hanya isiannya, sedikit, takut keasinan. Tapi saya tidak mencoba satu dumplings secara utuh," ujarnya kemudian.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Gabrian tersenyum, jujur saja ia merasa gemas dengan Ayudia yang kini berada di depannya, ingin rasa mencubit pipi wanita itu namun akan terlihat terlalu berlebihan.
"Ini enak. Kamu kerja di bidang kuliner?"
Kali ini ia mencoba jenis lain yang tak kalah enak dengan yang sebelumnya. Tanpa disadari, ia sudah memakan cukup banyak hingga tinggal beberapa lagi tersisa dari kotak bekal yang dibawa oleh Ayudia.
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
"Enggak. Aku model, seharusnya. Tapi sedang cuti dan ya karena iseng, suka coba resep baru. Mungkin karena terbiasa disuruh belajar masak dari dulu," ujarnya semangat kemudian menatap Gabrian.
Ayudia dengan kedua netranya menatap bagaimana sang tuan semangat menghabiskan berbagai macam dumplings yang disajikannya.
"Enak?" Tanyanya saat Gabrian mencoba dumplings yang lain, dengan mata berbinar.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Gabrian hanya mendengarkan. Layaknya anak kecil yang kelaparan, ia dengan lahap menghabiskan dumplings yang tersisa dengan cekatan, bahkan kadang dua sekaligus masuk ke dalam mulutnya.
"Euhm," ia mengangguk, "enak Ayu."
Saat tersisa satu buah, ia mengambil dumpling tersebut dengan sumpitnya kembali, kali ini dengan benar, dan mengarahkannya pada Ayudia.
"For the last bite. Aaaa..."
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Ayudia tersenyum ketika melihat Gabrian makan sangat lahap seperti anak kecil bahkan tampak pipi lelaki itu menjadi sedikit menggembung ketika mengunyah.
Kemudian saat tersisa 1 potong dumpling di meja, Gabrian kembali mengulurkannya pada Ayudia dan disambut baik oleh sang puan.
"Eum~ enak!" Kembali ia berujar. Karena terbiasa dengan porsi makan yang sedikit, bahkan dua dumpling saja sudah membuatnya cukup kenyang.
"Habis kerja, Ian ada acara?"
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Gabrian tak henti tersenyum, perasaan gugup sebelumnya telah menghilang digantikan rasa senang dan gemas. Jika sudah begini, mungkin kedepannya ia akan coba cara agar dapat kembali menerima bekal dari Ayudia.
"Saya-"
Ucapannya terhenti sesaat, memikirkan apa yang hendak dan perlu dikerjakan olehnya. Walau sudah sore seperti ini, bukan berarti ia akan pulang.
"Sepertinya akan lembur," jelasnya yang kemudian merapikan tempat bekal yang sudah dihabiskan isinya.
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Senyuman Ayudia luntur sejenak mendengar ucapan bahwa sang tuan akan lembur, tetapi sekilas ia kembali memasang senyum.
"Semangat lemburnya," ujarnya dan tanpa sadar mengusap tangan Gabrian yang ada di meja, kebiasaannya saat menyemangati temannya.
"Nanti kapan-kapan saya buatkan masakkan lagi ya," ucapnya dengan senyum tak luntur.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Saat tangannya disentuh kemudian diberi semangat oleh Ayudia, seketika ia mulai cegukan dan buru-buru bangkit dari kursinya.
"Terimakasih. Hik. Akh ekhm."
Kondisi yang amat memalukan.
"Boleh. Nanti kap- hik. kapan-kapan kalau kam- hik. kamu peragaan bisa undang saya."
Ucapnya terputus-putus karena cegukan tersebut. Dalam hati ia berutuki dirinya sendiri akan hal itu.
AYUDIA ──────────────────────────────── ·
Melihat reaksi spontan Gabrian yang bahkan lelaki itu sampai cegukan, Ayudia menjadi tidak enak hati.
Untungnya sang puan memahami perkataan Gabrian. "I-Iya boleh. M-Maaf ya Ian kamu jadi cegukan karena saya," ucapnya tak enak hati lantas ikut bangkit dan membungkuk sejenak.
Beruntung cafetaria sepi sehingga tidak ada yang aneh dengan sikap Ayudia. Kemudian sang puan meraih tas bekal tersebut untuk digenggamnya sebagai pelampiasan rasa gugup.
GABRIAN ─────────────────────────────── ·
Gabrian menggelengkan kepalanya dengan tegas, walau memang karena Ayudia hingga akhirnya ia cegukan seperti ini, namun wanita itu tak perlu minta maaf.
"Terimakasih sek- hik. sekali lagi atas makan- hik. makanannya, Ayu."
Ucapnya dengan masih cegukannya, tak lupa dengan senyuman, senang sudah dihampiri seperti ini.
Keduanya akhirnya berpisah kala Ayudia pulang dan Gabrian harus naik kembali ke atas untuk menyelesaikan pekerjaan. Ia harap dapat bertemu kembali dengan wanita itu.
ON SALE $20 Comes with a CD Transfer #zinka #zinkamilanov #newyorkmetropolitanopera #opera #sopranosinger #soprano #operasoprano #raremusic #rarevinyl #operagreats #classicalmusic #classicalopera (at Garden of the Gods Visitor and Nature Center) https://www.instagram.com/p/B1iU1y1JxU1/?igshid=1kmuh5y1qtjg4
Big thanks to @hbstatejg and @_blocktheblaze for teaching the kids about the importance of protecting their skin. #johnwaynecancerfoundation #blocktheblaze #naturalmineralsunscreen #preventskincancer #preventwrinkles #zinka #spf50 #shesmywaterbaby
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming