Darah Terakhir
Sosok lemah dan keriput terseok-seok di dalam rumah perlindungannya. Siang tadi Big Bad Wolf terakhir sudah mati. Maka kubu serigala pun dipastikan tidak akan memenangkan pertaruhan ini. Kalau begitu, apakah mungkin kubunya akan menang walaupun tanpa pemimpin mereka? Tapi tubuh lelaki itu sudah sangat lemah dan kekurangan cairan. Tak ada Darah Alpha Vampire yang dapat memberikannya nyawa dan kekuatan. Setiap jam merupakan siksaan baginya. Dia membungkuk di lantai dan berusaha menyerupun sesuatu dari tubuh kecil tak berdaya yang teronggok di lantai. Tapi bagaimanapun dia memasukan darah kelinci itu ke dalam perutnya, dia tidak merasa kenyang ataupun lebih baik. Setiap menit berlalu tubuhnya semakin hancur. Rasa terbakar menjalar ke setiap sudut nadinya. Dia bernapas dengan berat. Bahkan bernapaspun kini membuatnya kelelahan. Akhirnya dia menyerah dan duduk berselonjor di lantai. Punggung dan lehernya lunglai menyender di dinding. Beginikah nasib kaumnya? "Kasihan sekali."
Suara itu berasal dari seorang lelaki yang secara ajaib sudah berdiri di sebelahnya. "Kamu terlihat menyedihkan." Kata Serial Killer itu. "Jujur saja, Kokosdera, kamu sudah menyedihkan sejak awal. Tapi ini...saat ini keadaan kamu di bawah menyedihkan."
Kokosdera hanya mampu menatap lelaki itu tanpa menjawab. Dia sudah tidak berniat membalas ataupun melindungi diri. Seluruh kekuatannya sudah habis. "Oke, untukmu akan aku beri sesuatu yang spesial. Hanya karena aku kasihan, oke?" Serial Killer itupun menggorok leher Kokosdera dalam sekali gerakan. Diapun mati seketika. "Aku berikan kematian yang cepat."
Serial Killer itupun keluar dari rumah itu. Dia menatap bulan merah dan menggeleng. "Hampir tak ada lagi buruan untukku." Diapun pergi ke rumah berikutnya. Tempat kekasih hatinya. Di dalam rumah itu kekasih hatinya sudah menunggu dengan gusar. Tak berapa lama kemudian Serial Killer masuk dan menyapanya. Dia disambut dengan pelukan dan ciuman hangat.
"Aku pikir kau mati dibunuh vampire malam ini!" Dia memeluk Serial Killer dengan sangat erat. "Jangan pergi meningggalkanku lagi."
"Tidak akan." Jawab serial killer sambil tersenyum. Orang itu cemberut "kamu selalu bilang begitu tapi nyatanya kamu keluar setiap malam untuk membunuh buruanmu! Dan semuanya wanita cantik! Kamu tidak memikirkan perasaanku?!" "Oh sayangku, seluruh diriku adalah milikmu. Sampah-sampah itu hanya mainanku. Untuk menaikan adrenalinku saat aku bermaksud menghancurkan tubuh seksimu itu dengan seluruh milikku." Orang itu tersipu malu. "Kamu selalu membuatku tidak mampu berjalan di pagi hari, tahu!" Seriall Killer tersenyum lebar. Dia lalu merebahkan orang itu dan mulai menyerangnya dengan beringas. Orang itu mulai menjerit-jerit senang saat seluruh tubuhnya dijamahi.











