"Kamu berhak dapat yang lebih baik."
alasanmu. Percayalah sayang, kau tahu dengan sempurna.. bukan itu pencarianku..
"Aku sudah menemukan pilihanku. Ya, kamu." Balasku.
Tapi kamu tak mau lagi tahu.
"Kau tidak berat hati meninggalkanku?"
Kau diam sepersekian detik lalu,
"Tidak."
Kalimat singkat disusul dengan lengkung ujung bibirmu yg menyiratkan kesedihan.
Memang, hatiku seakan tak berupa
"Untuk apa hidup tanpa bisa memberikan cinta padamu." Batinku berminggu-minggu.
"Aku akan terus mencintaimu. Sebisaku. Semungkin-mungkinnya jalan yang ada."
Azamku suatu malam.
Sekarang bagi banyak orang, kau penjahat.
Bajingan
Tak tahu malu
Tak tahu diuntung
Brengsek
Laki-laki kardus
Pengecut
Biadab
...
Tak sanggup lagi aku mendengarnya.
"Hati ini masih meyakinimu. Bahwa kamu hanya berjalan di jalan yang keliru. Satu yang ku yakini sampai saat ini. Kita adalah jodoh yang berkualitas bagi masing-masing."
Mengapa? Setelah semua ini? Akankah masih?
Dengan lantang akan ku jawab "Ya."
Jalan kita yang terlampau susah. Karena kita tak hanya dipersatukan dalam waktu yg sementara.
Kitalah tulisan dalam lauhul mahfudz milik Tuhan kita. Yang sedang menanti takdir membawa kita dengan cara yang bagaimana.
"Kita hanya sedang diistirahatkan. Dari salahnya perasaan dan jalinan yang terbentang karena kita melegalkan setan masuk kedalamnya. Kita sedang istirahat dan diberikan pelajaran berharga.. sebelum dengan lepas tandas masing-masing kita akan dipertemukan dengan cara yang tidak terduga."
Yakinkah kau sayang?
Pasti kau jawab 'tidak'
Karena Tuhan sedang menghendakimu begitu. Tuhan sedang memberikanmu pengalaman baru. Untuk menyamakan statusmu denganku.. yang kisah cintanya juga pernah terisi oleh orang selain kamu.
Bedanya...
Aku telah rampung di uji.
Kau baru memulai.
Aku akan selalu ada di sisimu.
Menjadi sahabat
Teman
Saudara
Kakak
Adik
Asalkan bukan lagi pacar.
Aku kekasihmu.
Kekasih tempatnya di hati.
Pacar hanya di akal.
"Hati-hati, sayang.. jagalah dirimu. Untuk dirimu dan masa depanmu."












