Kisah Hindun Binti Utbah: Terbaik dalam Jahiliyah, yang terbaik dalam Islam
Biografi 35 Shahabiyah Nabi - Syaikh Mahmud Al-Mishri Credit by: RiskaÂ
Mulanya sangat memusuhi Islam dan kaum muslimin, bahkan memusuhi Rasulullah SAW selama lebih dari 20 tahun. Ia rela mengorbankan harta dan apapun yang ia miliki demi menghalangi siapapun yang berada di jalan Allah. Namun, siapa sangka, pada tahun penaklukan Mekkah, hatinya terbuka menerima Islam serta mengorbankan harta benda berkali lipat melebihi dulu ia korbankan saat memusuhi Rasulullah SAW. Semuanya demi membela Agama Allah Ta’ala.Â
Wanita mulia tersebut ialah Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams Al Absyamiyah Al-Qurasyiyah. Ia adalah ibunda Muawiyah bin Abu Sufyan. Hindun memiliki sifat yang fasih, berani, percaya diri, tegas, punya pandangan yang tepat, pujangga cerdik, jiwa ksatria yang tinggi, salah satu wanita Quraisy yang cantik dan berakal.Â
Saat perang Badar, Kaum Musyrikin mengalami kekalahan yang mengakibatkan terbunuhnya 70 orang-orang musyrik, dan 70 lainnya ditawan. Dalam peperangan ini, Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah yang merupakan ayah dan paman Hindun terbunuh oleh Hamzah. Sehingga menyebabkan dendam kesumatnya kepada Hamzah. Pada perang Uhud, Hindun memerintahkan Wahsyi yang merupakan budak pelempar tombak ulung dari Habbasyah yang bertugas membunuh Hamzah dengan imbalan merdekanya status budak Wahsyi. Selain itu, Hindun juga pemimpin wanita Quraisy yang bertugas membangkitkan semangat kaum musyrikin dalam perang Uhud.Â
Singa Allah, Hamzah, menyerang dan membelah barisan-barisan musuh, meruntuhkan kaum Musyrikin dengan pedangnya. Namun, ketika ia berhadapan dengan Siba’ bin Abdul Uzza, menjadi peluang Wahsyi untuk mengayunkan tombaknya kepada Hamzah yang sedang menebas musuh. Tombak Wahsyi mengenai perut bagian bawah menembus selangkangannya dan menyebabkan Hamzah tewas. Kaum Musyrikin mengalami kemenangan atas perang Uhud. Hindun sangat gembira terbunuhnya Hamzah, paman Nabi SAW, lalu Hindun memutalasi dengan keji.Â
Hindun tetap menganut kesyirikan sampai Allah membuka dadanya untuk menerima Islam saat penaklukan Mekkah. Allah membuka hati Hindun untuk menerima Islam. Hindun pun berkata, “Aku hanya ingin mengikuti Muhammad”. “Kemarin kau tidak suka membicarakan persoalan ini,” sahut Abu Sufyan. “Demi Allah! Belum pernah aku melihat Allah disembah dengan sebenarnya di Masjid ini sebelum malam tadi. Demi Allah! Mereka datang untuk shalat, berdiri, ruku dan sujud,” sahut Hindun.Â
Rasulullah SAW membaiat orang-orang termasuk Hindun di atas bukit Shafa. Rasulullah SAW menyampaikan untuk tidak menyekutukan Allah dengan apapun, jangan mencuri, jangan berzina, jangan membunuh anak-anak kalian, jangan membuat kebohongan, jangan mendurhakai Rasulullah dalam kebaikan.Â
Sikap monumental Hindun dalam Perang Yarmuk melawan pasukan Romawi ialah ketika Hindun turut memukuli pasukan muslimin yang melarikan diri, termasuk kepada suaminya, Abu Sufyan. Hindun melihat suaminya melarikan diri lalu memukul wajah kudanya dengan kayu dan berkata “Kamu mau kemana, anak Shakr? Kembalilalh berperang. Korbankan nyawamu untuk membersihkan kesalahan-kesalahan masa lalu kala kau dulu menghasut semua orang untuk melawan Rasulullah SAW. Mendengar kata-kata Hindun, Abu Sufyan merasa iba. Begitu pula yang dirasakan para pasukan muslimn. Zubair Awwam melihat kaum wanita ikut menyerang bersama pasukan muslimin, mereka mendahului pasukan lelaki, turut menyerang orang-orang kafir.Â
Pada masa Khalifah Umar r.a, Hindun kembali ke haribaan Sang Pencipta. Semoga Allah meridhainya, membuatnya senang, dan menjadikan surga Firdus sebagai tempat kembalinya.
(Ditulis: Jakarta, 29 Mei 2020)










